Airlangga Tetap Optimistis di Tengah Tekanan terhadap Rupiah

Airlangga Tetap Optimistis di Tengah Tekanan terhadap Rupiah

Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi perkiraan sejumlah pengamat bahwa nilai tukar rupiah berisiko mencapai Rp19.000 per dolar Amerika Serikat pada akhir 2026. Menyikapi proyeksi tersebut, pemerintah akan terus melihat perkembangan nilai tukar. Airlangga, pada kesempatan yang sama, menyatakan tetap optimistis terhadap kondisi makroekonomi Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan saat Airlangga menjawab pertanyaan pewarta dalam acara Kearney 100 Years of Impact di Jakarta, Rabu (28/10/2026). Acara tersebut mengangkat tema “Jakarta Towards 500: Shaping the Next Global City Together”. Di tengah perhatian terhadap proyeksi pelemahan rupiah, respons pemerintah menekankan pemantauan perkembangan kurs, sedangkan Airlangga menyampaikan keyakinannya terhadap keadaan makroekonomi nasional.

Perkiraan rupiah mencapai Rp19.000 per dolar AS pada penghujung 2026 merupakan pandangan sejumlah pengamat, bukan angka yang dinyatakan Airlangga sebagai kepastian. Pemerintah, menurut respons yang disampaikan, akan terus mencermati bagaimana nilai tukar bergerak. Dengan demikian, proyeksi tersebut menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan, sementara sikap Airlangga terhadap kondisi makroekonomi Indonesia tetap optimistis. Pernyataannya tidak mengubah proyeksi itu menjadi target pemerintah ataupun memastikan arah kurs pada akhir tahun.

Nilai tukar menjadi perhatian dalam pembicaraan mengenai kondisi ekonomi, terutama ketika muncul perkiraan mengenai tingkat yang mungkin dicapai pada masa mendatang. Namun, respons Airlangga dalam acara tersebut terbatas pada komitmen pemerintah untuk melihat perkembangan rupiah dan pandangannya yang optimistis terhadap kondisi makroekonomi Indonesia. Ia tidak menyampaikan rincian lain mengenai langkah pemerintah, besaran perubahan kurs, ataupun waktu tertentu bagi pergerakan nilai tukar. Karena itu, proyeksi Rp19.000 per dolar AS perlu dipahami sebagai perkiraan dari para pengamat, sedangkan pemerintah tetap memantau perkembangan kurs dan Airlangga mempertahankan optimisme atas kondisi makroekonomi nasional.

Nilai tukar rupiah menutup perdagangan dengan pelemahan 0,17% ke level Rp18.175 per dolar AS, berdasarkan data Refinitiv yang tercantum dalam sumber. Pergerakan tersebut menempatkan mata uang Indonesia pada posisi penutupan terlemah yang pernah tercatat. Capaian ini sekaligus melampaui rekor penutupan sebelumnya, yakni Rp18.170 per dolar AS pada 8 Juni 2026. Selisihnya memang tipis, tetapi level tersebut menandai tekanan yang semakin nyata dalam perdagangan valuta asing.

Rekor baru pada penutupan itu menjadi gambaran bahwa pergerakan rupiah masih menghadapi ketidakpastian. Angka penutupan menunjukkan posisi pada akhir perdagangan, sementara perubahan nilai tukar sepanjang hari dapat bergerak lebih dinamis. Karena itu, pelaku pasar dan perusahaan yang memiliki kebutuhan transaksi dalam dolar AS perlu mencermati pergerakan berikutnya, termasuk rentang nilai tukar yang diperkirakan oleh analis. Proyeksi dapat membantu menyusun skenario, meski bukan jaminan atas arah pasar.

Equity Analyst Mega Capital Sekuritas Revo Gilang Firdaus memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang Rp17.889 hingga Rp18.280 per dolar AS sepanjang pekan tersebut. Untuk periode satu bulan ke depan, rentang proyeksinya lebih lebar, yakni Rp17.724 sampai Rp18.499 per dolar AS. Kedua rentang itu mencakup kemungkinan penguatan maupun pelemahan dibandingkan posisi penutupan Rp18.175, sehingga pergerakan aktual dapat berubah mengikuti kondisi pasar.

Revo menilai kisaran tersebut mencerminkan volatilitas rupiah yang masih tinggi. Rentang proyeksi bulanan yang lebih lebar juga menunjukkan adanya ruang pergerakan yang cukup besar dalam jangka waktu tersebut. Bagi pelaku usaha maupun investor, perkiraan ini dapat menjadi acuan untuk mempertimbangkan risiko nilai tukar, bukan kepastian tentang level yang akan dicapai. Perkembangan kurs tetap perlu dipantau secara berkala, terutama ketika rupiah berada dekat rekor penutupan terlemahnya dan sentimen pasar dapat berubah dari waktu ke waktu.

