Jakarta | Presiden Prabowo Subianto melantik Jenderal TNI Tandyo Budi Revita sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), menggantikan Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. Pelantikan tersebut menandai perubahan pada pucuk pimpinan TNI Angkatan Darat sekaligus menjadi bagian dari penataan jabatan di lingkungan TNI. Tandyo yang sebelumnya menjabat Wakil Panglima TNI kini menerima tanggung jawab baru sebagai pimpinan tertinggi Angkatan Darat. Peralihan ini menempatkannya pada posisi yang memiliki peran penting dalam memimpin institusi tersebut.
Pada kesempatan yang sama, Maruli Simanjuntak dilantik untuk menggantikan Tandyo sebagai Wakil Panglima TNI. Dengan demikian, kedua perwira tinggi itu sama-sama memperoleh jabatan baru melalui rangkaian pelantikan yang berlangsung pada waktu dan tempat yang sama. Maruli beralih dari jabatan KSAD ke posisi Wakil Panglima TNI, sedangkan Tandyo berpindah dari posisi Wakil Panglima TNI ke jabatan KSAD. Perubahan ini memperlihatkan pergantian tanggung jawab di keduanya, bukan sekadar pengisian satu jabatan yang ditinggalkan.
Pelantikan Tandyo dan Maruli berlangsung di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis, 15 Oktober, sore. Tidak ada tahun yang dicantumkan dalam keterangan tersebut, sehingga tanggal itu dapat disebut tanpa menambahkan tahun tertentu. Inti perubahan jabatan ini adalah Tandyo menggantikan Maruli sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, sementara Maruli menggantikan Tandyo sebagai Wakil Panglima TNI. Kedua posisi tersebut kini diisi oleh pejabat yang sebelumnya memegang jabatan satu sama lain. Pelantikan oleh Presiden Prabowo menjadi penanda resmi bagi dimulainya tugas mereka dalam susunan jabatan yang baru. Peristiwa ini menempatkan Tandyo sebagai KSAD dan Maruli sebagai Wakil Panglima TNI, sesuai dengan pembagian tanggung jawab yang diumumkan dalam pelantikan tersebut.
Tandyo Budi Revita lahir di Surakarta pada 21 Februari 1969. Informasi mengenai tempat dan tanggal lahir tersebut menjadi bagian awal dalam mengenal perjalanan kariernya di lingkungan militer. Dalam menelusuri rekam jejak seorang perwira, latar belakang biografis memberi konteks mengenai sosok yang kemudian menjalani pengabdian panjang di institusi pertahanan. Namun, rincian pribadi lain di luar informasi yang tersedia tidak perlu ditambahkan untuk memahami dasar perjalanan profesionalnya.
Pendidikan militernya dimulai di Akademi Militer, yang ia selesaikan pada 1991. Kelulusan tersebut menandai awal kariernya sebagai perwira TNI Angkatan Darat. Akademi Militer membekali para tarunanya dengan pendidikan dan pembentukan dasar untuk menjalankan tugas keprajuritan serta kepemimpinan. Bagi Tandyo, lulus pada tahun itu menjadi titik penting dalam rangkaian pengabdian yang berlanjut selama puluhan tahun. Informasi yang tersedia menegaskan tahun kelulusannya, tanpa memberikan rincian tambahan mengenai program atau penugasan pada tahap awal karier.
Setelah pendidikan awal tersebut, Tandyo juga menempuh pendidikan lanjutan di Sesko TNI dan Lemhannas RI. Kedua lembaga itu disebut sebagai bagian dari perjalanan pendidikannya, yang memperlihatkan bahwa proses pembelajaran berlangsung setelah ia menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer. Tidak tersedia keterangan lebih rinci mengenai waktu, program, maupun materi yang ditempuh, sehingga hal-hal tersebut tidak dapat dipastikan. Penyebutan pendidikan lanjutan ini cukup untuk menggambarkan kesinambungan pengembangan profesionalnya tanpa mengasumsikan pengalaman tertentu.
Jika dihitung dari kelulusannya pada 1991 hingga perjalanannya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, karier militer Tandyo telah berlangsung lebih dari tiga dekade. Rentang waktu itu memberi gambaran umum mengenai lamanya pengabdian yang dijalani sebelum mencapai jabatan pimpinan tertinggi di TNI AD. Latar belakang kelahiran, pendidikan di Akademi Militer, serta pendidikan lanjutan di Sesko TNI dan Lemhannas RI merupakan informasi biografis utama yang tersedia untuk memahami fondasi kariernya. Uraian ini membatasi diri pada fakta tersebut, tanpa menambahkan keterangan tentang keluarga, kesatuan, atau pendidikan lain yang tidak tercantum.
