Bogor | Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan bahwa akses anak terhadap platform digital berisiko tinggi perlu dibatasi sebagai langkah perlindungan. Menurutnya, ruang digital menyediakan banyak manfaat, tetapi juga menyimpan ancaman yang dapat berdampak pada keselamatan dan perkembangan anak. Karena itu, perlindungan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan anak untuk mengenali bahaya atau keputusan keluarga semata. Pemerintah perlu menetapkan aturan yang mendorong penyelenggara platform mengambil tanggung jawab lebih besar, sekaligus memberi orang tua dan masyarakat landasan yang jelas untuk menjaga anak saat menggunakan layanan digital.
Penekanan tersebut disampaikan Meutya ketika menghadiri acara open house SMA Kemala Taruna Bhayangkara di Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu. Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan bahwa pembatasan bukan dimaksudkan untuk menutup seluruh akses anak terhadap teknologi. Tujuannya adalah mengurangi paparan terhadap layanan yang dinilai membawa risiko tinggi, sesuai dengan usia dan kebutuhan perlindungan mereka. Pendekatan ini menempatkan keselamatan anak sebagai pertimbangan utama, tanpa mengabaikan peran teknologi dalam pendidikan, komunikasi, kreativitas, dan kehidupan sehari-hari. Pembedaan platform berisiko tinggi dan layanan digital lain menjadi bagian penting dalam penerapan kebijakan.
Kebijakan tersebut, lanjutnya, mengikuti arahan presiden dan merujuk pada PP Nomor 21 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak, yang dikenal sebagai PP Tunas. Peraturan ini mencakup pembatasan akses anak hingga usia 16 tahun terhadap platform yang dikategorikan berisiko tinggi. Ketentuan itu memberi arah bagi pengelola sistem elektronik untuk menjalankan perlindungan secara lebih terstruktur, bukan sekadar mengandalkan imbauan. Pelaksanaannya tetap memerlukan penjelasan yang mudah dipahami mengenai kategori risiko, mekanisme pembatasan, serta tanggung jawab penyedia layanan. Dengan kerangka tersebut, pemerintah mendorong lingkungan digital yang lebih aman bagi anak, sementara keluarga dan sekolah tetap berperan dalam mendampingi penggunaan teknologi secara bijak.
Perlindungan anak di ruang digital menjadi perhatian karena aktivitas daring menawarkan manfaat sekaligus membawa risiko yang dapat berdampak langsung pada tumbuh kembang anak. Meutya menyoroti kecanduan sebagai salah satu persoalan, terutama ketika penggunaan perangkat berlangsung tanpa batas dan menggeser waktu tidur, belajar, bermain, serta berinteraksi langsung. Anak juga dapat berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal, sementara identitas dan maksud pihak tersebut belum tentu dapat dipastikan. Di ruang yang sama, mereka berisiko menemukan konten berbahaya atau tidak sesuai usia, yang bisa memengaruhi pemahaman, emosi, dan perilaku. Pengawasan serta pendampingan orang dewasa karena itu tetap diperlukan secara konsisten dan proporsional.
Fitur komunikasi seperti pesan pribadi, obrolan dalam gim, dan siaran langsung dapat memudahkan anak berhubungan dengan teman, tetapi juga membuka peluang terjadinya perundungan, penipuan, dan eksploitasi seksual. Pelaku dapat menyamar sebagai teman sebaya, membangun kepercayaan, lalu meminta informasi atau materi pribadi. Di sisi lain, eksploitasi komersial dapat muncul melalui iklan tertarget, pembelian dalam aplikasi, atau dorongan untuk membagikan data demi memperoleh layanan tertentu. Pengumpulan dan penyalahgunaan data pribadi meningkatkan risiko terhadap privasi maupun keamanan anak. Dampaknya tidak terbatas pada kerugian materi; tekanan, rasa takut, dan paparan yang tidak sesuai dapat mengganggu kesehatan mental serta kesejahteraan mereka.
Kekhawatiran lain berkaitan dengan cara sebagian layanan media sosial dan gim dirancang untuk mempertahankan perhatian. Notifikasi, rekomendasi konten tanpa jeda, hadiah virtual, dan fitur gulir berkelanjutan dapat mendorong penggunaan berulang. Bagi anak yang kemampuan mengatur diri masih berkembang, pola tersebut membuat waktu di depan perangkat sulit dikendalikan. Penggunaan berlebihan dapat mengurangi waktu untuk tidur, kegiatan fisik, belajar, dan hubungan sosial di luar jaringan. Karena itu, risiko digital tidak hanya berasal dari konten atau orang lain, tetapi juga dari desain layanan yang mendorong keterlibatan terus-menerus. Aturan diperlukan untuk mendorong perlindungan yang lebih kuat, sementara keluarga, penyedia platform, dan pemerintah memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga kesehatan dan keamanan anak saat beraktivitas daring.
