Rob Mengintai 15 Provinsi, BNPB Minta Warga Pesisir Siaga

Rob Mengintai 15 Provinsi, BNPB Minta Warga Pesisir Siaga

Kabupaten Deli Serdang | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan memasuki musim hujan, khususnya warga yang tinggal di kawasan pesisir. Salah satu ancaman yang perlu diantisipasi ialah banjir pesisir atau rob, yang dapat mengganggu aktivitas harian dan berdampak pada permukiman di wilayah rentan. Imbauan tersebut disampaikan melalui surat Direktur Peringatan Dini BNPB tertanggal 22 Oktober 2026. Surat itu memuat arahan kesiapsiagaan serta peringatan dini bagi pemerintah daerah dan masyarakat agar potensi dampak dapat dihadapi lebih awal.

Peringatan ini berkaitan dengan sejumlah pemicu yang dapat memengaruhi kondisi pasang air laut. BNPB mencatat fase bulan purnama pada 26 Oktober 2026 dan fase perigee pada 29 Oktober 2026, selain dinamika oseanografi. Perubahan kondisi laut tersebut menjadi alasan bagi warga pesisir untuk mencermati informasi resmi dan perkembangan cuaca maupun gelombang di wilayah masing-masing. Kesiapsiagaan diperlukan meskipun tingkat dampak dapat berbeda antarlokasi. Warga sebaiknya mengenali lingkungan sekitar, memperhatikan arahan otoritas setempat, serta menyiapkan langkah yang diperlukan apabila terjadi genangan atau kondisi darurat.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebut ancaman rob mencakup pesisir di 15 provinsi. Wilayah yang masuk dalam cakupan peringatan ialah pesisir Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, dan Maluku. Penyebutan wilayah tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama selama periode yang diperkirakan dipengaruhi fase bulan dan dinamika laut. BNPB mengarahkan agar peringatan dini diperhatikan dan kesiapan menghadapi kemungkinan banjir pesisir ditingkatkan. Masyarakat di kawasan pesisir dianjurkan mengikuti informasi dari sumber resmi dan tidak mengabaikan arahan petugas apabila kondisi setempat berubah. Dengan demikian, warga dapat merespons potensi rob secara lebih terencana dan membantu mengurangi risiko bagi keluarga serta lingkungan sekitar.

BNPB mengimbau warga yang tinggal di kawasan pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan ketika pasang maksimum diperkirakan terjadi. Pada periode tersebut, kegiatan di pantai sebaiknya dibatasi, terutama aktivitas yang menempatkan warga dekat garis air atau berisiko terseret gelombang. Masyarakat perlu memperhatikan informasi cuaca dan peringatan resmi, serta mengikuti arahan petugas setempat. Nelayan juga diminta menunda keberangkatan apabila gelombang tinggi dinilai membahayakan keselamatan. Keputusan untuk tidak melaut perlu mengutamakan keselamatan jiwa, bukan hanya mempertimbangkan jadwal ataupun hasil tangkapan. Warga di sekitar pantai dapat mengamankan perahu, alat tangkap, kendaraan, dan barang berharga ke lokasi yang lebih aman sebelum kondisi memburuk. Langkah sederhana ini membantu mengurangi kemungkinan kerugian dan cedera.

BNPB meminta pemerintah daerah bersama BPBD memastikan upaya kesiapsiagaan berjalan sebelum ancaman meningkat. Pemantauan kondisi pesisir perlu dioptimalkan dengan memanfaatkan informasi dan prakiraan dari BMKG, kemudian menyampaikan perkembangan yang relevan kepada masyarakat secara cepat dan mudah dipahami. Pemerintah daerah juga diminta memeriksa kesiapan tempat pengungsian, termasuk akses, kapasitas, serta kebutuhan dasar bagi warga yang mungkin harus berpindah. Pembersihan drainase di kawasan pesisir perlu dilakukan agar aliran air tidak terhambat, sementara kondisi tanggul pantai harus diperiksa dan diamankan pada bagian yang berisiko. Selain itu, personel dan logistik untuk mendukung evakuasi perlu disiapkan sejak dini, sehingga respons dapat dilakukan tanpa menunggu keadaan darurat membesar.

