Kota Tomohon | Aktivitas kegempaan Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, selama 1–15 Oktober 2026 didominasi oleh gempa vulkanik dangkal. Berdasarkan pengamatan Badan Geologi, jenis gempa ini paling banyak terekam dibandingkan kelompok gempa lain pada periode tersebut. Sementara itu, gempa vulkanik dalam relatif jarang terjadi. Pola ini menjadi bagian dari pemantauan rutin untuk memahami perubahan aktivitas gunung dan menilai kondisi kawasan sekitarnya.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan catatan tersebut di Manado pada Minggu, 25 Oktober 2026. Selain gempa vulkanik dangkal yang mendominasi, instrumen pemantauan merekam 189 gempa embusan dan 12 gempa vulkanik dalam. Tercatat pula tiga gempa yang dirasakan dengan intensitas I MMI serta 52 gempa tektonik jauh. Angka-angka tersebut menggambarkan jenis kejadian yang terdeteksi selama rentang pengamatan, bukan dengan sendirinya memastikan bahwa erupsi akan segera terjadi.
Gempa vulkanik dangkal umumnya berkaitan dengan proses di bagian atas sistem gunung api, sedangkan gempa vulkanik dalam berasal dari kedalaman yang lebih besar. Gempa embusan dapat menyertai pelepasan gas atau tekanan melalui kawah. Namun, setiap jenis sinyal perlu dibaca bersama parameter lain, seperti pengamatan visual, kondisi kawah, dan perkembangan data dari alat pemantau. Karena itu, catatan kegempaan menjadi dasar evaluasi, bukan satu-satunya penentu perubahan status atau tingkat bahaya.
Jumlah gempa yang dirasakan tergolong tiga kejadian dengan intensitas I MMI, tingkat yang umumnya dirasakan sebagian orang dalam kondisi tertentu, tetapi tidak menunjukkan dampak kerusakan. Adapun gempa tektonik jauh merupakan kejadian yang sumbernya berada di luar tubuh gunung, meski tetap tercatat oleh jaringan pemantauan. Warga sebaiknya mengikuti informasi resmi Badan Geologi dan otoritas setempat, menjauhi area yang dinyatakan berbahaya, serta tidak mendekati kawah untuk melihat aktivitas. Perhatian khusus juga diperlukan terhadap potensi paparan gas dan kemungkinan erupsi mendadak, sesuai arahan petugas. Pemantauan berkelanjutan membantu masyarakat memperoleh informasi yang diperbarui apabila kondisi berubah dan mendukung kesiapsiagaan tanpa menimbulkan kepanikan.
Pengamatan visual di kawasan Gunung Lokon memperlihatkan embusan asap putih tipis dari area kawah. Tinggi maksimum embusan tersebut sekitar 150 meter di atas kawah. Ciri asap yang tampak tipis dan berwarna putih menjadi bagian dari pemantauan rutin, tetapi pengamatan visual perlu dibaca bersama data kegempaan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi gunung api.
Data real-time seismic amplitude measurement (RSAM) menunjukkan adanya kenaikan energi kegempaan dalam rentang 24 Agustus hingga 15 Oktober 2026. RSAM digunakan untuk menggambarkan perubahan amplitudo sinyal seismik dari waktu ke waktu. Namun, kenaikan nilai tersebut dalam pengamatan ini berkaitan dengan gempa-gempa permukaan. Karena itu, peningkatan energi pada grafik RSAM tidak dengan sendirinya menandakan bahwa aktivitas vulkanik di dalam gunung meningkat.
Perbedaan sumber kegempaan menjadi hal penting dalam menafsirkan perubahan tersebut. Gempa permukaan dapat tercatat sebagai kenaikan energi seismik, tetapi maknanya perlu dinilai berdasarkan jenis gempa serta kecocokannya dengan gejala lain. Dalam kasus ini, hasil pengamatan visual dan data seismik sama-sama menjadi dasar untuk menilai aktivitas Gunung Lokon. Tidak ada indikasi peningkatan aktivitas vulkanik berdasarkan gabungan kedua jenis pemantauan tersebut.
Dengan demikian, embusan asap putih tipis hingga sekitar 150 meter dan kenaikan RSAM yang bersumber dari gempa permukaan belum menunjukkan perubahan aktivitas vulkanik. Penilaian ini merujuk pada data yang diamati dalam periode tersebut, sehingga pemantauan berkelanjutan tetap diperlukan. Warga sebaiknya mengikuti informasi resmi dari otoritas terkait dan tidak menyimpulkan adanya peningkatan bahaya hanya dari satu gejala atau grafik. Kewaspadaan terhadap gas kawah serta kemungkinan erupsi mendadak tetap perlu dijaga, sembari memahami bahwa hasil pengamatan yang tersedia belum memperlihatkan peningkatan aktivitas Gunung Lokon.
