Kapolri Kunjungi Makam Marsinah dan Museum Perjuangannya di Nganjuk

Kapolri Kunjungi Makam Marsinah dan Museum Perjuangannya di Nganjuk

Kabupaten Nganjuk | Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto berziarah ke makam Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu. Kunjungan tersebut menjadi momen untuk mengenang sosok Marsinah sekaligus menyampaikan penghormatan atas perjuangannya. Kehadiran Kapolri di makam itu menempatkan penghormatan terhadap Marsinah sebagai bagian penting dari kunjungan, bukan sekadar kegiatan seremonial. Marsinah dikenal sebagai aktivis buruh dan pahlawan nasional yang namanya lekat dengan sejarah perjuangan hak-hak pekerja di Indonesia.

Ziarah ke makam tokoh nasional merupakan cara untuk menjaga ingatan publik terhadap nilai dan perjuangan yang diwariskan. Dalam kunjungan ini, penghormatan kepada Marsinah juga mengingatkan masyarakat pada pentingnya memperhatikan hak pekerja. Perjuangan tersebut memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan bangsa, karena berkaitan dengan upaya agar hak-hak pekerja mendapat pengakuan dan perlindungan. Dengan berziarah, Kapolri menunjukkan penghargaan terhadap peran Marsinah sebagai salah satu tokoh yang mewakili perjuangan tersebut. Penghormatan itu sekaligus mengajak masyarakat untuk mengenali kontribusi tokoh-tokoh yang memperjuangkan kepentingan pekerja.

Marsinah tercatat sebagai salah satu tokoh dalam sejarah perjuangan hak-hak pekerja di Indonesia. Pengakuannya sebagai pahlawan nasional menegaskan bahwa perjuangan tersebut memiliki arti bagi bangsa dan layak dikenang lintas generasi. Ziarah Kapolri di Nganjuk menjadi kesempatan untuk menyatakan penghormatan terhadap sosok dan nilai perjuangan itu. Makam Marsinah menjadi titik kunjungan yang menghubungkan penghormatan pada seorang pahlawan nasional dengan perhatian terhadap sejarah gerakan pekerja. Melalui kegiatan tersebut, ingatan tentang Marsinah tetap hadir dalam ruang publik, sementara pesan mengenai pentingnya menghargai hak pekerja terus relevan. Kunjungan pada Sabtu itu menegaskan bahwa peran Marsinah dalam sejarah perjuangan pekerja tetap memperoleh penghormatan.

Di lokasi makam Marsinah di Nganjuk, Kapolri bersama rombongan mengikuti doa bersama sebagai bagian dari kunjungan untuk menghormati sosok yang dikenang melalui perjuangannya. Kegiatan tersebut berlangsung sebelum rombongan melakukan tabur bunga. Doa bersama menjadi momen utama yang mengawali penghormatan di makam, dengan para peserta berkumpul untuk mengikuti rangkaian acara secara bersama-sama. Suasana kegiatan berpusat pada penghormatan kepada Marsinah, tanpa mengubah urutan acara yang berlangsung di lokasi tersebut.

Dalam kegiatan di makam itu, Kapolri didampingi Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Dekananto Eko Purwono, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea. Ketiganya tercatat hadir mendampingi Kapolri dalam rangkaian penghormatan di makam Marsinah. Kehadiran para pejabat dan perwakilan organisasi tersebut menyertai kegiatan doa bersama dan tabur bunga, tanpa perlu menambahkan keterangan atau alasan lain mengenai partisipasi mereka.

Setelah mengikuti doa bersama, Kapolri dan rombongan melakukan tabur bunga di makam Marsinah. Rangkaian ini menjadi bentuk penghormatan langsung di tempat peristirahatan Marsinah. Doa dan tabur bunga dilakukan sebagai bagian dari kegiatan kunjungan, dengan para pendamping yang sama turut berada dalam rombongan. Urutan acara di makam tersebut memperlihatkan dua kegiatan pokok: doa bersama, kemudian tabur bunga. Tidak ada keterangan tambahan yang disampaikan mengenai isi doa ataupun hal lain di luar rangkaian tersebut.

Kegiatan di makam menjadi bagian dari kunjungan Kapolri ke lokasi yang berkaitan dengan Marsinah di Nganjuk. Fokus acara di tempat itu adalah mengikuti doa bersama dan memberikan penghormatan melalui tabur bunga. Dengan demikian, rangkaian di makam berlangsung secara tertib sebagai kegiatan bersama Kapolri, Kapolda Jawa Timur, Gubernur Jawa Timur, dan Presiden KSPSI. Nama-nama pendamping tersebut menjadi bagian dari catatan kehadiran dalam kegiatan, sementara inti penghormatan tetap diarahkan kepada Marsinah.

