Panas Perkotaan dan Kerentanan Hunian Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Panas Perkotaan dan Kerentanan Hunian Masyarakat Berpenghasilan Rendah

Kota Kita Foundation | Di tengah meningkatnya suhu perkotaan, masyarakat berpenghasilan rendah menghadapi panas dengan mengubah rutinitas sehari-hari. Sebagian warga mengatur ulang waktu untuk memasak, mencuci, bekerja, atau beristirahat agar kegiatan yang menghasilkan panas tidak berlangsung pada siang hari. Ada pula yang mencari tempat lebih sejuk di luar rumah, mengurangi aktivitas ketika suhu memuncak, atau memperbanyak minum. Penyesuaian tersebut menunjukkan daya tanggap warga, tetapi juga menggambarkan beban yang harus ditanggung untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Perubahan jadwal tidak selalu mudah bagi pekerja informal, pengasuh anak, maupun mereka yang harus berada di luar ruang demi memperoleh penghasilan.

Di dalam hunian, keluarga berupaya mengurangi panas dengan membuka pintu dan jendela, menggunakan kipas, menambah peneduh, atau mengubah tata letak ruang. Namun, pilihan ini dibatasi oleh kondisi bangunan dan lingkungan. Rumah yang sempit, padat, memiliki ventilasi terbatas, atau menggunakan material yang menyerap panas sulit dibuat nyaman hanya melalui penyesuaian sederhana. Kipas dan perangkat pendingin juga membutuhkan biaya listrik, sementara pemasangan atap, pelapis, atau bukaan baru memerlukan dana yang mungkin tidak tersedia. Bahkan ketika keluarga mengetahui solusi yang dapat membantu, kemampuan untuk menerapkannya tidak selalu sejalan dengan kebutuhan.

Karena itu, adaptasi terhadap panas masih banyak bertumpu pada individu dan keluarga, bukan pada dukungan yang merata. Akses terhadap rumah yang nyaman dan aman dari suhu ekstrem tetap terbatas bagi banyak warga berpenghasilan rendah. Pendanaan untuk memperbaiki hunian, meningkatkan ventilasi, atau menyediakan peneduh belum tentu terjangkau, sedangkan bantuan teknis dan informasi yang sesuai kondisi setempat juga dapat kurang tersedia. Perlindungan kebijakan yang memastikan hunian layak, mendorong perbaikan bangunan, serta membantu warga menghadapi biaya adaptasi masih belum memadai. Tanpa dukungan tersebut, upaya rumah tangga berisiko hanya mengurangi ketidaknyamanan sesaat, sementara paparan panas dan dampaknya terhadap kesehatan, produktivitas, serta kesejahteraan terus berulang.

Panas perkotaan di Indonesia terasa semakin menonjol ketika kemarau berlangsung panjang. Dalam periode tersebut, paparan matahari yang terus-menerus membuat permukaan kota menerima dan menyimpan energi panas lebih lama. Kondisi ini tidak hanya dipengaruhi cuaca, tetapi juga bentuk lingkungan terbangun dan terbatasnya ruang yang dapat membantu menurunkan suhu. Karena itu, kawasan padat dapat terasa jauh lebih gerah daripada wilayah yang memiliki lebih banyak vegetasi dan ruang terbuka.

Di salah satu lokasi penelitian di Jakarta, suhu harian pada puncak kemarau panjang Oktober 2026 dapat terasa melebihi 40 derajat Celsius. Angka yang dirasakan di lapangan mencerminkan paparan panas yang dialami warga, bukan semata-mata pembacaan suhu udara resmi. Data BMKG juga menunjukkan bahwa panas di Jakarta meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan ini memberi gambaran bahwa tekanan panas perkotaan bukan hanya persoalan sesaat, melainkan tantangan yang berkembang dan dapat memengaruhi kenyamanan hidup sehari-hari.

Sejumlah ciri fisik kota ikut memperparah keadaan. Beton dan aspal menyerap panas matahari pada siang hari, lalu melepaskannya secara bertahap. Permukaan kaca pada bangunan turut menerima dan memantulkan radiasi, sehingga lingkungan sekitar tetap terpapar panas. Sementara itu, gedung-gedung tinggi dapat menghambat aliran angin, mengurangi pertukaran udara, dan membuat panas lebih sulit tersebar. Di tengah kepadatan pembangunan, ruang terbuka hijau dinilai belum memadai untuk memberikan keteduhan dan membantu mendinginkan lingkungan.

Gabungan faktor tersebut dapat memicu penumpukan panas perkotaan, yang dikenal sebagai urban heat island. Dampaknya tidak berhenti ketika matahari terbenam. Beton, aspal, dan bangunan yang telah menyimpan panas masih melepaskannya pada malam hari, sehingga suhu lingkungan dapat bertahan tinggi hingga larut. Bagi warga, malam yang tetap panas membatasi kesempatan tubuh untuk pulih setelah terpapar suhu tinggi sepanjang siang. Situasi ini penting diperhatikan, terutama di kawasan hunian padat, tempat pilihan untuk mencari ruang sejuk mungkin terbatas. Memahami bagaimana panas terbentuk dan bertahan menjadi langkah awal untuk mengenali risiko lingkungan yang dihadapi masyarakat perkotaan.

