BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan mengungkap bahwa sebanyak 28 korban meninggal dunia dalam kecelakaan kapal Virgo Transport 8 yang telah teridentifikasi tercatat berasal dari Jawa Timur. Data tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai daerah asal para korban teridentifikasi yang paling banyak diketahui dalam proses identifikasi.
Informasi mengenai asal daerah korban itu disampaikan oleh Kabid Dokkes Polda Kalimantan Selatan, Kombes Pol dr Much Sofwan, di Banjarmasin pada Minggu. Keterangan tersebut menjadi bagian dari penyampaian perkembangan kerja Tim DVI dalam mengidentifikasi korban meninggal akibat kecelakaan kapal Virgo Transport 8.
Angka 28 menjadi temuan utama dalam pembaruan data tersebut. Tim DVI mencatat bahwa para korban yang telah berhasil diidentifikasi itu memiliki asal daerah Jawa Timur. Dengan demikian, informasi mengenai Jawa Timur menjadi keterangan penting dalam pencatatan identitas korban kecelakaan kapal Virgo Transport 8.
Penyebutan asal daerah dilakukan setelah identitas para korban dinyatakan teridentifikasi oleh Tim DVI Polda Kalimantan Selatan. Data itu disampaikan secara resmi oleh Kombes Pol dr Much Sofwan dalam keterangannya di Banjarmasin. Hingga keterangan tersebut disampaikan, terdapat 28 korban teridentifikasi yang tercatat berasal dari Jawa Timur.
Temuan ini memberikan gambaran mengenai sebaran asal daerah korban yang telah teridentifikasi dalam kecelakaan kapal tersebut. Namun, keterangan yang disampaikan berfokus pada 28 korban asal Jawa Timur dan tidak memuat rincian tambahan mengenai daerah asal korban lainnya. Informasi itu menjadi catatan utama dari proses identifikasi korban meninggal yang dilakukan Tim DVI Polda Kalimantan Selatan setelah kecelakaan kapal Virgo Transport 8.
Rangkaian identifikasi korban kapal Virgo diawali dengan keberhasilan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan mengenali satu jenazah pada Senin, 14 September. Korban pertama yang teridentifikasi tersebut bernama Reyner Fausta Yosilianto, seorang laki-laki berusia 22 tahun yang diketahui berasal dari Malang, Jawa Timur. Penetapan identitas ini menjadi langkah penting dalam proses penanganan korban setelah jenazah ditemukan dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin.
Identitas Reyner dipastikan melalui pemeriksaan catatan sidik jari. Metode tersebut digunakan dengan mencocokkan data antemortem, atau informasi korban sebelum meninggal, dengan data postmortem yang diperoleh dari jenazah. Kecocokan pada pola sidik jari memberikan dasar yang kuat bagi tim untuk menetapkan identitas secara resmi, sekaligus mengurangi kemungkinan kesalahan dalam proses pengenalan korban.
Setelah jenazah tiba di rumah sakit, tim DVI melakukan pemeriksaan secara bertahap dan terukur. Setiap data yang dikumpulkan dicatat, diverifikasi, lalu dibandingkan dengan informasi yang tersedia mengenai para penumpang atau orang yang dilaporkan hilang. Prosedur ini diperlukan karena kondisi jenazah dan keterbatasan informasi awal dapat membuat proses identifikasi tidak selalu berlangsung secara langsung.
Pengenalan terhadap Reyner menjadi awal dari serangkaian pemeriksaan lanjutan yang dilakukan untuk mengidentifikasi korban kapal Virgo lainnya. Keberhasilan tersebut juga menunjukkan peran penting data kependudukan dan catatan biometrik dalam mendukung kerja tim forensik. Bagi keluarga, kepastian identitas menjadi informasi yang sangat berarti karena memungkinkan proses pemulangan jenazah, pemakaman, serta pengurusan berbagai keperluan administratif dilakukan dengan dasar yang jelas. Selanjutnya, Tim DVI Polda Kalsel meneruskan pemeriksaan terhadap jenazah lain yang telah berada di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin.
