Surabaya | Ledakan yang diduga berkaitan dengan kebocoran tabung gas berkapasitas 12 kilogram merusak belasan rumah di Jalan Kupang Segunting, Kelurahan Dr Soetomo, Kecamatan Tegalsari, Surabaya, pada Senin pagi, 26 Oktober. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 07.22 WIB, menurut keterangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya. Suara ledakan dan dampaknya mengguncang kawasan permukiman saat aktivitas warga mulai berlangsung pada pagi hari.
Tekanan kuat dari ledakan menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan di sekitar lokasi. Atap rumah dan bagian dalam bangunan yang terdampak dilaporkan hancur, sementara kerusakan menjalar ke belasan rumah di kawasan tersebut. Dampak langsung itu menunjukkan kuatnya tekanan yang terjadi, meski rincian tingkat kerusakan pada setiap bangunan belum disampaikan dalam keterangan awal. Warga di sekitar lokasi pun menghadapi situasi darurat setelah ledakan merusak tempat tinggal mereka.
BPBD menyebut kebocoran tabung gas 12 kilogram sebagai dugaan yang berkaitan dengan kejadian tersebut. Namun, dugaan itu belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan penyelidikan. Penyebab pasti ledakan masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang. Karena itu, informasi mengenai sumber ledakan tetap bersifat sementara, dan perkembangan penyelidikan dapat memberikan penjelasan yang lebih lengkap mengenai urutan kejadian serta faktor yang memicunya.
Peristiwa ini menimbulkan kerusakan luas di lingkungan permukiman Tegalsari dan menjadi perhatian warga setempat. Pada tahap awal, informasi yang disampaikan BPBD mencakup waktu serta lokasi kejadian, dugaan awal terkait tabung gas, dan dampak terhadap rumah-rumah di sekitar titik ledakan. Belasan bangunan disebut terdampak, dengan atap dan bagian dalam rumah mengalami kerusakan akibat tekanan kuat. Penilaian lebih terperinci mengenai dampak pada masing-masing bangunan dan kepastian penyebabnya masih menunggu informasi lanjutan dari petugas.
Kerusakan akibat ledakan di Tegalsari tidak terbatas pada rumah yang menjadi titik perhatian awal. Arif Sunandar, Ketua Tim Kerja Operasional Kedaruratan BPBD Kota Surabaya, menyampaikan bahwa dampak juga dirasakan oleh sejumlah rumah warga di sekitar lokasi. Pendataan BPBD mencatat total 12 rumah mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda-beda. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa peristiwa itu turut memengaruhi lingkungan tempat tinggal di sekeliling lokasi, bukan hanya bangunan yang langsung dikaitkan dengan ledakan.
Dari keseluruhan rumah yang terdampak, enam rumah masuk dalam kategori rusak berat hingga sedang. Enam rumah lainnya mengalami kerusakan ringan. Pembagian tingkat kerusakan itu disampaikan berdasarkan keterangan Arif, dan memperlihatkan bahwa dampak pada bangunan warga mencakup lebih dari satu kategori. Meski demikian, informasi yang tersedia tidak merinci kondisi tiap rumah secara terpisah, sehingga tingkat kerusakan tersebut perlu dipahami sesuai klasifikasi yang disebutkan, tanpa menambahkan gambaran mengenai bagian bangunan tertentu.
Data tersebut memberi gambaran mengenai skala dampak pada bangunan di sekitar kejadian: ada enam rumah dengan kerusakan berat hingga sedang dan enam rumah dengan kerusakan ringan. Dengan demikian, perhatian terhadap dampak ledakan mencakup rumah korban serta rumah-rumah lain yang berada di sekitarnya. Keterangan BPBD menjadi dasar untuk menyebut jumlah dan kategori kerusakan yang tercatat, tetapi belum memuat rincian tambahan mengenai penyebab perbedaan tingkat kerusakan antarrumah atau besaran kerugian. Karena itu, angka yang disampaikan sebaiknya dibaca sebagai jumlah rumah terdampak menurut pengelompokan tersebut, bukan sebagai perkiraan biaya perbaikan atau uraian teknis kondisi setiap bangunan.
