Jakarta | BTPN Syariah mencatat laba bersih sebesar Rp1,01 triliun hingga kuartal III 2026. Angka tersebut menjadi sorotan utama dalam laporan kinerja bank syariah ini selama sembilan bulan pertama tahun berjalan. Kinerja laba tersebut hadir bersamaan dengan pertumbuhan aset dan pembiayaan, yang masing-masing menunjukkan perkembangan positif. Dalam periode yang sama, total aset BTPN Syariah mencapai Rp24 triliun, sementara penyaluran pembiayaan tercatat sebesar Rp11 triliun. Rangkaian capaian itu menggambarkan perkembangan usaha bank hingga akhir September 2026, sebagaimana tercermin dalam angka-angka yang dilaporkan.
Dari sisi aset, BTPN Syariah membukukan pertumbuhan tahunan sebesar 8 persen hingga kuartal ketiga 2026. Nilai asetnya mencapai Rp24 triliun. Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu indikator yang melengkapi capaian laba bersih perusahaan. Sementara itu, pembiayaan tumbuh 13 persen secara tahunan dan mencapai Rp11 triliun. Dengan demikian, ekspansi pembiayaan berjalan seiring dengan peningkatan aset selama periode pelaporan. Kedua pos tersebut memberikan gambaran tentang skala kegiatan usaha BTPN Syariah, sekaligus menjadi bagian dari kinerja yang mendampingi pencapaian laba Rp1,01 triliun.
Bank mengaitkan kinerja tersebut dengan kualitas pembiayaan yang semakin sehat. Kualitas pembiayaan menjadi konteks penting dalam membaca pertumbuhan penyaluran dana, karena capaian pembiayaan tidak hanya ditunjukkan oleh kenaikan nominal, tetapi juga disertai kondisi kualitas yang disebut membaik. Informasi yang disampaikan menempatkan kualitas pembiayaan yang lebih sehat sebagai faktor terkait dengan hasil kinerja hingga kuartal III 2026. Bersama laba bersih Rp1,01 triliun, pertumbuhan aset 8 persen menjadi Rp24 triliun, dan kenaikan pembiayaan 13 persen menjadi Rp11 triliun, hal itu merangkum capaian utama BTPN Syariah dalam periode tersebut. Angka-angka ini memberikan gambaran ringkas mengenai hasil usaha dan perkembangan pembiayaan bank selama tiga kuartal pertama 2026, tanpa mengubah fokus pada capaian yang telah dilaporkan.Membaiknya kualitas pembiayaan menjadi salah satu penopang kinerja BTPN Syariah sekaligus mencerminkan efektivitas model bisnis pendampingan yang dijalankan bagi masyarakat inklusi. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada penyaluran pembiayaan, tetapi juga mendorong nasabah agar mampu mengelola usaha secara lebih terarah. Ketika kualitas pembiayaan terjaga, risiko dapat dikelola dengan lebih baik dan kegiatan usaha nasabah memiliki ruang untuk berkembang. Hal tersebut penting bagi bank yang melayani segmen masyarakat dengan akses terbatas terhadap layanan keuangan formal. Perbaikan kualitas juga memberi landasan bagi pertumbuhan yang sehat, karena ekspansi dapat berjalan seiring dengan perhatian terhadap kemampuan bayar dan keberlanjutan usaha nasabah.
Kinerja tersebut turut tercermin pada sejumlah rasio keuangan. BTPN Syariah membukukan return on asset (ROA) sebesar 7,3 persen, yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari aset yang dikelola. Sementara itu, capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 59 persen, mencerminkan dukungan permodalan yang kuat untuk menopang kegiatan usaha dan mengantisipasi risiko. Kedua indikator itu melengkapi gambaran mengenai ketahanan kinerja perusahaan, di tengah upaya menjaga pembiayaan tetap berkualitas. Dengan modal yang memadai dan pengelolaan aset yang menghasilkan, bank memiliki kapasitas untuk melanjutkan layanan kepada nasabah sekaligus menjaga kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan.
Direktur BTPN Syariah Fachmy Achmad menyatakan bahwa pencapaian tersebut ditopang konsistensi menjaga mutu pembiayaan, pengelolaan risiko yang disiplin, serta pemberdayaan nasabah secara berkelanjutan. Keterangan ini menegaskan bahwa hasil keuangan berkaitan erat dengan proses pendampingan dan perilaku nasabah. Disiplin serta kapasitas nasabah dalam mengelola usaha dinilai semakin kuat, sementara pendekatan pendampingan dipandang efektif dalam mendukung perkembangan mereka. Bagi perusahaan, pertumbuhan berkualitas bukan sekadar peningkatan skala pembiayaan, melainkan pertumbuhan yang ditopang kemampuan nasabah dan risiko yang terukur. Dengan demikian, kualitas pembiayaan menjadi fondasi bagi penciptaan nilai jangka panjang bagi nasabah, perusahaan, dan pemangku kepentingan lainnya.
