Jakarta | Pengadilan federal Amerika Serikat mendakwa Gannon Ken Van Dyke, seorang tentara aktif, terkait dugaan penggunaan informasi rahasia untuk memasang taruhan di Polymarket, platform prediksi berbasis blockchain. Perkara ini berhubungan dengan operasi militer di Venezuela yang melibatkan penangkapan Nicolás Maduro. Menurut dakwaan, Van Dyke diduga mengetahui informasi mengenai operasi tersebut melalui tugasnya, lalu memanfaatkannya untuk bertransaksi pada kontrak prediksi yang berkaitan dengan peristiwa itu. Keuntungan yang disebut dalam dokumen dakwaan mencapai sekitar US9.881, atau lebih dari Rp7,2 miliar berdasarkan nilai tukar yang digunakan dalam pemberitaan. Angka itu merupakan nilai yang dituduhkan oleh jaksa, bukan penetapan kerugian atau keuntungan oleh putusan pengadilan.
Inti perkara berkisar pada apakah informasi yang diduga digunakan Van Dyke bersifat rahasia dan diperoleh karena kedudukannya sebagai anggota militer. Jaksa menuduh bahwa ia membuka posisi taruhan sebelum informasi operasi menjadi pengetahuan publik, sehingga transaksi tersebut berpotensi memberinya keuntungan yang tidak tersedia bagi pengguna lain. Pasar prediksi seperti Polymarket memungkinkan pengguna memperdagangkan kontrak yang nilainya bergantung pada hasil suatu peristiwa. Dalam kasus ini, aktivitas di platform tersebut menjadi bagian dari penyelidikan mengenai dugaan pemanfaatan informasi nonpublik, bukan semata-mata taruhan yang hasilnya menguntungkan. Rincian transaksi dan tuduhan hukum perlu dinilai melalui proses peradilan serta bukti yang diajukan kedua pihak.
Status Van Dyke dalam perkara ini tetap sebagai terdakwa. Dakwaan memuat tuduhan yang harus dibuktikan oleh penuntut, sementara pihak terdakwa berhak membantahnya dan menghadirkan pembelaan. Karena itu, penyebutan keuntungan sekitar US$409.881 tidak berarti pengadilan telah memastikan bahwa seluruh jumlah tersebut diperoleh secara melanggar hukum. Prinsip praduga tak bersalah berlaku sampai perkara diputus melalui proses yang sah. Kasus ini juga menyoroti tantangan pengawasan terhadap pasar prediksi digital ketika pengguna diduga memiliki akses istimewa terhadap informasi terkait operasi pemerintah atau militer. Namun, penilaian atas tanggung jawab pidana harus bertumpu pada fakta, aturan yang berlaku, dan hasil pemeriksaan pengadilan, bukan pada dugaan semata.
Menurut dakwaan, rangkaian transaksi yang disorot berlangsung Desember dan Januari, ketika Gannon Ken Van Dyke diduga memasang sekitar 13 taruhan dengan nilai gabungan US$33.034. Posisi tersebut ditempatkan pada pasar prediksi yang menawarkan kontrak terkait kemungkinan peristiwa politik dan militer di Venezuela. Di kontrak yang disebut dalam dokumen perkara adalah “US forces in Venezuela” serta “Maduro out” sebelum 31 Januari. Jaksa menduga taruhan itu dibuat sebelum tenggat yang tercantum pada kontrak dan ketika Van Dyke memiliki akses terhadap informasi rahasia mengenai operasi pemerintah AS.
Dakwaan menyebut transaksi tersebut kemudian menghasilkan keuntungan sekitar US$409.881. Angka itu merupakan hasil yang diduga diperoleh dari posisi taruhan, bukan penetapan bahwa seluruh keuntungan telah disita atau bahwa terdakwa telah dinyatakan bersalah. Dalam uraian jaksa, setelah memperoleh dana tersebut, Van Dyke diduga memindahkan sebagian besar hasilnya ke sebuah brankas kripto di luar negeri. Pemindahan itu disebut menjadi bagian dari alur dana yang ditelusuri penyidik, yang berusaha menghubungkan keuntungan dari pasar prediksi dengan akun atau sarana penyimpanan yang digunakan setelah transaksi.
Selanjutnya, sebagian dana diduga dialihkan ke akun broker daring baru. Jaksa juga menuduh Van Dyke berupaya menyamarkan identitasnya di pasar prediksi, terutama setelah muncul laporan mengenai aktivitas perdagangan tidak biasa yang berkaitan dengan kontrak tentang Maduro. Dugaan tersebut menyoroti bagaimana perpindahan dana melalui layanan kripto dan pembukaan akun baru dapat menjadi bagian dari pemeriksaan atas transaksi yang mencurigakan. Namun, rincian dalam dakwaan tetap merupakan tuduhan yang harus diuji dalam proses hukum. Van Dyke berhak membela diri, sementara bukti mengenai waktu taruhan, akses terhadap informasi, aliran dana, dan dugaan upaya penyamaran akan dinilai oleh pengadilan. Karena itu, uraian transaksi tersebut perlu dipahami sebagai klaim jaksa, bukan kesimpulan hukum yang telah diputuskan.