Panas perkotaan tidak dirasakan secara merata. Di permukiman padat, warga berpenghasilan rendah sering tinggal di rumah dengan ruang terbatas dan jarak ant bangunan yang rapat, sehingga aliran udara dan pelepasan panas menjadi kurang lancar. Ketika suhu lingkungan meningkat, kondisi tersebut dapat membuat ruang dalam rumah terasa lebih panas dan mengurangi kenyamanan untuk beristirahat maupun menjalankan kegiatan sehari-hari. Kerentanan ini berkaitan bukan hanya dengan cuaca, tetapi juga dengan kondisi hunian dan terbatasnya pilihan untuk memperbaikinya. Warga yang memiliki sumber daya lebih sedikit cenderung menghadapi hambatan lebih besar dalam mengurangi paparan panas di lingkungan tempat tinggalnya.

Kualitas bangunan turut menentukan beratnya paparan. Rumah dengan konstruksi sederhana atau kualitas material yang rendah mungkin tidak cukup melindungi penghuni dari panas luar. Sirkulasi udara yang tidak memadai membuat udara panas sulit keluar, terutama ketika bukaan terbatas atau rumah berdempetan dengan bangunan lain. Atap seng dapat menyerap dan meneruskan panas, sehingga suhu di dalam hunian meningkat dan kenyamanan penghuni semakin terganggu. Berbagai faktor tersebut dapat saling memperkuat: kepadatan lingkungan membatasi aliran udara, sementara kondisi bangunan membuat panas lebih sulit dikendalikan. Akibatnya, warga memiliki ruang yang lebih terbatas untuk mencari kondisi yang sejuk dan nyaman.

Dampaknya mencakup risiko kesehatan, ekonomi, dan sosial. Paparan panas yang berulang dapat menambah tekanan terhadap kesehatan dan kesejahteraan penghuni, sementara kondisi rumah yang tidak nyaman dapat memengaruhi kemampuan mereka menjalani rutinitas. Upaya mengurangi panas juga dapat menuntut biaya, sedangkan kemampuan rumah tangga berpenghasilan rendah untuk memperbaiki bangunan atau menyesuaikan hunian sering terbatas. Dengan demikian, panas perkotaan dapat memperbesar beban yang sudah dihadapi warga, bukan sekadar menimbulkan rasa gerah sementara. Kerentanan di permukiman padat perlu dipahami sebagai persoalan yang menghubungkan lingkungan, kualitas hunian, dan ketimpangan sumber daya. Perhatian pada kondisi bangunan serta sirkulasi udara menjadi penting agar risiko tidak terus terkonsentrasi pada kelompok yang paling sedikit memiliki pilihan.Diseminasi riset konsorsium BeHousing bertujuan memperluas pemahaman mengenai hubungan panas perkotaan dan kerentanan hunian masyarakat berpenghasilan rendah. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menyampaikan temuan penelitian kepada para pemangku kepentingan, sekaligus mendorong penggunaan bukti riset dalam pembahasan kebijakan dan perencanaan pembangunan. Perhatian terhadap isu ini penting karena paparan panas tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan kota, tetapi juga dengan mutu hunian, sumber daya rumah tangga, serta kemampuan warga untuk menghadapi dampaknya. Dengan menyebarluaskan hasil kajian, konsorsium berupaya mendukung percakapan yang lebih terarah mengenai kebutuhan dan pengalaman warga yang paling rentan.

Riset BeHousing dipimpin oleh Rujak Center for Urban Studies bersama Kota Kita Foundation, Arkom Indonesia, dan Institut Alam dan Tamadun Melayu di Universiti Kebangsaan Malaysia. Kajian ini menelaah keterkaitan tipologi hunian, kondisi sosial-ekonomi, tata kelola, dan kapasitas adaptasi warga berpenghasilan rendah terhadap panas. Keempat aspek tersebut dipandang saling berhubungan dalam membentuk tingkat kerentanan maupun pilihan warga untuk menyesuaikan diri. Tipologi hunian, misalnya, memberi konteks tentang kondisi tempat tinggal, sementara keadaan sosial-ekonomi dan tata kelola dapat memengaruhi sumber daya serta dukungan yang tersedia. Dengan melihat hubungan antarunsur, penelitian ini menyediakan dasar yang lebih menyeluruh untuk memahami persoalan, bukan sekadar mengukur panas sebagai gejala fisik.

Studi dilakukan di empat lokasi, yaitu Jakarta, Semarang, dan Surabaya di Indonesia, serta Selangor di Malaysia.

Baca juga: Doa Bersama Masyarakat Sawangan untuk Memohon Hujan di Tengah Musim Kemarau | Wujud Kepedulian Kepada Masyarakat, Kodim 0906/Kkr Gelar Bazar Peringati HUT TNI Ke-81 | Jembatan Garuda Wasileo Kini Berdiri Kokoh, Hasil Karya TNI dan Masyarakat Kini Dinikmati Warga