Yen dan Franc Swiss Jadi Pilihan Saat Dolar AS Kehilangan Kilau sebagai Aset Aman

Yen dan Franc Swiss Jadi Pilihan Saat Dolar AS Kehilangan Kilau sebagai Aset Aman

Jakarta | Dalam gejolak pasar yang dibahas ING dalam riset tertanggal 23 Oktober 2026, yen Jepang dan franc Swiss menjadi mata uang yang dicari investor untuk perlindungan. Dolar Amerika Serikat tidak tampil sebagai penerima manfaat utama, meskipun tekanan terhadap saham biasanya dapat mendorong sebagian pelaku pasar beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Pergerakan ini menunjukkan bahwa respons pasar terhadap risiko tidak selalu mengikuti pola yang sama.

ING mengaitkan tekanan pada saham global dengan kekhawatiran terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) serta kenaikan harga minyak. Kekhawatiran mengenai AI dapat memengaruhi penilaian investor terhadap prospek perusahaan dan harga saham, sementara minyak yang lebih mahal menambah perhatian terhadap biaya dan risiko ekonomi. Kedua faktor tersebut hadir di tengah suasana pasar yang rapuh dan mendorong investor meninjau kembali posisi mereka.

Namun, aksi jual saham tidak otomatis berarti dolar AS menguat. Dalam episode yang dicermati ING, permintaan perlindungan justru mengarah pada yen dan franc Swiss. Pilihan tersebut menggarisbawahi bahwa daya tarik mata uang aman dapat berubah menurut sumber kekhawatiran, kondisi pasar, dan pertimbangan investor. Karena itu, hubungan pelemahan saham dan penguatan dolar tidak sebaiknya dianggap sebagai aturan yang selalu berlaku.

Bagi pembaca di Indonesia, perkembangan ini merupakan bagian dari dinamika pasar global, bukan peristiwa yang secara langsung berlangsung di dalam negeri. Pergerakan yen, franc Swiss, dan dolar memberi gambaran tentang bagaimana investor internasional menilai risiko ketika tekanan meningkat. Riset ING dapat dibaca sebagai catatan atas pilihan pasar pada waktu tersebut, bukan sebagai kepastian bahwa pola serupa akan terulang. Faktor pemicu, perubahan sentimen, dan arus investasi dapat bergeser, sehingga respons setiap mata uang perlu dipahami dalam konteksnya. Dalam situasi ini, perhatian tertuju pada dua mata uang yang memperoleh minat sebagai pelindung, sementara dolar tidak menjadi tujuan utama dari perpindahan dana yang digambarkan. Hal tersebut menegaskan bahwa status aset aman bukan jaminan mata uang tertentu akan selalu menguat saat saham turun.

Dalam kajian yang diterbitkan pada Juni 2026, Bank Sentral Eropa (ECB) menjelaskan mata uang safe haven sebagai mata uang yang cenderung mempertahankan nilainya atau menguat ketika pasar berada di bawah tekanan. Investor biasanya mencari aset yang dinilai lebih aman saat ketidakpastian meningkat, tetapi perlindungan tersebut tidak selalu datang dari mata uang yang sama. Secara historis, dolar AS, franc Swiss, dan yen Jepang termasuk dalam kelompok mata uang yang kerap berperan sebagai tempat berlindung. Status itu menggambarkan kecenderungan yang terlihat dalam berbagai periode, bukan jaminan bahwa nilainya akan naik setiap kali terjadi gejolak.

Temuan ECB menunjukkan bahwa sumber ketidakpastian dapat memengaruhi arah arus perlindungan. Dalam beberapa episode sejak 2025 hingga awal 2026, ketidakpastian yang berasal dari Amerika Serikat beriringan dengan pelemahan dolar. Pada saat yang sama, euro, yen, dan franc Swiss menguat. Pola tersebut menandai perubahan penting: mata uang AS yang selama ini menjadi pilihan utama dalam banyak situasi tekanan pasar tidak selalu menguat ketika sumber guncangan berada di negara itu sendiri. Investor dapat menilai ulang risiko yang melekat pada mata uang, pasar, atau kebijakan dari negara asal tekanan tersebut.

Respons ini tidak seragam dari satu episode ke episode lain. Gejolak global, ketegangan geopolitik, perubahan prospek suku bunga, maupun kekhawatiran mengenai kebijakan ekonomi dapat mendorong perilaku pasar yang berbeda. Karena itu, penguatan yen atau franc Swiss pada periode tertentu tidak dengan sendirinya berarti keduanya akan selalu mengungguli dolar, sebagaimana pelemahan dolar dalam satu episode tidak menghapus perannya sebagai aset likuid dan aman dalam konteks lain. Arah pencarian perlindungan investor bergantung pada sifat serta asal guncangan, dan dapat berubah seiring perkembangan informasi. Memahami konteks tersebut membantu menjelaskan mengapa beberapa mata uang bergerak berlawanan dengan pola historisnya, tanpa menganggap satu mata uang memiliki status perlindungan yang tetap dalam segala kondisi.

