Menkes Ingatkan Risiko Kesehatan dari Kebiasaan Menyantap Kol Goreng

Menkes Ingatkan Risiko Kesehatan dari Kebiasaan Menyantap Kol Goreng

Jakarta | Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat untuk mengurangi kebiasaan menyantap kol goreng, terutama apabila makanan tersebut dikonsumsi setiap hari. Peringatan ini menyoroti pentingnya memperhatikan cara pengolahan dan frekuensi konsumsi makanan, bukan sekadar memilih bahan yang dianggap sehat. Kol dikenal sebagai sayuran, tetapi ketika digoreng, kandungan minyak dan proses pemasakan dapat mengubah karakter hidangan. Karena itu, kebiasaan mengonsumsi kol goreng secara rutin patut dipertimbangkan kembali sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.

Kol goreng kerap disajikan sebagai pelengkap hidangan penyetan. Teksturnya yang renyah dan rasanya yang gurih membuatnya disukai banyak orang, serta sering terasa cocok disantap bersama sambal dan lauk. Namun, daya tarik tersebut dapat membuat seseorang terbiasa mengambilnya tanpa memperhatikan seberapa sering makanan itu hadir dalam menu. Pesan Menkes mengajak masyarakat melihat kembali kebiasaan tersebut dan tidak menganggap sayuran yang digoreng otomatis memiliki manfaat yang sama seperti sayuran yang diolah dengan cara lain.

Budi menyampaikan adanya kemungkinan risiko kesehatan yang dapat muncul lebih cepat apabila kol goreng dikonsumsi terus-menerus. Pernyataan itu merupakan peringatan agar masyarakat lebih berhati-hati, bukan kepastian bahwa kol goreng menyebabkan kanker. Risiko kesehatan tidak semestinya disimpulkan dari satu jenis makanan saja tanpa mempertimbangkan keseluruhan pola makan, cara memasak, jumlah, dan frekuensi konsumsi. Oleh sebab itu, informasi tersebut perlu dipahami secara proporsional dan tidak diubah menjadi klaim yang lebih jauh daripada yang disampaikan.

Masyarakat dapat menjadikan imbauan ini sebagai kesempatan untuk mengurangi frekuensi konsumsi kol goreng dan memilih variasi pengolahan sayuran. Kol dapat disajikan dengan cara yang tidak digoreng, misalnya direbus atau dikukus, sesuai kebutuhan dan selera. Pilihan tersebut membantu menghadirkan variasi dalam menu tanpa menjadikan satu pelengkap sebagai kebiasaan harian. Pada akhirnya, perhatian terhadap keseimbangan serta kebiasaan makan secara keseluruhan menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan. Imbauan Menkes mendorong kewaspadaan, bukan kepanikan, saat menentukan pilihan makanan.Dalam video tersebut, Budi mengingatkan bahwa cara mengolah makanan perlu diperhatikan, bukan hanya bahan yang digunakan. Menurut penjelasannya, proses penggorengan dapat mengubah kandungan gizi makanan. Karena itu, kol yang digoreng tidak lagi dapat dipandang sama dengan kol yang disajikan tanpa melalui proses tersebut. Ia menyoroti bahwa perubahan terjadi ketika makanan dimasukkan ke dalam minyak panas, sehingga kebiasaan mengonsumsi sajian goreng perlu dicermati. Pesan ini terutama relevan bagi orang yang menjadikan kol goreng sebagai menu rutin dan menganggapnya sebagai pilihan yang selalu ringan atau aman. Budi tidak sekadar membahas rasa, melainkan mengaitkan teknik pengolahan dengan perhatian terhadap kesehatan.

Perhatian Budi juga tertuju pada jenis minyak yang dipakai untuk menggoreng. Ia menyebut penggunaan minyak jelantah atau minyak yang digunakan berulang kali sebagai hal yang perlu diwaspadai. Dalam keterangannya, penggorengan dengan minyak semacam itu dapat menambah risiko kesehatan, sehingga proses memasak dan pemilihan minyak tidak sebaiknya diabaikan. Peringatan tersebut disampaikan sebagai bagian dari penjelasan tentang dampak kebiasaan makan kol goreng, bukan sebagai penilaian bahwa semua makanan yang digoreng memiliki dampak yang sama. Budi mengarahkan perhatian pada kebiasaan konsumsi dan penggunaan minyak, terutama ketika sajian itu sering hadir dalam menu sehari-hari. Dengan demikian, cara pengolahan menjadi bagian penting dari pesannya.