Insiden ledakan di Tegalsari tidak hanya merusak belasan rumah, tetapi juga menyebabkan dua warga lanjut usia mengalami luka. Keduanya dievakuasi untuk memperoleh pertolongan medis darurat setelah terdampak kejadian tersebut. Informasi mengenai korban disampaikan oleh Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya, Linda Novanti. Berdasarkan keterangan itu, korban pertama berinisial JL dan berusia 54 tahun. Ia mengalami luka bakar pada 75 persen bagian tubuhnya. Korban kedua, RLOA, berusia 84 tahun, terkena serpihan kaca pada tangan kiri. Rincian tersebut menggambarkan dampak yang dialami masing-masing warga, tanpa mengubah keterangan yang disampaikan BPBD.
Evakuasi dilakukan agar kedua korban dapat segera memperoleh pertolongan medis darurat. Keterangan yang tersedia menyebutkan kebutuhan penanganan tersebut, tetapi tidak memuat informasi tentang rumah sakit tujuan maupun perkembangan kondisi setelah mereka dievakuasi. Karena itu, rincian yang dapat dipastikan mengenai korban terbatas pada identitas inisial dan usia, bentuk luka yang dialami, serta tindakan evakuasi untuk mendapatkan bantuan medis. JL mengalami luka bakar 75 persen, sementara RLOA mengalami luka akibat serpihan kaca yang mengenai tangan kirinya. Kedua informasi itu merujuk pada keterangan Linda Novanti selaku pejabat BPBD Surabaya yang menangani bidang kedaruratan dan logistik.
Penyebutan data korban secara cermat penting agar laporan mengenai ledakan tetap sesuai dengan informasi yang telah disampaikan. Tidak ada keterangan tambahan yang dapat digunakan untuk menyimpulkan kondisi terkini kedua warga, proses perawatan lanjutan, atau penyebab khusus luka yang mereka alami. Yang diketahui, dua lansia menjadi korban luka dalam insiden tersebut dan segera dievakuasi untuk memperoleh pertolongan medis darurat. Rincian luka JL dan RLOA juga perlu dibedakan dengan jelas: luka bakar 75 persen pada JL, serta serpihan kaca pada tangan kiri RLOA. Informasi ini melengkapi gambaran dampak ledakan terhadap warga, di tengah kerusakan belasan rumah di Tegalsari.
Agus Pramono, 51 tahun, menjadi salah satu warga yang menyaksikan suasana sebelum ledakan terjadi. Ia menuturkan bahwa warga sempat mencium bau gas yang menyengat dari sekitar rumah korban. Bau tersebut terasa sebelum terdengar suara ledakan keras yang kemudian merusak sejumlah rumah di kawasan Tegalsari. Keterangan Agus menggambarkan kondisi yang membuat warga sekitar meski penyebab ledakan belum dapat dipastikan dan masih diselidiki petugas.
Menurut Agus, sekitar pukul 07.25 WIB terdengar teriakan dari rumah tersebut. Ia menduga tabung gas di rumah korban mengalami kebocoran. Dalam perkiraannya, kebocoran itu mungkin diikuti percikan api dari aliran listrik hingga akhirnya memicu ledakan. Namun, hal tersebut merupakan dugaan saksi berdasarkan keadaan yang ia lihat dan dengar, bukan kesimpulan resmi mengenai penyebab kejadian. Petugas masih melakukan pemeriksaan untuk mengetahui rangkaian peristiwa secara pasti.
Setelah ledakan, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan penanganan di lokasi. Mereka membersihkan puing-puing yang berserakan sekaligus menjauhkan warga dari area kejadian. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keselamatan masyarakat di sekitar rumah terdampak dan memberi ruang bagi petugas untuk bekerja. Sejumlah rumah dilaporkan mengalami kerusakan, sehingga area perlu ditangani dengan hati-hati sebelum pemeriksaan lebih lanjut berlangsung.
Dalam proses penanganan, empat anak anjing yang terjebak di lantai dua berhasil diselamatkan. Sementara itu, tim Inafis Polrestabes Surabaya bersama kepolisian setempat memasang garis polisi di sekitar lokasi. Petugas kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara untuk mengumpulkan informasi dan menelusuri penyebab ledakan. Kesaksian warga, termasuk keterangan tentang bau gas dan suara teriakan, dapat menjadi bagian dari informasi yang diperiksa, tetapi penetapan penyebab tetap menunggu hasil penyelidikan kepolisian.
Baca juga: Kecelakaan Mobil Rombongan Besan di Depok Menyebabkan 13 Orang Terluka





