Kabupaten Dompu | Kementerian Pertanian mendukung program peremajaan tanaman jambu mete seluas 754 hektare di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, pada 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk memperbarui tanaman yang perlu diremajakan sekaligus memperbaiki kondisi kebun mete di wilayah tersebut. Dengan cakupan yang telah ditetapkan, program diharapkan menjangkau kelompok tani yang membutuhkan dukungan untuk mengembangkan kembali kebun mereka. Pelaksanaan peremajaan menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor perkebunan dan menjaga keberlanjutan usaha tani jambu mete di Dompu.
Tujuan utama program ini adalah meningkatkan produktivitas kebun agar tanaman dapat memberikan hasil yang lebih baik bagi petani. Peningkatan produktivitas tersebut juga diharapkan mendukung penguatan pendapatan rumah tangga tani, terutama bagi kelompok yang menggantungkan penghidupan pada budidaya jambu mete. Peremajaan tidak hanya berfokus pada penanaman kembali, tetapi juga memerlukan dukungan yang sesuai agar petani dapat mengelola tanaman secara lebih baik. Karena itu, keterlibatan kelompok tani dan pendampingan selama kegiatan menjadi unsur penting dalam mencapai sasaran program.
Dukungan yang disiapkan bagi kelompok tani mencakup benih, pupuk, serta pendampingan teknis. Pendampingan diharapkan membantu petani memahami tahapan kegiatan dan menerapkan praktik budidaya yang diperlukan di kebun. Program ini juga melibatkan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya, yang mendukung aspek perbenihan dan perlindungan tanaman perkebunan. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan peremajaan di lapangan, termasuk memastikan kebutuhan kelompok penerima dapat ditangani melalui koordinasi yang sesuai.
Sebelum kegiatan dilaksanakan, calon kelompok penerima masih melengkapi persyaratan administrasi. Tahap ini diperlukan untuk memastikan data dan dokumen kelompok sesuai dengan ketentuan program. Setelah proses administrasi diselesaikan, pelaksanaan dapat bergerak ke tahap berikutnya berdasarkan kesiapan kelompok dan dukungan yang tersedia. Dengan demikian, realisasi peremajaan 754 hektare di Dompu bergantung pada kelancaran persiapan tersebut, selain koordinasi teknis petani dan pihak terkait. Program ini diharapkan memberi manfaat nyata melalui kebun yang lebih produktif dan peluang pendapatan yang lebih kuat bagi petani setempat.
Program peremajaan mete di Kabupaten Dompu menyasar lahan di empat kecamatan, dengan alokasi yang dibagi berdasarkan lokasi dan luas yang telah ditetapkan. Sebaran ini mencakup wilayah Pekat, Kempo, Manggelewa, dan Pajo. Rincian luas serta desa sasaran menjadi gambaran mengenai cakupan program, sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan tidak terpusat pada satu wilayah saja. Seluruh alokasi tersebut diperuntukkan bagi kelompok tani yang berada di empat kecamatan sasaran.
Kecamatan Pekat memperoleh alokasi lahan seluas 377,1 hektare. Area tersebut meliputi Desa Nangamiro dan Desa Kadindi. Di Kecamatan Kempo, program mencakup lahan seluas 117 hektare yang tersebar di Desa Tolo Kalo dan Desa Songgaja. Kedua kecamatan ini memiliki cakupan desa sasaran yang berbeda, sementara luas yang dicantumkan untuk masing-masing wilayah mengikuti pembagian program. Penyebutan lokasi secara terperinci membantu memperjelas desa-desa yang masuk dalam sasaran peremajaan.
Di Kecamatan Manggelewa, luas lahan yang dialokasikan mencapai 210 hektare. Sebarannya meliputi lima desa, yakni Kampasi Meci, Tanju, Banggo, Sukadamai, dan Naga Tumpu. Sementara itu, alokasi di Kecamatan Pajo tercatat sebesar 49,9 hektare dan berlokasi di Desa Woko. Dengan demikian, pembagian program mencakup empat wilayah kecamatan dan sembilan desa: dua desa di Pekat, dua di Kempo, lima di Manggelewa, serta satu di Pajo. Rincian ini mempertahankan luasan dan lokasi sasaran sebagaimana ditetapkan, tanpa menggabungkan angka antarwilayah.
Keempat alokasi tersebut menjadi dasar penentuan cakupan penerima program di tingkat kecamatan dan desa. Kelompok tani di Pekat, Kempo, Manggelewa, dan Pajo menjadi pihak yang diperuntukkan menerima alokasi lahan sesuai sebaran wilayah masing-masing. Data luas dan lokasi ini memberikan informasi yang jelas tentang jangkauan peremajaan mete di Dompu, mulai dari area terbesar di Pekat hingga alokasi di Pajo. Dengan mengetahui pembagian tersebut, pembaca dapat melihat bagaimana sasaran program tersebar di berbagai bagian kabupaten.