Persiapan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah dan dilakukan secara terkoordinasi. BPBD dapat membantu menghubungkan pemantauan, penyampaian peringatan, dan langkah penanganan, sedangkan perangkat daerah memastikan sumber daya dan fasilitas tersedia. Masyarakat juga perlu mengetahui jalur evakuasi, lokasi berkumpul, serta cara memperoleh informasi resmi. Berton menekankan bahwa koordinasi pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat diperlukan untuk mengurangi risiko serta dampak potensi bencana. Komunikasi yang jelas memungkinkan warga mengambil tindakan lebih awal, sementara petugas dapat menentukan prioritas berdasarkan situasi lapangan. Dengan kesiapan bersama, langkah pembatasan aktivitas, pengamanan aset, dan evakuasi dapat dilakukan lebih tertib. Kewaspadaan perlu dipertahankan selama kondisi berbahaya masih berpotensi terjadi, dengan tetap mengikuti pembaruan resmi dari pihak berwenang.

Hingga Jumat, 30 Oktober 2026, jumlah kejadian bencana di Indonesia tercatat mencapai 2.247, menurut Berton. Kenaikan catatan tersebut mencakup tambahan enam kejadian banjir di Sumatra Utara dan Aceh, serta dua kejadian cuaca ekstrem di Kalimantan Selatan dan Jawa Timur. Perkembangan ini menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah, terutama ketika hujan berintensitas tinggi berpotensi menimbulkan genangan, luapan sungai, dan gangguan terhadap aktivitas warga.

Dampak banjir paling signifikan yang disampaikan tercatat di Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara. Sebanyak 7.615 kepala keluarga terdampak, sementara 7.327 rumah dilaporkan terendam. Di Kota Medan, banjir berdampak pada 2.405 kepala keluarga. Angka tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan penanganan di kawasan permukiman, termasuk pemantauan kondisi warga, pemenuhan kebutuhan dasar, serta upaya mengurangi risiko ketika hujan kembali turun. Warga di area rawan perlu mengikuti informasi resmi pemerintah daerah dan petugas kebencanaan, serta menghindari jalur yang tergenang atau berarus deras.

Ancaman hujan lebat hingga sangat lebat masih perlu diwaspadai di Aceh, yang berstatus siaga, serta sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Kondisi cuaca tersebut dapat meningkatkan potensi banjir, banjir bandang, dan longsor, khususnya di lokasi dengan drainase terbatas, lereng rentan, atau permukiman dekat sungai. Kewaspadaan perlu disesuaikan dengan informasi peringatan yang berlaku di masing-masing daerah karena intensitas hujan dan dampaknya dapat berbeda antarlokasi.

Sebagai konteks, sumber menyebut dampak tidak langsung bibit siklon tropis 91B yang berada di Laut Andaman. Faktor ini turut menjadi perhatian dalam pemantauan cuaca, meskipun dampak yang dirasakan masyarakat tetap bergantung pada perkembangan atmosfer setempat. Pemerintah daerah dan warga pesisir maupun wilayah rawan banjir diharapkan menjaga kesiapsiagaan, memantau pembaruan dari lembaga berwenang, dan menyiapkan langkah keselamatan apabila kondisi memburuk. Informasi mengenai total kejadian dan dampak banjir tersebut memberi gambaran bahwa pemantauan risiko perlu dilakukan berkelanjutan, bukan hanya setelah bencana terjadi.

Selain ancaman rob, BNPB mengingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi banjir dan bahaya hidrometeorologi lain. Warga dapat mengurangi risiko banjir dengan bergotong royong membersihkan saluran air, selokan, dan jalur drainase di lingkungan masing-masing agar aliran tidak tersumbat sampah atau endapan. Kegiatan susur sungai juga dapat membantu mengenali hambatan maupun kondisi tebing, tetapi harus dilakukan dengan pengawasan petugas BPBD dan mengutamakan keselamatan. Masyarakat perlu mengetahui jalur evakuasi yang aman serta lokasi pengungsian sebelum keadaan darurat terjadi. Pemeriksaan infrastruktur, termasuk bendungan dan fasilitas pengendali air, sebaiknya dilakukan oleh pihak berwenang secara berkala. Di tingkat keluarga, siapkan tas siaga yang mudah dibawa dan berisi kebutuhan darurat untuk sedikitnya tiga hari, seperti air minum, makanan, obat-obatan, pakaian, dokumen penting, lampu senter, serta perlengkapan komunikasi.

Untuk mengantisipasi angin kencang atau puting beliung, warga dianjurkan memeriksa kondisi rumah dan memperkuat bagian atap yang berisiko terangkat atau terlepas. Pangkas ranting pohon yang rimbun, rapuh, atau menjuntai dekat bangunan dan jaringan listrik, dengan memperhatikan keselamatan saat pengerjaan. Ketika cuaca memburuk, hindari berteduh di dekat benda yang mudah roboh atau dapat diterbangkan angin, termasuk baliho, papan reklame, tiang, dan pohon besar.