ING mencatat perubahan pada pasar obligasi Amerika Serikat yang menunjukkan turunnya imbal hasil. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun kembali berada di bawah 5% untuk pertama kalinya dalam sebulan. Pada saat yang sama, tingkat swap SOFR dua tahun turun 15 basis poin menjadi 4,50%. Pergerakan tersebut mencerminkan penyesuaian ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter dan kondisi pasar, bukan perubahan langsung pada nilai tukar dolar. Saat harga obligasi pemerintah AS naik, imbal hasilnya bergerak turun; keduanya memiliki hubungan berlawanan. Kurs dolar, sebaliknya, mengukur nilai mata uang itu relatif terhadap mata uang lain, sehingga tidak dapat disamakan dengan pembelian obligasi.

Menurut penilaian ING, gejolak di pasar saham mengurangi keyakinan pelaku pasar bahwa Federal Reserve akan menerapkan pengetatan moneter yang agresif. Ketidakpastian mengenai dampak kondisi keuangan yang lebih ketat dapat membuat investor menilai kembali seberapa jauh bank sentral akan menaikkan suku bunga. Perubahan ekspektasi itu turut menekan imbal hasil jangka pendek dan dapat mengurangi dukungan bagi dolar. Namun, pelemahan mata uang AS belum tentu berlanjut tanpa hambatan. Ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember masih berpotensi membatasi tekanan lebih lanjut terhadap dolar, terutama jika data ekonomi atau komunikasi The Fed kembali memperkuat perkiraan kebijakan yang ketat.

Riset ING juga menyoroti risiko di pasar obligasi Eropa. Selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman tenor 10 tahun ditutup pada 174 basis poin. Tekanan pada obligasi Prancis dapat menjadi beban bagi euro karena investor meminta kompensasi lebih besar untuk memegang surat utang Prancis dibandingkan obligasi acuan Jerman. Di pasar negara berkembang, peso Meksiko melemah hampir 8% terhadap dolar sejak awal September. ING mengaitkan pelemahan tersebut dengan sikap bank sentral Meksiko yang tidak otomatis mengikuti kenaikan suku bunga Federal Reserve. Karena itu, arah mata uang tidak hanya bergantung pada perubahan suku bunga AS, tetapi juga pada kebijakan domestik, sentimen risiko, dan perbedaan imbal hasil antarnegara. Perkembangan ini membantu menjelaskan mengapa investor dapat membeli obligasi AS tanpa serta-merta mendorong kurs dolar menguat terhadap semua mata uang utama maupun negara berkembang.

Pergeseran investor menuju yen atau franc Swiss ketika dolar AS kehilangan daya tarik sebagai aset aman dalam suatu episode gejolak perlu dibaca sebagai perubahan pilihan jangka pendek. Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, pelaku pasar dapat memindahkan dana dengan cepat berdasarkan persepsi risiko, arah suku bunga, kebutuhan likuiditas, dan perkembangan ekonomi maupun politik. Arus tersebut menunjukkan bagaimana investor menilai tempat berlindung pada saat tertentu, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa mata uang lain telah menggantikan dolar dalam seluruh fungsi keuangan internasional. Perubahan harga dan aliran modal selama satu periode juga dapat berbalik ketika kondisi pasar atau ekspektasi berubah.

Catatan peneliti Federal Reserve yang diterbitkan pada Juli 2026 menempatkan perilaku tersebut dalam konteks yang lebih luas. Menurut catatan itu, dolar tetap memainkan peran utama dalam transaksi valuta asing, pembayaran lintas negara, cadangan devisa resmi, serta denominasi utang dan pinjaman internasional. Kedudukan ini ditopang oleh besarnya ekonomi Amerika Serikat dan pasar keuangannya yang dalam serta likuid. Kedalaman pasar memberi pelaku pasar pilihan luas untuk melakukan transaksi, sementara likuiditas membantu mereka membeli atau menjual aset dalam jumlah besar dengan relatif mudah.

Baca juga: Pilihan Pameran Seni Seru di Jakarta untuk Akhir Pekan | Tipe Z Icar V23: Pilihan Utama Konsumen di Indonesia | Pilihan Restoran Mewah di Surabaya untuk Momen Spesial