Longsor di Eco Park Pelaga Timbun Glamping, Dua Penghuni Masih Dicari

Longsor di Eco Park Pelaga Timbun Glamping, Dua Penghuni Masih Dicari

Kabupaten Badung | Longsor menimbun satu bangunan tempat menginap di Eco Park Pelaga Glamping Retreat, Banjar Bukit Munduk Tiying, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Peristiwa ini terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut sejak Minggu malam, 1 November 2026. Material longsor kemudian membuat bangunan glamping hanyut terbawa arus sungai.

Longsor dilaporkan terjadi sekitar pukul 23.00 Wita, ketika kawasan Pelaga telah diguyur hujan selama beberapa waktu. Timbunan tanah dan material yang bergerak dari area sekitar mencapai bangunan penginapan di kompleks glamping tersebut. Bangunan itu tidak hanya tertimbun, tetapi juga terseret aliran sungai hingga hanyut dari lokasinya.

Kejadian di Eco Park Pelaga memperlihatkan dampak langsung longsor terhadap fasilitas penginapan di kawasan tersebut. Satu bangunan yang digunakan untuk menginap menjadi sasaran material longsor, sementara arus sungai membawa bangunan itu menjauh. Informasi mengenai kejadian ini menempatkan hujan lebat yang turun sejak malam sebagai kondisi yang mendahului longsor. Tidak ada keterangan lain yang perlu ditambahkan untuk menjelaskan penyebab peristiwa tersebut.

Lokasi kejadian berada di Desa Pelaga, wilayah Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Penyebutan Banjar Bukit Munduk Tiying dan Eco Park Pelaga Glamping Retreat membantu menunjukkan titik kejadian secara lebih spesifik. Dengan demikian, peristiwa ini berlangsung di area penginapan yang berada di kawasan Pelaga, bukan sekadar di wilayah Badung secara umum.

Waktu kejadian, sekitar pukul 23.00 Wita, menjadi bagian penting dari kronologi. Hujan lebat telah berlangsung sejak Minggu malam, 1 November 2026, sebelum longsor menimbun bangunan. Setelah material bergerak dan bangunan terseret arus sungai, perhatian tertuju pada dampak yang ditimbulkan di kawasan glamping. Dua penghuni masih dicari, sebagaimana disebutkan dalam laporan mengenai kejadian tersebut. Rangkaian informasi itu merangkum lokasi, waktu, cuaca, serta dampak utama longsor di Pelaga.

Dua orang laki-laki yang menghuni Room 6 di area glamping Eco Park Pelaga dilaporkan tertimbun saat tebing di sekitar bangunan mengalami longsor. Hingga informasi ini disampaikan, keduanya masih menjadi sasaran pencarian dan belum dapat dipastikan ditemukan. Keterangan mengenai penghuni kamar tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan peristiwa, karena keberadaan mereka diduga berkaitan langsung dengan bangunan yang tertimbun material longsor. Informasi yang tersedia menyebutkan bahwa kedua orang itu adalah laki-laki, tetapi rincian identitas keduanya tidak sama tingkat kepastiannya.

Salah satu penghuni diketahui bernama Bangkit Mubarok, berusia 30 tahun, dan berkewarganegaraan Indonesia. Sementara itu, penghuni lainnya disebut sebagai warga negara asing. Namun, identitas warga negara asing tersebut belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia. Karena itu, belum ada dasar untuk menyebutkan nama, asal negara, atau rincian pribadi lainnya. Penyebutan Bangkit Mubarok sebagai salah satu penghuni tidak berarti bahwa kedua korban telah ditemukan; status keduanya tetap dilaporkan belum ditemukan dan pencarian masih menjadi perhatian.

Pada tahap awal setelah kejadian, identitas kedua pengunjung yang diduga berada di dalam Room 6 belum diketahui. Pemilik glamping mencurigai terdapat dua orang di dalam bangunan ketika tebing longsor dan material menimbun area tersebut. Kecurigaan itu menjadi dasar laporan mengenai kemungkinan adanya penghuni yang terjebak, bukan konfirmasi bahwa keduanya telah ditemukan atau bahwa seluruh identitas mereka sudah terverifikasi. Perbedaan dugaan awal dan keterangan identitas yang kemudian diketahui perlu dijaga agar informasi tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru. Sampai ada kepastian lebih lanjut dari pihak berwenang, status satu penghuni sebagai warga negara asing dan identitasnya tetap belum terkonfirmasi. Demikian pula, keberadaan kedua laki-laki tersebut masih dilaporkan dalam konteks pencarian. Informasi yang dapat dipastikan saat ini terbatas pada nama dan usia Bangkit Mubarok, serta keterangan bahwa penghuni lainnya merupakan warga negara asing. Rincian lebih lanjut sebaiknya menunggu hasil pencarian dan verifikasi resmi.

