Kota Depok | Keributan antarwarga terjadi di kawasan Cimanggis, Tapos, Kota Depok. Perselisihan tersebut bermula dari persoalan pembakaran sampah yang kemudian berkembang menjadi konflik warga setempat dan warga Perumahan Zenitparc. Peristiwa ini menarik perhatian karena tidak hanya menimbulkan ketegangan di lingkungan sekitar, tetapi juga berdampak langsung terhadap akses menuju kawasan perumahan.
Dalam perselisihan itu, warga setempat berinisial S terlibat dengan warga Perumahan Zenitparc berinisial A. Perbedaan pandangan mengenai aktivitas pembakaran sampah menjadi pemicu munculnya keributan. Persoalan yang awalnya berkaitan dengan kondisi lingkungan tersebut kemudian meluas hingga memengaruhi hubungan warga di sekitar lokasi.
Dampak paling nyata terlihat pada akses jalan menuju Perumahan Zenitparc. Sebagian ruas jalan ditutup sehingga kendaraan milik penghuni perumahan mengalami kesulitan untuk melintas. Penutupan tersebut membuat jalur yang biasa digunakan warga tidak dapat diakses secara leluasa, serta mengganggu mobilitas penghuni yang hendak masuk atau keluar dari kawasan perumahan.
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan di tingkat permukiman dapat berkembang menjadi perselisihan antarwarga apabila tidak segera dikelola. Pembakaran sampah menjadi titik awal perdebatan, sedangkan penutupan jalan memperbesar dampak konflik terhadap aktivitas sehari-hari. Warga di kawasan Cimanggis pun menghadapi kondisi akses yang tidak seperti biasanya, khususnya bagi penghuni Perumahan Zenitparc yang bergantung pada jalur tersebut.
Peristiwa di Cimanggis itu menjadi perhatian karena melibatkan dua lingkungan warga yang saling berdekatan. Perselisihan S dan A mencerminkan adanya ketegangan yang berawal dari persoalan pembakaran sampah, lalu berujung pada terganggunya akses kendaraan. Penutupan sebagian jalan menjadi konsekuensi langsung yang dirasakan penghuni perumahan dalam menjalankan kegiatan mereka.
Menurut penjelasan Kasi Humas Polres Metro Depok, AKP Hendra, perselisihan tersebut bermula pada Selasa (29/9/2026). Saat itu, A menegur S yang sedang membakar sampah. Teguran tersebut disampaikan karena asap dari pembakaran terlihat membumbung hingga ke area perumahan. Kondisi itu kemudian menjadi awal munculnya persoalan kedua pihak.
Pembakaran sampah yang dilakukan S menjadi perhatian A karena asapnya mencapai lingkungan tempat tinggal warga. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, teguran A berkaitan dengan dampak asap tersebut, bukan dengan informasi lain di luar peristiwa pembakaran. Penjelasan ini menjadi bagian penting untuk memahami rangkaian awal perselisihan sebelum persoalan berkembang lebih jauh.
Dalam kejadian itu, A juga merekam aksi pembakaran sampah yang dilakukan S. Rekaman tersebut kemudian diunggah A ke media sosial tanpa sepengetahuan S. Tidak terdapat keterangan lebih lanjut mengenai isi rekaman selain bahwa video itu merekam aksi pembakaran sampah.
Tindakan perekaman dan pengunggahan tersebut membuat S merasa kecewa. Perasaan itu muncul setelah mengetahui bahwa aksi pembakaran yang ditegur A telah direkam dan dibagikan ke media sosial tanpa sepengetahuannya. Namun, hubungan sebab-akibat tersebut perlu dipahami secara hati-hati, sesuai keterangan yang tersedia, tanpa mengubahnya menjadi tuduhan terhadap salah satu pihak. Rangkaian ini menjelaskan bagaimana teguran mengenai asap pembakaran kemudian berkembang menjadi perselisihan di A dan S.
