Jakarta | Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak para santri untuk memperluas keahlian dan tidak membatasi diri hanya pada pendalaman ilmu agama. Menurutnya, santri juga perlu mengembangkan kemampuan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, kedokteran, teknik, serta berbagai disiplin lain yang dibutuhkan masyarakat. Seruan itu disampaikan dalam acara Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Jumat. Pesan tersebut menempatkan pendidikan agama dan penguasaan ilmu umum sebagai dua hal yang dapat berjalan beriringan dalam membentuk kontribusi santri bagi bangsa.
Nasaruddin membandingkan kebutuhan pada masa perjuangan fisik dengan tantangan pada masa damai. Pada masa perjuangan, keberanian dan pengorbanan melahirkan banyak jenderal yang memimpin perlawanan. Namun, ketika bangsa berada dalam suasana damai, ia berharap lahir lebih banyak profesor dan kiai besar. Perbandingan itu bukan untuk mengurangi penghargaan terhadap jasa para pejuang, melainkan untuk menegaskan bahwa setiap zaman membutuhkan bentuk pengabdian yang sesuai dengan tantangannya. Dalam keadaan damai, pengembangan ilmu, pendidikan, dan keahlian profesional menjadi bagian penting dari perjuangan membangun masyarakat.
Harapan tersebut mendorong lembaga pendidikan pesantren untuk memberi ruang bagi santri mengenal bidang-bidang di luar kajian keagamaan, sekaligus tetap menjaga kekuatan tradisi keilmuan Islam. Santri yang memahami agama dan memiliki kompetensi di bidang sains, kesehatan, teknologi, atau teknik dapat menjawab persoalan publik dari beragam sudut pandang. Penguasaan ilmu juga membuka peluang bagi mereka untuk berperan di lingkungan akademik, layanan kesehatan, industri, pemerintahan, dan sektor lain. Dengan bekal yang luas, santri dapat turut menghasilkan pengetahuan, memperkuat pelayanan kepada masyarakat, serta menyampaikan nilai keagamaan melalui kiprah nyata. Ajakan Menteri Agama itu menekankan pentingnya menyiapkan generasi pesantren yang berilmu, berdaya saing, dan mampu mengambil peran sesuai kebutuhan bangsa, tanpa mempertentangkan pendidikan agama dengan kemajuan ilmu pengetahuan.Baitul Hikmah menjadi salah satu contoh sejarah yang disampaikan Menteri Agama untuk menggambarkan kuatnya tradisi ilmu dalam peradaban Islam. Lembaga yang berpusat di Baghdad itu berdiri pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid dan berkembang pesat pada masa Khalifah al-Ma’mun. Perkembangannya mencerminkan perhatian penguasa terhadap kegiatan belajar, pengumpulan naskah, penerjemahan, dan pengembangan pengetahuan. Baitul Hikmah bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang yang mendukung para ilmuwan untuk bertukar gagasan serta memperluas cakrawala keilmuan. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kemajuan ilmu tumbuh ketika masyarakat memberi ruang bagi kegiatan intelektual yang terorganisasi dan berkelanjutan.
Di lingkungan Baitul Hikmah, ilmuwan dengan latar belakang yang beragam berkontribusi dalam pengembangan berbagai bidang. Kegiatan penerjemahan karya dari bahasa Yunani, Persia, dan sumber lain membantu memperkaya kajian filsafat, matematika, astronomi, kedokteran, serta disiplin lainnya. Proses itu tidak hanya memindahkan pengetahuan dari satu bahasa ke bahasa lain, tetapi juga membuka kesempatan untuk menguji, mengolah, dan mengembangkan gagasan. Keterlibatan para cendekiawan yang berbeda agama dan tradisi menunjukkan bahwa kerja keilmuan dapat berlangsung melalui dialog dan kolaborasi. Perbedaan latar belakang tidak harus menjadi penghalang untuk mencari pengetahuan; sebaliknya, keragaman dapat menjadi sumber perspektif dan memperkuat proses belajar bersama.