Rekam jabatan Tandyo Budi Revita yang tercantum dalam informasi sumber dimulai pada 1995. Pada tahun tersebut, ia menjabat sebagai komandan tim khusus Combat Intelligence di Yonif Linud 330/Tri Dharma. Catatan berikutnya dalam urutan karier yang disampaikan adalah tahun 2012. Pada tahun itu, Tandyo tercatat bertugas di Yonif Linud 330/Tri Dharma sekaligus menjabat sebagai Danbrigif Linud 17/Kujang I. Dengan demikian, dua keterangan jabatan untuk 2012 ditempatkan bersama sesuai informasi yang tersedia, tanpa mengubah urutannya atau menambahkan keterangan mengenai masa tugas yang tidak disebutkan. Pada 2014, jabatan yang tercatat baginya adalah Asops Kasdam VII/Wirabuana. Setelah itu, pada 2015, ia bertugas sebagai Komandan Resimen Taruna Akmil dan Danrindam IX/Udayana. Rangkaian tersebut memperlihatkan perpindahan catatan jabatan dari satu posisi ke posisi berikutnya berdasarkan tahun yang diberikan.
Urutan berlanjut pada 2017–2018, ketika Tandyo menjabat sebagai Paban III/Sopsad. Pada 2018, ia kemudian tercatat sebagai Paban III/Latga Sops TNI. Informasi sumber juga mencatat penugasan di lingkungan Kementerian Pertahanan pada tahun yang sama. Tandyo menjabat sebagai Direktur Bela Negara Ditjen Pothan Kemhan pada 2018–2019. Rentang tersebut disajikan sebagaimana tercantum, sehingga awal dan akhir masa jabatan tidak digeser atau ditafsirkan di luar keterangan yang tersedia. Dalam susunan kronologis, jabatan Paban III/Latga Sops TNI pada 2018 disebut sebelum jabatan Direktur Bela Negara yang rentangnya dimulai pada 2018. Penyebutan ini mengikuti tahun dan urutan yang diberikan, tanpa mengasumsikan rincian lain mengenai proses pergantian jabatan.
Selanjutnya, pada 2019–2021, Tandyo menjabat sebagai Dirrah Komhan Ditjen Strahan Kemhan. Setelah rentang tersebut, ia mengemban jabatan Kabadiklat Kemhan pada 2021–2023. Kedua posisi ini melanjutkan catatan tugasnya di Kementerian Pertahanan setelah jabatan Direktur Bela Negara Ditjen Pothan Kemhan. Secara kronologis, rangkaian yang tersedia mencakup jabatan militer pada 1995, 2012, 2014, 2015, 2017, dan 2018, lalu jabatan di Kementerian Pertahanan dari 2018 sampai 2023. Penyebutan tahun-tahun dan rentang jabatan tersebut mengikuti informasi sumber. Tidak ada masa tugas tambahan atau uraian tanggung jawab yang disisipkan di posisi-posisi itu.
Setelah menempati sejumlah jabatan penting di lingkungan TNI Angkatan Darat, perjalanan karier Tandyo Budi Revita berlanjut ke tingkat komando kewilayahan. Pada 2023, ia dipercaya memimpin Komando Daerah Militer IV/Diponegoro sebagai Panglima Kodam. Jabatan tersebut menempatkannya sebagai pemimpin satuan teritorial yang membawahi wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tandyo menjalankan tugas itu hingga 2024, sebelum memperoleh penugasan baru di jajaran pimpinan pusat TNI AD.
Pada Februari 2024, Tandyo mulai menjabat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad). Dalam posisi tersebut, ia berada di bawah Kepala Staf Angkatan Darat dan membantu pelaksanaan tugas pimpinan, termasuk koordinasi serta pembinaan organisasi. Peralihan dari jabatan Pangdam IV/Diponegoro ke Wakasad menandai kelanjutan pengabdiannya di tingkat strategis, setelah sebelumnya memimpin komando teritorial. Masa jabatannya sebagai Wakasad kemudian berlanjut hingga perubahan penugasan berikutnya pada 2025.
Pada 2025, Tandyo dipercaya mengemban jabatan Wakil Panglima TNI. Penunjukan ini mendapat perhatian karena posisi Wakil Panglima TNI disebut telah kosong selama sekitar 25 tahun sebelum kembali diisi. Tandyo pun menjadi perwira yang mengisi kembali jabatan tersebut, yang berada pada tingkat pimpinan lintas matra. Perubahan dari Wakasad menjadi Wakil Panglima TNI memperluas lingkup tanggung jawabnya, dari lingkungan Angkatan Darat menuju struktur komando Tentara Nasional Indonesia secara keseluruhan. Informasi mengenai penugasan ini mencatat urutan jabatan dan waktu pengangkatannya, tanpa menjelaskan alasan khusus di balik mutasi tersebut.
Perjalanan itu berlanjut ketika Tandyo kemudian berpindah ke jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Baca juga: Jejak Karier Lampri dan Skandal Korupsi yang Menghantam Kementerian ATR/BPN | Karawang Menjadi Magnet Investasi di Jawa Barat | Peningkatan Kasus Pembegalan di Depok Menjadi Sorotan