Bank Indonesia menilai tekanan terhadap rupiah pada Rabu (28/10/2026) tidak terlepas dari perkembangan eksternal yang meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyebut sentimen pasar keuangan global yang memburuk turut memengaruhi pergerakan rupiah dan mata uang negara-negara kawasan. Ketidakpastian mengenai penyelesaian konflik di Timur Tengah menjadi salah satu sumber kekhawatiran, karena situasi tersebut dapat memengaruhi pasokan energi dan prospek ekonomi dunia. Dalam kondisi demikian, investor cenderung menilai ulang risiko dan menyesuaikan penempatan dana pada berbagai instrumen.

Tekanan juga berkaitan dengan harga minyak yang bertahan di atas US$115 per barel. Menurut penjelasan BI, harga energi yang tinggi dinilai meningkatkan risiko fiskal ke depan, sekaligus dapat memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan naik. Kenaikan biaya energi berpotensi menambah beban belanja dan subsidi pemerintah, sementara kekhawatiran atas inflasi dapat mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat. Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi biasanya membuat aset berdenominasi dolar semakin menarik bagi investor global. Kombinasi faktor-faktor tersebut dapat menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terutama ketika ketidakpastian geopolitik belum mereda.

Erwin menjelaskan bahwa memburuknya sentimen global mendorong mekanisme risk-off, yakni ketika investor mengurangi kepemilikan aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dipandang lebih aman. Perubahan preferensi itu berlangsung bersamaan dengan penguatan dolar AS, arus keluar dana dari pasar negara berkembang, serta kenaikan imbal hasil obligasi. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, biaya pendanaan dapat berubah dan daya tarik investasi antarnegara ikut bergeser. Arus modal yang keluar juga menambah permintaan terhadap dolar dan dapat membatasi ruang penguatan mata uang kawasan. Karena itu, pergerakan rupiah pada hari tersebut mencerminkan tekanan dari berbagai faktor eksternal yang saling berkaitan, bukan semata-mata perubahan kondisi domestik. BI mengaitkan dinamika ini dengan perkembangan pasar global, termasuk risiko energi, arah suku bunga AS, dan sikap investor terhadap aset berisiko.

Selain tekanan global, perhatian pasar juga tertuju pada sejumlah faktor dari dalam negeri yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah. Bank Indonesia menyebut kekhawatiran mengenai kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebagai salah satu sumber tekanan. Isu tersebut menjadi perhatian investor karena perubahan penilaian terhadap pasar dapat memengaruhi keputusan investasi dan arus modal ke Indonesia. Selama ketidakpastian itu belum mereda, pelaku pasar cenderung mencermati potensi dampaknya terhadap sentimen dan permintaan aset domestik.

Kekhawatiran tersebut berpotensi menambah tekanan apabila mendorong investor mengurangi eksposur terhadap pasar Indonesia. Dalam kondisi demikian, aliran dana keluar dapat meningkat dan turut memengaruhi permintaan terhadap valuta asing. Meski demikian, kemungkinan tersebut tidak serta-merta memastikan arah pergerakan rupiah, sebab nilai tukar juga dipengaruhi perkembangan global dan respons pasar terhadap berbagai informasi. Karena itu, isu MSCI menjadi salah satu faktor yang perlu dipantau, bukan satu-satunya penentu nilai tukar.

Bank Indonesia juga menyoroti meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri menjelang akhir bulan. Kebutuhan tersebut dapat menambah permintaan valas pada saat tekanan terhadap rupiah masih berlangsung. Revo berpandangan bahwa ketidakpastian terkait MSCI yang berlarut-larut berpotensi memicu tambahan arus modal keluar. Jika kondisi itu terjadi ketika dolar AS masih relatif kuat, tekanan terhadap rupiah dapat bertahan. Perkembangan isu MSCI, kebutuhan valas domestik, dan kekuatan dolar AS karena itu menjadi kombinasi faktor yang diperhatikan pasar. Dampaknya terhadap nilai tukar akan bergantung pada bagaimana sentimen investor dan permintaan valuta asing berkembang, sehingga tidak tepat menarik kepastian mengenai level rupiah hanya dari satu faktor.

Baca juga: Sorotan Terhadap Kerusakan Trotoar di Sawangan Depok | Pembangunan Menuju Transparansi Lapas: Pertanyaan Kritis DPR Terhadap Mantan Kalapas Cibinong | Dampak Kenaikan Harga Daging Ayam terhadap Pedagang Kecil di Depok