JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Inflasi inti Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 2,84 persen secara tahunan atau year-on-year. Angka tersebut menjadi perhatian karena pergerakannya berlangsung ketika tekanan dari harga emas perhiasan ikut memengaruhi komponen inflasi inti. Dalam konferensi pers APBN Kita, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyoroti perkembangan ini sebagai bagian dari gambaran kondisi harga dan daya beli masyarakat. Data tersebut menunjukkan bahwa inflasi inti masih berada dalam rentang yang mencerminkan perkembangan permintaan domestik, meskipun posisinya sedikit lebih rendah dibandingkan Agustus 2026.
Pergerakan inflasi inti pada September tidak dapat dilepaskan dari kontribusi sejumlah komponen barang dan jasa, termasuk emas perhiasan. Harga komoditas tersebut kerap bergerak mengikuti kondisi pasar global dan nilai tukar, sehingga dampaknya dapat terlihat pada penghitungan inflasi inti. Namun, ketika pengaruh harga emas perhiasan dikeluarkan, perhatian beralih pada tekanan harga yang lebih berkaitan dengan permintaan dalam negeri. Kondisi ini memberikan gambaran mengenai seberapa kuat konsumsi rumah tangga serta aktivitas ekonomi mendorong perubahan harga secara umum.
Dengan demikian, angka 2,84 persen pada September 2026 perlu dibaca secara lebih menyeluruh. Penurunan tipis dari posisi Agustus menunjukkan bahwa laju inflasi inti tidak meningkat secara seragam, sementara penguatan permintaan domestik tetap menjadi faktor penting yang perlu dipantau. Perbandingan inflasi inti secara keseluruhan dan pergerakannya setelah komponen emas perhiasan dikeluarkan membantu memperjelas sumber tekanan harga. Pemerintah menggunakan perkembangan tersebut untuk menilai stabilitas ekonomi, efektivitas kebijakan, serta ruang bagi konsumsi dan kegiatan usaha untuk terus bertumbuh tanpa mendorong kenaikan harga yang berlebihan.
Pergerakan inflasi inti pada September 2026 perlu dilihat dalam perspektif yang lebih luas daripada sekadar membandingkan angka dengan bulan sebelumnya. Dalam rentang satu tahun terakhir, indikator tersebut menunjukkan kecenderungan meningkat secara bertahap. Arah perubahan ini memberikan gambaran bahwa tekanan harga yang berasal dari kondisi ekonomi domestik mulai bergerak lebih tinggi, meskipun kenaikannya berlangsung secara terbatas dan tidak selalu terlihat besar dari satu bulan ke bulan berikutnya.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengamati adanya tren kenaikan tipis pada inflasi inti selama setahun terakhir. Menurut dia, perkembangan tersebut berkaitan dengan meningkatnya permintaan domestik. Ketika konsumsi rumah tangga, aktivitas usaha, dan kebutuhan terhadap berbagai barang serta jasa tumbuh, permintaan agregat di dalam negeri ikut menguat. Kondisi itu dapat mendorong pelaku usaha menyesuaikan harga, terutama ketika kapasitas produksi dan pasokan belum sepenuhnya mengimbangi pertumbuhan permintaan.
Hubungan inflasi inti dan permintaan domestik menjadi penting karena komponen ini cenderung mencerminkan tekanan harga yang lebih mendasar. Berbeda dari inflasi yang dapat berubah akibat faktor musiman atau harga komoditas tertentu, inflasi inti membantu menunjukkan bagaimana kekuatan perekonomian memengaruhi perilaku konsumsi dan penetapan harga. Karena itu, kenaikan tipis yang berlangsung konsisten dapat dibaca sebagai tanda membaiknya daya beli atau meningkatnya kegiatan ekonomi, bukan semata-mata sebagai gejolak harga jangka pendek.
Pengamatan tahunan tersebut juga menunjukkan bahwa penguatan permintaan berlangsung secara gradual. Belum terdapat indikasi lonjakan tekanan harga, tetapi arah pergerakannya tetap perlu dipantau oleh pemerintah dan otoritas moneter. Jika permintaan domestik terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan pendapatan dan aktivitas produksi, inflasi inti dapat bergerak lebih tinggi secara terukur. Sebaliknya, stabilitas pasokan dan kebijakan yang menjaga daya beli dapat membantu memastikan penguatan permintaan tidak berkembang menjadi tekanan inflasi berlebihan. Dengan demikian, tren setahun terakhir menjadi pelengkap penting bagi pembacaan data bulanan September 2026.
