Cirebon | Syifa, siswi kelas IX SMP Al-Washliyah di Cirebon, tengah menghadapi persoalan besar untuk mempertahankan harapannya melanjutkan pendidikan. Di usianya yang masih belia, keinginan untuk terus bersekolah tidak berjalan mudah. Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu hambatan yang harus dihadapinya, sementara kondisi keluarga yang tidak harmonis turut memperberat keadaan. Bagi Syifa, pendidikan bukan sekadar kegiatan belajar di ruang kelas, melainkan jalan untuk menjaga asa dan membangun masa depan.
Keadaan tersebut membuat keberlanjutan pendidikan menjadi perjuangan pribadi bagi Syifa. Ia harus berhadapan dengan situasi keluarga dan keterbatasan yang berada di luar kendalinya, tetapi tetap berusaha mempertahankan tekad untuk belajar. Harapan itu tumbuh di tengah berbagai tekanan yang semestinya belum perlu ditanggung oleh seorang anak seusianya. Namun, Syifa menyadari bahwa mempertahankan kesempatan bersekolah membutuhkan keteguhan, terutama ketika kondisi ekonomi keluarga belum mendukung.
Perjuangan Syifa menunjukkan bahwa keinginan untuk melanjutkan pendidikan dapat menjadi perkara yang sangat berat bagi anak dari keluarga dengan keterbatasan. Ketidakharmonisan keluarga membuat persoalan yang dihadapinya semakin kompleks, sedangkan usia muda tidak menghapus tanggung jawab yang terpaksa ia rasakan. Di tengah keadaan itu, Syifa berupaya menjaga harapan agar tidak padam. Tekadnya untuk tetap bersekolah menjadi cerminan keberanian seorang siswi dalam menghadapi kesulitan, sekaligus pengingat bahwa akses pendidikan masih dapat menjadi perjuangan panjang bagi sebagian anak.
Bagi Syifa, novel bukan sekadar barang yang tersusun di rak atau bacaan untuk mengisi waktu luang. Buku-buku tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya, menemani saat beristirahat, belajar, maupun ketika ia membutuhkan ruang untuk menenangkan diri. Setiap cerita menghadirkan pengalaman yang berbeda, sehingga membaca menjadi sumber kebahagiaan yang sederhana tetapi berarti. Kedekatan itu membuat koleksi novel memiliki nilai emosional yang kuat dalam hidupnya.
Melalui berbagai kisah, Syifa dapat mengenal beragam tokoh, latar, persoalan, dan sudut pandang. Ia seolah-olah diajak melihat dunia dari pengalaman orang lain tanpa harus meninggalkan tempatnya. Kebiasaan membaca juga membantu memperluas wawasannya, menambah pemahaman terhadap kehidupan, serta mendorongnya untuk lebih peka terhadap berbagai persoalan di sekitarnya. Bagi Syifa, buku menyediakan ruang belajar yang tidak selalu ditemukan dalam pelajaran di kelas. Dari halaman-halaman novel, ia menemukan pengetahuan sekaligus kesempatan untuk membangun imajinasi dan memahami makna sebuah perjuangan.
Minatnya terhadap literasi tidak berhenti pada kegiatan membaca. Syifa juga tertarik pada kepenulisan, terutama ketika harus menyampaikan pemahaman dan tanggapannya terhadap buku yang telah dibaca. Ketertarikan tersebut mendorongnya mengikuti lomba menulis resensi buku. Baginya, kegiatan itu menjadi kesempatan untuk belajar mengolah gagasan, memilih kata, dan menyampaikan pendapat secara runtut. Ia berusaha menjadikan bacaan sebagai bahan untuk berpikir, bukan hanya sebagai hiburan. Semangat mengikuti kegiatan menulis menunjukkan bahwa Syifa menikmati proses belajar yang lahir dari buku. Karena itu, ketika keadaan memaksanya melepas sebagian koleksi novel, keputusan tersebut bukan hal yang mudah. Buku-buku itu berkaitan erat dengan kebahagiaan, kebiasaan, dan harapan belajarnya.