BTPN Syariah menempatkan pendampingan sebagai bagian penting dari upaya melayani masyarakat inklusi, khususnya perempuan produktif di segmen mass market. Dukungan kepada nasabah tidak hanya berkaitan dengan akses pembiayaan, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas agar mereka dapat mengembangkan usaha dan mengelola keuangan dengan lebih baik. Pendekatan ini mengakui bahwa pelaku usaha membutuhkan kesempatan belajar yang berkelanjutan, sekaligus dukungan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. Dengan demikian, pendampingan diharapkan membantu nasabah meningkatkan kemampuan, menjaga keberlangsungan usaha, dan memperluas peluang untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
Untuk memperluas akses pembelajaran tersebut, bank menjalankan program pengembangan kapasitas melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Kerja sama ini diarahkan untuk meningkatkan literasi keuangan serta memperkuat kemampuan usaha nasabah, sehingga mereka lebih siap mengambil keputusan dan menghadapi tantangan dalam kegiatan ekonomi sehari-hari. Pengembangan kapasitas juga melengkapi layanan pembiayaan dengan pengetahuan dan dorongan yang dapat mendukung pertumbuhan usaha. Dalam pelaksanaannya, keterlibatan para pemangku kepentingan membuka ruang bagi nasabah untuk memperoleh pembelajaran yang relevan. Fokus pada perempuan produktif menjadi bagian dari upaya bank mendukung peran mereka sebagai pengelola usaha, pengambil keputusan keuangan, serta penggerak kesejahteraan keluarga dan komunitas.
Sebagai bentuk apresiasi atas semangat dan perkembangan nasabah, BTPN Syariah mengadakan program tahunan Umrah Satu Pesawat. Nasabah inspiratif dan kelompok nasabah dari berbagai wilayah Indonesia berkesempatan berangkat umrah bersama dalam satu penerbangan, yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang. Peserta dipilih berdasarkan sejumlah kriteria, yaitu konsisten menghadiri pertemuan rutin sentra (PRS), membayar tepat waktu, aktif menabung, serta menunjukkan perkembangan usaha yang baik. Kriteria tersebut mencerminkan kedisiplinan dalam mengikuti proses pendampingan dan mengelola kewajiban, sekaligus kemajuan dalam kegiatan usaha. Bank menyatakan bahwa apresiasi ini bertujuan menghargai semangat nasabah dalam membangun kehidupan yang lebih berarti bagi diri sendiri, keluarga, dan komunitas. Program tersebut sekaligus menjadi pengakuan atas usaha nasabah dalam menjaga komitmen, mengembangkan usaha, dan terus bertumbuh.
Pengembangan bisnis BTPN Syariah diarahkan untuk menjangkau lebih banyak nasabah sekaligus menjaga kualitas layanan dan pembiayaan. Salah satu langkah yang ditempuh ialah memperluas akses pembiayaan individu melalui produk Tepat Imbang. Produk ini menjadi bagian dari upaya bank menyediakan pilihan pembiayaan yang sesuai kebutuhan nasabah, terutama individu dan pelaku usaha yang membutuhkan dukungan untuk mengembangkan kegiatan produktif. Dengan memperluas jangkauan pembiayaan, bank berupaya membuka kesempatan ekonomi yang lebih luas, disertai penerapan prinsip kehati-hatian dan pendampingan kepada nasabah.
Di samping penyaluran langsung kepada individu, BTPN Syariah memperkuat kerja sama pembiayaan dengan lembaga keuangan non-bank. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu cara untuk memperluas jangkauan layanan dan menambah kapasitas dalam menyalurkan pembiayaan kepada segmen yang beragam. Penguatan kemitraan dapat mendukung penyaluran dana secara lebih luas, sementara kebutuhan dan karakteristik nasabah tetap menjadi pertimbangan dalam pengembangan solusi. Melalui pendekatan ini, bank mengembangkan ekosistem pembiayaan yang melengkapi akses bagi individu maupun lembaga.
Bank juga menawarkan solusi pendanaan dan investasi syariah untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang beragam. Pilihannya mencakup instrumen sukuk yang diterbitkan pemerintah, termasuk Sukuk Ritel seri SR025. Produk ini memberi kesempatan kepada masyarakat untuk berinvestasi sesuai prinsip syariah sekaligus berkontribusi pada pembangunan nasional. Selain itu, tersedia Cash Waqf Linked Deposit (CWLD), yang mengintegrasikan manfaat ekonomi dengan dampak sosial berkelanjutan. Ragam solusi tersebut memungkinkan nasabah mempertimbangkan tujuan keuangan dan kontribusi sosial dalam memilih produk, dengan tetap memperhatikan informasi serta ketentuan yang berlaku.
BTPN Syariah menyatakan optimisme untuk terus memperkuat ketahanan bisnis dan memperluas manfaat bagi masyarakat Indonesia.