Meutya mengimbau orang tua agar memahami bahwa ruang digital menghadirkan beragam risiko bagi anak. Akses ke internet dapat membuka kesempatan belajar dan berkomunikasi, tetapi juga mempertemukan anak dengan konten yang tidak sesuai usia, interaksi yang berbahaya, serta penggunaan layar yang berlebihan. Karena itu, perlindungan anak tidak cukup diserahkan kepada aturan atau perangkat semata. Orang tua perlu mengenali layanan dan aplikasi yang digunakan anak, memahami kemungkinan risikonya, lalu membicarakannya dengan bahasa yang sesuai usia. Pemahaman ini membantu keluarga menetapkan batasan secara masuk akal, bukan sekadar melarang tanpa penjelasan.
Pendampingan sebaiknya dilakukan secara aktif dan berkelanjutan. Orang tua dapat bertanya tentang apa yang ditonton, dimainkan, atau dibagikan anak, serta menunjukkan minat tanpa membuat mereka takut untuk bercerita. Komunikasi yang terbuka membuat anak lebih mungkin meminta bantuan ketika menghadapi pesan mencurigakan, perundungan, atau konten yang membuat tidak nyaman. Selain itu, orang tua dianjurkan memantau aktivitas digital anak, termasuk durasi penggunaan dan jenis konten yang diakses. Pemantauan perlu disertai kesepakatan yang jelas mengenai waktu layar, privasi, dan perilaku aman di internet. Dengan begitu, pengawasan menjadi bagian dari pembelajaran tanggung jawab, bukan hanya kontrol.
Meutya juga mendorong orang tua mengajak anak melakukan lebih banyak kegiatan di luar layar, termasuk olahraga. Kegiatan fisik memberi kesempatan bagi anak untuk bergerak, beristirahat dari perangkat, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan maupun orang lain. Aktivitas tersebut penting bagi kesehatan dan perkembangan anak. Menurut penjelasan yang disampaikan, perkembangan mereka dinilai tidak optimal apabila hanya mengandalkan kemampuan intelektual tanpa didukung kondisi fisik yang baik. Karena itu, keseimbangan belajar, penggunaan teknologi, istirahat, permainan, dan olahraga perlu dijaga. Orang tua dapat memulainya dengan rutinitas sederhana, seperti berjalan bersama, bermain di luar, atau menentukan waktu keluarga tanpa gawai. Teladan orang dewasa dalam membatasi layar juga membantu anak memahami bahwa kehidupan digital perlu seimbang dengan kebiasaan sehat sehari-hari.
Perlindungan anak di ruang digital tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah dan orang tua. Keduanya memiliki peran penting, tetapi anak juga berinteraksi dengan layanan dan fitur yang dirancang serta disediakan oleh penyelenggara platform digital. Karena itu, tanggung jawab melindungi anak perlu dipahami sebagai tanggung jawab bersama. Setiap pihak berperan sesuai kewenangan dan pengaruhnya terhadap pengalaman anak di internet. Pendekatan ini penting agar perlindungan tidak berhenti pada pengawasan keluarga atau aturan pemerintah, melainkan turut memperhitungkan bagaimana layanan digital dapat digunakan oleh anak.
Menurut Meutya, penyelenggara platform digital berkewajiban menilai risiko dari layanan dan fitur yang mereka sediakan, sekaligus menerapkan langkah-langkah perlindungan anak. Penilaian tersebut menjadi penting karena karakter sebuah layanan dapat memengaruhi cara anak mengakses, memahami, dan berinteraksi dengan konten maupun pengguna lain. Risiko yang muncul di ruang digital tidak selalu dapat dikenali atau diantisipasi oleh anak sendiri. Oleh sebab itu, penyedia layanan perlu mempertimbangkan dampak yang mungkin timbul bagi pengguna anak, bukan sekadar mengandalkan kemampuan anak atau keluarga untuk menghindarinya.
Kewajiban platform berkaitan langsung dengan berbagai risiko yang telah dibahas dalam konteks perlindungan anak di ruang digital. Ketika layanan atau fitur berpotensi membuka peluang bagi pengalaman yang merugikan, penilaian risiko dan langkah perlindungan menjadi bagian dari tanggung jawab penyelenggara. Hal ini tidak berarti seluruh tanggung jawab beralih kepada platform. Pemerintah tetap berperan dalam perlindungan, sementara orang tua dan pengasuh mendampingi anak sesuai kebutuhan.
Baca juga: Kenangan Terakhir Kanaya WHU: Umrah Bersama Sahabat | Asrenum Panglima TNI Bersama Wamenhan RI Bahas RUU Reforma Agraria | Komitmen Bersama untuk Sepak Bola Aman dan Damai di Jawa Tengah