Van Dyke menghadapi lima dakwaan pidana yang berkaitan dengan dugaan penggunaan informasi rahasia untuk memperoleh keuntungan dari perdagangan. Rinciannya mencakup tiga tuduhan pelanggaran Commodity Exchange Act, undang-undang federal yang mengatur pasar komoditas, satu tuduhan penipuan melalui komunikasi elektronik atau wire fraud, serta satu tuduhan melakukan transaksi moneter ilegal. Susunan dakwaan tersebut menggambarkan beberapa dugaan perbuatan yang berbeda, bukan satu tuduhan tunggal. Semua tuduhan itu masih harus dibuktikan melalui proses hukum, dan keberadaan dakwaan tidak dengan sendirinya berarti bahwa Van Dyke telah dinyatakan bersalah.
Ancaman hukuman maksimum yang disebutkan untuk masing-masing dakwaan berkisar 10 hingga 20 tahun penjara, bergantung pada jenis pelanggaran yang dikenakan. Angka tersebut merupakan batas maksimum yang diizinkan oleh hukum, bukan kepastian mengenai hukuman yang akan dijatuhkan. Jika perkara berlanjut hingga putusan, hukuman aktual akan ditentukan melalui proses pengadilan dan mempertimbangkan ketentuan yang berlaku serta fakta perkara. Karena itu, angka maksimum tidak seharusnya ditafsirkan sebagai perkiraan pasti mengenai lamanya hukuman Van Dyke, ataupun sebagai bukti bahwa seluruh dakwaan akan berakhir dengan vonis bersalah.
Perkara ini mula-mula disidangkan di pengadilan federal di North Carolina sebelum kemudian dialihkan ke pengadilan federal Manhattan. Perpindahan tempat persidangan tersebut menandai perubahan lokasi penanganan kasus, tetapi informasi yang tersedia tidak menjelaskan alasan pengalihan secara terperinci. Hingga laporan ini disusun, Van Dyke belum dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Belum ada pula informasi yang tersedia mengenai siapa penasihat hukumnya, sehingga belum jelas apakah ia telah menyampaikan tanggapan resmi melalui kuasa hukum.
Pentagon, ketika dimintai keterangan mengenai perkara tersebut, mengarahkan pertanyaan kepada Angkatan Darat AS. Namun, Angkatan Darat belum memberikan tanggapan. Dengan demikian, belum tersedia komentar dari Van Dyke maupun pernyataan dari pihak militer yang dapat menjelaskan posisi mereka atas dakwaan itu. Perkembangan berikutnya, termasuk jadwal sidang dan tanggapan resmi para pihak, akan bergantung pada proses di pengadilan federal Manhattan. Sampai ada putusan, Van Dyke tetap berstatus terdakwa dan tuduhan-tuduhan tersebut merupakan klaim yang perlu diuji di hadapan hukum.
Pelaksana Tugas Jaksa Agung Amerika Serikat Todd Blanche menegaskan bahwa personel militer dipercaya menangani informasi rahasia untuk menjalankan misi secara aman dan efektif. Kepercayaan tersebut, menurutnya, membawa tanggung jawab besar. Menggunakan akses yang diberikan untuk memperoleh keuntungan pribadi bukan sekadar pelanggaran etika, melainkan tindakan serius yang dapat merusak kepercayaan publik dan mengancam kepentingan keamanan nasional. Pernyataan itu disampaikan dalam konteks dugaan perdagangan yang melibatkan informasi pemerintah sensitif.
Blanche juga menyoroti bahwa akses luas terhadap pasar prediksi merupakan fenomena yang relatif baru. Meski cara masyarakat bertransaksi dan memperkirakan hasil peristiwa terus berkembang, hal itu tidak mengubah kewajiban hukum yang sudah berlaku. Hukum federal tetap melindungi informasi keamanan nasional dan melarang penggunaannya secara tidak semestinya. Dengan demikian, kebaruan sebuah platform tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan aturan atau memanfaatkan informasi yang diperoleh melalui jabatan.
Jaksa Wilayah Amerika Serikat untuk Distrik Selatan New York, Jay Clayton, menyampaikan penegasan serupa. Ia mengatakan pasar prediksi bukan tempat bagi seseorang untuk menggunakan informasi rahasia demi keuntungan pribadi. Pernyataan para pejabat tersebut menempatkan dugaan transaksi bukan hanya sebagai persoalan aturan internal militer, tetapi juga sebagai perkara yang dapat melibatkan hukum federal. Penyelidikan berfokus pada apakah informasi yang semestinya dijaga telah digunakan untuk mendukung perdagangan.
Polymarket menyatakan telah mengidentifikasi pengguna yang.





