MAKASSAR, SULAWESI SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 13 September 2026, Sejak beberapa bulan terakhir, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Makassar mengalami penurunan yang signifikan dalam jumlah antrean kendaraan. Hal ini terjadi berkat langkah-langkah strategis yang telah diimplementasikan oleh Pertamina dalam rangka memperbaiki distribusi bahan bakar. Menurut data terbaru, di beberapa SPBU, waktu tunggu telah berkurang hingga 50%, yang menunjukkan adanya perbaikan yang nyata dalam pelayanan.
berbagai titik SPBU yang sebelumnya dipenuhi oleh antrean panjang, saat ini sudah terlihat lebih teratur dan efisien. Kesadaran masyarakat akan pentingnya mematuhi aturan dan memanfaatkan aplikasi pemantauan antrean juga berperan dalam menciptakan situasi yang lebih baik. Pertamina secara konsisten melakukan pemantauan dan evaluasi pada operasional distribusi bahan bakar, sehingga mampu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi kendala yang muncul.
Penerapan teknologi dalam pelayanan juga mendukung perbaikan kondisi antrean ini. Misalnya, banyak SPBU kini menggunakan sistem antrian digital yang memungkinkan pengendara untuk melakukan pemesanan bahan bakar secara daring. Selain itu, pembagian jadwal pengisian bahan bakar untuk kendaraan umum dan pribadi turut membantu mengurangi kepadatan di lokasi-lokasi tertentu. Langkah-langkah ini tentunya menambah kenyamanan bagi konsumen dan meningkatkan daya tarik SPBU.
Tindakan lanjutan yang diambil oleh Pertamina yaitu dengan meningkatkan jumlah pasokan bahan bakar di daerah-daerah yang rawan pengisian, sehingga memastikan ketersediaan bahan bakar dengan optimal. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjamin kelancaran distribusi dan menghindari penumpukan kendaraan di SPBU.
Meskipun situasi antrean di Makassar menunjukkan perbaikan yang memuaskan, Pertamina tetap berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan inovasi dalam pengawasan serta distribusi bahan bakar agar masyarakat dapat menikmati pelayanan yang lebih baik dan efisien ke depannya.
Di tengah masalah antrean bahan bakar minyak (BBM) yang sering terjadi di Makassar, Pertamina telah menerapkan sistem ganjil-genap sebagai solusi untuk mengelola lalu lintas dan memperbaiki kondisi antrean di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kebijakan ini, yang diberlakukan berdasarkan nomor kendaraan, bertujuan untuk mengatur jumlah kendaraan yang mengisi BBM pada waktu tertentu, sehingga meminimalkan kepadatan antrean.
Penerapan sistem ganjil-genap ini berfungsi dengan cara membatasi kendaraan yang dapat mengisi BBM berdasarkan hari dan angka terakhir nomor plat kendaraan. Misalnya, pada hari-hari tertentu, hanya kendaraan dengan nomor ganjil atau genap yang diperbolehkan untuk mengunjungi SPBU. Dengan demikian, diharapkan distribusi BBM dapat berlangsung lebih efisien dan waktu tunggu bagi pengguna dapat berkurang secara signifikan. Kebijakan ini juga bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan mempercepat proses pengisian bagi para pengguna kendaraan.
Penting untuk dicatat bahwa implementasi sistem ini tidak hanya membantu pengguna dalam mengatasi masalah antrean, tetapi juga memberi dampak positif terhadap pengelolaan stok BBM di SPBU. Dengan jumlah kendaraan yang berkurang, SPBU dapat lebih mudah dalam mengatur pasokan dan menghindari kelangkaan BBM. Selain itu, sistem ganjil-genap diharapkan mampu mendorong pengguna untuk lebih bijak dalam merencanakan waktu untuk mengisi BBM, sehingga mengurangi kemacetan yang sering terjadi di area SPBU pada jam-jam sibuk.
Melalui penerapan sistem ini, Pertamina ingin menegaskan komitmennya untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Diharapkan dengan adanya kebijakan ini, pengguna dapat merasakan perbedaan dalam kenyamanan dan kemudahan pengisian BBM.
