Indonesia Hadapi Lonjakan Panggilan Spam, Suara AI Jadi Ancaman Baru

Indonesia Hadapi Lonjakan Panggilan Spam, Suara AI Jadi Ancaman Baru

Jakarta | Temuan utama dalam laporan Hiya menunjukkan bahwa 89% panggilan yang diterima pengguna di Indonesia dari nomor yang tidak tersimpan di kontak terindikasi sebagai spam atau berpotensi penipuan. Angka ini menyoroti tingginya risiko yang dapat muncul ketika seseorang menjawab panggilan dari nomor tak dikenal. Namun, temuan tersebut tidak berarti bahwa setiap panggilan dari nomor asing pasti berbahaya. Persentase itu menggambarkan proporsi panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal yang diklasifikasikan sebagai spam berdasarkan analisis Hiya.

Data tersebut tercantum dalam Global Call Threat Report Q1 2025, laporan yang mengamati tren panggilan tak diinginkan di lebih dari 40 negara selama kuartal pertama 2025. Dengan cakupan lintas negara, laporan ini memberikan gambaran tentang bagaimana spam telepon dan potensi penipuan berkembang di berbagai pasar. Untuk Indonesia, angka 89% memperlihatkan besarnya porsi panggilan tak dikenal yang dinilai berisiko dalam lalu lintas yang dianalisis. Hasilnya juga menunjukkan mengapa identifikasi nomor dan kewaspadaan saat menerima panggilan menjadi perhatian penting bagi pengguna.

Hiya menggunakan pengertian spam yang mencakup lebih dari sekadar panggilan penipuan. Kategorinya meliputi panggilan yang mengganggu atau tidak diinginkan, termasuk telemarketing tanpa izin, serta panggilan yang memiliki indikasi penipuan. Karena itu, angka yang dilaporkan sebaiknya dipahami sebagai ukuran panggilan yang masuk dalam kategori spam menurut definisi tersebut, bukan sebagai jumlah panggilan yang seluruhnya terbukti sebagai tindak kriminal. Penghitungan persentasenya berangkat dari lalu lintas panggilan masuk yang berasal dari nomor tidak dikenal atau belum tersimpan dalam kontak pengguna. Panggilan dari kontak yang telah dikenal tidak menjadi dasar perbandingan angka ini. Perbedaan ruang lingkup tersebut penting agar temuan tidak ditafsirkan secara berlebihan. Bagi pengguna, langkah sederhana seperti tidak terburu-buru memberikan informasi pribadi, memeriksa identitas penelepon, dan mengakhiri panggilan yang mencurigakan dapat membantu mengurangi risiko. Laporan ini menjadi konteks awal untuk memahami skala masalah sebelum melihat bentuk ancaman baru, termasuk kemungkinan penggunaan suara AI oleh pelaku.Indonesia mencatat proporsi tertinggi panggilan spam dari nomor tak dikenal di negara dan wilayah Asia Pasifik yang dibandingkan, yakni 89%. Angka ini berarti hampir sembilan dari sepuluh panggilan dalam kategori yang diukur teridentifikasi sebagai spam. Posisi tersebut menempatkan Indonesia jauh di atas Hong Kong, yang berada di urutan kedua dengan persentase 70%. Selisih keduanya mencapai 19 poin persentase, menunjukkan bahwa paparan panggilan yang dinilai tidak diinginkan relatif lebih tinggi di Indonesia dalam perbandingan ini.

Setelah Hong Kong, Filipina mencatat persentase 55%, sementara Singapura berada pada 34%. Malaysia menyusul dengan 31%, dan Australia mencatat angka 30%. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya melampaui negara-negara yang berada di posisi tengah dan bawah, tetapi juga memiliki persentase yang jauh lebih tinggi daripada seluruh wilayah lain dalam daftar. Filipina menjadi satu-satunya pembanding selain Hong Kong yang mencatat lebih dari separuh panggilan dari nomor tak dikenal sebagai spam. Sementara itu, angka Singapura, Malaysia, dan Australia berada di kisaran sekitar tiga dari sepuluh panggilan.

Perbandingan ini perlu dipahami sesuai cakupan istilah spam yang digunakan. Kategori tersebut dapat mencakup panggilan mengganggu atau tidak diinginkan, sehingga tidak setiap panggilan dari nomor asing atau nomor yang belum tersimpan otomatis merupakan penipuan. Persentase yang tercantum menggambarkan proporsi panggilan yang masuk dalam klasifikasi spam, bukan bukti bahwa semua nomor tak dikenal memiliki niat kriminal. Panggilan yang sah, seperti komunikasi layanan atau urusan bisnis, tetap mungkin berasal dari nomor yang belum dikenali penerima. Karena itu, angka-angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai gambaran tingkat gangguan panggilan di tiap wilayah, bukan ukuran langsung jumlah penipuan. Meski demikian, posisi Indonesia yang mencapai 89% menegaskan besarnya paparan terhadap panggilan tidak diinginkan dan pentingnya kewaspadaan, tanpa membuat kesimpulan berlebihan terhadap setiap panggilan masuk.

