Tangerang | PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX), melalui anak usahanya PT Multi Nice Paper Indonesia (MNPI), meresmikan pabrik khusus popok bayi di Legok, Kabupaten Tangerang. Fasilitas baru ini menjadi bagian dari langkah perusahaan memperluas kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan produk perawatan bayi. Investasi yang dikucurkan untuk pembangunan pabrik tersebut mencapai USD 6 juta, atau sekitar Rp 102 miliar. Nilai investasi ini menandai komitmen MMIX dan MNPI untuk mengembangkan kegiatan manufaktur di dalam negeri, sekaligus memperkuat posisi perusahaan di pasar popok bayi.
Direktur Utama MNPI, Mengky Mangarek, menyebut pembangunan fasilitas tersebut sebagai upaya memperkuat industri perawatan bayi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Pernyataan itu disampaikan pada Jumat, 16 Januari 2026. Kehadiran pabrik di Legok diharapkan mendukung penyediaan popok bayi yang diproduksi di Indonesia, sehingga kebutuhan pasar domestik dapat ditopang oleh kapasitas produksi lokal. Langkah ini juga sejalan dengan upaya perusahaan membangun fondasi manufaktur yang dapat melayani permintaan secara lebih luas, baik dari konsumen maupun saluran distribusi.
Peresmian pabrik menambah kapasitas industri yang dapat dimanfaatkan MMIX melalui MNPI dalam mengembangkan bisnis produk perawatan bayi. Dengan investasi sekitar Rp 102 miliar, perusahaan mengarahkan fasilitas tersebut untuk mendukung pertumbuhan pasar domestik sekaligus membuka peluang menjangkau pasar ekspor. Penguatan produksi dalam negeri dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan ketersediaan produk lokal dan mengurangi porsi pasokan yang bergantung pada barang impor. Namun, kontribusi pabrik terhadap pasar akan bergantung pada kemampuan perusahaan mengelola produksi, menjaga mutu produk, serta membangun jaringan pemasaran. Bagi MMIX, pabrik di Legok merupakan langkah strategis dalam memperluas kegiatan usaha sekaligus mendukung perkembangan industri perawatan bayi Indonesia. Fasilitas ini juga memberi perusahaan landasan untuk menyesuaikan penawaran dengan kebutuhan pasar yang berubah, tanpa mengabaikan peluang penjualan lintas negara. Dengan demikian, investasi tersebut mencerminkan fokus pada penguatan kapasitas produksi lokal dan pertumbuhan usaha jangka panjang.
Pabrik popok baru MMIX di Tangerang dirancang untuk beroperasi secara bertahap, dengan pemanfaatan lahan awal seluas 1 hektare dari total area pengembangan 3 hektare. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan memulai kegiatan produksi pada sebagian fasilitas, sementara ruang pengembangan yang tersisa dapat mendukung rencana peningkatan skala usaha. Dengan demikian, pembangunan pabrik tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan operasi awal, tetapi juga disiapkan untuk mengakomodasi pertumbuhan kapasitas pada masa mendatang.
Pada tahap awal operasi, pabrik akan menjalankan dua lini produksi yang ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 1,8 miliar unit popok. Angka tersebut menjadi kapasitas awal fasilitas baru dalam mendukung pasokan produk untuk pasar domestik sekaligus membuka peluang melayani permintaan ekspor. MMIX merencanakan peningkatan kapasitas produksi hingga 3 miliar unit per tahun. Peningkatan ini akan memperbesar volume produksi secara bertahap, sejalan dengan pengembangan fasilitas dan kebutuhan pasar yang dapat diserap perusahaan.
Mengky menyebut kapasitas hingga 3 miliar unit tersebut diperkirakan dapat memenuhi sekitar 10 persen dari kebutuhan popok nasional. Kebutuhan itu disebut mencapai 33 miliar unit per tahun, sehingga peluang bagi produsen domestik masih terbuka lebar. Pabrik di Tangerang diharapkan berkontribusi pada pasokan lokal, sekaligus memperkuat kemampuan perusahaan dalam menyesuaikan produksi dengan permintaan. Besaran kontribusi tersebut merupakan perkiraan berdasarkan perbandingan kapasitas tahunan yang direncanakan dan kebutuhan nasional.