Usai berziarah ke makam Marsinah, Kapolri bersama rombongan melanjutkan kunjungan ke Museum Ibu Marsinah dan rumah singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat ruang yang didedikasikan bagi ingatan tentang kehidupan dan perjuangan aktivis buruh tersebut. Kehadiran rombongan di kompleks ini juga menegaskan pentingnya menjaga serta mengenalkan kisah Marsinah kepada masyarakat, terutama generasi muda yang ingin memahami sejarah gerakan pekerja di Indonesia.

Di dalam museum, Kapolri meninjau sejumlah bagian yang menyimpan dokumentasi dan informasi mengenai perjalanan hidup Marsinah. Materi yang ditampilkan membantu pengunjung mengenali latar kehidupannya, kerja dan aktivitasnya, serta perjuangan yang kemudian menjadikannya sosok penting dalam sejarah ketenagakerjaan. Berbagai catatan dan dokumentasi di museum memberikan konteks bagi pengunjung untuk memahami peristiwa yang dialami Marsinah, sekaligus melihat bagaimana perjuangannya berkaitan dengan hak-hak pekerja dan kondisi sosial pada masanya.

Selain meninjau museum, rombongan juga mengunjungi rumah singgah yang berada di kawasan Desa Nglundo. Keberadaan rumah singgah melengkapi fungsi kompleks tersebut sebagai tempat yang dapat menerima pengunjung sekaligus memperkenalkan kisah Marsinah. Museum dan rumah singgah diharapkan tidak hanya menjadi lokasi kunjungan, tetapi juga ruang belajar yang mendorong masyarakat berdiskusi secara terbuka tentang sejarah, kehidupan pekerja, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Penyajian informasi yang mudah dipahami dapat membantu pengunjung menghubungkan peristiwa masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan.

Harapan yang disampaikan terkait keberadaan museum adalah agar tempat ini berkembang sebagai ruang edukasi sejarah, terutama mengenai perjuangan pekerja, nilai kemanusiaan, dan keadilan sosial. Dengan demikian, kisah Marsinah dapat dipelajari secara lebih utuh, bukan sekadar dikenang dalam upacara atau kunjungan sesaat. Kompleks Museum Ibu Marsinah diresmikan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada 16 Mei 2026. Peresmian tersebut menandai hadirnya ruang memorial yang dapat dimanfaatkan untuk merawat ingatan publik sekaligus memperluas pemahaman tentang perjuangan buruh dan pentingnya perlindungan hak asasi manusia.

Ziarah ke makam Marsinah dan kunjungan ke museum perjuangannya di Kabupaten Nganjuk merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Kapolri di Jawa Timur. Kedua agenda tersebut menghadirkan ruang untuk mengenang perjalanan perjuangan Marsinah sekaligus melihat kembali nilai-nilai yang melekat pada kisahnya. Kehadiran Kapolri di lokasi itu juga menempatkan penghormatan terhadap tokoh buruh tersebut dalam rangkaian kunjungan yang lebih luas, tanpa melepaskan perhatian pada lingkungan masyarakat setempat. Dengan demikian, ziarah dan kunjungan museum tidak berdiri sebagai kegiatan terpisah, melainkan menjadi bagian dari agenda selama berada di wilayah Jawa Timur.

Rangkaian kegiatan itu sekaligus menjadi momentum untuk membangun komunikasi dan kedekatan dengan berbagai elemen masyarakat. Kalangan pekerja termasuk di kelompok yang menjadi bagian penting dalam upaya menjalin hubungan tersebut. Interaksi dan perhatian terhadap kisah perjuangan Marsinah dapat menjadi jembatan untuk memahami aspirasi serta pengalaman masyarakat, khususnya pekerja. Dalam konteks ini, kunjungan ke makam dan museum memberi kesempatan untuk menunjukkan penghormatan, sekaligus membuka ruang bagi komunikasi yang lebih dekat. Kedekatan dengan masyarakat merupakan unsur penting dalam kegiatan Kapolri di daerah, terutama ketika agenda mencakup tempat yang memiliki arti bagi sejarah perjuangan pekerja.

Agenda di Nganjuk juga mempertemukan unsur penghormatan terhadap sejarah dengan upaya membangun hubungan yang baik bersama masyarakat. Ziarah menjadi bentuk penghargaan kepada Marsinah, sedangkan kunjungan museum memberi kesempatan untuk mengenal kembali jejak perjuangannya. Keduanya berlangsung dalam rangkaian kunjungan Kapolri di Jawa Timur dan menjadi bagian dari komunikasi dengan berbagai kelompok, termasuk kalangan pekerja. Setelah menyelesaikan agenda di Kabupaten Nganjuk, Kapolri bersama rombongan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Perjalanan tersebut menandai berakhirnya rangkaian kegiatan di Nganjuk, sebelum rombongan meneruskan perjalanan ke kota tujuan berikutnya. Informasi yang tersedia menyebut tujuan perjalanan itu adalah Surabaya, tanpa merinci agenda lanjutan yang akan dilaksanakan di sana.

10 kunjungan