Penanganan longsor di Eco Park Pelaga dilakukan secara bertahap setelah material tanah menimbun area glamping dan dua penghuninya belum ditemukan. Pada tahap awal, pengelola lokasi berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Badung, Camat Petang, serta Polsek Petang untuk melakukan pencarian. Upaya pertama ini diarahkan pada area yang terdampak, dengan mempertimbangkan kondisi lapangan dan keselamatan petugas. Koordinasi lintas unsur tersebut menjadi langkah awal sebelum bantuan dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar diminta.

Pencarian awal menghadapi kendala cuaca dan medan. Hujan lebat mengguyur kawasan, sementara akses menuju lokasi longsor tergolong curam. Kondisi tersebut menyulitkan pergerakan petugas maupun upaya menjangkau titik pencarian secara aman. Karena situasi belum mendukung, pencarian sempat dihentikan sementara. Penghentian itu dilakukan sebagai bagian dari pertimbangan keselamatan, bukan karena upaya menemukan kedua penghuni telah ditinggalkan. Setelah melihat kebutuhan penanganan lebih lanjut, pengelola kemudian meminta bantuan Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar untuk mendukung operasi.

Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar menerima laporan mengenai kejadian tersebut pada Senin, 2 November 2026, pukul 06.10 Wita. Setelah menerima informasi, kantor itu memberangkatkan satu tim rescue yang terdiri atas sembilan personel menuju lokasi. Kehadiran tim tersebut memperkuat pencarian yang sebelumnya telah diupayakan oleh unsur setempat. Proses penanganan kemudian berkembang menjadi operasi gabungan, dengan personel dari berbagai instansi bekerja bersama di lapangan. Masyarakat turut membantu dalam upaya pencarian dan penanganan di kawasan terdampak.

Secara keseluruhan, operasi gabungan melibatkan 123 personel dari berbagai instansi, selain dukungan masyarakat. Jumlah personel dan keterlibatan lintas unsur mencerminkan kebutuhan untuk mengoordinasikan pencarian di medan yang sulit serta memastikan pekerjaan dilakukan dengan memperhatikan keselamatan. Petugas terus berupaya menelusuri area yang tertimbun dan menyiapkan penanganan lanjutan sesuai kondisi di lapangan. Hingga informasi ini disampaikan, pencarian terhadap dua penghuni yang masih belum ditemukan dan proses evakuasi lanjutan masih berlangsung. Perkembangan operasi bergantung pada situasi cuaca, akses, serta hasil pemeriksaan di lokasi.

Lokasi glamping yang terdampak longsor berada di kawasan perbukitan dekat aliran sungai. Kondisi geografis tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam mengatur operasi pencarian, karena personel harus bergerak di medan yang tidak mudah dijangkau. Kemiringan kawasan dan kedekatannya dengan sungai juga perlu diperhatikan ketika petugas menilai jalur yang dapat digunakan serta menentukan cara membawa perlengkapan menuju area pencarian. Setiap pergerakan dilakukan dengan mempertimbangkan keadaan lapangan agar kegiatan tetap terarah dan aman.

Upaya pencarian menghadapi kendala karena medan cukup berat dan material longsor masih menutup sebagian akses jalan. Hambatan itu membatasi pergerakan personel maupun pengangkutan peralatan evakuasi ke lokasi. Karena itu, akses yang tersedia dan kondisi jalur perlu diperiksa sebelum digunakan, sementara pemindahan perlengkapan harus disesuaikan dengan situasi di lapangan. Penanganan khusus diperlukan agar personel dapat menjangkau area kerja tanpa mengabaikan keselamatan selama perjalanan. Kondisi akses juga menjadi bagian dari pertimbangan dalam menata dukungan bagi kegiatan pencarian.

Cuaca dan perubahan kondisi lapangan turut dipertimbangkan dalam menentukan pola pencarian serta menilai keamanan operasi. Personel diingatkan agar mengutamakan keselamatan dan tetap terhadap potensi longsor susulan. Kedekatan lokasi dengan aliran sungai juga membuat perkembangan debit air perlu diperhatikan selama kegiatan berlangsung. Pemantauan terhadap keadaan sekitar membantu petugas menyesuaikan pergerakan dan penggunaan peralatan berdasarkan kondisi yang dihadapi. Dengan medan, akses, cuaca, dan keadaan sungai sebagai pertimbangan, operasi dijalankan secara hati-hati, tanpa mengabaikan kebutuhan untuk melanjutkan pencarian terhadap penghuni yang belum ditemukan.

260 kunjungan