Jakarta | Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa prospek perekonomian global masih lemah, sementara tingkat ketidakpastian meningkat. Pandangan tersebut disampaikan dalam paparan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu, 21 Oktober 2025. Penilaian ini menggambarkan tantangan yang masih membayangi perkembangan ekonomi dunia, terutama ketika ketegangan geopolitik menambah tekanan pada kondisi global. Dalam paparan itu, Destry juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi global berada di sekitar 3 persen.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah meningkatnya tensi perang di Timur Tengah. Menurut Destry, perkembangan tersebut membuat harga minyak dunia bertahan tinggi. Kondisi ini menjadi bagian dari latar ketidakpastian yang perlu dicermati dalam membaca prospek ekonomi global. Pernyataan tersebut menegaskan kaitan ketegangan di kawasan dan tekanan yang berlangsung di pasar energi, tanpa mengubah proyeksi utama mengenai pertumbuhan dunia.
Di tengah prospek pertumbuhan yang terbatas, tekanan inflasi global diperkirakan mencapai 4,6 persen. Angka tersebut disampaikan Destry dalam paparan RDG yang sama, sebagai gambaran tekanan harga yang masih perlu diperhatikan. Perkiraan inflasi dan pertumbuhan itu menunjukkan bahwa tantangan global tidak hanya terkait dengan laju kegiatan ekonomi, tetapi juga dengan dinamika harga. Namun, angka tersebut merupakan proyeksi yang disampaikan dalam paparan, bukan kepastian mengenai perkembangan selanjutnya.
Bagi pembacaan outlook ekonomi dunia, kombinasi pertumbuhan sekitar 3 persen, inflasi sebesar 4,6 persen, serta harga minyak yang bertahan tinggi menempatkan ketidakpastian sebagai isu utama. Destry menyampaikan bahwa prospek global masih lemah ketika tensi di Timur Tengah meningkat. Karena itu, proyeksi tersebut memberikan konteks bagi pemantauan terhadap perkembangan ekonomi internasional dan tekanan harga. Paparan Gubernur BI itu menyoroti situasi global yang perlu dicermati, tanpa menyatakan hasil tertentu mengenai arah ekonomi pada periode berikutnya.
Ketidakpastian ekonomi global diperkirakan terus memengaruhi arah kebijakan moneter di berbagai negara utama. Perkembangan tersebut menjadi perhatian karena keputusan bank sentral tidak hanya ditentukan oleh kondisi domestik, tetapi juga oleh perubahan lingkungan ekonomi internasional. Amerika Serikat menjadi salah satu fokus utama, mengingat kebijakan moneternya memiliki pengaruh luas terhadap pasar keuangan global. Dalam situasi yang masih tidak menentu, pelaku pasar akan mencermati sinyal dari otoritas moneter AS untuk memperkirakan langkah berikutnya. Perubahan ekspektasi itu dapat memengaruhi penilaian terhadap prospek suku bunga dan kondisi pembiayaan. Dengan demikian, arah kebijakan AS tetap menjadi faktor penting dalam membaca pergerakan pasar keuangan.
Menurut Destry, kebijakan moneter yang ketat diperkirakan bertahan lebih lama. Perkiraan ini mencerminkan bahwa pelonggaran kebijakan belum dapat diasumsikan berlangsung dalam waktu dekat, sementara ketidakpastian global masih membayangi prospek ekonomi. Sikap moneter yang tetap ketat dapat menjaga ekspektasi pasar terhadap suku bunga pada tingkat tinggi. Karena itu, pelaku pasar akan terus memperhatikan komunikasi dan keputusan bank sentral AS, termasuk bagaimana kebijakan tersebut berkembang seiring perubahan kondisi. Ekspektasi terhadap kebijakan AS bukan hanya berkaitan dengan keputusan suku bunga, tetapi juga dengan penilaian investor terhadap arah pasar obligasi pemerintah. Perubahan pandangan mengenai lamanya kebijakan ketat dapat segera tercermin dalam permintaan serta imbal hasil surat utang.
