Jakarta | Jakarta menempati peringkat ke-15 dalam daftar kota dengan transportasi umum terbaik dunia pada 2026. Posisi tersebut menunjukkan kenaikan dua tingkat dibandingkan tahun sebelumnya, ketika Jakarta berada di urutan ke-17. Capaian ini menjadi penanda bahwa layanan angkutan publik di ibu kota memperoleh pengakuan lebih baik dalam pemeringkatan tersebut. Meski demikian, angka peringkat perlu dipahami sebagai gambaran posisi Jakarta dalam daftar, bukan satu-satunya ukuran untuk menilai seluruh aspek layanan sehari-hari.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menanggapi capaian itu saat ditemui di Embung Batu Bangkong, Jakarta Timur, pada Senin, 19 Oktober 2026. Ia mengaitkan peningkatan posisi Jakarta dengan layanan transportasi publik yang dinilai semakin baik oleh warga. Tanggapan tersebut menempatkan pengalaman pengguna sebagai salah satu hal penting dalam melihat perkembangan angkutan umum. Persepsi masyarakat terhadap kemudahan, kenyamanan, dan kualitas perjalanan dapat memberi gambaran mengenai manfaat perubahan layanan yang dirasakan dalam kegiatan sehari-hari.
Kenaikan peringkat ini juga mencerminkan perhatian yang terus diberikan kepada pengembangan transportasi publik di Jakarta. Dalam kota dengan mobilitas tinggi, layanan yang semakin baik dapat membantu warga menjangkau berbagai tujuan dengan lebih praktis. Namun, mempertahankan dan meningkatkan capaian memerlukan upaya berkelanjutan, termasuk memastikan layanan tetap dapat diandalkan dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Peringkat ke-15 pada 2026 menjadi kabar positif sekaligus tolok ukur bagi pengembangan berikutnya. Perubahan dari posisi ke-17 menunjukkan kemajuan dalam penilaian global, sementara respons warga tetap menjadi bagian penting untuk memahami kinerja layanan. Dengan demikian, capaian tersebut tidak hanya menyoroti posisi Jakarta di kota-kota dunia, tetapi juga memperlihatkan hubungan mutu transportasi publik dan pengalaman masyarakat yang menggunakannya. Penilaian terhadap layanan yang semakin baik menjadi alasan yang disampaikan gubernur atas kenaikan posisi tersebut.
Penilaian terhadap layanan transportasi umum Jakarta dihimpun melalui survei tahunan yang melibatkan lebih dari 24 ribu warga di berbagai kota dunia. Survei tersebut memberikan gambaran tentang pengalaman dan persepsi masyarakat terhadap sistem angkutan di kota masing-masing, termasuk kemudahan akses, kenyamanan, serta kualitas layanan sehari-hari. Dengan cakupan responden lintas kota dan negara, hasilnya dapat digunakan untuk membandingkan pandangan pengguna dalam konteks perkotaan yang beragam. Namun, angka survei tetap perlu dibaca sesuai maknanya: hasil tersebut merekam penilaian warga, bukan secara langsung menunjukkan urutan peringkat suatu kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut sebanyak 79,2 persen responden memberikan penilaian positif terhadap transportasi umum Jakarta. Persentase ini menunjukkan bahwa sebagian besar warga yang disurvei memandang layanan angkutan di ibu kota secara baik. Angka tersebut menggambarkan proporsi responden yang menyampaikan respons positif, bukan posisi Jakarta dalam daftar kota dunia. Karena itu, persentase penilaian dan peringkat merupakan dua ukuran berbeda yang tidak dapat dipertukarkan. Persentase berhubungan dengan jawaban warga, sementara peringkat menunjukkan posisi relatif kota berdasarkan metode pemeringkatan yang digunakan.
Dalam lingkup regional, Jakarta disebut menempati peringkat kedua di Asia Tenggara, setelah Singapura, serta berada di posisi ketujuh di Asia. Posisi tersebut menjadi konteks tersendiri untuk membaca capaian Jakarta di kota-kota kawasan, sementara hasil 79,2 persen mencerminkan tanggapan positif dari responden. Pembedaan ini penting agar angka survei tidak keliru ditafsirkan sebagai persentase kota yang berada di posisi tertentu atau sebagai nilai peringkat. Secara bersamaan, kedua informasi itu menunjukkan sisi yang berbeda: survei menangkap persepsi warga, sedangkan urutan kawasan menggambarkan kedudukan Jakarta dibandingkan kota lain. Keduanya dapat membantu menjelaskan perkembangan layanan transportasi umum, tetapi tidak berarti semua pengguna memiliki pengalaman yang sama. Hasil survei merupakan potret berdasarkan jawaban peserta pada periode pengumpulan data, sedangkan peringkat bergantung pada cakupan dan kriteria penilaian yang diterapkan. Dengan memahami perbedaan tersebut, publik dapat menilai capaian Jakarta secara lebih proporsional dan melihat perlunya peningkatan layanan secara berkelanjutan.
