Kabupaten Lebak | Gubernur Banten Andra Soni menyalurkan 70.000 bibit pohon melalui program Baduy Lestari sebagai upaya mendukung pelestarian lingkungan di kawasan masyarakat Baduy. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, pada Minggu (25/10/2026). Penyaluran bibit ini menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah terhadap keberlanjutan kawasan adat, yang memiliki hubungan erat dengan hutan dan alam di sekitarnya. Melalui program tersebut, bibit pohon disiapkan untuk mendukung penghijauan dan menjaga kondisi lingkungan, sekaligus memperkuat upaya pelestarian yang berlangsung di wilayah permukiman masyarakat Baduy.
Tujuan Baduy Lestari mencakup dukungan bagi kelestarian hutan, perlindungan sumber mata air, serta pemeliharaan keseimbangan lingkungan di sekitar permukiman masyarakat Baduy. Ketiga aspek itu saling berkaitan: hutan berperan dalam menjaga kawasan, sementara keberadaan mata air penting bagi kehidupan masyarakat dan lingkungan. Karena itu, penanaman pohon dipandang sebagai salah satu langkah untuk merawat kondisi alam secara berkelanjutan. Pelaksanaan program juga perlu memperhatikan karakter wilayah dan kehidupan masyarakat setempat, agar kegiatan penghijauan sejalan dengan kebutuhan kawasan serta penghormatan terhadap aturan adat yang berlaku.
Program ini direncanakan menjangkau 68 kampung adat. Jangkauan tersebut menunjukkan bahwa penyaluran bibit tidak hanya diarahkan ke satu titik, tetapi dipersiapkan untuk mendukung upaya pelestarian di berbagai kampung dalam kawasan Baduy. Dengan jumlah bibit yang disediakan, program diharapkan dapat membantu memperluas kegiatan penanaman sesuai kondisi dan kebutuhan setempat. Rencana pelaksanaan di puluhan kampung adat juga membuat koordinasi dengan masyarakat menjadi bagian penting dari prosesnya. Penanaman yang mengikuti ketentuan adat dapat membantu menjaga keselarasan kegiatan lingkungan dan tata kehidupan setempat. Dengan demikian, Baduy Lestari diarahkan untuk menopang hutan, sumber mata air, dan keseimbangan lingkungan di sekitar permukiman Baduy dalam jangka panjang.
Program Baduy Lestari menyiapkan bibit dari berbagai jenis pohon, yang penanamannya akan dilakukan secara kolektif oleh masyarakat. Pelaksanaan diatur menurut wilayah masing-masing serta disesuaikan dengan kondisi lahan setempat. Cara ini memungkinkan warga memilih lokasi yang sesuai bagi pertumbuhan bibit, sekaligus memastikan kegiatan berjalan selaras dengan tata kehidupan dan ketentuan adat. Karena keadaan tanah dan ketersediaan lahan dapat berbeda satu wilayah dan wilayah lain, penanaman tidak dilakukan dengan pola seragam. Jenis pohon yang tersedia dapat ditempatkan pada lokasi yang dinilai tepat oleh masyarakat, dengan memperhatikan pemanfaatan lahan yang diperbolehkan.
Tokoh adat Kanekes, Jaro Om, menjelaskan bahwa bibit yang disiapkan tidak seluruhnya akan ditanam di wilayah ulayat Baduy. Sebagian bibit dapat ditanam di luar kawasan adat, mengikuti aturan mengenai pemanfaatan lahan. Penempatan tersebut bukan berarti ketentuan adat diabaikan, melainkan bagian dari penyesuaian lokasi tanam dengan ruang yang tersedia dan peruntukannya. Masyarakat akan menanam secara bersama-sama di wilayah masing-masing, sementara pilihan lokasi tetap berpedoman pada aturan yang berlaku. Dengan demikian, kegiatan penghijauan dapat berlangsung di dalam maupun di luar wilayah ulayat, sepanjang pemanfaatan lahan sesuai dengan ketentuan adat.
Di dalam wilayah adat, penanaman hanya dapat dilakukan pada lahan yang menurut aturan boleh dibuka atau diolah. Huma atau ladang menjadi contoh lahan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tersebut. Ketentuan ini membatasi penanaman agar tidak memasuki kawasan yang tidak diperkenankan untuk dibuka, sehingga upaya menambah pepohonan tetap menghormati tata ruang adat. Jenis tanaman yang dapat ditanam lain picung dan leungsir, dengan penempatan menyesuaikan kondisi lahan serta keputusan masyarakat setempat. Pengaturan berdasarkan jenis lahan dan aturan adat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Melalui pendekatan kolektif tersebut, penanaman bibit diarahkan agar mendukung kelestarian lingkungan tanpa mengubah prinsip pemanfaatan ruang yang dijaga masyarakat Baduy.
