Di Balik Sosok Putri, Kawai Labiba Hadapi Tantangan Baru sebagai Arwah

Di Balik Sosok Putri, Kawai Labiba Hadapi Tantangan Baru sebagai Arwah

Jakarta | Bagi Kawai Labiba, bergabung dalam film horor Putri Jangan Gentayangan Lagi menjadi pengalaman yang berbeda dari pekerjaan akting yang pernah ia jalani sebelumnya. Dalam film arahan Rizal Mantovani tersebut, Kawai memerankan sosok arwah—sebuah tantangan baru yang, menurut pengakuannya, belum pernah ia hadapi. Pengalaman pertama ini membuat keterlibatannya dalam proyek tersebut terasa istimewa dan meninggalkan kesan kuat baginya.

Tokoh yang dimainkan Kawai bernama Amanda Rizky Saputri, yang dikenal sebagai Putri. Peran itu menempatkannya dalam cerita horor dengan karakter yang berkaitan erat dengan unsur arwah. Bagi seorang pemain, memerankan sosok seperti ini menuntut pendekatan yang berbeda dibandingkan membawakan karakter dalam situasi sehari-hari. Meski demikian, keterangan yang disampaikan Kawai berfokus pada kebaruan pengalaman tersebut serta kesan yang ia rasakan selama terlibat dalam film, bukan pada rincian teknis mengenai cara ia membentuk karakternya.

Kawai menyampaikan pengalamannya dalam konferensi pers setelah pemutaran film di Jakarta Selatan pada Jumat malam. Ia mengungkapkan bahwa memerankan arwah merupakan pengalaman pertama baginya, sekaligus mengakui bahwa proyek ini memberikan kesan yang kuat. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kesempatan tampil dalam film horor ini menjadi babak baru dalam perjalanan aktingnya. Bagi penonton, informasi itu juga memberi konteks mengenai tantangan yang ia hadapi saat mengambil peran Putri, tanpa mengurangi ruang bagi mereka untuk mengenal karakter tersebut melalui film. Kehadiran Kawai sebagai Amanda Rizky Saputri menjadi salah satu aspek yang dapat diperhatikan ketika menyaksikan Putri Jangan Gentayangan Lagi, terutama karena peran arwah ini menandai pengalaman pertamanya di ranah tersebut. Pengalaman baru itu menjadi titik penting dalam keterlibatannya pada karya garapan Rizal Mantovani, dan kesan kuat yang ia sebutkan menunjukkan betapa bermaknanya proyek ini bagi dirinya.

Dalam membangun karakter Putri, Kawai Labiba tidak hanya mengandalkan kebutuhan adegan, tetapi juga berusaha memahami sosok yang harus ia hadirkan. Ia mengikuti arahan sutradara Rizal Mantovani, sekaligus menyimak cerita dari Mak Eli, ibu kandung mendiang Putri. Pertemuan dengan keluarga menjadi pijakan penting bagi Kawai untuk mendekati karakter secara lebih personal. Dari keterangan yang didengarnya, ia memperoleh gambaran tentang beban dan perasaan Putri, lalu mengolahnya menjadi dasar penampilan. Pendekatan ini membantu Kawai menjaga agar sosok Putri terasa memiliki pengalaman batin, bukan sekadar figur yang muncul untuk menghadirkan ketegangan dalam cerita.

Rizal mengarahkan Kawai agar emosi Putri tetap manusiawi. Meski dalam cerita Putri hadir sebagai arwah, ia sebelumnya adalah manusia yang memiliki perasaan dan pengalaman. Karena itu, Kawai tidak diminta menampilkan sosok yang hanya mengandalkan kesan menyeramkan. Ia perlu menghadirkan emosi yang dapat dipahami penonton dan tetap berakar pada sisi manusia Putri. Arahan tersebut menjadi pegangan ketika Kawai menentukan cara bereaksi dan menyampaikan perasaan dalam adegan. Dengan menempatkan kemanusiaan sebagai landasan, karakter Putri dapat terasa lebih utuh, sementara unsur arwah tetap menjadi bagian dari cerita.

Cerita Mak Eli turut membantu Kawai membayangkan keadaan batin Putri, terutama sebagai seorang anak perempuan pertama yang memikul tanggung jawab besar. Kawai mencoba memahami bagaimana beban semacam itu dapat memengaruhi perasaan seseorang, tanpa menambahkan rincian di luar kisah yang ia dengar. Bayangan tersebut menjadi cara untuk mendekati emosi Putri secara hati-hati dan penuh empati. Kawai kemudian memadukan pemahaman itu dengan arahan Rizal, sehingga penggambaran karakter tetap sesuai kebutuhan cerita sekaligus terasa manusiawi. Bagi Kawai, mendengarkan Mak Eli bukan sekadar memperoleh informasi, melainkan membantu menemukan sudut pandang emosional untuk memerankan Putri dengan lebih peka.

