Bekasi | Namun, ada hubungan yang perlahan berubah menjadi seperti ruang sidang.Ketika terjadi masalah, kamu yang dianggap penyebabnya.Ketika pasangan sedang marah, kamu yang dituduh membuatnya marah.Ketika rencana gagal, kamu yang dianggap tidak becus.Ketika pasangan melakukan kesalahan, pembicaraan entah bagaimana kembali berakhir pada kesalahanmu.Bahkan ketika kamu mencoba menjelaskan, respons yang muncul justru:"Kalau kamu dari awal tidak melakukan itu, masalah ini tidak akan terjadi."Atau:"Aku begini karena kamu."Lama-kelamaan, kamu mungkin mulai mempertanyakan dirimu sendiri."Jangan-jangan memang aku yang selalu salah?"Inilah salah satu bagian paling melelahkan dari pola hubungan seperti ini. seseorang yang menjalani hidup bersama pasangan / foto: Magnific/karlyukav Hidup bersama pasangan seharusnya menjadi tempat di mana dua orang bisa saling berbagi beban, bukan tempat di mana salah satu orang terus-menerus menjadi terdakwa.
Keterangan yang tercatat menyebut Dalam keadaan sangat defensif, kemampuan untuk mendengarkan dan memproses masalah secara tenang biasanya ikut menurun.Karena itu, strategi pertama adalah memisahkan tuduhan dari masalah yang sebenarnya perlu diselesaikan.Misalnya pasangan mengatakan:"Kamu memang selalu bikin semuanya berantakan."Jangan buru-buru menjawab:"Kamu juga selalu menyalahkanku!"Cobalah menggeser percakapan menjadi lebih spesifik:"Aku mau membicarakan masalahnya. Tapi kalau kita mengatakan 'selalu' dan 'semuanya', kita akan sulit menemukan solusinya. Semua masalah dalam hubungan ini memang karena kamu."Kamu tidak harus menerima kesimpulan tersebut.Kamu bisa mengatakan:"Aku mengakui kesalahanku soal terlambat. Tapi aku tidak setuju kalau itu dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa semua masalah selalu karena aku. Evaluasi: Apakah Pasanganmu Mau Berubah Bersama, atau Hanya Ingin Kamu yang Berubah?Ini mungkin strategi yang paling penting.Karena ada perbedaan besar pasangan yang memiliki kebiasaan menyalahkan, danpasangan yang menjadikan kamu sebagai kambing hitam untuk hampir semua masalah dan tidak mau mengambil tanggung jawab.Yang pertama mungkin masih bisa diperbaiki melalui komunikasi, kesadaran, dan latihan pola baru.Yang kedua membutuhkan evaluasi yang jauh lebih serius.Perhatikan apa yang terjadi setelah kamu menyampaikan kebutuhanmu.Apakah pasangan mengatakan:"Aku tidak sadar kalau selama ini aku sering menyalahkanmu.
Data lain dalam laporan menunjukkan Dua orang yang sehat pun tetap akan berbeda pendapat. Salah satu pihak sibuk mencari solusi, sementara pihak lain sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.Jika kamu sedang berada dalam situasi seperti ini, tujuanmu bukan memenangkan setiap pertengkaran.Tujuanmu adalah mengubah pola interaksi.Dan jika pasangan tidak mau berubah, kamu juga perlu belajar melindungi kesehatan psikologismu sendiri.Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (10/10), terdapat enam strategi yang dapat membantu.1. Berhenti Langsung Membela Diri Setiap Kali DisalahkanRespons alami ketika seseorang menuduh kita adalah membela diri.Pasangan berkata:"Ini semua gara-gara kamu."Kita langsung menjawab:"Bukan salahku! Kamu juga yang mulai!"Lalu pasangan membalas.Kita membalas lagi.Dan dalam beberapa menit, pembicaraan yang awalnya tentang satu masalah berubah menjadi daftar kesalahan dari lima tahun terakhir.Ini adalah salah satu jebakan paling umum dalam konflik pasangan.Ketika seseorang merasa diserang, sistem emosionalnya dapat menjadi lebih aktif. Masalah spesifik apa yang ingin kamu selesaikan?"Perhatikan perbedaannya.Kamu tidak mengakui bahwa kamu bersalah.Tetapi kamu juga tidak langsung masuk ke dalam pertarungan.Kamu mengubah pembicaraan dari serangan terhadap karakter menjadi pembahasan tentang perilaku tertentu.Ini penting karena kalimat seperti "kamu selalu…" atau "kamu memang…" cenderung membuat seseorang merasa identitasnya diserang.Sementara kalimat:"Ketika kejadian X terjadi, aku merasa Y, dan aku berharap kita melakukan Z."jauh lebih mudah dibicarakan.Gunakan pertanyaan yang konkretJika pasangan menyalahkanmu secara umum, tanyakan:"Bagian mana yang menurutmu menjadi kesalahanku?""Apa yang kamu harapkan dariku waktu itu?""Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan berbeda lain kali?""Apa bagian yang menjadi tanggung jawabmu dan apa yang menjadi tanggung jawabku?"Pertanyaan seperti ini membantu mengubah konflik dari siapa yang salah menjadi apa yang perlu diperbaiki.Namun ada satu hal penting.Jangan menggunakan teknik komunikasi ini untuk terus-menerus membuktikan bahwa kamu sebenarnya baik-baik saja sementara pasangan bebas menyalahkanmu.Komunikasi sehat membutuhkan tanggung jawab dari kedua pihak.2.
Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Masalahnya bukan hanya pertengkaran. Masalahnya adalah ketika seseorang terus-menerus menerima pesan bahwa dirinya adalah sumber masalah dalam hubungan.Dalam psikologi hubungan, konflik sebenarnya bukan sesuatu yang otomatis membuat hubungan menjadi buruk. Yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana konflik itu dikelola.Perbedaan pendapat masih bisa diselesaikan.Kesalahan masih bisa diperbaiki.Kekecewaan masih bisa dibicarakan.Tetapi pola menyalahkan secara terus-menerus dapat membuat hubungan menjadi tidak seimbang. Aku minta maaf."Itu adalah bentuk tanggung jawab yang sehat.Tetapi jika pasangan kemudian berkata:"Makanya aku sekarang tidak pernah bisa percaya kepadamu. Tapi aku tidak setuju bahwa semua masalah dalam hubungan kita disebabkan olehku.
Bedakan "Mengakui Kesalahan" dengan "Menerima Semua Kesalahan"Ini adalah keterampilan psikologis yang sangat penting.Orang yang sering disalahkan dalam hubungan terkadang bergerak ke salah satu dari dua ekstrem.Pertama, mereka menjadi sangat defensif dan tidak mau mengakui kesalahan apa pun.Kedua, mereka menjadi terlalu mudah meminta maaf hanya untuk menghentikan konflik.Keduanya dapat menjadi masalah.Kamu boleh mengakui kesalahan.Tetapi kamu tidak harus mengambil tanggung jawab atas sesuatu yang bukan tanggung jawabmu.Misalnya kamu memang terlambat menjemput pasangan.Kamu bisa mengatakan:"Aku memang salah karena terlambat dan seharusnya memberi kabar lebih awal. Kalau ada masalah lain, mari kita bicarakan satu per satu."Inilah perbedaannya:Mengakui satu kesalahan tidak berarti mengakui seluruh tuduhan.Dalam hubungan yang sehat, seseorang bisa berkata:"Aku salah dalam hal ini."tanpa harus berkata:"Berarti aku memang pasangan yang buruk."Ini penting karena kesalahan perilaku dan penilaian terhadap identitas adalah dua hal berbeda.Kamu mungkin melakukan sesuatu yang salah.Tetapi itu tidak otomatis berarti kamu adalah orang yang buruk.Coba gunakan formula sederhanaAkui → Batasi → ArahkanContohnya:"Ya, aku memang salah karena tidak memberitahumu. Aku bertanggung jawab untuk itu. Mari kita bahas masalah yang sedang terjadi sekarang."Formula ini membantu kamu tetap bertanggung jawab tanpa kehilangan batas diri.3. Tetapkan Batas pada Cara Pasangan Berbicara KepadamuBatas bukan hukuman.Batas juga bukan ancaman.Batas adalah informasi mengenai apa yang bersedia dan tidak bersedia kamu terima dalam sebuah interaksi.Misalnya:"Aku bersedia membicarakan masalah ini, tetapi aku tidak mau melanjutkan pembicaraan kalau aku dihina."Atau:"Kalau kamu ingin membicarakan kesalahanku, aku siap mendengarkan.