Penyerahan bantuan bibit dalam Program Baduy Lestari berlangsung sebagai bentuk kerja bersama untuk mendukung upaya menjaga lingkungan. Kegiatan itu melibatkan tokoh adat dan masyarakat Baduy, jajaran Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Kabupaten Lebak, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa pelestarian alam di kawasan Baduy memerlukan perhatian dan keterlibatan banyak unsur, dengan tetap menghormati aturan adat yang berlaku. Bantuan ini disiapkan sebagai bagian dari program yang menyediakan 70.000 bibit pohon untuk ditanam sesuai ketentuan setempat. Penyerahan bersama tokoh adat juga menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam pelaksanaan kegiatan, bukan sekadar penerima bantuan. Dengan demikian, koordinasi pemerintah dan warga dapat berjalan beriringan dengan tata cara yang telah dijaga oleh masyarakat Baduy dari generasi ke generasi.
Gubernur Banten Andra Soni menyampaikan bahwa pelestarian tidak dapat bergantung pada satu pihak saja. Pemerintah dan masyarakat adat perlu membangun kerja sama berkelanjutan agar upaya menjaga alam dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi serta aturan yang berlaku di wilayah Baduy. Menurutnya, masyarakat adat memiliki pedoman tersendiri dalam merawat lingkungan, sehingga dukungan pemerintah perlu diselaraskan dengan nilai dan praktik lokal tersebut. Kolaborasi juga penting untuk memastikan program penanaman tidak berhenti pada penyerahan bibit, melainkan dapat dilaksanakan secara tertib dan sesuai arahan adat. Peran tokoh adat dan warga menjadi penting dalam memberi panduan mengenai pelaksanaan kegiatan, sementara pemerintah mendukung melalui koordinasi dan bantuan. Pendekatan ini menegaskan bahwa keberhasilan program bertumpu pada hubungan yang saling menghormati kebijakan pemerintah dan kearifan masyarakat setempat.
Filosofi Baduy “gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak” turut disampaikan sebagai pegangan dalam menjaga lingkungan. Maknanya, kawasan pegunungan tidak boleh dihancurkan dan wilayah lembah tidak boleh dirusak. Pesan tersebut menjadi pengingat agar pelaksanaan penanaman dan kegiatan lain tetap memperhatikan perlindungan kawasan, bukan mengabaikan batasan yang dijaga masyarakat. Dalam konteks Program Baduy Lestari, filosofi itu memberi landasan bagi kerja sama yang menghormati aturan adat sekaligus mendukung upaya pelestarian. Pemerintah, masyarakat Baduy, dan unsur terkait diharapkan dapat terus berkoordinasi dengan mengutamakan arahan adat dalam kegiatan di lapangan. Melalui keterlibatan bersama dan kesinambungan dukungan, penyerahan bibit dapat menjadi bagian dari usaha menjaga alam yang selaras dengan ketentuan masyarakat Baduy.
Gubernur Banten Andra Soni berharap penanaman dalam Program Baduy Lestari dapat menjadi investasi ekologis jangka panjang, bukan sekadar kegiatan seremonial. Kehadiran puluhan ribu bibit pohon diharapkan memperkuat tutupan hijau dan membantu menjaga keseimbangan lingkungan di kawasan Baduy. Upaya tersebut dinilai penting untuk melindungi sumber mata air yang dimanfaatkan masyarakat, sekaligus mempertahankan fungsi alam bagi kehidupan generasi mendatang.
Menurut Andra, pohon yang ditanam dapat membantu menjaga ketersediaan air, terutama dengan mendukung resapan air hujan ke dalam tanah. Lingkungan yang terawat juga berperan mengurangi risiko bencana alam, seperti erosi dan banjir, yang dapat berdampak pada permukiman maupun lahan warga. Karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dan pemerintah memastikan pohon tumbuh serta memberi manfaat secara berkelanjutan.
Jaro Om menyambut baik bantuan pemerintah melalui penyediaan bibit dan pelaksanaan program penghijauan. Dukungan tersebut, menurutnya, menjadi langkah positif untuk menjaga lingkungan dan sumber kehidupan masyarakat Baduy. Namun, ia menekankan bahwa penanaman harus disertai pemeliharaan yang konsisten. Bibit perlu dirawat dan dipantau agar dapat bertahan, tumbuh dengan baik, serta tidak berhenti menjadi angka dalam laporan kegiatan. Keterlibatan masyarakat setempat dinilai penting karena warga memahami kondisi kawasan dan dapat membantu menjaga tanaman setelah kegiatan penanaman selesai.
Kegiatan ini turut dihadiri Bupati Lebak Hasbi Asyidiki Jayabaya unsur.
Baca juga: Program Insentif Sepeda Motor Listrik Menanti Keputusan Menkeu | Program Pemadaman Lampu Serentak di Jakarta Malam Ini | Pemerintah Siapkan Fasilitas Ibadah Baru untuk Jemaat GKPI di Rajeg