Selain menambah kapasitas, produksi di dalam negeri dipandang perusahaan sebagai langkah untuk mengelola biaya dan menjaga stabilitas margin. Ketergantungan pada produk atau pasokan dari luar negeri dapat membuat biaya lebih rentan terhadap perubahan nilai tukar. Dengan memproduksi secara lokal, MMIX menilai dampak fluktuasi kurs terhadap biaya dapat ditekan, sehingga perencanaan usaha berpotensi menjadi lebih terukur. Strategi ini juga memberi perusahaan kendali lebih besar atas proses produksi dan pasokan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kombinasi pemanfaatan lahan secara bertahap, dua lini awal, serta rencana ekspansi kapasitas menjadi dasar operasional fasilitas tersebut.Beroperasinya pabrik popok baru di Tangerang menjadi salah satu dasar bagi MMIX dalam menyusun sasaran keuangan beberapa tahun ke depan. Perusahaan memproyeksikan pendapatan pada 2027 mencapai Rp 473 miliar. Angka tersebut mencerminkan kenaikan 21,91 persen dibandingkan target pendapatan 2026 sebesar Rp 388 miliar. Proyeksi itu menggambarkan potensi kontribusi fasilitas manufaktur terhadap kapasitas produksi dan kemampuan perusahaan melayani pasar domestik maupun ekspor. Namun, angka tersebut masih merupakan sasaran perusahaan, bukan pendapatan yang telah terealisasi.
MMIX juga menetapkan target EBITDA sebesar Rp 116 miliar pada 2027, atau tumbuh 31,82 persen dari target Rp 88 miliar pada 2026. Kenaikan EBITDA yang diproyeksikan lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan menunjukkan harapan perusahaan bahwa peningkatan skala operasi dapat mendukung kinerja operasional. Meski demikian, realisasi kinerja akan bergantung pada proses pengoperasian pabrik, tingkat utilisasi kapasitas, biaya bahan baku, serta perkembangan permintaan dan persaingan di pasar.
Dalam simulasi dampak manufaktur untuk 2027, perusahaan membandingkan skenario dengan pabrik dan skenario tanpa pabrik. Laba kotor pada skenario dengan pabrik diperkirakan mencapai USD 12,25 juta, sedangkan tanpa pabrik diproyeksikan sebesar USD 10,92 juta. Simulasi yang sama memperkirakan margin laba kotor meningkat menjadi 46,3 persen dengan pabrik, dari 41,2 persen pada skenario tanpa pabrik. Perbandingan ini mencerminkan asumsi perusahaan mengenai pengaruh kegiatan manufaktur terhadap struktur biaya dan hasil penjualan.
Untuk laba bersih, simulasi perusahaan menempatkan skenario dengan pabrik pada USD 2,55 juta, atau 69,1 persen lebih tinggi daripada USD 1,51 juta dalam skenario tanpa pabrik. Margin laba bersih juga diproyeksikan naik dari 5,7 persen menjadi 9,6 persen. Seluruh angka perbandingan tersebut merupakan hasil simulasi dan proyeksi MMIX, bukan capaian aktual. Karena itu, target pendapatan, EBITDA, laba, dan margin perlu dipahami sebagai perkiraan yang dapat berubah mengikuti pelaksanaan operasional dan kondisi pasar.
Untuk menopang pertumbuhan setelah investasi fasilitas baru, Mengky menyebut perusahaan akan menjalankan strategi yang mencakup penguatan merek, perluasan jaringan distribusi, dan optimalisasi kemampuan manufaktur. Penguatan merek diharapkan membantu produk lebih dikenal serta memperjelas posisinya di tengah persaingan pasar perawatan bayi. Pada saat yang sama, distribusi akan diperluas agar produk lebih mudah dijangkau konsumen di berbagai wilayah. Perusahaan juga melihat kanal e-commerce sebagai bagian penting dari upaya tersebut, seiring perubahan kebiasaan belanja dan meningkatnya penggunaan platform digital. Kombinasi merek yang kuat dan akses pembelian yang luas dinilai dapat menopang pertumbuhan secara berkelanjutan.
Di sisi produksi, perusahaan berencana mengoptimalkan kapasitas dan kemampuan manufaktur untuk mendukung pasokan serta menjaga daya saing. Investasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat posisi MMIX, tetapi juga memberi dampak bagi industri perawatan bayi nasional. Perusahaan berharap peningkatan kemampuan produksi dapat mendorong industri dalam negeri bersaing lebih baik, sekaligus memperbesar pemanfaatan bahan baku domestik. Penggunaan bahan lokal menjadi salah satu aspek yang dinilai dapat mendukung rantai pasok nasional. Namun, hasilnya akan bergantung pada pelaksanaan rencana produksi, ketersediaan bahan baku, dan perkembangan permintaan. Dengan demikian, penguatan manufaktur dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang, bukan semata penambahan kapasitas.
Ekspansi ekspor juga menjadi sasaran perusahaan. Pasar yang dibidik meliputi Malaysia, Singapura, Filipina, dan Vietnam, dengan peluang untuk memanfaatkan jaringan kemitraan ritel Indonesia yang telah berekspansi ke kawasan tersebut.
Baca juga: Modus Baru Peredaran Narkoba di Jakarta dan Tangerang | Kondisi Sungai Cimanceuri di Tangerang Memprihatinkan akibat Pencemaran | Kemacetan Parah Warnai Ajang Lari Tangerang 10K 2026