Syifa masih menyimpan harapan untuk melanjutkan pendidikan setelah menyelesaikan kelas IX. Baginya, sekolah bukan sekadar kewajiban yang harus dituntaskan, melainkan jalan untuk mempertahankan cita-cita dan membuka peluang pada masa depan. Ia ingin tetap belajar, mengikuti pelajaran, serta melanjutkan ke jenjang berikutnya seperti siswa lain seusianya. Harapan itu terus ia pegang meskipun keadaan di sekitarnya belum memberikan kepastian yang cukup.
Dukungan keluarga yang diharapkan Syifa untuk meneruskan pendidikan belum juga diperolehnya secara jelas. Situasi tersebut membuat rencana sekolahnya berada dalam ketidakpastian. Alih-alih dapat memusatkan perhatian sepenuhnya pada pelajaran dan persiapan menghadapi jenjang berikutnya, ia harus mulai memikirkan sendiri kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Pikiran tentang biaya sekolah muncul ketika usianya masih sangat muda dan ia masih duduk di kelas IX.
Dalam keadaan itu, Syifa berusaha mencari jalan yang dapat membantunya menjaga asa untuk tetap bersekolah. Salah satu langkah yang dipertimbangkannya adalah melepas koleksi novel yang selama ini dimiliki. Buku-buku tersebut memiliki nilai pribadi, tetapi kemungkinan menjualnya menjadi pilihan yang dapat dipikirkan ketika kebutuhan pendidikan terasa mendesak. Keputusan itu menunjukkan bahwa Syifa mulai berhadapan dengan tanggung jawab yang tidak ringan: mempertahankan keinginannya untuk belajar sambil mencari cara agar biaya sekolah dapat terpenuhi.
Meski belum mengetahui bagaimana kelanjutan pendidikannya, Syifa tetap mencoba melihat kemungkinan yang tersedia. Ia harus menimbang setiap pilihan dengan hati-hati, sebab hasilnya akan berkaitan dengan kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Harapan untuk belajar masih ada, tetapi jalannya belum pasti. Di tengah kondisi tersebut, keinginannya untuk tetap bersekolah bertemu dengan kebutuhan untuk memikirkan pembiayaan secara mandiri, bahkan sebelum ia menuntaskan kelas IX.
Di tengah kebutuhan untuk melanjutkan sekolah, Syifa sedang mempertimbangkan keputusan yang tidak mudah: menjual koleksi novel kesayangannya. Buku-buku tersebut bukan sekadar barang yang tersimpan di rak. Novel telah menjadi teman Syifa dalam mengisi waktu, menemani hari-harinya, dan memberi ruang baginya untuk membaca serta menikmati cerita. Karena itu, menjualnya berarti melepaskan sesuatu yang memiliki arti pribadi, bukan hanya menukar benda dengan sejumlah uang.
Pilihan tersebut muncul karena biaya pendidikan tetap harus dipikirkan, sementara keadaan ekonomi keluarga membuat kebutuhan sekolah tidak dapat diabaikan. Koleksi novel menjadi salah satu barang yang mungkin dapat dijual untuk membantu membiayai kelanjutan pendidikan. Pertimbangan itu memperlihatkan betapa berat posisi yang dihadapi Syifa. Ia harus menimbang nilai kenangan dan kesenangan yang melekat pada buku-buku tersebut dengan kebutuhan untuk mempertahankan kesempatan bersekolah.
Situasi Syifa juga menggambarkan bagaimana keterbatasan ekonomi dapat membuat seorang anak memikirkan persoalan pendidikan bahkan sebelum menyelesaikan sekolah menengah pertama. Pada usia ketika kegiatan belajar semestinya menjadi perhatian utama, Syifa justru berhadapan dengan pertanyaan tentang biaya dan barang apa yang dapat dikorbankan. Novel-novel yang selama ini menemaninya pun masuk dalam pertimbangan tersebut. Melepas koleksi itu bukan keputusan yang ringan, tetapi kebutuhan untuk melanjutkan sekolah membuat pilihan tersebut terus dipikirkan. Di keinginan mempertahankan buku-buku kesayangan dan tuntutan biaya pendidikan, Syifa kini menghadapi pertanyaan mendasar: bagaimana ia tetap bisa belajar?
