Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi jenis bencana dengan jumlah kejadian tertinggi di Indonesia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.007 kejadian karhutla hingga Kamis, 22 Oktober 2026. Angka tersebut menempatkan karhutla di posisi teratas dibandingkan jenis bencana lain yang tercatat sepanjang tahun ini.
Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyampaikan bahwa pada hari yang sama terjadi penambahan dua kejadian. Kebakaran tersebut masing-masing dilaporkan di Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Boyolali. Dengan tambahan itu, jumlah kumulatif karhutla nasional mencapai 1.007 kejadian.
Secara keseluruhan, BNPB mencatat 2.188 kejadian bencana di Indonesia selama periode Januari hingga 22 Oktober 2026. Selain karhutla, laporan tersebut memuat 581 kejadian banjir dan 337 kejadian cuaca ekstrem. Kekeringan tercatat sebanyak 123 kejadian, sedangkan tanah longsor mencapai 108 kejadian. Data ini menggambarkan beragam ancaman yang terjadi di berbagai wilayah dalam rentang waktu tersebut.
Jenis bencana lainnya dalam catatan nasional meliputi 14 kejadian gempa bumi dan 14 gelombang pasang atau abrasi. BNPB juga mencatat empat kejadian erupsi gunung api. Jumlah untuk tiap jenis bencana menunjukkan frekuensi kejadian yang dilaporkan, bukan ukuran dampak atau tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Karena itu, angka tersebut perlu dibaca sebagai bagian dari pencatatan kejadian bencana nasional.
Dengan 1.007 kejadian, karhutla mencakup porsi terbesar dari total bencana yang dilaporkan BNPB hingga tanggal tersebut. Sementara itu, banjir dan cuaca ekstrem menjadi jenis bencana berikutnya dengan jumlah tinggi. Pembaruan data pada 22 Oktober, termasuk laporan dari Cilacap dan Boyolali, menambah gambaran perkembangan kejadian sepanjang tahun. Angka kumulatif ini merangkum laporan sejak Januari dan dapat berubah mengikuti pembaruan informasi yang diterima BNPB.
BNPB masih menangani kebakaran hutan dan lahan di Sumatra dengan total area terdampak yang tercatat mencapai 7.219 hektare. Luas tersebut mencakup dua provinsi, yakni Sumatra Selatan dan Jambi. Rinciannya, 5.194 hektare lahan terbakar berada di Sumatra Selatan, sedangkan 2.025 hektare lainnya tercatat di Jambi. Angka ini menggambarkan lahan yang masih masuk dalam penanganan BNPB, bukan keseluruhan luas kebakaran yang pernah terjadi di pulau tersebut. Penanganan masih berlangsung di kedua wilayah seiring upaya menangani dampak kebakaran pada area terdampak.
Sumatra Selatan menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar di Sumatra dalam data penanganan tersebut. Luasnya lebih dari dua kali area yang tercatat di Jambi, dengan selisih 3.169 hektare. Besarnya angka di Sumatra Selatan membuat provinsi itu menyumbang bagian terbesar dari total 7.219 hektare yang masih ditangani. Sementara itu, area di Jambi tetap menjadi bagian penting dari catatan BNPB, dengan luas mencapai 2.025 hektare. Perincian menurut provinsi ini memberikan gambaran mengenai sebaran area penanganan, tanpa mengubah total luas yang dilaporkan.
Untuk Riau, Berton menyampaikan bahwa BNPB tidak lagi melakukan penanganan karhutla di wilayah tersebut. Alasannya, BNPB tidak menerima laporan kebakaran baru di Riau. Keterangan ini merujuk pada laporan dan penanganan yang diterima BNPB, sehingga tidak dapat dimaknai sebagai klaim bahwa seluruh wilayah Riau dipastikan bebas dari kebakaran atau tidak mengalami risiko karhutla. Dengan demikian, perbedaan status Riau dan dua provinsi lain berkaitan dengan laporan kebakaran baru yang menjadi dasar penanganan BNPB. Secara keseluruhan, perhatian penanganan yang masih berlangsung di Sumatra kini tercatat pada area di Sumatra Selatan dan Jambi, dengan Sumatra Selatan sebagai wilayah terdampak terluas dalam data tersebut.
Di Kalimantan, penanganan kebakaran hutan dan lahan masih mencakup 11.202 hektare. BNPB memusatkan upaya di tiga provinsi yang mencatat luasan terdampak terbesar. Kalimantan Tengah menjadi lokasi dengan area penanganan paling luas, yakni 7.939 hektare. Berikutnya, Kalimantan Selatan mencatat 1.974 hektare, sedangkan Kalimantan Barat mencapai 1.290 hektare. Penanganan di ketiga provinsi tersebut menjadi fokus karena luas lahan yang masih memerlukan upaya pemadaman dan pengendalian cukup besar.