Harga emas, khususnya emas perhiasan, menjadi salah satu komponen yang memengaruhi pergerakan inflasi inti pada September 2026. Perubahan harga komoditas tersebut tercermin dalam penghitungan inflasi inti karena emas perhiasan termasuk barang yang dikonsumsi masyarakat dan memiliki bobot tertentu dalam keranjang indeks harga konsumen. Ketika harganya mengalami perubahan, angka inflasi inti juga dapat ikut bergerak.
Suahasil menjelaskan bahwa komponen emas memberikan kontribusi terhadap angka inflasi inti yang tercatat pada September. Namun, kontribusi tersebut perlu dipahami secara proporsional. Harga emas bukan satu-satunya faktor yang menentukan perubahan inflasi inti. Pergerakan harga berbagai barang dan jasa lain, termasuk kebutuhan konsumsi rumah tangga, turut memengaruhi hasil penghitungan secara keseluruhan.
Dibandingkan dengan Agustus 2026, inflasi inti pada September tercatat sedikit lebih rendah. Salah satu konteks yang menjelaskan perbedaan tersebut adalah pengaruh harga emas perhiasan. Dengan memperhitungkan komponen emas, angka inflasi inti yang dilaporkan mencerminkan gabungan perubahan harga dari seluruh komponen inti, bukan hanya dinamika permintaan domestik atau harga emas.
Pembedaan ini penting agar pembacaan data tidak keliru. Angka inflasi inti secara keseluruhan menunjukkan perubahan harga pada kelompok komoditas inti setelah mengecualikan komponen yang harganya sangat bergejolak atau diatur pemerintah sesuai metodologi yang berlaku. Sementara itu, angka setelah pengaruh emas diperhitungkan dapat digunakan untuk melihat bagaimana hasil pengukuran berubah apabila kontribusi emas perhiasan dipisahkan dari komponen lainnya.
Dengan demikian, penurunan tipis inflasi inti pada September tidak berarti tekanan harga domestik melemah di semua kelompok barang dan jasa. Data tersebut menunjukkan adanya pengaruh komponen emas dalam angka akhir, sekaligus menegaskan bahwa evaluasi inflasi perlu melihat susunan komponennya. Penjelasan Suahasil membantu menempatkan harga emas sebagai salah satu faktor yang berkontribusi, bukan sebagai penyebab tunggal perubahan inflasi inti.
Perhitungan inflasi inti tanpa memasukkan komponen harga emas perhiasan tetap menunjukkan peningkatan pada September 2026. Berdasarkan penjelasan Suahasil, angka tersebut naik dari 2,35 persen pada Agustus menjadi 2,49 persen pada September 2026. Perubahan ini memperlihatkan bahwa kenaikan tekanan harga tidak semata-mata berasal dari pergerakan harga emas perhiasan.
Kenaikan angka inflasi inti tanpa emas juga dapat menjadi indikasi adanya penguatan permintaan domestik. Ketika permintaan terhadap barang dan jasa di dalam negeri meningkat, pelaku usaha dapat menghadapi tekanan untuk menyesuaikan harga, terutama apabila pertumbuhan permintaan berlangsung bersamaan dengan keterbatasan pasokan atau kenaikan biaya tertentu. Hubungan tersebut perlu dipahami secara hati-hati, karena angka inflasi tidak secara tunggal menjelaskan seluruh perubahan aktivitas ekonomi.
Meski demikian, data September memberikan gambaran bahwa tekanan harga tetap meningkat setelah pengaruh harga emas perhiasan dikeluarkan dari perhitungan. Kenaikan dari 2,35 persen menjadi 2,49 persen menunjukkan bahwa komponen-komponen lain dalam inflasi inti turut berkontribusi terhadap perubahan laju harga. Penjelasan Suahasil mengenai angka tersebut mengaitkannya dengan indikasi menguatnya permintaan barang dan jasa di dalam negeri, sehingga perkembangan konsumsi domestik menjadi salah satu aspek yang relevan untuk dicermati bersama pergerakan harga.