Proses identifikasi korban kapal Virgo di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin masih berlangsung secara bertahap. Dari total 80 jenazah yang telah diterima, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri berhasil mengenali 63 jenazah. Capaian tersebut menunjukkan adanya kemajuan dalam penanganan pascakejadian, sekaligus menjadi dasar bagi penyampaian informasi kepada keluarga korban secara resmi dan terukur.
Adapun 17 jenazah lainnya belum dapat dipastikan identitasnya dan masih menjalani rangkaian pemeriksaan. Tim DVI perlu mencocokkan berbagai data untuk memastikan setiap identitas ditetapkan secara akurat. Proses ini tidak hanya mengandalkan satu jenis informasi, melainkan memerlukan pemeriksaan yang dilakukan dengan prosedur ilmiah serta verifikasi berlapis.
Salah satu komponen penting dalam pencocokan tersebut adalah data pembanding DNA dari keluarga korban. Sampel pembanding berfungsi membantu tim menemukan kesesuaian profil genetik jenazah dan anggota keluarga yang melaporkan kehilangan. Pengumpulan serta pemeriksaan data DNA membutuhkan ketelitian karena hasilnya harus dapat dipertanggungjawabkan sebelum identitas diumumkan kepada publik.
Untuk mendukung pemeriksaan, sebagian sampel DNA dikirim ke Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri di Jakarta. Pelibatan laboratorium tersebut merupakan bagian dari koordinasi antarunit dalam mempercepat proses analisis sekaligus menjaga ketepatan hasil. Sampel yang dikirim akan diperiksa dan dibandingkan dengan data yang tersedia, kemudian hasilnya menjadi bahan evaluasi Tim DVI di Banjarmasin.
Dengan demikian, jumlah 63 jenazah yang telah teridentifikasi belum menandai berakhirnya seluruh proses. Tim masih bekerja menyelesaikan pemeriksaan terhadap 17 jenazah yang tersisa. Perkembangan identifikasi akan bergantung pada kelengkapan data pembanding, hasil analisis DNA, serta tahapan verifikasi yang harus dilalui. Penyampaian informasi secara berkala diharapkan membantu keluarga memahami bahwa proses tersebut berlangsung hati-hati demi memastikan setiap korban memperoleh identitas yang benar.
Selain korban yang berasal dari Jawa Timur, proses identifikasi juga mencatat sejumlah korban dari beberapa provinsi lain. Jawa Tengah menjadi daerah dengan jumlah korban teridentifikasi terbanyak berikutnya, yakni 16 orang. Data tersebut menunjukkan bahwa musibah kapal Virgo berdampak pada masyarakat dari wilayah yang cukup beragam, bukan hanya dari satu daerah tertentu.
Di urutan selanjutnya, terdapat delapan korban yang tercatat berasal dari Kalimantan Selatan. Sementara itu, Jawa Barat menyumbang enam korban yang telah berhasil dikenali melalui proses identifikasi. Sebaran ini masih dapat berubah apabila Tim Disaster Victim Identification (DVI) memperoleh kecocokan baru dari pemeriksaan jenazah dan data pembanding yang disampaikan oleh keluarga.
Much Sofwan meminta keluarga korban untuk tetap bersabar dan menunggu hasil identifikasi resmi. Ia memahami bahwa setiap keluarga membutuhkan kepastian, tetapi proses tersebut harus dilakukan secara teliti agar informasi yang disampaikan benar-benar akurat. Identifikasi tidak hanya bergantung pada satu data, melainkan memerlukan pencocokan berbagai informasi, termasuk data ante mortem yang diberikan keluarga sebelum proses pemeriksaan dilakukan.
Much Sofwan menegaskan bahwa Tim DVI terus bekerja tanpa libur, termasuk pada Sabtu dan Minggu. Setiap jenazah yang diterima langsung diperiksa dan dibandingkan dengan data ante mortem milik keluarga. Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat pengenalan korban sekaligus menjaga ketepatan hasil identifikasi.
Dengan kerja berkelanjutan itu, keluarga diharapkan memperoleh kepastian secara bertahap. Tim DVI juga tetap berupaya menyampaikan perkembangan berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah memenuhi standar. Karena itu, keluarga diminta mengikuti informasi resmi dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum dikonfirmasi. Penyampaian data secara hati-hati diperlukan agar proses identifikasi berjalan tertib serta setiap korban dapat segera dikembalikan kepada keluarga secara layak.