Setelah mengetahui atau merasa keberatan terhadap tindakan perekaman dan pengunggahan video tersebut, pihak keluarga S meluapkan kekesalannya dengan memasang pemagaran di akses menuju Perumahan Zenitparc. Tindakan itu menjadi perkembangan baru dalam perselisihan yang sebelumnya berkaitan dengan pembakaran sampah dan penyebaran rekaman. Pemagaran dilakukan menggunakan konblok dan ditempatkan pada sebagian badan jalan yang biasa dilalui menuju kawasan perumahan.
Penempatan konblok tersebut membuat lebar jalur yang tersedia bagi pengguna jalan menjadi terbatas. Akibatnya, kendaraan penghuni Perumahan Zenitparc mengalami kesulitan ketika hendak melintas. Pengemudi harus memperlambat laju kendaraan dan menyesuaikan posisi agar dapat melewati bagian jalan yang masih terbuka. Kondisi itu juga berpotensi menghambat pergerakan kendaraan apabila terdapat dua kendaraan yang datang dari arah berlawanan atau ketika kendaraan berukuran lebih besar hendak melintas.
Bagi penghuni perumahan, perubahan akses tersebut terasa langsung dalam aktivitas sehari-hari. Perjalanan keluar dan masuk kawasan menjadi tidak seleluasa sebelumnya karena sebagian jalur tertutup oleh susunan konblok. Kendaraan yang hendak menuju rumah maupun meninggalkan perumahan perlu menghadapi ruang gerak yang lebih sempit, sehingga waktu melintas dapat bertambah dan arus kendaraan menjadi kurang lancar.
Pemagaran ini memperlihatkan bahwa perselisihan berkembang dari persoalan awal menjadi tindakan yang berdampak pada akses bersama yang digunakan penghuni. Namun, informasi mengenai tindakan tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan motif lain di luar keberatan keluarga S terhadap perekaman dan pengunggahan video. Demikian pula, fakta pemagaran tersebut belum menjadi dasar untuk menyimpulkan status kepemilikan jalan ataupun ada tidaknya izin terkait pemasangan konblok. Perkembangan yang tampak adalah adanya pembatasan fisik pada sebagian badan jalan dan kesulitan melintas yang kemudian dialami kendaraan penghuni Perumahan Zenitparc.
Situasi di lingkungan tersebut semakin memanas pada Minggu sore setelah akses jalan dipagari dan menghambat kendaraan yang hendak melintas. Pemagaran itu membuat jalur yang biasa digunakan warga tidak dapat dilewati sebagaimana mestinya. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi aktivitas warga, termasuk A yang pada saat itu perlu melewati jalan lingkungan menggunakan mobilnya.
Karena tidak dapat melintas, A mengambil keputusan untuk memarkir mobilnya di tengah jalan. Kendaraan tersebut ditempatkan pada bagian jalan yang menjadi akses bersama, sehingga posisi mobil secara langsung turut menghambat pergerakan warga lain. Akses yang sebelumnya sudah terganggu oleh pemagaran menjadi semakin terbatas setelah mobil berada di tengah jalur.
Keberadaan mobil di tengah jalan kemudian menarik perhatian warga. Kendaraan itu dinilai menambah hambatan bagi orang-orang yang hendak menggunakan akses tersebut untuk beraktivitas. Situasi yang semula berkaitan dengan tertutupnya jalan akibat pemagaran berkembang menjadi ketegangan baru karena mobil A berada pada jalur yang seharusnya dapat dilalui bersama.
Hambatan berlapis tersebut memicu emosi massa di sekitar lokasi. Warga yang terdampak oleh tertutupnya akses dan terhalang oleh mobil menyampaikan reaksi keras, sehingga suasana lingkungan menjadi semakin panas. Dengan demikian, rangkaian peristiwa pada Minggu sore berlangsung dari pemagaran akses jalan, keputusan A memarkir mobil di tengah jalan karena tidak dapat melintas, hingga munculnya ketegangan akibat kendaraan tersebut kembali menghambat aktivitas warga lain.
Baca juga: Dampak Penutupan Tambang Jabar Terhadap Antrean Panjang di SPBU Banten | Tugas Layani Masyarakat Berujung Tembakan, Tiga Petugas Bapang Jadi Korban
