Jakarta | Rotasi Bumi kerap terasa tetap dalam kehidupan sehari-hari, tetapi laju putarannya sesungguhnya berubah-ubah. Dalam rentang sejarah geologis yang panjang, pengaruh pasang surut akibat interaksi gravitasi Bumi dan Bulan secara bertahap menghambat rotasi planet ini. Akibatnya, panjang rata-rata hari bertambah perlahan dibandingkan masa lampau. Perubahan tersebut sangat kecil dari hari ke hari, namun dapat terukur melalui pengamatan astronomis yang teliti. Berbagai proses lain, termasuk pergerakan massa di atmosfer, lautan, dan bagian dalam Bumi, juga memengaruhi kecepatan rotasi dalam jangka pendek.
Pola jangka panjang yang cenderung melambat tidak berarti rotasi selalu berkurang kecepatannya. Sejak sekitar 2020, pengukuran menunjukkan Bumi berputar sedikit lebih cepat daripada sebelumnya. Hari-hari tertentu menjadi lebih pendek beberapa milidetik dibandingkan hari standar 24 jam. Para ilmuwan masih meneliti penyebab perubahan ini, yang dapat berkaitan dengan dinamika atmosfer, arus laut, serta pergeseran material di dalam planet. Variasi tersebut menjadi penting bagi sistem yang memerlukan ketepatan tinggi, seperti navigasi satelit, telekomunikasi, jaringan listrik, dan penentuan posisi. Rotasi Bumi karena itu bukan jam yang sepenuhnya seragam: panjang hari astronomis dapat berubah, meski manusia umumnya tidak merasakan perbedaannya.
Untuk menjaga waktu tetap konsisten, masyarakat modern menggunakan jam atom sebagai rujukan yang lebih andal daripada pengamatan rotasi Bumi. Jam ini mengukur frekuensi transisi energi atom dengan kestabilan sangat tinggi. Pada 1967, General Conference on Weights and Measures menetapkan definisi detik berdasarkan atom cesium-133. Satu detik didefinisikan sebagai durasi 9.192.631.770 ayunan radiasi yang berkaitan dengan transisi dua tingkat hiperhalus pada keadaan dasar atom tersebut. Definisi ini memberi satuan waktu yang dapat direproduksi di berbagai laboratorium, tanpa bergantung pada panjang hari yang berubah-ubah. Dengan demikian, waktu atom menyediakan fondasi bagi pengukuran modern, sementara pengamatan astronomis tetap digunakan untuk memantau hubungan jam resmi dan rotasi planet.
Jam atom mengukur waktu dengan sangat stabil, berdasarkan frekuensi getaran atom, sementara rotasi Bumi tidak berlangsung dengan kecepatan yang benar-benar tetap. Perubahan kecil pada rotasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk interaksi gravitasi Bulan, pergerakan atmosfer dan lautan, serta perubahan di dalam Bumi. Akibatnya, satu hari menurut rotasi planet kadang sedikit lebih panjang atau lebih pendek daripada 24 jam yang digunakan dalam pengukuran atom.
Jika kedua ukuran waktu itu dibiarkan semakin berbeda, jam sipil yang mengikuti jam atom lama-kelamaan akan semakin jauh dari posisi Matahari di langit. Waktu yang ditunjukkan jam mungkin tidak lagi selaras dengan siang dan malam sebagaimana dialami manusia. Dalam jangka yang sangat panjang, ketidakselarasan sistem waktu buatan dan siklus astronomis juga dapat memengaruhi hubungan tanggal kalender dengan musim. Penyelarasan diperlukan agar kalender dan waktu sehari-hari tetap memiliki kaitan yang masuk akal dengan keadaan alam, bukan semata-mata mengikuti ukuran atom.
Untuk menjaga kecocokan tersebut, sejak 1972 para pencatat waktu menggunakan detik kabisat, yakni penambahan satu detik pada waktu resmi ketika selisih waktu atom dan rotasi Bumi memerlukannya. Secara keseluruhan, 27 detik telah ditambahkan ke jam atom melalui penyesuaian ini. Detik tambahan itu tidak diberikan dengan jadwal tahunan yang tetap, sebab laju rotasi Bumi berubah-ubah dan kebutuhan koreksi harus dipantau. Langkah tersebut membantu mencegah perbedaan waktu buatan manusia dan rotasi planet menjadi terlalu besar.
Konstantin Bikos dan Anne Buckle menjelaskan bahwa mekanismenya pada dasarnya seperti menghentikan jam selama beberapa detik agar Bumi dapat menyusul. Gambaran ini membantu menjelaskan tujuan koreksi, meskipun secara teknis detik kabisat diterapkan dengan memperpanjang satu menit tertentu, bukan dengan menghentikan semua jam. Karena itu, waktu resmi dapat memuat satu detik tambahan sebelum hitungan berlanjut. Penyesuaian kecil tersebut menjaga standar waktu tetap dekat dengan rotasi Bumi, sembari memungkinkan jam atom terus menyediakan ukuran waktu yang presisi bagi komunikasi, navigasi, dan berbagai sistem modern yang bergantung pada ketepatan waktu.
