JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Kebutuhan daging ayam ras untuk mendukung program makan bergizi gratis (MBG) ikut menjadi perhatian dalam pergerakan harga pangan sepanjang September. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), daging ayam ras kembali memberikan andil terhadap inflasi nasional pada periode tersebut. Peningkatan permintaan dari pelaksanaan MBG di sejumlah daerah menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan kondisi pasar, meskipun tekanan harga tidak serta-merta terjadi secara seragam di seluruh wilayah. Dinamika tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan institusional dalam jumlah besar dapat memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan di tingkat daerah.
Program MBG membutuhkan bahan pangan yang tersedia secara rutin, termasuk ayam ras sebagai sumber protein hewani. Ketika pengadaan untuk dapur penyedia makanan meningkat, permintaan dari lembaga pelaksana dapat bertambah di atas kebutuhan rumah tangga pada waktu tertentu. Besarnya dampak terhadap harga bergantung pada kapasitas produksi, kelancaran distribusi, serta ketersediaan ayam di masing-masing sentra konsumsi. Daerah dengan pasokan terbatas atau jalur distribusi yang lebih panjang berpotensi menghadapi tekanan berbeda dibandingkan wilayah yang dekat dengan sentra produksi. Karena itu, pergerakan harga ayam perlu dibaca berdasarkan kondisi lokal, bukan sebagai gambaran yang sepenuhnya sama secara nasional.
Selain peningkatan permintaan, harga pakan ternak turut memengaruhi biaya produksi ayam ras. Jagung, bungkil kedelai, dan komponen pakan lainnya menjadi bagian penting dalam struktur biaya peternak. Apabila harga bahan baku atau biaya pengangkutan meningkat, biaya pemeliharaan dapat ikut terdorong dan memengaruhi harga jual di tingkat peternak maupun konsumen. Pemerintah kemudian perlu memperhatikan kecukupan pasokan, efisiensi distribusi, dan keterjangkauan input produksi secara bersamaan. Perhatian ini penting agar kebutuhan MBG dapat dipenuhi tanpa memperbesar gejolak harga ayam, sekaligus menjaga keberlanjutan usaha peternak dan akses masyarakat terhadap pangan bergizi.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan langkah antisipasi untuk mencegah fluktuasi harga ayam yang berlebihan akibat meningkatnya permintaan. Salah satu skema yang dipertimbangkan ialah subsidi biaya angkut bagi distribusi ayam dari daerah sentra produksi menuju wilayah yang bukan merupakan sentra produksi dan sedang mengalami perubahan harga. Kebijakan ini diarahkan agar pasokan dapat bergerak lebih cepat ke daerah yang membutuhkan, sekaligus mengurangi beban biaya logistik yang berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan, menjelaskan bahwa kebutuhan ayam memang mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir. Namun, berdasarkan pemantauan pemerintah, harga ayam secara umum masih berada dalam batas wajar. Harga yang relatif murah juga masih ditemukan di sejumlah daerah, sehingga persoalan pasokan belum terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Menurut Hermawan, kendala terutama muncul di lokasi tertentu yang tidak memiliki cukup produsen ayam. Daerah nonprodusen perlu mendatangkan pasokan dari wilayah lain, sehingga menghadapi biaya distribusi yang lebih tinggi. Kondisi geografis dan jarak pengiriman dapat membuat harga di wilayah tersebut lebih mudah berubah, terutama ketika permintaan meningkat.
Hermawan menyebut persoalan biaya angkut sering menjadi tantangan bagi pemerintah daerah, khususnya daerah yang tidak memproduksi ayam secara mencukupi. Karena itu, Bapanas berencana memanfaatkan anggaran yang masih tersedia untuk membantu penyaluran produksi berlebih dari daerah produsen ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan. Dukungan tersebut diharapkan menjaga keseimbangan distribusi tanpa mengganggu harga di daerah asal produksi.
Melalui subsidi transportasi antarwilayah, pemerintah dapat memperkuat konektivitas pasokan sekaligus meredam perbedaan harga yang terlalu lebar. Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan pemetaan daerah surplus dan defisit, perkembangan harga, serta kebutuhan ayam di masing-masing wilayah. Dengan pendekatan tersebut, peningkatan permintaan dapat direspons melalui distribusi yang lebih terarah, bukan hanya dengan menambah pasokan secara nasional.
