JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Negara bagian New York menggugat TikTok atas dugaan penipuan yang dilakukan secara terstruktur dalam pengujian fitur keselamatan dan perlindungan pengguna. Perkara ini menyoroti cara perusahaan menguji sejumlah perangkat keamanan yang ditujukan, lain, untuk melindungi anak dan remaja ketika menggunakan platform tersebut. Menurut tuduhan dalam gugatan, pengujian itu tidak sekadar menghasilkan temuan teknis yang terbatas, melainkan diduga dirancang atau disampaikan dengan cara yang dapat menyesatkan publik mengenai tingkat perlindungan yang sebenarnya tersedia.
Gugatan tersebut mempertanyakan klaim keamanan TikTok yang selama ini dapat memberi kesan bahwa pengguna, terutama kelompok usia muda, telah terlindungi melalui fitur-fitur yang disediakan. Padahal, negara bagian New York menuduh perubahan nyata pada sistem tidak terjadi sebagaimana yang mungkin dipahami pengguna dari komunikasi perusahaan. Dengan demikian, persoalan utamanya bukan hanya apakah fitur keselamatan tersedia, tetapi juga apakah fitur itu bekerja secara efektif dan apakah hasil pengujiannya disampaikan secara jujur.
Tuduhan ini menempatkan transparansi perusahaan sebagai bagian penting dari perkara. Pengguna dan orang tua bergantung pada informasi resmi ketika menilai risiko penggunaan platform digital, sehingga perbedaan gambaran keamanan dan kondisi sistem yang sesungguhnya dapat memengaruhi keputusan mereka. Namun, seluruh tuduhan tersebut masih merupakan bagian dari gugatan dan belum menjadi putusan pengadilan. Kasus ini berasal dari New York, Amerika Serikat, bukan peristiwa yang terjadi di Indonesia. Informasi mengenai gugatan itu tercantum dalam laporan yang dikutip pada Jumat, 9 Oktober 2026. Pada tahap ini, perkara tersebut menyoroti dugaan praktik pengujian fitur perlindungan serta klaim keselamatan TikTok, tanpa menunjukkan perkembangan hukum lain di luar informasi yang tersedia.
Dokumen gugatan tersebut menyoroti dugaan penggunaan metode eksperimen yang disebut sebagai uji coba plasebo atau eksperimen “gaib” dalam pengembangan fitur keselamatan TikTok. Menurut tuduhan yang diajukan, perusahaan membagi sebagian pengguna ke dalam kelompok tertentu dan memberi tahu mereka bahwa perlindungan tambahan telah diaktifkan pada akun masing-masing. Namun, pada kelompok yang dijadikan pembanding, sistem di belakang layar disebut tidak mengalami perubahan berarti. Pengguna tetap menerima aliran video dan rekomendasi yang sama seperti sebelum fitur perlindungan dinyatakan aktif.
Model pengujian semacam itu dipersoalkan karena dapat menciptakan kesan bahwa pengguna telah memperoleh perlindungan, meskipun pengalaman mereka di dalam aplikasi belum berubah secara substantif. Gugatan tersebut pada dasarnya mempertanyakan apakah pemberitahuan mengenai aktivasi fitur telah mencerminkan tindakan teknis yang benar-benar dilakukan. Tuduhan itu juga menyoroti kemungkinan bahwa persepsi pengguna terhadap keamanan aplikasi dipengaruhi oleh informasi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi sistem. Seluruh uraian tersebut merupakan klaim dalam perkara yang masih harus dibuktikan melalui proses hukum.
Salah satu fitur yang turut dibahas adalah Algo Refresh. Menurut penjelasan TikTok, fitur ini dirancang untuk menyegarkan dan mengatur ulang rekomendasi video yang diterima pengguna. Tujuannya adalah mengurangi kemungkinan munculnya konten berbahaya, mengganggu, atau yang dapat memperkuat kebiasaan menonton secara berlebihan. Dengan mengubah pola rekomendasi, pengguna diharapkan memperoleh pengalaman yang lebih beragam dan tidak terus-menerus diarahkan pada materi yang sama berdasarkan interaksi sebelumnya.
Akan tetapi, berdasarkan materi gugatan, pengaruh Algo Refresh disebut hanya bersifat sementara. Perubahan pada rekomendasi mungkin terlihat pada tahap awal, tetapi tidak dianggap menghasilkan perbedaan berarti dalam jangka panjang. Setelah periode tertentu, sistem diduga kembali menampilkan pola konten yang serupa dengan sebelumnya. Karena itu, gugatan mempertanyakan efektivitas fitur tersebut sekaligus cara keberhasilannya diuji dan dikomunikasikan kepada pengguna. Persoalan utamanya bukan hanya keberadaan fitur, melainkan apakah perlindungan yang dijanjikan benar-benar bekerja secara konsisten dalam penggunaan sehari-hari.
