JAKARTA – Sejumlah tokoh lintas agama, akademisi, dan pegiat kebangsaan yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa (GNB) melakukan pertemuan dengan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Megawati Institute, Jalan Diponegoro Nomor 56, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (22/6/2026). Usai pertemuan tertutup tersebut, para tokoh menyampaikan sejumlah poin pembahasan dalam konferensi pers yang berlangsung sekitar pukul 15.43 hingga 15.50 WIB.
Pertemuan itu dihadiri langsung oleh Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersama sejumlah tokoh nasional yang selama ini aktif dalam Gerakan Nurani Bangsa. Hadir pula Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo, Pendeta Gomar Gultom, filsuf Franz Magnis-Suseno SJ, mantan Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif, Guru Besar FISIP Universitas Indonesia Ery Seda, Dosen STF Driyarkara A. Setyo Wibowo SJ, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, serta Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian Indonesia Alissa Q. Wahid.
Berbeda dengan pertemuan-pertemuan politik pada umumnya, agenda yang digelar di Megawati Institute itu lebih banyak diwarnai pembahasan mengenai dinamika kebangsaan, kondisi masyarakat, hingga perkembangan kehidupan pemerintahan yang dinilai memerlukan perhatian bersama. Para tokoh yang hadir memposisikan pertemuan tersebut sebagai ruang dialog untuk bertukar pandangan dan mengkonfirmasi berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Mantan Menteri Agama RI periode 2014-2019, Lukman Hakim Saifuddin, menjelaskan bahwa pertemuan dengan Megawati sebenarnya telah dirancang sejak lama. Menurutnya, Gerakan Nurani Bangsa memiliki agenda untuk bersilaturahmi dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh bangsa yang pernah mendapat amanat memimpin pemerintahan.
Ia mengatakan, sebelum bertemu Megawati, kelompok tersebut telah melakukan komunikasi dengan sejumlah tokoh nasional lainnya. Di antaranya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, serta Wakil Presiden ke-13 KH Ma’ruf Amin. Dari rangkaian agenda yang telah disusun, pertemuan dengan Megawati akhirnya dapat terealisasi pada Senin sore di kawasan Menteng.
Menurut Lukman, dipilihnya Megawati Institute sebagai lokasi pertemuan bukan tanpa alasan. Lembaga tersebut selama ini dikenal aktif melakukan berbagai kajian dan penelitian yang menyentuh beragam sektor kehidupan masyarakat. Karena itu, suasana diskusi yang dibangun lebih menitikberatkan pada pertukaran gagasan mengenai persoalan kebangsaan dan tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Lukman menggambarkan suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Ia menyebut hubungan yang terbangun dalam diskusi tersebut menyerupai komunikasi antara generasi yang lebih muda dengan sosok yang lebih senior yang telah memiliki pengalaman panjang dalam mengelola pemerintahan.
“Selain bersilaturahmi, kami saling berbagi informasi mengenai situasi masyarakat, kehidupan pemerintahan, dan berbagai perkembangan aktual yang kami terima. Kami ingin memperoleh pandangan dari Ibu Megawati yang memiliki pengalaman panjang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Lukman.
Ia menambahkan, Gerakan Nurani Bangsa selama ini menerima berbagai masukan dan aspirasi dari masyarakat. Beragam informasi tersebut kemudian menjadi bahan diskusi yang perlu dikonfirmasi kepada para tokoh nasional yang dinilai memiliki pengalaman dan perspektif luas terhadap perjalanan bangsa.
Lukman juga menyampaikan rasa syukurnya karena dalam pertemuan tersebut sejumlah tokoh lintas agama turut hadir mendampingi. Kehadiran mereka dinilai memperkuat semangat kebersamaan serta memperkaya sudut pandang dalam membahas berbagai persoalan yang berkembang.
Salah satu tokoh yang turut memberikan pandangan adalah Ignatius Kardinal Suharyo. Uskup Agung Jakarta tersebut menekankan pentingnya menjaga dan mengasah nurani dalam kehidupan berbangsa. Menurutnya, nurani yang tidak dirawat dapat kehilangan kepekaan terhadap berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
Ia memandang pertemuan antara Gerakan Nurani Bangsa dengan Megawati menjadi momentum untuk menjaga kejernihan hati dan pikiran agar tetap berorientasi pada kepentingan bangsa secara keseluruhan, bukan pada kepentingan kelompok tertentu.