Walaupun pemantauan belum menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Lokon, kondisi tersebut tidak berarti seluruh potensi bahaya telah hilang. Kawah dapat mengeluarkan gas vulkanik yang berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi orang yang berada terlalu dekat atau berada di kawasan kawah tanpa perlindungan. Gas tertentu tidak selalu mudah dikenali melalui bau, sehingga warga dan pengunjung sebaiknya tidak mendekati kawah untuk mengamati aktivitas secara langsung. Paparan gas dapat menimbulkan gangguan pernapasan dan dampak kesehatan lainnya, dengan tingkat risiko yang dipengaruhi konsentrasi gas serta lamanya seseorang terpapar.
Selain gas kawah, erupsi freatik tetap menjadi bahaya yang perlu diantisipasi. Erupsi jenis ini terjadi akibat interaksi air dengan panas atau material vulkanik, dan dapat berlangsung secara tiba-tiba tanpa didahului peningkatan yang mudah dikenali oleh masyarakat. Letusan dapat melontarkan uap, abu, batuan, atau material lain dari kawah. Karena itu, warga diminta mematuhi rekomendasi dan batas kawasan yang ditetapkan oleh pihak berwenang, tidak memasuki area berbahaya, serta mengikuti informasi resmi dari instansi pemantauan gunung api. Ketenangan aktivitas yang teramati bukan alasan untuk mengabaikan arahan keselamatan.
Warga yang tinggal atau beraktivitas di sekitar alur sungai yang berhulu dari puncak Gunung Lokon juga perlu mewaspadai kemungkinan lahar. Material vulkanik yang berada di lereng atau sekitar puncak dapat terbawa aliran air, khususnya ketika hujan deras mengguyur kawasan puncak dalam waktu lama atau selama musim hujan. Hindari berada di dasar sungai, tebing, dan jalur aliran ketika hujan lebat, serta jangan mencoba menyeberangi sungai yang debitnya meningkat. Perhatikan perubahan arus, suara gemuruh, atau kenaikan air secara mendadak, lalu menjauh menuju tempat yang lebih aman. Pastikan jalur evakuasi diketahui keluarga dan ikuti imbauan pemerintah setempat. Kewaspadaan terhadap gas, erupsi freatik, dan lahar perlu dijaga tanpa membuat perkiraan mengenai kapan bahaya akan terjadi.
Hasil analisis dan evaluasi aktivitas Gunung Lokon hingga 15 Oktober 2026 menetapkan tingkat aktivitas gunung tersebut pada Level II. Informasi yang tersedia hanya menyebutkan penetapan level itu dan tidak mencantumkan keterangan lanjutan mengenai statusnya. Karena itu, masyarakat sebaiknya merujuk pada informasi resmi terbaru dari otoritas terkait untuk memperoleh pembaruan dan mengikuti arahan keselamatan yang berlaku.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan agar masyarakat tidak beraktivitas maupun mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan. Imbauan ini juga berlaku bagi pengunjung, wisatawan, dan pendaki. Batas tersebut perlu dipatuhi ketika berwisata atau melakukan kegiatan di sekitar gunung, termasuk saat kondisi tampak tenang. Hindari memasuki kawasan yang dibatasi dan jangan mendekati kawah untuk mengambil gambar atau melihat aktivitas vulkanik dari jarak dekat.
Apabila letusan disertai hujan abu, masyarakat diminta tetap berada di dalam rumah. Menutup pintu dan jendela dapat membantu membatasi masuknya abu ke ruang dalam. Ikuti informasi dan petunjuk dari pihak berwenang, serta hindari keluar rumah selama hujan abu berlangsung apabila tidak ada kebutuhan mendesak. Langkah ini ditujukan untuk mengurangi paparan abu vulkanik, terutama bagi kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan pernapasan atau iritasi.
Bagi warga atau pengunjung yang harus berada di luar saat abu turun, gunakan masker untuk melindungi hidung dan mulut. Kacamata juga disarankan guna melindungi mata dari partikel abu. Pastikan perlindungan tersebut dikenakan dengan baik selama berada di luar, lalu kembali ke tempat aman sesegera mungkin. Jika abu terlihat menumpuk atau kondisi berubah, utamakan arahan petugas dan jangan mengambil risiko dengan mendekati kawasan kawah.
Mematuhi radius aman dan menyiapkan perlindungan sederhana dapat membantu mengurangi risiko selama terjadi hujan abu.
Baca juga: Kekeringan Melanda Jakarta: Warga Diminta Waspada dan Hemat Air | Inspeksi Mendadak di Lapas Cibinong: Bappisus Tanggapi Temuan Ombudsman | Meningkatnya Penipuan Tiket Kapal: Waspadai Gejala Ini