Kerja sama Pertamina dan pemerintah provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) merupakan aspek krusial dalam pelaksanaan strategi untuk mengatasi antrean bahan bakar minyak (BBM) di Makassar. Melalui kolaborasi ini, kedua pihak berupaya untuk menciptakan sistem distribusi yang lebih efisien dan berkelanjutan, yang tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjaga stabilitas pasokan BBM di kawasan tersebut.
Dari sudut pandang Pertamina, kolaborasi dengan Pemprov Sulsel memberikan dukungan yang signifikan dalam mengidentifikasi area-area yang mengalami kelangkaan BBM. Dengan adanya data dan informasi yang lebih transparan, Pertamina dapat lebih mudah mengalokasikan sumber daya dan mengoptimalkan proses distribusi. Hal ini berpotensi mengurangi waktu tunggu masyarakat dalam antrean, yang sering kali menjadi masalah di pom bensin.
Pemerintah Sulsel juga memiliki peran penting dalam hal pengaturan dan pemantauan. Melalui kebijakan yang tepat, Pemprov dapat melakukan intervensi yang diperlukan untuk memastikan distribusi berjalan lancar dan sesuai dengan kebutuhan penduduk. Ini termasuk pengaturan waktu operasional pom bensin dan penambahan titik penjual bahan bakar, khususnya dalam situasi krisis pasokan.
Keterlibatan pihak kepolisian dan instansi terkait dalam menjaga situasi tetap kondusif merupakan elemen lain dalam kolaborasi ini. Tim gabungan yang dibentuk oleh Pertamina dan Pemprov Sulsel dapat dengan cepat merespon masalah yang timbul, seperti kemungkinan penimbunan BBM yang dapat berakibat pada kelangkaan bahan bakar. Dengan langkah-langkah proaktif ini, potensi masalah dapat diminimalisir.
Dengan melakukan sinergi yang kuat Pertamina dan pemerintah provinsi, diharapkan dapat tercipta sistem distribusi BBM yang lebih baik dan terkendali. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga bagi pertumbuhan ekonomi provinsi Sulsel secara keseluruhan.
Pertamina, sebagai salah satu penyedia utama bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, sangat menyadari pentingnya peningkatan layanan kepada masyarakat. Dalam upaya mengatasi masalah antrean BBM yang sering terjadi di Makassar, perusahaan ini berkomitmen untuk mengimplementasikan strategi yang lebih efektif dan optimal. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan melakukan kolaborasi sinergis dengan berbagai pihak terkait, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat.
Melalui kerjasama ini, Pertamina berusaha untuk menjaga kestabilan pasokan BBM di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah tersebut. Implementasi sistem pengaturan antrean yang lebih baik diharapkan dapat mengurangi waktu tunggu bagi konsumen. Dengan memanfaatkan teknologi terkini, Pertamina berencana untuk menerapkan aplikasi mobile yang memungkinkan pengguna memantau kondisi antrean secara real-time sebelum menuju SPBU. Hal ini juga bertujuan untuk menciptakan pengalaman yang lebih nyaman bagi masyarakat.
Selain itu, peningkatan infrastruktur pada SPBU juga menjadi fokus utama dalam strategi optimasi layanan ini. Dengan memperbesar kapasitas penyimpanan BBM dan meningkatkan jumlah pompa pengisian, diharapkan pelayanan dapat dilakukan lebih cepat dan efisien. Pelatihan bagi petugas SPBU juga turut dilaksanakan agar mereka dapat memberikan layanan terbaik kepada konsumen, termasuk penjelasan yang jelas ketika terjadi antrean atau keterlambatan.
Secara keseluruhan, upaya Pertamina dalam mengoptimalkan layanan BBM melalui pendekatan kolaboratif dan peningkatan infrastruktur diharapkan dapat memberikan hasil yang signifikan. Dengan cara ini, masalah antrean di Makassar dapat diminimalisir dan masyarakat dapat merasakan layanan yang lebih responsif dan efisien.