“Nurani itu bisa menjadi tumpul apabila tidak terus diasah. Karena itu kami berharap melalui pertemuan ini, nurani kita semakin jernih sehingga yang menjadi tujuan utama adalah kepentingan bangsa,” kata Kardinal Suharyo.
Sementara itu, mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode M. Syarif, mengungkapkan bahwa salah satu isu yang turut menjadi perhatian dalam diskusi adalah proses pembentukan regulasi di Indonesia. Menurutnya, terdapat sejumlah kekhawatiran mengenai minimnya ruang konsultasi dalam proses legislasi.
Ia mencontohkan pembahasan mengenai Undang-Undang Polri yang menurut pandangannya belum sepenuhnya mencerminkan berbagai rekomendasi maupun masukan yang pernah disampaikan kepada para pembuat kebijakan. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi salah satu topik yang mendapatkan perhatian dalam pembicaraan dengan Megawati.
Laode menilai bahwa keterlibatan publik dalam proses penyusunan peraturan perundang-undangan merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Karena itu, ruang dialog yang lebih terbuka antara masyarakat dan pembentuk undang-undang menjadi hal yang terus didorong agar produk hukum yang dihasilkan dapat lebih mencerminkan kebutuhan masyarakat.
Pandangan serupa mengenai kondisi kebangsaan juga disampaikan Pendeta Gomar Gultom. Mantan Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) periode 2019-2024 tersebut menegaskan bahwa pertemuan yang dilakukan Gerakan Nurani Bangsa bersama Megawati dilatarbelakangi oleh kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang tengah dihadapi bangsa.
Menurut Gomar, kekhawatiran yang dirasakan oleh para anggota Gerakan Nurani Bangsa ternyata memiliki irisan dengan pandangan yang dimiliki sejumlah tokoh nasional lainnya. Hal itu pula yang ditemukan dalam dialog bersama Megawati Soekarnoputri.
“Kami ingin menegaskan bahwa pertemuan ini dilandasi keprihatinan terhadap pergumulan bangsa. Apa yang menjadi perhatian Gerakan Nurani Bangsa ternyata sejalan dengan pandangan sejumlah tokoh bangsa, termasuk Ibu Megawati,” ujarnya.
Di tengah dinamika politik dan sosial yang terus berkembang, Gerakan Nurani Bangsa memandang penting adanya ruang komunikasi antar tokoh bangsa. Pertemuan semacam itu dinilai dapat menjadi sarana untuk saling mendengarkan, mempertemukan berbagai pandangan, serta mencari titik temu demi kepentingan yang lebih luas.
Suasana di Megawati Institute pada Senin sore berlangsung tertutup dan jauh dari nuansa seremonial. Para peserta lebih banyak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berbagi pengalaman, mendiskusikan berbagai persoalan aktual, serta menyampaikan pandangan mengenai kondisi masyarakat dan arah kehidupan berbangsa ke depan.
Keberadaan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang agama, akademisi, hingga mantan pejabat negara juga mencerminkan upaya membangun komunikasi lintas kelompok. Bagi Gerakan Nurani Bangsa, keberagaman perspektif justru menjadi modal penting dalam membaca situasi nasional secara lebih utuh.
Meski tidak secara rinci mengungkap keseluruhan materi pembicaraan yang berlangsung secara tertutup, para tokoh yang hadir sepakat bahwa kondisi kebangsaan memerlukan perhatian bersama. Mereka menilai pentingnya memperkuat ruang dialog serta menjaga semangat kebersamaan dalam menghadapi berbagai tantangan yang berkembang.
Pertemuan dengan Megawati sekaligus menjadi bagian dari rangkaian agenda Gerakan Nurani Bangsa dalam menjalin komunikasi dengan para tokoh yang pernah mengemban amanah di pemerintahan. Melalui pendekatan tersebut, GNB berharap berbagai pengalaman dan pandangan yang dimiliki para pemimpin bangsa dapat menjadi bekal dalam merespons dinamika sosial, politik, dan kehidupan masyarakat yang terus berubah.
Konferensi pers yang digelar usai pertemuan berlangsung singkat, namun memberikan gambaran bahwa diskusi yang berlangsung tidak hanya menyentuh persoalan pemerintahan semata, melainkan juga menyangkut nilai-nilai kebangsaan, kehidupan demokrasi, serta pentingnya menjaga nurani dalam merawat Indonesia yang majemuk.
Pewarta: Abdul Latif








Respon (1)