Aksi Ibu Berisik di Titik Nol Yogyakarta Gaungkan Empat Tuntutan

Aksi Ibu Berisik di Titik Nol Yogyakarta Gaungkan Empat Tuntutan

Yogyakarta | Kelompok Ibu Berisik menggelar unjuk rasa di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026. Di pusat kota itu, mereka menyampaikan kritik dengan memukul peralatan dapur sambil melantunkan lagu. Bunyi dari perkakas yang digunakan menjadi bagian dari cara kelompok tersebut menarik perhatian terhadap pesan yang mereka bawa. Aksi ini tercatat sebagai unjuk rasa kesepuluh yang digelar Ibu Berisik di wilayah Yogyakarta, menandai berlanjutnya kegiatan kelompok tersebut di ruang publik kota.

Peralatan dapur memberi warna tersendiri pada penyampaian aspirasi. Alih-alih hanya menggunakan orasi, para anggota kelompok memadukan bunyi perkakas dengan lantunan lagu sebagai bentuk ekspresi dalam aksi. Perpaduan itu menjadi ciri yang tampak di lokasi, sementara Titik Nol Kilometer menyediakan ruang bagi mereka untuk menyuarakan kritik di kawasan pusat Yogyakarta. Penggunaan benda sehari-hari tersebut menghadirkan cara penyampaian pesan yang mudah dikenali, tanpa mengubah inti kegiatan sebagai unjuk rasa.

Pelaksanaan aksi yang kesepuluh di Yogyakarta juga menunjukkan bahwa kegiatan Ibu Berisik berlangsung lebih dari satu kali di wilayah tersebut. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci jumlah orang yang hadir, berapa lama kegiatan berlangsung, maupun aspek lain di lokasi. Hal yang dapat dipastikan ialah kelompok itu kembali menggelar unjuk rasa di Titik Nol Kilometer pada tanggal tersebut, dengan pukulan pada peralatan dapur dan lagu sebagai cara menyampaikan kritik. Melalui bentuk ekspresi itu, mereka menghadirkan suara protes di salah satu kawasan yang dikenal sebagai titik pusat kota, sekaligus melanjutkan rangkaian aksi mereka di Yogyakarta.

Aksi Ibu Berisik di Titik Nol Yogyakarta menarik perhatian pengguna jalan dan wisatawan yang melintas di kawasan tersebut. Kehadiran peserta aksi di ruang publik membuat kegiatan itu terlihat oleh orang-orang yang sedang melewati lokasi, baik untuk beraktivitas maupun berkunjung. Perhatian yang muncul menjadi bagian dari situasi di sekitar aksi, selain pesan yang disampaikan para peserta melalui tuntutan mereka. Titik Nol merupakan kawasan yang dilalui berbagai jenis pengguna jalan dan kerap menjadi tujuan wisata, sehingga aksi di sana dapat terlihat oleh orang yang berada di sekitar. Namun, sumber tidak menyebutkan berapa banyak orang yang menyaksikan kegiatan tersebut. Karena itu, respons publik perlu digambarkan secara terbatas, tanpa memperkirakan jumlah penonton atau menyimpulkan tingkat perhatian yang tidak dijelaskan.

Sejumlah pengendara yang melintas bahkan turut berpartisipasi dengan membunyikan klakson kendaraan. Bunyi klakson itu menjadi bentuk respons yang tampak dari sebagian pengguna jalan terhadap aksi Ibu Berisik. Informasi yang tersedia tidak merinci kendaraan yang terlibat, berapa kali klakson dibunyikan, ataupun berapa banyak pengendara yang melakukannya. Dengan demikian, partisipasi tersebut dapat disebut sebagai respons dari sejumlah pengendara, tetapi tidak dapat diperluas menjadi gambaran bahwa seluruh atau sebagian besar pengguna jalan ikut menyatakan dukungan. Tidak ada pula keterangan yang memastikan alasan setiap pengendara membunyikan klakson. Penjelasan yang berhati-hati penting agar laporan mengenai respons di lokasi tetap sesuai dengan informasi yang benar-benar disampaikan.

Wisatawan yang melintas juga termasuk di orang-orang yang dapat menyaksikan aksi tersebut. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kegiatan berlangsung di tempat yang dilewati pengunjung, tetapi tidak tersedia rincian mengenai identitas, jumlah, atau tanggapan para wisatawan. Aksi dan respons dari sebagian pengendara berlangsung dalam ruang yang sama dengan arus lalu lintas serta pergerakan pengunjung. Meski begitu, sumber tidak memberikan keterangan lebih jauh tentang dampak kegiatan terhadap perjalanan, kondisi lalu lintas, atau aktivitas wisata di kawasan itu. Karena itu, hal-hal tersebut tidak dapat dipastikan. Yang dapat disampaikan ialah aksi tersebut menarik perhatian pengguna jalan dan wisatawan yang melintas, sementara sejumlah pengendara turut membunyikan klakson. Rincian itu menggambarkan respons yang diketahui tanpa menambahkan angka maupun suasana yang tidak didukung informasi.

