Jakarta | Menteri Pertanian Amran Sulaiman memaparkan capaian nilai tukar petani (NTP) Indonesia dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam forum tersebut, ia menyebut NTP berada di angka 131. Menurut Amran, nilai itu merupakan tingkat tertinggi sejak 1992, bahkan sejak Indonesia merdeka. Pernyataan tersebut menempatkan perkembangan kesejahteraan petani sebagai salah satu pokok yang disampaikan kepada Presiden dan jajaran kabinet.
NTP merupakan indikator yang menggambarkan perbandingan indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibayar petani. Angka 131 menjadi dasar bagi Amran untuk menyatakan bahwa capaian tersebut mencatat rekor dalam rentang sejarah yang ia sebutkan. Ia menyampaikan angka itu sebagai bagian dari paparan mengenai kondisi sektor pertanian, tanpa mengubahnya menjadi ukuran tunggal untuk menilai seluruh keadaan petani di berbagai wilayah maupun subsektor.
Dalam pemaparannya, Amran juga mengaitkan capaian tersebut dengan sejumlah kebijakan yang berkaitan dengan petani. Ia menyebut harga pupuk turun 20 persen dan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah atau beras naik. Penurunan harga pupuk itu, menurut pernyataannya, dinikmati oleh 115 juta petani. Angka penerima manfaat dan perubahan kebijakan tersebut disampaikan sebagai bagian dari konteks yang menyertai paparan NTP.
Informasi itu memberi gambaran tentang kebijakan harga input dan hasil pertanian yang menjadi perhatian pemerintah. Pupuk merupakan salah satu kebutuhan produksi, sementara HPP berkaitan dengan harga pembelian gabah atau beras oleh pemerintah. Dalam sidang kabinet, Amran menyampaikan perubahan pada kedua aspek itu bersamaan dengan laporan mengenai NTP. Paparan tersebut tidak dengan sendirinya merinci dampak yang berbeda-beda bagi setiap petani atau menjelaskan hubungan sebab-akibat di luar keterangan yang disampaikan.
Dengan demikian, pokok paparan Amran mencakup tiga hal: NTP Indonesia sebesar 131, klaim bahwa angka itu merupakan yang tertinggi sejak 1992 dan sejak kemerdekaan, serta kebijakan penurunan harga pupuk dan kenaikan HPP. Ia juga menyebut penurunan harga pupuk dinikmati 115 juta petani. Seluruh keterangan itu disampaikan dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara pada 21 Oktober 2026.
Dalam paparannya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyampaikan bahwa cadangan beras Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 4,56 juta ton. Ia menggambarkan angka tersebut sebagai jumlah tertinggi sepanjang sejarah, sehingga capaian itu menjadi sorotan dalam pembahasan mengenai ketersediaan pangan nasional. Pernyataan tersebut menempatkan posisi stok pada bulan itu sebagai indikator penting untuk membaca kemampuan pemerintah menjaga pasokan beras. Namun, angka cadangan perlu dipahami sesuai konteks dan waktu yang disebutkan, yakni Oktober 2026, tanpa mengubahnya menjadi ukuran untuk periode lain. Keterangan ini merupakan klaim yang disampaikan Amran, bukan perbandingan terperinci seluruh catatan stok dari setiap tahun.
Sebagai pembanding, Amran menyebut angka 2,6 juta ton pernah dicapai pada 1984, ketika Indonesia berada di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Perbandingan itu memberi gambaran terbatas mengenai skala cadangan yang disebut dalam paparan: angka Oktober 2026 lebih besar daripada jumlah yang ia kaitkan dengan 1984. Meski demikian, kedua angka tersebut berasal dari periode yang sangat berbeda, dan keterangan yang tersedia tidak merinci metode penghitungan, cakupan stok, ataupun kondisi pasokan pada masing-masing waktu. Karena itu, penyandingan tersebut sebaiknya dibaca sebagai konteks historis yang disampaikan Amran, bukan sebagai evaluasi menyeluruh atas kebijakan pangan atau keadaan produksi pada era tertentu.
Dalam paparannya, Amran juga menyebut bahwa stok beras Indonesia pernah mencapai 5,37 juta ton. Akan tetapi, informasi yang tersedia tidak menjelaskan kapan angka tersebut tercatat, sehingga waktu dan konteksnya tidak dapat dipastikan berdasarkan keterangan itu saja. Angka 5,37 juta ton tersebut perlu dicatat sebagai pernyataan terpisah dari klaim tentang cadangan 4,56 juta ton pada Oktober 2026. Tanpa penjelasan mengenai tanggal, dasar penghitungan, atau cakupan stok, tidak tepat untuk menyimpulkan bahwa jumlah 5,37 juta ton terjadi pada bulan atau tahun tertentu. Angka itu juga tidak dapat digunakan untuk menyelaraskan, membantah, ataupun mengganti sebutan rekor yang Amran kaitkan dengan Oktober 2026. Dengan demikian, ketiga keterangan stok tersebut perlu disampaikan sesuai batas informasi yang ada, tanpa menambahkan asumsi tentang urutan waktunya.