Catatan Hiya menunjukkan bahwa panggilan spam telah menjadi gangguan rutin bagi banyak warga Indonesia. Rata-rata, setiap orang menerima sekitar 16 panggilan spam setiap bulan. Angka ini menempatkan Indonesia pada posisi kedua tertinggi di kawasan Asia Pasifik, hanya di bawah Hong Kong, yang mencatat rata-rata 21 panggilan per orang per bulan. Dengan frekuensi tersebut, masyarakat dapat menghadapi panggilan tak diinginkan beberapa kali dalam sepekan. Dampaknya bukan sekadar mengganggu aktivitas, tetapi juga meningkatkan risiko seseorang menjawab panggilan yang menyamar sebagai komunikasi resmi atau menawarkan sesuatu secara menyesatkan.

Di negara lain di kawasan, India dan Filipina masing-masing mencatat rata-rata 11 panggilan spam per orang setiap bulan. Australia dan Turki berada di kisaran lima panggilan, sedangkan Malaysia dan Thailand mencatat empat. Jumlahnya lebih rendah di Singapura, dengan tiga panggilan bulanan, dan Selandia Baru, yang mencatat satu. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa tingkat paparan berbeda cukup jauh antarnegara. Namun, jumlah yang lebih kecil tidak berarti panggilan spam tidak menjadi persoalan. Risiko tetap bergantung pada jenis panggilan, kemampuan pelaku meniru pihak tepercaya, serta kewaspadaan penerima ketika diminta memberikan informasi atau melakukan tindakan tertentu.

Dalam skala global, Brasil mencatat rata-rata tertinggi, yakni 28 panggilan spam per orang per bulan. Angka itu jauh melampaui catatan Indonesia, tetapi posisi Indonesia tetap menonjol di tingkat regional. Data bulanan seperti ini membantu menggambarkan seberapa sering konsumen berhadapan dengan panggilan yang tidak diharapkan, sekaligus memberi konteks bagi meningkatnya perhatian terhadap penipuan melalui telepon. Frekuensi tinggi juga dapat membuat pengguna lebih sulit membedakan panggilan yang sah dari panggilan mencurigakan, terutama ketika nomor atau suara yang digunakan tampak meyakinkan. Karena itu, catatan tersebut relevan sebagai gambaran paparan masyarakat, bukan jaminan bahwa setiap panggilan spam memiliki tujuan atau tingkat bahaya yang sama.

Lonjakan panggilan spam bukan hanya persoalan Indonesia, melainkan bagian dari tren global yang semakin besar. Dalam laporan Hiya, sedikitnya 12,5 miliar panggilan ditandai sebagai dugaan spam pada kuartal pertama 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan 11,3 miliar panggilan pada kuartal keempat 2024. Rata-ratanya mencapai sekitar 137 juta panggilan setiap hari, menunjukkan betapa luasnya paparan masyarakat terhadap komunikasi telepon yang tidak diinginkan atau berisiko.

Dari sampel panggilan global yang dianalisis, 24% dikategorikan sebagai panggilan mengganggu, sementara 9% merupakan penipuan. Sebanyak 67% lainnya masuk kategori lain, sehingga tidak seluruh panggilan yang ditandai sebagai spam dapat langsung disebut sebagai upaya pencurian. Meski demikian, besarnya volume tersebut memperlihatkan bahwa panggilan berisiko hadir dalam berbagai bentuk. Kehadiran suara buatan kecerdasan artifisial (AI) menambah tantangan dalam mengenali maksud dan identitas penelepon.

Hiya juga menelaah 8.455 sampel panggilan terekam. Hasilnya, 25% sampel mengintegrasikan audio yang dibuat menggunakan AI. Temuan ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut telah digunakan dalam sebagian komunikasi telepon yang diteliti, meskipun tidak berarti seluruh audio buatan AI digunakan untuk melakukan kejahatan. Namun, analisis lanjutan terhadap panggilan berbasis AI menemukan bahwa 55% di antaranya terkonfirmasi sebagai skenario penipuan. Proporsi itu menegaskan adanya kaitan nyata pemanfaatan suara sintetis dan risiko penipuan.

Pelaku dapat memanfaatkan AI generatif untuk mengkloning suara seseorang, menyusun percakapan yang terdengar alami, serta menyampaikan permintaan secara persuasif. Suara yang menyerupai anggota keluarga, rekan kerja, atau pihak berwenang dapat membuat korban merasa sedang berbicara dengan orang yang dikenal dan dipercaya.

Baca juga: Tantangan Pedagang Makanan di Depok Menghadapi Lonjakan Harga Daging Ayam | Lonjakan Harga Cabai Akibat El Nino di Tangerang | Ancaman Cuaca Ekstrem: Gelombang Tinggi dan Banjir Rob dari BMKG