Karhutla Gunung Sumbing Berhasil Dipadamkan, 974 Hektare Terdampak

Kebakaran di Gunung Sumbing Meluas, Petugas Hadapi Angin Kencang

Kabupaten Magelang | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Sumbing, Jawa Tengah, selama beberapa hari dilaporkan telah padam. Api tidak lagi terlihat di wilayah Wonosobo, Temanggung, maupun Magelang. Dengan demikian, kebakaran yang sebelumnya berdampak pada sejumlah bagian kawasan gunung tersebut kini memasuki tahap pemantauan setelah proses pemadaman dinyatakan selesai.

Informasi mengenai padamnya api dikonfirmasi pada Sabtu, 24 Oktober, oleh Administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara, Dimyati. Konfirmasi tersebut menandai perkembangan penting dalam penanganan karhutla di Gunung Sumbing, yang mencakup tiga wilayah administratif. Meski kebakaran telah berhasil dikendalikan, kondisi di lapangan tetap menjadi perhatian karena pemadaman bukan berarti seluruh kegiatan penanganan langsung dihentikan.

Perhutani, pengelola basecamp, dan para relawan akan tetap melakukan pemantauan serta penyisiran di area terdampak. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada titik api yang masih tersisa dan berpotensi menyala kembali. Petugas juga perlu memperhatikan kondisi kawasan setelah api padam, terutama pada bagian-bagian yang sebelumnya terbakar atau sulit dijangkau selama proses penanganan.

Penyisiran dan pengawasan lanjutan menjadi bagian penting dari upaya memastikan situasi benar-benar aman. Titik panas atau bara yang tidak tampak dari kejauhan dapat menimbulkan risiko jika kondisi memungkinkan api kembali berkembang. Karena itu, keterlibatan berbagai pihak tetap diperlukan, sekalipun tidak lagi terlihat kobaran api. Koordinasi Perhutani, pengelola basecamp, dan relawan membantu menjaga agar pemeriksaan dapat menjangkau area yang menjadi perhatian.

Padamnya karhutla di Wonosobo, Temanggung, dan Magelang menjadi kabar terkini dari penanganan kebakaran Gunung Sumbing. Namun, status padam tetap disertai kewaspadaan. Pemantauan akan diteruskan untuk memastikan tidak terjadi penyalaan kembali, sementara penyisiran membantu memeriksa keadaan kawasan secara langsung. Perkembangan berikutnya bergantung pada hasil pengawasan di lapangan dan kondisi area yang terdampak.

Pada Sabtu sekitar pukul 10.00 WIB, pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah masih mencatat satu titik api di wilayah Glapansari, Kabupaten Temanggung. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan di Gunung Sumbing ketika itu belum sepenuhnya dinyatakan selesai. Meski titik api yang terpantau tinggal satu, keberadaannya tetap menjadi perhatian dalam pemantauan kondisi lapangan. Informasi ini menggambarkan situasi sebelum muncul konfirmasi bahwa seluruh wilayah terdampak telah padam. Karena itu, perkembangan pada Sabtu pagi perlu dibedakan dari status yang dilaporkan setelah upaya pemadaman berlanjut.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyampaikan bahwa kebakaran di wilayah Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Magelang telah padam sejak sehari sebelumnya. Dengan demikian, kedua wilayah itu sudah berada dalam kondisi padam saat pemantauan pada Sabtu pagi dilakukan. Sementara itu, Temanggung masih menunjukkan perkembangan yang berbeda karena petugas mendapati satu titik api di Glapansari. Keterangan tersebut memberi gambaran bahwa pemadaman berlangsung dengan hasil yang tidak serentak di setiap kabupaten. Pada saat yang sama, pernyataan BPBD menegaskan bahwa kondisi Temanggung sudah mendekati aman, walaupun pemantauan masih menemukan titik api.

Perbedaan status antarwilayah itu menjadi bagian penting dalam memahami urutan kejadian. Wonosobo dan Magelang lebih dahulu dinyatakan padam, yakni sejak Jumat, sedangkan Temanggung masih dalam pemantauan hingga Sabtu sekitar pukul 10.00 WIB. Penilaian bahwa Temanggung mendekati aman menandai situasi yang membaik, tetapi tidak sama dengan konfirmasi bahwa seluruh area telah padam. Catatan satu titik api di Glapansari memperlihatkan bahwa pemeriksaan kondisi lapangan masih diperlukan sebelum status keseluruhan dapat dipastikan. Dengan demikian, laporan BPBD pada tahap tersebut menunjukkan kemajuan pemadaman sekaligus menyisakan titik yang masih perlu diperhatikan. Tidak ada keterangan dalam informasi yang disampaikan mengenai penyebab kebakaran, sehingga perkembangan ini hanya menjelaskan status pemadaman di masing-masing wilayah.Helikopter sempat melintas di atas Gunung Sumbing sebagai bagian dari upaya pemadaman melalui metode water bombing. Langkah tersebut direncanakan untuk membantu mengatasi kebakaran dengan menjatuhkan air dari udara ke area yang terdampak. Namun, upaya itu tidak dapat dilanjutkan. Bergas menjelaskan bahwa operasi water bombing batal karena cuaca tidak baik, sehingga helikopter kembali. Dengan demikian, meskipun helikopter telah berada di atas kawasan gunung, pemadaman dari udara tidak terlaksana dalam operasi tersebut. Keterangan ini menjelaskan bahwa pelaksanaan rencana bergantung pada kondisi yang memungkinkan, dan cuaca saat itu tidak mendukung kelanjutan penerbangan untuk melakukan penjatuhan air.