Gugatan yang diajukan di New York mengutip laporan internal TikTok mengenai pengujian fitur keselamatan yang disebut berlangsung pada 2023. Berdasarkan uraian dalam gugatan, pengguna diduga dibagi secara acak ke dalam beberapa kelompok untuk membandingkan dampak fitur perlindungan pada pengalaman mereka di platform. Sebagian pengguna memperoleh perangkat atau pengaturan keselamatan tertentu, sementara kelompok lain disebut secara sengaja menggunakan versi yang alat pengamannya dinonaktifkan. Para pengguna tersebut, menurut tuduhan yang dikutip, tidak diberi tahu bahwa mereka menjadi bagian dari eksperimen atau bahwa tingkat perlindungan akun mereka berbeda.
Gugatan itu juga mengaitkan dugaan pengujian tersebut dengan kasus seorang remaja laki-laki di New York. Remaja tersebut disebut termasuk pengguna yang masuk dalam kelompok eksperimen. Dalam periode yang dijelaskan oleh penggugat, ia berulang kali diperlihatkan konten yang mempromosikan tindakan menyakiti diri sendiri, termasuk materi yang berkaitan dengan bunuh diri. Setelah itu, ia ditemukan meninggal dunia. Rangkaian peristiwa tersebut menjadi bagian dari tuduhan dalam perkara, tetapi dokumen gugatan tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat paparan konten, pengaturan pengujian, dan kematian remaja tersebut.
Kronologi itu masih harus dinilai melalui proses hukum, termasuk pemeriksaan atas laporan internal, cara pemilihan peserta, jenis perlindungan yang dinonaktifkan, serta pola rekomendasi konten yang diterima setiap pengguna. TikTok juga berhak memberikan tanggapan dan mengajukan bantahan terhadap tuduhan tersebut. Namun, apabila uraian dalam gugatan terbukti akurat, persoalannya melampaui pertanyaan teknis mengenai pengumpulan data atau desain eksperimen. Dugaan bahwa perlindungan keselamatan sengaja dikurangi tanpa sepengetahuan pengguna menempatkan praktik pengujian fitur dalam konteks tanggung jawab terhadap keselamatan, terutama bagi remaja yang rentan terhadap konten tentang menyakiti diri sendiri dan bunuh diri.
Juru bicara TikTok menyatakan bahwa pengujian produk merupakan praktik yang lazim dilakukan oleh perusahaan teknologi. Menurutnya, TikTok secara rutin meningkatkan platform, menguji produk dan fitur baru, serta memvalidasi pengalaman yang ditawarkan kepada pengguna. Proses tersebut juga disebut penting untuk memahami bagaimana suatu fitur bekerja dalam situasi nyata, bukan hanya berdasarkan rancangan atau hasil pengujian internal.
Pernyataan itu memberikan gambaran mengenai alasan perusahaan melakukan eksperimen terhadap fitur keselamatan dan berbagai fungsi lain di dalam aplikasinya. Namun, penjelasan tersebut belum secara langsung menjawab tuduhan utama dalam gugatan di New York. Persoalan yang dipersoalkan bukan semata-mata keberadaan pengujian, melainkan cara hasil atau tujuan pengujian itu disampaikan kepada pengguna.
Gugatan tersebut menyoroti dugaan bahwa pengguna diberi tahu telah memperoleh perlindungan melalui sistem pengaman tertentu, sementara sistem itu disebut tidak benar-benar mengalami perubahan sebagaimana yang dipahami dari pemberitahuan tersebut. Karena itu, pembelaan yang menekankan bahwa pengujian adalah praktik umum belum menjelaskan alasan pengguna dapat menerima kesan bahwa perlindungan mereka meningkat. Perbedaan menguji fitur dan mengomunikasikan dampaknya menjadi bagian penting dari persoalan yang masih diperdebatkan.
Konteks ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi pengguna TikTok di Indonesia. Sumber yang dikutip menyebut jumlah pengguna TikTok di Indonesia telah mencapai puluhan juta, dengan mayoritas berasal dari kelompok usia muda. Besarnya jumlah tersebut membuat isu mengenai kejelasan informasi dan kinerja fitur keselamatan menjadi perhatian yang signifikan. Meski tuduhan dalam gugatan berkaitan dengan perkara di New York, kasus itu memperlihatkan pentingnya memahami secara tepat apa yang dijanjikan oleh sistem pengaman dan apa yang benar-benar berubah dalam penggunaannya.
