Harga Bensin Dunia Tembus Rp78.937 per Liter, Hong Kong Termahal

Harga Bensin Dunia Tembus Rp78.937 per Liter, Hong Kong Termahal

Jakarta | Hong Kong menempati posisi teratas dalam pemeringkatan harga bensin dunia yang dirilis Global Petrol Prices berdasarkan data per 5 Oktober 2026. Daftar tersebut menempatkan wilayah atau negara dari harga tertinggi hingga terendah, sehingga angka pada urutan pertama menunjukkan harga bensin paling mahal di seluruh entri yang tercantum.

Harga tertinggi dalam pemeringkatan itu mencapai US$4,412 per liter. Jika dikonversikan menggunakan kurs Rp17.891 per dolar AS, nilainya sekitar Rp78.937 per liter. Angka tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan perbedaan yang besar harga bensin di Hong Kong dan berbagai wilayah lain yang berada di bawahnya dalam daftar.

Informasi mengenai pemeringkatan ini dipublikasikan pada 11 Oktober 2026, sementara tanggal acuan harga yang digunakan tetap 5 Oktober 2026. Perbedaan tanggal acuan dan tanggal publikasi perlu diperhatikan agar pembaca tidak menganggap angka tersebut sebagai harga yang berlaku tepat pada hari berita diterbitkan. Nilai yang disampaikan merupakan gambaran berdasarkan pembaruan data Global Petrol Prices pada tanggal yang telah ditentukan.

Dalam daftar tersebut, Hong Kong disebut sebagai wilayah dengan harga bensin tertinggi di dunia. Namun, bahan sumber tidak memasangkan nama negara atau wilayah dengan seluruh angka yang tercantum. Karena itu, sembilan entri lain setelah posisi teratas tidak dapat diidentifikasi tanpa data pendukung tambahan. Penyebutan nama atau peringkat wilayah lain secara spekulatif berisiko menimbulkan informasi yang keliru.

Pemeringkatan ini memberikan gambaran mengenai posisi harga bensin Hong Kong dalam perbandingan global. Nilai US$4,412 per liter atau sekitar Rp78.937 per liter menjadi angka utama yang mendasari penempatan Hong Kong di urutan pertama, dengan perhitungan rupiah mengikuti kurs yang digunakan dalam penyajian informasi tersebut.

Setelah Hong Kong menempati posisi pertama dengan harga bensin sekitar Rp78.937 per liter, daftar tersebut mencantumkan sembilan angka berikutnya secara berurutan. Posisi kedua berada pada US$3,226 atau sekitar Rp57.718 per liter. Selanjutnya, harga US$3,118 setara dengan kurang lebih Rp55.785 per liter, disusul US$2,860 atau sekitar Rp51.169 per liter.

Pada urutan berikutnya, tercatat harga US$2,775 atau sekitar Rp49.649 per liter. Angka setelahnya adalah US$2,637, yang nilainya diperkirakan mencapai Rp47.180 per liter. Daftar tersebut kemudian mencantumkan US$2,621 atau sekitar Rp45.893 per liter, lalu US$2,559 dengan nilai sekitar Rp45.784 per liter.

Dua angka terakhir dalam rangkaian itu adalah US$2,549 atau sekitar Rp45.608 per liter dan US$2,488 atau sekitar Rp44.514 per liter. Perbedaan konversi rupiah tersebut mengikuti nilai yang tercantum dalam sumber, sehingga dapat berubah apabila kurs mata uang mengalami perubahan. Data ini memberikan gambaran mengenai rentang harga, tetapi tidak secara otomatis menunjukkan kesamaan kualitas bahan bakar di setiap negara.

Salah satu keterbatasan pemeringkatan tersebut ialah lembaga terkait tidak menjelaskan jenis bensin yang dibandingkan. Tidak diketahui apakah acuannya bensin beroktan seperti RON 92, RON 95, atau jenis lain. Karena itu, perbandingan perlu dibaca secara hati-hati. Sumber menyebutkan bahwa negara berpendapatan tinggi cenderung memiliki harga bensin lebih mahal, sedangkan sejumlah negara berkembang yang menjadi produsen atau eksportir minyak biasanya menawarkan harga lebih rendah. Amerika Serikat menjadi pengecualian di negara maju karena harga bensinnya relatif murah. Selain harga minyak global, kebijakan pajak dan subsidi juga berperan besar dalam membentuk perbedaan harga antarnegara. Pajak yang tinggi dapat menaikkan harga di tingkat konsumen, sementara subsidi pemerintah dapat menahannya agar tetap lebih rendah.