Pembatalan water bombing menunjukkan bahwa rencana pemadaman udara tidak selalu dapat dijalankan setelah helikopter melintas di lokasi. Menurut Bergas, cuaca yang tidak baik menjadi alasan operasi dihentikan dan helikopter kembali. Penjelasan tersebut juga membedakan keberadaan helikopter di atas Gunung Sumbing dan pelaksanaan pemadaman menggunakan air dari udara: helikopter sempat melintas, tetapi tindakan water bombing batal. Informasi yang disampaikan tidak menyebutkan rincian lain mengenai penerbangan maupun cuaca. Karena itu, inti keterangannya adalah bahwa kondisi cuaca tidak mendukung, sehingga helikopter tidak meneruskan operasi dan kembali dari kawasan gunung.

Upaya tersebut merupakan salah satu langkah yang sempat dipertimbangkan dalam penanganan kebakaran di Gunung Sumbing, tetapi tidak terlaksana melalui water bombing. Bergas menyampaikan bahwa helikopter yang melintas akhirnya kembali karena cuaca tidak baik. Keterangan ini penting untuk memahami mengapa rencana pemadaman dari udara tidak berjalan, tanpa mengubah fakta bahwa operasi tersebut telah dibatalkan. Informasi mengenai helikopter juga tidak berarti kebakaran langsung dipadamkan melalui cara itu. Yang dapat dipastikan dari penjelasan Bergas ialah adanya lintasan helikopter di atas gunung, rencana water bombing, pembatalan akibat cuaca yang tidak mendukung, dan keputusan helikopter untuk kembali. Tidak ada rincian tambahan yang perlu disimpulkan dari keterangan tersebut.

Karhutla di Gunung Sumbing berdampak pada lahan yang berada di tiga wilayah administratif, yakni Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Magelang. Total luas lahan terdampak yang dilaporkan mencapai 974 hektare. Angka tersebut menggambarkan cakupan kejadian lintas kabupaten, sementara rincian luas di masing-masing wilayah disampaikan berdasarkan data dan keterangan terkait. Penyebutan tiap kabupaten penting untuk menunjukkan bahwa penanganan kebakaran melibatkan kawasan yang berada dalam administrasi berbeda.

Di Kabupaten Temanggung, luas lahan yang terdampak tercatat 344 hektare. Sementara itu, di Kabupaten Wonosobo, luas terdampak mencapai 362 hektare. Kedua angka tersebut merupakan rincian untuk wilayah masing-masing kabupaten, sebagaimana disampaikan dalam laporan mengenai karhutla Gunung Sumbing. Informasi ini memberikan gambaran tentang sebaran dampak di sisi Temanggung dan Wonosobo tanpa mengubah angka yang telah dilaporkan.

Untuk wilayah Kabupaten Magelang, lahan terbakar tercatat seluas 213,4 hektare. Area tersebut berada di Kecamatan Kajoran dan Kaliangkrik. Asper BKPH Magelang, Yulianto, menyampaikan bahwa api di wilayah tersebut telah padam sejak Jumat sekitar pukul 14.00 WIB. Keterangan waktu pemadaman itu merujuk pada kondisi kebakaran di area Kabupaten Magelang yang disebutkan, bukan sebagai keterangan terpisah untuk seluruh wilayah terdampak di tiga kabupaten.

Yulianto juga menyebut bahwa luas baku wilayah yang dimaksud adalah 335,42 hektare. Angka luas baku tersebut merupakan keterangan mengenai cakupan wilayah, sedangkan 213,4 hektare merujuk pada luas lahan terbakar di Kajoran dan Kaliangkrik. Dengan demikian, laporan memuat total dampak lintas wilayah sebesar 974 hektare, rincian Temanggung dan Wonosobo, serta data kebakaran dan luas baku untuk area Kabupaten Magelang sesuai keterangan narasumber.

Baca juga: Komandan Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Kalsel dalam Rapat Evaluasi | Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Rehabilitasi Sekolah Terdampak Bencana di Sumatera