Di luar Kalimantan, BNPB juga menangani kebakaran di 11 wilayah lain, dari Kalimantan Timur hingga Maluku Utara. Secara keseluruhan, area yang dilaporkan terbakar di wilayah-wilayah tersebut mencapai 1.191,7 hektare, dengan 52 hektare di antaranya telah dipadamkan. Sebaran lokasi menunjukkan bahwa kebakaran terjadi di sejumlah provinsi serta kawasan konservasi dan pegunungan, sehingga penanganannya memerlukan perhatian sesuai kondisi medan masing-masing.
Karanganyar mencatat area terbakar terbesar dalam daftar tersebut, yakni 490 hektare. Di kawasan Gunung Sumbing, luasnya mencapai 316,2 hektare, sementara di Maluku Utara tercatat 179,13 hektare. Kebakaran di Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru, Kabupaten Probolinggo, mencakup 75,37 hektare. Di Sigi, luas lahan terdampak mencapai 60 hektare, sedangkan Kalimantan Timur dan kawasan Ibu Kota Nusantara mencatat 42 hektare.
Lokasi lain yang turut ditangani meliputi Raja Ampat dan Taman Nasional Way Kambas, masing-masing 23 hektare. Di Mamuju, area terbakar tercatat 20 hektare, disusul Tojo Una-Una seluas 10 hektare. Sementara itu, Minahasa Utara mencatat lima hektare. Data luasan tersebut menggambarkan sebaran penanganan yang menjangkau berbagai wilayah, dari kawasan permukiman hingga hutan lindung dan taman nasional.
BNPB terus mengarahkan penanganan berdasarkan lokasi dan tingkat kebutuhan di lapangan. Upaya pemadaman pada area yang masih terbakar berjalan berdampingan dengan pemantauan agar api tidak meluas. Informasi luasan dan perkembangan penanganan menjadi dasar untuk menentukan prioritas sumber daya, termasuk personel dan dukungan pemadaman. Dengan sebaran kejadian yang luas, koordinasi pemerintah daerah serta petugas di tiap lokasi tetap diperlukan untuk mengendalikan kebakaran dan mencegah dampak lebih besar.
Karanganyar menjadi lokasi dengan luas kebakaran terbesar di wilayah lain yang tercantum dalam data penanganan BNPB. Luas kebakaran yang dilaporkan mencapai 490 hektare, menjadikannya salah satu titik utama perhatian dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Angka tersebut menggambarkan besarnya area yang harus ditangani, sementara petugas di lapangan menghadapi kondisi alam yang menantang.
Berton menyampaikan bahwa api telah mencapai Pos 2 di Cemoro Kandang. Perkembangan tersebut menjadi perhatian karena lokasi berada di kawasan lereng gunung. Kondisi di sekitar titik penanganan dilaporkan berkabut asap, sehingga jarak pandang dan aktivitas petugas dapat terdampak. Situasi itu menambah tantangan dalam memantau pergerakan api dan melakukan penanganan secara aman.
Selain kabut asap, angin di lokasi disebut tidak menentu. Perubahan arah maupun kecepatannya dapat menyulitkan upaya memperkirakan pergerakan api, sehingga kondisi perlu terus dipantau oleh petugas. Medan di kawasan tersebut juga berupa lereng gunung yang terjal dan curam. Kombinasi kondisi cuaca serta topografi ini membuat akses dan pergerakan di lapangan menjadi lebih sulit. Keterangan mengenai keadaan setempat memberi gambaran tentang kompleksitas penanganan kebakaran di Karanganyar, tanpa mengurangi pentingnya pemantauan pada wilayah lain yang juga masuk dalam laporan BNPB.
Di tingkat nasional, BNPB juga menyampaikan data dampak seluruh bencana di Indonesia. Secara keseluruhan, tercatat 427 orang meninggal dunia, 21 orang hilang, dan 3.258 orang mengalami luka-luka. Selain itu, sebanyak 5,79 juta orang masih mengungsi. BNPB melaporkan bahwa angka korban tersebut cenderung tidak berubah. Data ini merangkum dampak berbagai bencana di Indonesia dan tidak secara khusus merujuk pada korban akibat kebakaran hutan dan lahan di Karanganyar.
Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Kerahkan Tangki Portable dan Gambut Injection di Kawasan Ring I Bandara Sjamsudin Noor Atasi Titik Api Karhutla | Penanganan Karhutla di Indonesia: Kolaborasi Menko Polkam dan Menhut | Upaya Penanggulangan Karhutla di Jawa Timur: Water Bombing Dikerahkan





