Opini  

Sumber Kehidupan IKN Terancam, BMKG Turun Tangan Lakukan Ini

Sumber Kehidupan IKN Terancam, BMKG Turun Tangan Lakukan Ini

Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama tim gabungan yang melibatkan Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), TNI-AU, BNPB, dan Pemprov Kalimantan Timur (Kaltim) bergerak cepat menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Apabila kondisi awan mendukung, penyemaian awan dilakukan sehingga mempercepat proses turunnya hujan serta bisa memperluas areanya," ujar Budi di Samarinda, pada Senin (24/8), dikutip dari laman resmi BMKG, Senin (31/8/2026).

Data lain dalam laporan menunjukkan Di sisi lain, jumlah titik panas (hotspot) di Kaltim pada 1-23 Agustus 2026 meledak hingga menyentuh angka 13.273 titik. Angka ini melonjak tajam sebesar 35,5 persen dibandingkan periode serupa pada 2015, yang juga diwarnai kemarau panjang akibat El Nino. BMKG mencatat potensi pertumbuhan awan di Kaltim sempat berada pada level tinggi hingga sedang pada 23-31 Agustus, khususnya di bagian utara. Sebagai solusi, OMC digeber di kawasan IKN pada 22-27 Agustus guna mendongkrak kembali volume air Waduk Sepaku. Hasilnya langsung dirasakan lewat turunnya hujan di kawasan tersebut selama beberapa hari terakhir.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Langkah ini ditempuh untuk menanggulangi ancaman defisit air di Waduk Sepaku, yang merupakan sumber air baku kawasan IKN, sekaligus memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian masif. Modifikasi cuaca bukan membuat hujan, tetapi mengoptimalkan potensi awan yang tersedia. OIKN melaporkan cadangan air di Waduk Sepaku terus menyusut sejak Juli akibat hantaman fenomena El Nino. Saat ini, status penanganan karhutla di Kaltim masih berada di level Siaga Bencana.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa sebaran asap karhutla di wilayah tersebut terpantau bergerak ke arah barat laut hingga timur laut, bahkan melewati batas negara menuju Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia. Berdasarkan data per 20 Agustus 2026, sebagian besar wilayah Kaltim dilanda Hari Tanpa Hujan (HTH) dengan durasi bervariasi dari kategori sangat pendek hingga panjang. Rekor terpanjang dicatatkan oleh Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Paser yang mengalami kering ekstrim selama 28 hari berturut-turut. Namun, penurunan suplai awan yang terjadi pada 28-31 Agustus membuat sebagian besar wilayah Kaltim kembali kering. Selain itu, operasi serupa juga diperluas ke Kabupaten Berau pada 24-28 Agustus atas permintaan khusus kepala daerah setempat kepada BNPB dan BMKG. Kendati demikian, Seno mengingatkan seluruh pemerintah kabupaten/kota untuk tetap waspada agar dapat segera menaikkan status menjadi Siaga Darurat dan meminta intervensi anggaran dari BNPB jika eskalasi ancaman meningkat. Selain di Kaltim, gerak cepat mitigasi cuaca ekstrem dan polusi udara juga digelar BMKG bersama berbagai pemangku kepentingan di sejumlah wilayah strategis nasional: Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah menyiagakan langkah mitigasi berlapis guna mengendalikan ancaman kekeringan dan karhutla yang diprediksi masih membayangi hingga akhir Agustus 2026. Dengan sisa sekitar 200 titik api yang masih terpantau, tim gabungan TNI, Polri, BPBD, hingga Masyarakat Peduli Api terus dikerahkan di lapangan.

Referensi: cnbcindonesia.com.