Dalam menjelaskan ketahanan pangan, Amran mengajak publik melihat ketersediaan beras secara lebih luas daripada jumlah yang sudah tersimpan di gudang. Menurut perhitungannya, pasokan juga mencakup potensi produksi tanaman yang masih berada di sawah, atau standing crop, serta persediaan yang tersebar di berbagai sektor. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menggambarkan sumber pasokan yang dapat menopang kebutuhan, bukan hanya stok fisik yang siap dihitung di satu lokasi.
Amran menyebut potensi standing crop mencapai 10 juta ton. Ia juga memperkirakan stok pada sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka) sebesar 10 juta ton. Sementara itu, beras yang berada di gudang disebut berjumlah 4,5 juta ton. Dengan menjumlahkan ketiga komponen tersebut, angka ketersediaan yang disampaikan mencapai sekitar 25 juta ton. Perhitungan itu memasukkan persediaan dan potensi produksi dari sumber yang berbeda, sehingga cakupannya lebih besar daripada stok gudang saja.
Berdasarkan kebutuhan beras sekitar 2,5 juta ton per bulan, Amran menyatakan jumlah tersebut setara dengan kebutuhan selama sepuluh bulan. Ia juga menyebut stok dinilai aman hingga Juli tahun berikutnya. Pernyataan ini merupakan gambaran yang disampaikan Amran berdasarkan komponen pasokan yang ia paparkan. Angka standing crop, khususnya, merujuk pada potensi hasil tanaman yang masih berada di lahan, sehingga belum sama dengan beras yang telah dipanen dan tersedia untuk langsung disalurkan.
Karena itu, total 25 juta ton sebaiknya dipahami sebagai estimasi dalam penjelasan tersebut, bukan sebagai angka yang telah diverifikasi secara independen. Komponen stok Horeka dan gudang juga memiliki lokasi serta fungsi distribusi yang berbeda. Penilaian atas ketahanan pasokan pada praktiknya bergantung pada realisasi panen, kelancaran pengolahan dan distribusi, serta ketepatan data persediaan. Dengan konteks tersebut, perhitungan Amran menunjukkan dasar optimisme mengenai kecukupan beras, sekaligus perlu dibedakan dari ukuran stok siap pakai yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan terpisah.
Selain memaparkan capaian Nilai Tukar Petani dan ketersediaan beras, Amran menyampaikan sejumlah indikator lain yang menurutnya menunjukkan kinerja sektor pertanian. Ia menyebut produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian tumbuh sebesar 5,74 persen. Amran menggambarkan angka tersebut sebagai pertumbuhan tertinggi dalam periode 2001–2025. Pernyataan itu menjadi salah satu ukuran yang ia soroti saat menjelaskan perkembangan sektor pertanian dalam kesempatan tersebut. Angka pertumbuhan dan rentang periode tersebut merujuk pada pemaparan Amran, bukan pada perbandingan tambahan di luar informasi yang disampaikannya.
Amran juga menyatakan bahwa nilai ekspor meningkat hingga Rp166 triliun, sedangkan impor turun Rp41 triliun. Ia menyajikan kedua angka itu sebagai bagian dari indikator kinerja pertanian yang dibahas bersamaan dengan pertumbuhan PDB. Dalam pemaparannya, nilai ekspor dan penurunan impor turut memberi gambaran mengenai perkembangan perdagangan sektor pertanian. Namun, angka-angka tersebut tetap merupakan keterangan yang disampaikan Amran pada kesempatan itu. Tidak ada rincian lebih lanjut mengenai dasar perhitungan, periode pembanding, maupun komoditas yang tercakup dalam angka ekspor dan impor tersebut.
Untuk menjelaskan nilai tambah sektor pertanian bagi perekonomian, Amran mengklaim kontribusinya mencapai Rp208 triliun. Ia mengaitkan capaian nilai tambah tersebut dengan kebijakan penurunan harga pupuk sebesar 20 persen serta kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP).
Baca juga: Krisis Ketersediaan Beras Premium di Ritel Modern | Inisiatif Pangan Nasional: Memperkuat Ketersediaan Sembako untuk Masyarakat