Harga minyak mentah menguat tajam pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026, atau Jumat pagi waktu Jakarta. Penguatan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global setelah serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz bertambah. Ancaman Badai Isaias terhadap kegiatan produksi minyak lepas pantai Amerika Serikat di Teluk Meksiko turut memperkuat sentimen positif di pasar komoditas.

Minyak Brent naik sekitar 4 persen dan ditutup pada US$104,28 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,6 persen menjadi US$91,49 per barel. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pelaku pasar kembali memasukkan risiko geopolitik dan cuaca ekstrem ke dalam perhitungan harga, terutama karena kedua faktor tersebut berpotensi menghambat produksi maupun distribusi minyak mentah.

Dalam sepekan terakhir, sembilan kapal tanker dilaporkan diserang di dalam dan sekitar Selat Hormuz. Intensitas serangan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa pemulihan arus minyak mentah melalui jalur strategis itu dapat kembali terhambat. Selat Hormuz merupakan salah satu rute pelayaran energi paling penting di dunia, sehingga gangguan keamanan di kawasan tersebut segera berdampak terhadap biaya pengiriman, premi risiko, dan ekspektasi pasokan.

Data Kpler menunjukkan sekitar 9,5 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz pada pekan yang berakhir Selasa. Volume itu sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan tingkat normal sebelum perang Iran. Namun, total arus minyak mentah dari Timur Tengah, termasuk pasokan yang dialihkan melalui jaringan pipa, mencapai 16,4 juta barel per hari. Angka tersebut hampir setara dengan kondisi sebelum perang, tetapi keberlanjutan distribusinya tetap bergantung pada keamanan pelayaran dan kemampuan negara-negara produsen mempertahankan jalur alternatif.

Pergerakan Badai Isaias mengganggu aktivitas produksi minyak lepas pantai Amerika Serikat di Teluk Meksiko. Ketika badai bergerak menuju pesisir Alabama, Mississippi, dan wilayah Panhandle Florida, sejumlah perusahaan minyak mengevakuasi pekerja serta menghentikan operasi di fasilitas lepas pantai sebagai langkah keselamatan. Penghentian tersebut memangkas sekitar 500.000 barel per hari, atau kurang lebih 25 persen dari total produksi minyak lepas pantai AS. Gangguan ini menambah perhatian pasar terhadap pasokan energi global, terutama karena produksi lepas pantai memerlukan waktu untuk kembali normal setelah ancaman cuaca berlalu.

Selain faktor cuaca, perkembangan keamanan di Timur Tengah turut memengaruhi sentimen pasar minyak. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman dilaporkan menembakkan rudal ke bandara di Riyadh dan kota Abha pada Selasa dan Rabu. Berdasarkan laporan media milik negara Al Arabiya, serangan tersebut menyebabkan tiga orang tewas dan 36 lainnya terluka. Aksi tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan serta keamanan infrastruktur energi dan jalur transportasi penting. Setiap eskalasi baru berpotensi memperbesar risiko gangguan pasokan, sehingga pelaku pasar terus mencermati respons Arab Saudi, Iran, dan negara-negara lain yang terlibat.

Harga minyak sempat turun dari level tertinggi dalam sesi perdagangan setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan umum sela pada November. Pernyataan itu untuk sementara meredakan kekhawatiran mengenai konflik langsung Washington dan Teheran. Namun, laporan NBC News menyebut Trump dan tim keamanan nasionalnya sedang mempertimbangkan kemungkinan melancarkan kembali serangan dalam beberapa minggu mendatang. Informasi tersebut mengutip sumber anonim, sehingga belum menjadi konfirmasi resmi mengenai keputusan pemerintah AS. Ketidakpastian itu membuat pergerakan harga tetap sensitif terhadap pernyataan politik, laporan keamanan, dan perubahan situasi militer di kawasan.