Selama sebagian besar proses pengambilan gambar, Kawai Labiba menghadapi kendala teknis yang berkaitan dengan lensa kontak khusus. Perangkat tersebut menutupi penglihatannya, tetapi ia tetap perlu menampilkan ekspresi dan emosi secara meyakinkan di depan kamera. Situasi ini menuntutnya mengelola penampilan wajah dan respons emosional sambil menjalani adegan dengan keterbatasan penglihatan. Lensa kontak itu bukan sekadar bagian dari penampilan karakter, melainkan juga perlengkapan yang harus dikenakan selama banyak momen produksi. Karena sebagian besar syuting berlangsung dengan kondisi tersebut, kebutuhan untuk mempertahankan ekspresi yang sesuai menjadi bagian rutin dari pekerjaan aktingnya. Kawai tetap harus menyampaikan emosi melalui wajah dan gerak, meskipun pandangannya tertutup oleh lensa yang digunakan untuk mendukung tampilan sebagai arwah.

Tantangan lain muncul dari penggunaan alat pengaman mekanis. Untuk menjalani adegan tertentu, Kawai harus memperhatikan perangkat keselamatan yang menopang proses pengambilan gambar. Pada saat yang sama, ia perlu berakting dengan wajar, tidak sekadar memikirkan keberadaan alat tersebut. Perhatian terhadap aspek mekanis ini menjadi bagian dari kondisi kerja di lokasi, terutama ketika ia harus bergerak dan menjaga penampilan karakter di hadapan kamera. Menampilkan akting yang alami tetap menjadi kebutuhan, sementara posisi dan penggunaan perangkat keselamatan harus diperhatikan. Dengan demikian, tuntutan teknis dan tuntutan pemeranan hadir dalam proses yang sama, tanpa mengurangi pentingnya setiap unsur bagi pelaksanaan adegan. Kawai perlu menjalani adegan dengan memperhatikan perlengkapan yang digunakan, sekaligus menjaga ekspresi dan perilaku karakter agar tetap terasa meyakinkan bagi penonton.

Selang darah buatan yang ditempatkan di dalam mulut menambah satu lagi unsur yang harus diperhitungkan. Perlengkapan tersebut merupakan bagian dari tata rias dan efek untuk adegan, tetapi juga hadir ketika Kawai perlu berbicara atau menunjukkan emosi sesuai kebutuhan pemeranan. Keberadaan selang itu mengharuskannya menyesuaikan cara berakting dengan benda yang berada di dalam mulut, sementara ia tetap perlu menjaga kewajaran penampilan. Kesulitan-kesulitan ini tidak muncul secara terpisah. Lensa kontak yang membatasi penglihatan, perangkat pengaman mekanis, dan selang darah buatan menjadi bagian dari rangkaian kondisi syuting yang dapat berlangsung bersamaan. Dalam keadaan itu, Kawai dituntut memperhatikan berbagai perlengkapan sekaligus mempertahankan ekspresi dan emosi karakter. Proses tersebut memperlihatkan sejumlah kendala teknis yang menyertai pengambilan gambar, tanpa mengubahnya menjadi kesimpulan tentang hasil atau dampak yang tidak dinyatakan.

Film ini diproduksi oleh MVP Pictures, Folago Pictures, PK Films, dan Show Token. Ceritanya dibuat berdasarkan kisah yang disampaikan dalam acara siniar Lentera Malam, sebuah program yang dipandu Jamaluddin Darris. Kisah tersebut telah ditonton lebih dari 25 juta kali di YouTube, menunjukkan jangkauan luas cerita yang menjadi sumber adaptasi. Peralihan dari format audio ke film memungkinkan kisah itu disajikan melalui gambar, suasana, dan penampilan para pemeran. Meski demikian, informasi yang tersedia menempatkan Lentera Malam sebagai asal cerita, bukan sebagai film yang sama. Keterlibatan sejumlah rumah produksi menjadi bagian dari proses menghadirkan adaptasi ini untuk penonton bioskop.

Latar cerita dari siniar dengan jumlah penonton yang besar memberikan konteks bagi kehadiran film ini, sekaligus menjelaskan hubungan materi asal dan versi layar lebarnya. Penonton yang telah mengenal kisah melalui Lentera Malam dapat membandingkan pengalaman mendengarkan dengan penyajiannya dalam film, sementara penonton baru dapat mengenal cerita melalui pemutaran di bioskop. Lembaga Sensor Film mengklasifikasikan “Putri Jangan Gentayangan Lagi” untuk penonton berusia 13 tahun ke atas. Klasifikasi tersebut menjadi panduan bagi calon penonton dan keluarga dalam menentukan kesesuaian usia sebelum membeli tiket. Dengan jadwal mulai 5 November 2026, latar produksi yang jelas, dan sumber cerita yang telah meraih lebih dari 25 juta tayangan di YouTube, film ini memiliki konteks yang dapat diketahui sebelum penonton menyaksikannya.

Baca juga: Adhyaksa FC Hadapi PSIS Dengan Tantangan Berat | Gema Picture Luncurkan Kantor Baru dan Dua Film Baru di Depok | Tantangan Distribusi Biodiesel di Indonesia: Konektivitas Maritim Sebagai Solusi Utama