Selama ini, pembahasan detik kabisat umumnya berpusat pada penambahan satu detik untuk menjaga waktu resmi tetap selaras dengan rotasi Bumi. Namun, rotasi planet tidak selalu melambat. Dalam beberapa tahun terakhir, pengukuran menunjukkan bahwa Bumi sesekali berputar lebih cepat, sehingga selisih waktu atom dan waktu rotasi dapat bergerak ke arah sebaliknya. Jika kondisi itu bertahan dan selisihnya melewati batas yang ditetapkan, pengelola waktu global mungkin perlu mengurangi satu detik. Langkah tersebut disebut detik kabisat negatif.
Pengurangan satu detik belum pernah diterapkan, sehingga perilaku sistem komputer ketika menghadapinya belum teruji dalam skala luas. Banyak perangkat lunak dirancang untuk menangani detik tambahan, tetapi belum tentu dapat memproses urutan waktu yang melompati satu detik. Kesalahan kecil pada pencatatan waktu dapat merambat ke layanan komputasi awan, jaringan komunikasi, transaksi keuangan, hingga sistem navigasi dan satelit. Dampaknya tidak otomatis terjadi, tetapi ketidakpastian membuat lembaga teknologi dan pengelola infrastruktur perlu menguji perangkat lunak, protokol, serta prosedur pemulihan sebelum perubahan semacam itu diperlukan.
Pengalaman detik kabisat positif menunjukkan bahwa penyesuaian waktu dapat menimbulkan gangguan. Pada 30 Juni 2012, Reddit mengalami masalah setelah sebagian sistemnya tidak siap menghadapi detik tambahan. Peristiwa itu menggambarkan bagaimana asumsi tentang urutan waktu dapat memicu beban berlebih atau kegagalan layanan. Untuk mengurangi lonjakan perubahan pada satu saat, Google dan Meta pernah membagikan penyesuaian ke dalam rentang waktu yang lebih panjang melalui pendekatan yang dikenal sebagai smear. Namun, metode penerapannya tidak seragam secara global; perangkat dan layanan yang memakai cara berbeda tetap harus berkoordinasi dengan skala waktu resmi.
Karena itu, kekhawatiran mengenai detik kabisat negatif tidak semata-mata bersifat teoretis. Sejumlah ilmuwan dan pakar waktu membandingkan skala risiko ini dengan kekhawatiran terhadap masalah kode tahun 2000, ketika sistem lama berpotensi salah membaca pergantian abad. Perbandingan tersebut bukan berarti gangguan besar pasti terjadi, melainkan menekankan pentingnya persiapan dini. Pengujian lintas industri dan kesepakatan mengenai cara penanganan waktu dapat membantu membatasi risiko sebelum pengurangan detik benar-benar dibutuhkan.
Solusi yang disepakati untuk mengurangi kebutuhan penyesuaian waktu adalah memperlebar batas selisih waktu yang ditunjukkan jam atom dan waktu yang mengikuti rotasi Bumi. Sebelumnya, selisih tersebut harus dijaga di bawah 0,9 detik. Ketika perbedaan mendekati ambang itu, satu detik ditambahkan atau dikurangi melalui penyesuaian yang dikenal sebagai detik kabisat. Dengan batas lama, penyesuaian dapat kembali diperlukan setiap beberapa tahun, bergantung pada perubahan laju rotasi Bumi.
Dalam ketentuan baru, selisih yang diperbolehkan diperbesar hingga satu jam, atau 3.600 detik. Perubahan ini tidak membuat hubungan waktu atom dan rotasi Bumi diabaikan. Sebaliknya, penyesuaian tetap menjadi pilihan apabila perbedaannya akhirnya mencapai ambang yang telah ditentukan. Namun, karena rentang yang diizinkan jauh lebih besar, kebutuhan untuk menambahkan atau menghapus satu detik tidak lagi muncul dalam interval beberapa tahun. Sistem dapat berjalan lebih lama sebelum batas baru menuntut tindakan.
Christian Bizouard, direktur pusat orientasi Bumi di Prancis, mengatakan bahwa detik kabisat tidak akan terjadi dalam waktu yang sangat lama. Menurutnya, keputusan memperlebar ambang tersebut menunda persoalan ini selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Pernyataan itu menekankan bahwa perubahan tersebut bukan penghapusan permanen atas kemungkinan penyesuaian, melainkan penundaan kebutuhan untuk menanganinya.
Baca juga: Doa Bersama Warga Sawangan untuk Menghadapi Krisis Air | Prestasi Dayung Indonesia: Sinergi Atlet Senior dan Muda Menghadapi Asian Games | Strategi UMKM Menghadapi Perubahan Perilaku Konsumen