Budi menyampaikan secara tegas bahwa konsumsi kol goreng setiap hari dapat mempercepat risiko kanker. Pernyataan itu perlu dipahami sebagai peringatan yang ia sampaikan dalam video, bersama penjelasannya tentang perubahan kandungan gizi akibat penggorengan dan risiko dari minyak yang digunakan berulang kali. Dalam video yang sama, ia juga menyinggung komentar mengenai kolesterol tinggi yang dialami pada usia muda. Komentar tersebut menjadi konteks bagi kekhawatirannya terhadap pola makan dan kebiasaan menyantap makanan goreng. Ia menghubungkan kedua hal itu sebagai pengingat agar konsumsi kol goreng tidak dianggap sepele, khususnya jika dilakukan setiap hari. Pesannya berfokus pada kehati-hatian, tanpa merinci penjelasan medis lebih lanjut.

Budi menyampaikan peringatannya mengenai kebiasaan menyantap kol goreng melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya. Dalam video tersebut, ia menyoroti konsumsi kol yang digoreng sebagai kebiasaan yang perlu diperhatikan, terutama apabila dilakukan setiap hari. Pesan itu disampaikan dengan mengaitkannya pada risiko kesehatan yang mungkin timbul dan pola makan yang sudah akrab bagi sebagian masyarakat.

Pernyataan tersebut menempatkan kebiasaan sehari-hari sebagai hal yang patut dicermati, bukan hanya pilihan makanan yang sesekali dikonsumsi. Kol goreng mungkin dianggap sebagai pendamping yang lazim dan menambah kenikmatan saat menyantap penyetan, tetapi frekuensi konsumsi menjadi bagian penting dari peringatan Budi. Ia menghubungkan konsumsi rutin dengan risiko kanker, sekaligus menyoroti persoalan kolesterol yang dapat muncul pada usia muda.

Kutipan dan pesan itu disampaikan dalam video yang dibagikan di akun Instagram pribadi Budi. Sumber mencantumkan kutipan tersebut pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Peringatan Budi berfokus pada kebiasaan mengonsumsi kol goreng setiap hari serta anggapan bahwa sajian penyetan belum lengkap tanpanya. Dengan menyampaikan hal tersebut secara langsung, ia mengajak masyarakat memperhatikan pola makan yang berulang dan tidak menganggap pelengkap makanan selalu bebas dari risiko. Pernyataan itu merupakan pengingat agar konsumsi kol goreng dan pilihan pendamping penyetan dipertimbangkan sebagai bagian dari kebiasaan makan, terutama ketika dilakukan secara rutin.

Di tengah pembahasan mengenai risiko kesehatan dari kebiasaan menyantap kol goreng, Budi mengingatkan bahwa kol dalam keadaan segar memiliki nilai gizi yang patut diperhatikan. Sayuran ini mengandung berbagai zat gizi dan dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari yang beragam. Kol segar juga dikenal rendah kalori, sehingga dapat melengkapi hidangan tanpa menambah banyak energi. Sifat tersebut membuatnya mudah dipadukan dengan berbagai menu, baik sebagai lalapan, campuran salad, maupun bahan masakan yang tidak melalui proses penggorengan. Pilihan penyajian dan cara pengolahan tetap penting karena dapat memengaruhi kandungan akhir makanan yang dikonsumsi.

Angka yang disampaikan untuk kol segar adalah sekitar 24 kalori dalam setiap 100 gram. Jumlah itu merujuk pada sayuran sebelum digoreng, bukan pada kol yang telah dimasak dengan minyak. Perbedaan ini perlu dipahami agar informasi kalori tidak diterapkan secara keliru pada hidangan yang sudah mengalami pengolahan. Saat kol digoreng, minyak dan bahan lain yang digunakan dapat mengubah nilai energi sajian. Karena itu, keterangan mengenai kalori kol segar tidak dapat dianggap sebagai angka pasti untuk kol goreng. Cara penyajian, porsi, serta bahan tambahan turut menentukan karakter gizi hidangan yang akhirnya tersaji.

Selain bernilai kalori rendah, kol segar relatif mudah dijangkau masyarakat dan dapat diperoleh untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Keterjangkauan tersebut menjadikannya pilihan sayuran yang praktis untuk melengkapi konsumsi pangan sehari-hari. Namun, manfaat yang dikaitkan dengan kol segar sebaiknya dibedakan dari dampak cara pengolahannya. Pesan Budi menempatkan dua hal itu secara berdampingan: kol sebagai sayuran kaya nutrisi dan rendah kalori, serta kol goreng sebagai olahan yang memiliki karakter berbeda. Dengan demikian, angka sekitar 24 kalori per 100 gram menggambarkan kol segar saja. Angka tersebut bukan kandungan kalori kol setelah digoreng, ketika minyak dapat menambah energi pada sajian.

Baca juga: Forkopimcam Hadir untuk Warga, Bagikan Masker sebagai Upaya Jaga Kesehatan | Dampak Proyek Reklamasi di Marunda: Rumah Retak dan Kesehatan Warga Terganggu | Kondisi Kesehatan Siswa Usai Makan Bersama di Kediri