Peremajaan jambu mete menjadi kebutuhan penting di Dompu karena sebagian tanaman telah berusia tua dan tidak lagi menghasilkan secara optimal. Seiring bertambahnya umur pohon, produktivitas kebun dapat menurun, sehingga pendapatan petani ikut terpengaruh. Kondisi ini terasa terutama pada lahan yang sejak lama ditanami mete, tetapi belum memperoleh pembaruan tanaman maupun pengelolaan yang memadai. Tanaman tua tetap menjadi bagian dari sumber penghidupan masyarakat, namun hasil panen yang berkurang membuat keberlanjutan kebun semakin sulit dipastikan.
Tantangan tersebut diperberat oleh gangguan penyakit yang dapat memengaruhi kesehatan pohon dan hasil panen. Pada saat yang sama, kegiatan peremajaan masih terbatas, lain karena petani perlu mempertimbangkan biaya, tenaga, serta jeda waktu sebelum tanaman baru kembali menghasilkan. Mengganti pohon yang sudah tua bukan keputusan sederhana: kebun yang diremajakan membutuhkan perhatian dan pengelolaan selama masa pertumbuhan. Tanpa dukungan yang sesuai, petani mungkin memilih mempertahankan tanaman lama meskipun produktivitasnya terus menurun. Karena itu, pembaruan tanaman perlu disertai upaya memperbaiki pemeliharaan kebun dan mengatasi risiko penyakit.
Mete pernah menjadi komoditas perkebunan andalan di Dompu, terutama di sejumlah kawasan transmigrasi. Perannya sebagai sumber penghasilan dan bagian dari pemanfaatan lahan membuat penurunan produktivitas menjadi persoalan penting bagi petani maupun perekonomian setempat. Dalam menghadapi hasil kebun yang makin rendah, sebagian petani beralih menanam tanaman musiman, termasuk jagung. Tanaman tersebut dapat memberikan hasil dalam waktu lebih cepat, sedangkan kebun mete memerlukan waktu hingga tanaman kembali produktif setelah peremajaan. Perbedaan jeda pendapatan ini turut menjelaskan mengapa pembaruan kebun belum berlangsung luas. Peremajaan yang terencana, disertai dukungan bagi petani selama masa tunggu, dapat membantu menjaga keberlanjutan usaha mete sekaligus mendorong pengelolaan kebun yang lebih baik.
Pemerintah daerah berharap peremajaan kebun mete di Dompu dapat memulihkan produktivitas tanaman sekaligus memperkuat jambu mete sebagai sumber pendapatan petani. Harapan tersebut bergantung pada keberhasilan pengelolaan kebun dalam jangka panjang, bukan hanya pada jumlah bibit yang ditanam. Bibit yang telah ditempatkan di lahan perlu dirawat secara konsisten agar mampu tumbuh sehat, beradaptasi dengan kondisi setempat, dan akhirnya memasuki masa produktif. Karena itu, tahap pemeliharaan menjadi bagian penting dari program peremajaan dan perlu direncanakan sejak awal bersama petani.
Perawatan dapat mencakup pengendalian gulma dan hama, pemupukan sesuai kebutuhan, pemangkasan, serta pemantauan pertumbuhan tanaman. Praktik yang tepat membantu mengurangi risiko bibit mati atau pertumbuhan terhambat, terutama ketika cuaca dan kondisi tanah berubah. Pendampingan teknis dari petugas dan tenaga penyuluh dapat membantu petani mengenali masalah, memilih tindakan yang sesuai, serta menjalankan pemeliharaan secara teratur. Informasi mengenai jarak tanam, kebutuhan air, dan cara menjaga kesuburan tanah juga penting agar kebun berkembang dengan baik. Dukungan tersebut sebaiknya berlanjut sampai tanaman menghasilkan, sehingga petani tidak menghadapi masa tunggu tanpa arahan.
Selama mete belum menghasilkan, pemanfaatan ruang di tanaman dapat membantu menjaga kegiatan dan pemasukan keluarga. Pemerintah daerah dan pendamping dapat mendorong komoditas sela yang sesuai dengan iklim, jenis tanah, ketersediaan air, serta pola tanam setempat. Pemilihan tanaman perlu memperhatikan persaingan terhadap unsur hara dan air, agar tidak menghambat pertumbuhan mete. Jika kondisi kebun dan kemampuan petani memungkinkan, lahan juga dapat dipadukan dengan peternakan. Pengelolaan ternak yang terencana berpotensi menambah sumber pendapatan, sementara kotorannya dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik dengan pengolahan yang tepat.
Baca juga: Tantangan Pedagang Makanan di Depok Menghadapi Lonjakan Harga Daging Ayam | Adhyaksa FC Hadapi PSIS Dengan Tantangan Berat | Dukungan Kementerian untuk Produk UMKM Palu Masuk Pasar Global