Bagi Menag, warisan tersebut relevan sebagai inspirasi bagi pesantren masa kini. Pesantren dapat menjaga kedalaman pendidikan agama sekaligus memperluas penguasaan ilmu pengetahuan, termasuk sains dan kedokteran. Gagasan ini tidak berarti mengurangi perhatian pada kajian keislaman, melainkan membangun pendidikan yang lebih menyeluruh dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. Dengan meneladani semangat Baitul Hikmah, pesantren dapat mendorong santri menguasai beragam disiplin, mengembangkan sikap terbuka, serta bekerja sama dengan pihak yang memiliki latar belakang berbeda. Kolaborasi lintas agama dalam bidang pendidikan dan penelitian dapat mempertemukan keahlian, memperkaya pemecahan masalah, dan menghadirkan manfaat publik. Tradisi tersebut menegaskan bahwa lembaga pendidikan Islam berpotensi menjadi pusat ilmu yang menghubungkan nilai keagamaan dengan kemajuan pengetahuan. Dorongan ini juga memberi santri ruang untuk berperan dalam menjawab tantangan zaman secara kompeten, bertanggung jawab, dan berlandaskan etika.Perubahan zaman menuntut pesantren untuk terus meningkatkan mutu pendidikan. Menag memandang penguatan kualitas tersebut penting agar pesantren mampu menyiapkan generasi yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga dapat berkontribusi dalam beragam bidang kehidupan. Tantangan dan kebutuhan masyarakat terus berkembang, sehingga pendidikan perlu memberi ruang bagi santri untuk memperluas pengetahuan serta mengembangkan kemampuan yang relevan. Dengan demikian, pesantren dapat menjaga perannya dalam membentuk generasi yang berbekal nilai keagamaan sekaligus siap menghadapi perubahan.
Dorongan untuk meningkatkan mutu pendidikan itu berjalan seiring dengan ajakan agar santri tidak membatasi diri dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Menurut Menag, keluasan belajar dapat membuka kesempatan bagi santri untuk mengambil bagian dalam berbagai ranah, termasuk sains dan kedokteran. Ilmu-ilmu tersebut bukan bidang yang harus dijauhkan dari kehidupan pesantren. Santri dapat mempelajarinya sebagai bagian dari ikhtiar memahami dunia dan memberi manfaat kepada masyarakat. Sikap terbuka terhadap pengetahuan juga membantu generasi muda merespons perkembangan zaman dengan bekal yang lebih luas.
Menag berharap santri Indonesia dapat meneladani keluasan keilmuan yang pernah berkembang di Baitul Hikmah. Harapan ini menempatkan penguasaan ilmu sebagai bagian penting dari tradisi belajar yang dapat menginspirasi generasi masa kini. Santri diharapkan memiliki semangat untuk mendalami beragam pengetahuan tanpa menganggap bidang tertentu berada di luar jangkauan mereka. Pesantren, melalui peningkatan mutu pendidikannya, diharapkan terus mendukung lahirnya generasi yang berpengetahuan luas dan mampu berkontribusi dalam kehidupan. Dorongan tersebut menegaskan bahwa pendidikan pesantren dapat berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Dengan cakrawala belajar yang lebih terbuka, santri diharapkan siap mengambil peran dalam berbagai bidang, sambil tetap membawa nilai-nilai yang diperoleh melalui pendidikan mereka.
Menag memandang pesantren memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi unggul. Potensi itu bertumpu pada pendidikan yang tidak hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, memperkuat keimanan, serta menanamkan akhlak. Keempat aspek tersebut berjalan berdampingan dalam kehidupan pendidikan pesantren dan menjadi bekal penting bagi santri untuk menjalani peran di tengah masyarakat.
Penguasaan ilmu pengetahuan perlu disertai sikap dan nilai yang kuat. Santri diharapkan tumbuh sebagai pribadi yang mampu memahami perkembangan di sekitarnya, sekaligus memiliki tanggung jawab dan pegangan moral dalam menggunakan pengetahuan. Dengan pendidikan yang mencakup keilmuan dan pembinaan diri, pesantren dapat menyiapkan santri agar mampu beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi dasar pembentukan mereka.
Karena itu, Menag mengajak para pengelola pesantren untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. Upaya tersebut penting agar proses belajar dapat menjawab kebutuhan zaman dan membuka ruang bagi santri untuk mengembangkan kemampuan secara lebih luas. Penguatan mutu pendidikan juga menjadi bagian dari ikhtiar pesantren dalam menjaga peran serta memastikan bahwa santri memperoleh bekal yang sesuai untuk menghadapi perubahan di berbagai bidang.
Perkembangan zaman menghadirkan tantangan sekaligus kesempatan. Dengan bekal ilmu, karakter, keimanan, dan akhlak, santri diharapkan dapat menghadapi perubahan secara bijak serta mengambil bagian dalam kehidupan publik. Menag menekankan pentingnya pendidikan pesantren yang terus berkembang, sehingga kemampuan santri dapat memberi manfaat yang nyata bagi masyarakat. Bekal tersebut juga dapat mendorong kontribusi mereka bagi kemajuan bangsa dan negara.
Pesan Menag kepada pengelola pesantren menegaskan bahwa peningkatan kualitas pendidikan merupakan tanggung jawab yang perlu dijalankan secara berkelanjutan. Pesantren memiliki ruang untuk mengembangkan keilmuan sekaligus mempertahankan pembentukan karakter, iman, dan akhlak.