Harga daging ayam ras menunjukkan perkembangan yang cenderung melemah pada awal Oktober. Berdasarkan pemantauan Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 2 Oktober, rerata harga ayam ras secara nasional tercatat sebesar Rp40.961 per kilogram. Angka tersebut menjadi gambaran kondisi pasar di berbagai wilayah setelah sebelumnya mengalami pergerakan pada pekan dan bulan sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan sepekan sebelumnya, ketika harga berada pada level Rp41.218 per kilogram, harga terbaru turun Rp257 per kilogram atau setara dengan penurunan 0,62 persen. Perubahan ini menunjukkan bahwa kenaikan kebutuhan ayam belum secara langsung mendorong peningkatan harga rata-rata di tingkat nasional. Ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi menjadi faktor penting yang dapat menahan tekanan harga, terutama ketika permintaan mulai meningkat.
Penurunan juga terlihat dalam perbandingan bulanan. Pada sebulan sebelumnya, rerata harga daging ayam ras mencapai Rp41.300 per kilogram. Dengan demikian, harga per 2 Oktober lebih rendah Rp339 per kilogram atau turun 0,82 persen. Urutan perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa harga bergerak dari Rp41.300 per kilogram pada periode bulanan sebelumnya, kemudian berada di Rp41.218 per kilogram sepekan sebelumnya, dan akhirnya mencapai Rp40.961 per kilogram pada awal Oktober.
Tren tersebut menjadi catatan penting di tengah meningkatnya kebutuhan ayam, termasuk untuk mendukung permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meskipun konsumsi berpotensi bertambah, kondisi harga nasional masih menunjukkan penurunan secara mingguan maupun bulanan. Perkembangan selanjutnya akan dipengaruhi oleh kemampuan pasokan memenuhi kebutuhan, biaya pengangkutan antardaerah, serta efektivitas distribusi dari sentra produksi menuju wilayah konsumen.
Pergerakan harga daging ayam ras pada 2026 menunjukkan adanya tekanan yang cukup kuat pada pasar unggas dalam negeri. Pada April 2026, komoditas tersebut mengalami deflasi sebesar 6,20 persen. Tekanan harga berlanjut pada bulan berikutnya, meskipun dengan tingkat yang lebih rendah. Pada Mei 2026, daging ayam ras kembali mencatat deflasi sebesar 3,83 persen. Perubahan ini menjadi bagian penting dalam melihat kondisi usaha peternakan unggas, terutama karena penurunan harga di tingkat pasar dapat memengaruhi penerimaan yang diperoleh peternak.
Bagi peternak unggas dalam negeri, tekanan harga tersebut berpotensi mempersempit ruang pendapatan ketika harga jual tidak sejalan dengan beban produksi dan distribusi. Sumber yang menjadi acuan mencatat bahwa kondisi harga ayam ras turut memberikan dampak terhadap peternak. Gambaran mengenai perubahan penerimaan itu dapat dilihat melalui indeks harga yang diterima petani unggas yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS). Indeks tersebut merefleksikan perubahan nilai yang diterima petani dari hasil usaha peternakannya.
Data BPS menunjukkan bahwa indeks harga yang diterima petani unggas berada pada level 138,19 pada Maret 2026. Setelah itu, indeks turun menjadi 132,22 pada April dan kembali melemah menjadi 130,57 pada Mei. Penurunan berlanjut pada Juni, ketika indeks tercatat 127,23, lalu mencapai 127,02 pada Juli 2026. Rangkaian penurunan tersebut berlangsung pada periode ketika daging ayam ras juga mencatat deflasi, sehingga memperlihatkan adanya tekanan terhadap nilai yang diterima peternak.
Pergerakan indeks kemudian berubah pada dua bulan berikutnya. Pada Agustus 2026, indeks harga yang diterima petani unggas menguat menjadi 132,43. Penguatan berlanjut pada September, dengan indeks mencapai 134,99. Angka-angka tersebut menunjukkan pemulihan indeks setelah titik terendah pada Juli, tanpa mengubah catatan bahwa pada April dan Mei daging ayam ras mengalami deflasi. Seluruh perkembangan ini menggambarkan dinamika harga dan penerimaan peternak unggas sebagaimana tercatat dalam data hingga September 2026.