Pramono menyebut perbaikan integrasi layanan sebagai salah satu alasan Jakarta naik dua posisi dalam pemeringkatan transportasi umum dunia, hingga berada di posisi ke-15. Menurutnya, peningkatan tersebut berkaitan dengan semakin baiknya keterhubungan berbagai moda yang melayani perjalanan di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Penjelasan itu menempatkan integrasi sebagai aspek penting dalam perubahan posisi kota, bukan sekadar keberadaan masing-masing layanan secara terpisah.
Moda yang disebut mencakup MRT Jakarta, LRT Jakarta, Transjakarta, Transjabodetabek, serta Mikrotrans. Pramono menilai layanan-layanan tersebut semakin terintegrasi, sehingga warga memiliki keterhubungan antarmoda yang lebih baik. Dengan kata lain, gambaran transportasi umum Jakarta dalam penilaian tersebut tidak hanya ditentukan oleh satu jenis angkutan, tetapi juga oleh hubungan di sejumlah layanan yang digunakan masyarakat.
Keterhubungan itu, menurut Pramono, menjadi faktor penting dalam penilaian positif warga. Ketika berbagai moda dipandang saling terhubung, warga dapat menilai sistem transportasi umum sebagai jaringan yang lebih terpadu. Persepsi tersebut kemudian menjadi bagian dari alasan yang disampaikan untuk menerangkan kenaikan posisi Jakarta. Ia mengaitkan kemajuan peringkat dengan perbaikan integrasi, sekaligus dengan respons warga terhadap layanan yang tersedia.
Pernyataan tersebut menekankan bahwa kenaikan dua posisi tidak dijelaskan semata-mata melalui capaian satu operator atau satu moda. MRT Jakarta, LRT Jakarta, Transjakarta, Transjabodetabek, dan Mikrotrans disebut dalam konteks layanan yang keterhubungannya dinilai semakin baik. Bagi Pramono, hubungan antarmoda menjadi unsur yang berpengaruh terhadap pengalaman dan penilaian publik, serta turut mendukung perbaikan posisi Jakarta dalam pemeringkatan.
Dengan demikian, alasan yang ia sampaikan berpusat pada integrasi jaringan transportasi umum lintas layanan. Keterhubungan yang semakin baik dipandang memberi dasar bagi penilaian warga yang lebih positif dan berkontribusi pada kenaikan peringkat kota. Penjelasan ini merupakan pandangan Pramono mengenai faktor di balik perubahan tersebut, dengan fokus pada hubungan antar moda yang telah disebut, tanpa menguraikan ukuran atau rincian operasional lain.
Kenaikan posisi Jakarta dalam pemeringkatan transportasi umum dunia menjadi perkembangan positif, tetapi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan pembenahan layanan belum selesai. Pramono menegaskan bahwa peningkatan tersebut tidak mengubah kebutuhan untuk memperkuat hubungan antarmoda dan memperluas kemudahan perjalanan warga. Penumpang perlu dapat berpindah dari satu layanan ke layanan lain dengan lebih terhubung, khususnya ketika perjalanan mereka melintasi batas wilayah administrasi. Karena itu, perhatian pemerintah daerah selanjutnya diarahkan pada bagian jaringan yang masih belum tersambung secara memadai, bukan hanya pada pencapaian peringkat.
Salah satu upaya yang akan terus dibenahi adalah konektivitas rute dalam layanan Transjabodetabek. Pramono menyebut masih ada rute yang belum terkoneksi, sehingga hubungan perjalanan antarkawasan perlu diperhatikan lebih lanjut. Keterhubungan ini penting agar layanan bus dapat menjadi bagian dari perjalanan yang lebih terpadu dengan moda lain. Pembenahan rute juga berkaitan dengan kebutuhan masyarakat yang bepergian dari dan menuju Jakarta, termasuk mereka yang melakukan perjalanan lintas wilayah setiap hari. Pemprov DKI akan melanjutkan upaya menghubungkan rute-rute yang belum terintegrasi, dengan perhatian pada kebutuhan jaringan dan kesinambungan layanan bagi penumpang.
Menurut Pramono, pengembangan konektivitas antarmoda tersebut penting dalam upaya mengurangi kemacetan di Jakarta. Jika pilihan perjalanan umum semakin terhubung, warga diharapkan memiliki akses yang lebih mudah untuk menggunakan layanan transportasi dalam perjalanan sehari-hari. Namun, rencana pembenahan ini merupakan pekerjaan yang akan diteruskan, bukan hasil yang telah sepenuhnya terwujud.
Baca juga: Persija Jakarta Hadapi Tantangan Tanpa Stadion di Jakarta | Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi di Jakarta | Persija Jakarta dan Persib Bandung: Pertandingan yang Dinanti di Gelora Bung Karno