Ekspektasi tersebut turut memengaruhi imbal hasil surat utang pemerintah AS atau US Treasury, yang diperkirakan tetap tinggi. Tingkat imbal hasil ini menjadi perhatian karena pergerakannya berkaitan erat dengan pandangan pasar mengenai kebijakan moneter dan kondisi fiskal AS. Tekanan juga datang dari defisit anggaran AS yang semakin besar. Perkembangan defisit tersebut menambah perhatian terhadap faktor-faktor yang membentuk imbal hasil Treasury, di tengah ketidakpastian global dan prospek kebijakan moneter ketat yang lebih lama. Kombinasi ekspektasi kebijakan AS dan tekanan fiskal membuat imbal hasil surat utang pemerintah tersebut diperkirakan belum mudah turun. Situasi ini menegaskan bahwa perubahan kebijakan moneter negara utama, khususnya Amerika Serikat, tetap menjadi salah satu pertimbangan penting dalam perkembangan pasar global.
Preferensi investor global terhadap negara-negara emerging markets atau pasar berkembang masih terbatas di tengah prospek ekonomi dunia yang melemah dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian tersebut mendorong pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam mengambil risiko. Akibatnya, aliran investasi ke aset di negara berkembang belum memperoleh dukungan yang kuat, sementara sebagian investor cenderung memilih aset yang dinilai lebih aman dan likuid. Situasi ini turut menopang indeks dolar Amerika Serikat, atau DXY, sehingga mata uang tersebut bertahan kuat di pasar global.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa minat investor yang masih terbatas terhadap pasar berkembang berkaitan dengan kuatnya DXY. Dengan kata lain, ketika preferensi terhadap aset emerging markets belum meningkat, permintaan terhadap dolar AS tetap terjaga dan indeksnya sulit melemah. Pernyataan Destry tersebut menggambarkan keterkaitan arus investasi global dan pergerakan mata uang utama, terutama saat ketidakpastian mendorong investor menimbang ulang tingkat risiko di berbagai kawasan. Perubahan sentimen dapat berlangsung cepat, sehingga negara berkembang perlu mencermati perkembangan pasar internasional.
Bagi Indonesia, kombinasi dolar AS yang kuat dan minat yang terbatas terhadap aset pasar berkembang menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas pasar keuangan serta nilai tukar rupiah. Dolar yang menguat dapat menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, khususnya ketika pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Pada saat yang sama, arus modal yang belum konsisten dapat memengaruhi kondisi perdagangan di pasar keuangan domestik. Karena itu, kewaspadaan terhadap dinamika global tetap diperlukan, termasuk terhadap perubahan sentimen investor dan perkembangan geopolitik. Stabilitas perlu dijaga melalui pemantauan pasar yang cermat dan langkah kebijakan yang mendukung ketahanan ekonomi, tanpa mengabaikan tekanan inflasi maupun prospek pertumbuhan. Respons yang terukur dapat membantu meredam gejolak dan mempertahankan kepercayaan pelaku pasar di tengah kondisi eksternal yang belum menentu.
Perkembangan ekonomi global yang melemah dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menjadi perhatian bagi Indonesia karena gejolak dari luar negeri dapat merambat ke kondisi domestik. Salah satu jalur yang perlu dicermati adalah harga energi. Ketegangan di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasokan dan harga, sehingga perubahan di pasar energi global dapat menambah tekanan terhadap biaya di dalam negeri. Risiko ini perlu diperhitungkan bersama perkembangan inflasi, terutama ketika proyeksi inflasi global berada pada tingkat yang lebih tinggi. Perubahan kondisi eksternal dapat memengaruhi persepsi pelaku pasar dan menjadi bagian dari penilaian terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Tekanan harga energi dapat berhubungan dengan kenaikan biaya dan mendorong tekanan inflasi, sementara perubahan arus modal berpotensi memengaruhi pasar keuangan domestik. Ketika arah aliran dana berubah, pergerakan nilai tukar dapat ikut terpengaruh dan berpotensi menekan rupiah. Hubungan tersebut tidak berarti bahwa setiap gejolak global otomatis menghasilkan dampak tertentu, tetapi menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap beragam saluran rambatan. Pemerintah dan otoritas terkait perlu memperhatikan perkembangan harga, inflasi, serta kondisi pasar keuangan sebagai bagian dari pemantauan risiko. Dengan demikian, tekanan eksternal dapat dipertimbangkan dalam membaca dinamika ekonomi domestik secara menyeluruh.
Ketidakpastian global tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan ekonomi domestik. Penilaian kebijakan perlu memperhatikan bagaimana tekanan harga energi, risiko inflasi, dan perubahan arus modal dapat berinteraksi dengan kondisi di dalam negeri, sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi. Kewaspadaan ini penting agar perkembangan eksternal tidak dipandang terpisah dari kondisi pasar keuangan dan nilai tukar.