Siti Fauziah, juru bicara Ibu Berisik, menyampaikan empat tuntutan utama kelompok tersebut. Keempatnya mencakup cara pemerintah mengelola negara, prioritas penggunaan anggaran, penghentian intimidasi oleh aparat tidak berseragam, serta jaminan kebebasan berpendapat di media sosial tanpa sensor. Tuntutan itu disampaikan sebagai pokok-pokok yang ingin ditegaskan kelompok dalam aksinya di Titik Nol Yogyakarta.

Pertama, pemerintah diminta bekerja secara profesional dalam mengelola negara. Tuntutan ini menekankan harapan agar pelaksanaan tugas pemerintahan dilakukan dengan profesionalisme. Kedua, anggaran diminta diprioritaskan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memenuhi hak dasar masyarakat. Dengan demikian, kelompok menyoroti dua hal yang perlu menjadi prioritas dalam penggunaan anggaran: stabilitas ekonomi dan pemenuhan hak dasar masyarakat.

Ketiga, Ibu Berisik menuntut agar intimidasi oleh aparat yang tidak berseragam dihentikan. Rumusan tuntutan tersebut secara khusus menyebut tindakan intimidasi dan pihak yang melakukan, yakni aparat tidak berseragam. Keempat, kelompok meminta jaminan kebebasan berpendapat di media sosial tanpa sensor. Tuntutan ini mencakup kebebasan untuk menyampaikan pendapat melalui media sosial serta jaminan bahwa pendapat tersebut tidak disensor.

Empat tuntutan yang disampaikan Siti Fauziah itu memuat permintaan kepada pemerintah dan penegasan mengenai kebebasan masyarakat menyampaikan pendapat. Isinya tidak hanya menyoroti pengelolaan negara dan penentuan prioritas anggaran, tetapi juga meminta penghentian intimidasi oleh aparat tidak berseragam dan jaminan kebebasan berpendapat di ruang media sosial. Setiap tuntutan memiliki pokok yang berbeda, tetapi disampaikan sebagai rangkaian sikap Ibu Berisik dalam aksi tersebut.

Dengan penyampaian ini, posisi kelompok dapat dirujuk pada empat hal yang dinyatakan secara langsung: pemerintah bekerja profesional; anggaran diprioritaskan bagi stabilitas ekonomi dan pemenuhan hak dasar masyarakat; intimidasi oleh aparat tidak berseragam dihentikan; dan kebebasan berpendapat di media sosial dijamin tanpa sensor. Rumusan tersebut mempertahankan inti tuntutan sebagaimana disampaikan juru bicara, tanpa menambahkan tuntutan lain atau memperluas maknanya.

Siti menjelaskan bahwa aksi kelompok Ibu Berisik di Titik Nol Yogyakarta berangkat dari kegelisahan yang dirasakan masyarakat terhadap berbagai persoalan. Menurutnya, sejumlah masalah dinilai belum memperoleh penanganan yang memadai dari pemerintah. Karena itu, aksi menjadi ruang untuk menyampaikan keresahan tersebut secara terbuka sekaligus menarik perhatian terhadap hal-hal yang dianggap membutuhkan tanggapan.

Penyampaian aspirasi di ruang publik, dalam pandangan Siti, bukan semata-mata bentuk protes. Aksi itu juga dimaksudkan untuk mengingatkan pemerintah bahwa tanggung jawabnya kepada rakyat besar. Pemerintah memiliki kewajiban untuk mendengar suara masyarakat dan menindaklanjuti persoalan yang disampaikan. Kehadiran kelompok tersebut di Titik Nol menjadi cara untuk menegaskan bahwa kegelisahan warga perlu diperhatikan, bukan dibiarkan tanpa kejelasan.

Melalui aksi itu, para peserta berharap tuntutan yang mereka suarakan dapat segera ditanggapi dan ditindaklanjuti. Harapan tersebut berkaitan dengan kebutuhan agar persoalan yang menjadi perhatian masyarakat mendapat respons nyata. Bagi Siti, penyampaian aspirasi akan lebih berarti apabila diikuti langkah yang jelas dari pihak pemerintah. Tanggapan dan tindak lanjut dapat menunjukkan bahwa suara warga telah didengar serta menjadi pertimbangan dalam upaya menangani berbagai persoalan.

Siti juga berharap masyarakat tidak perlu kembali turun ke jalan untuk menyampaikan kegelisahan yang sama. Keinginan itu bukan berarti warga tidak lagi memiliki hak untuk berkumpul dan menyuarakan pendapat, melainkan mencerminkan harapan agar tuntutan yang disampaikan kali ini memperoleh perhatian. Jika pemerintah merespons dengan serius, masyarakat dapat melihat adanya upaya untuk memenuhi tanggung jawab tersebut. Dengan demikian, aksi ini menjadi pengingat sekaligus dorongan agar komunikasi pemerintah dan rakyat menghasilkan tindak lanjut, bukan berhenti pada penyampaian aspirasi saja.

Baca juga: Aksi Besar Buruh di DPR: Tuntutan untuk Kesejahteraan dan Perlindungan | Aksi Buruh di Jakarta: 11 Tuntutan Penting | Aksi Demo Buruh di Jakarta: Titik Rawan dan Imbauan untuk Pengendara