Binance Telusuri Dugaan Serangan Siber, Aset Senilai Rp50,3 Triliun Terpantau Bergerak

Binance Telusuri Dugaan Serangan Siber, Aset Senilai Rp50,3 Triliun Terpantau Bergerak

Jakarta | Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia, tengah menyelidiki kemungkinan masalah keamanan setelah aset digital bernilai besar terpantau berpindah dari sejumlah dompet yang terhubung dengan platform tersebut. Pergerakan itu memicu perhatian peneliti blockchain pada Kamis, ketika transaksi yang dinilai tidak biasa mulai teridentifikasi. Data awal menunjukkan aliran aset keluar dengan estimasi nilai sekitar US

Transaksi yang menjadi sorotan dilaporkan tersebar di lima jaringan blockchain. Perpindahan lintas jaringan dapat melibatkan beragam jenis aset dan alamat dompet, sehingga peneliti perlu menelusuri hubungan antartransaksi sebelum menarik kesimpulan. Aktivitas pada blockchain umumnya dapat diamati secara publik, tetapi identitas pemilik alamat dan tujuan akhir dana tidak selalu langsung diketahui. Karena itu, pergerakan dalam jumlah besar saja belum cukup untuk membuktikan terjadinya pencurian. Analisis perlu membedakan transaksi operasional yang sah, pemindahan aset untuk pengelolaan likuiditas, dan aktivitas yang mungkin berkaitan dengan insiden keamanan. Nilai total yang besar juga dapat mencakup aset dengan karakteristik dan mekanisme berbeda.

Binance disebut sedang menelaah aktivitas tersebut dan mengumpulkan informasi untuk memahami penyebab serta cakupannya. Pada tahap ini, penyelidikan masih berlangsung, sementara temuan peneliti independen menjadi salah satu petunjuk yang perlu diverifikasi. Belum ada dasar untuk menyatakan secara definitif bahwa serangan siber atau peretasan telah terjadi. Konfirmasi memerlukan pemeriksaan terhadap catatan internal, kendali atas dompet terkait, serta alur dana pada jaringan yang terlibat. Pengguna sebaiknya mengikuti pembaruan melalui kanal resmi dan tidak mengandalkan klaim yang belum terverifikasi. Besarnya nilai yang dilaporkan memang menimbulkan kekhawatiran, tetapi kesimpulan mengenai dampak terhadap pelanggan maupun keamanan platform perlu menunggu hasil pemeriksaan yang lebih lengkap.

Binance menyampaikan melalui akun resminya di X bahwa tim keamanan sedang melakukan pemeriksaan menyusul aktivitas yang dinilai mencurigakan. Dalam keterangannya, bursa tersebut menyebut penarikan aset akan dibuka kembali setelah persoalan keamanan sepenuhnya ditangani. Binance juga menyatakan dana pengguna tetap aman selama pemeriksaan berlangsung. Pernyataan ini memberi gambaran tentang langkah awal perusahaan, tetapi belum menjelaskan secara rinci apa yang memicu peninjauan tersebut atau berapa lama pembatasan penarikan akan berlaku. Pengguna diminta mengikuti pembaruan resmi untuk memperoleh informasi lanjutan mengenai layanan dan status akun mereka.

Hingga keterangan itu disampaikan, Binance belum mengonfirmasi bahwa telah terjadi peretasan. Perusahaan juga belum mengungkap adanya kerugian finansial ataupun memastikan apakah sistem internal bursa menjadi sasaran. Karena itu, pergerakan aset bernilai besar yang terpantau tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa dana pengguna telah dicuri atau bahwa infrastruktur Binance berhasil ditembus. Pemeriksaan keamanan dapat mencakup berbagai kemungkinan, dan hasilnya belum dipaparkan secara terbuka. Perbedaan aktivitas yang sedang ditelusuri dan insiden yang telah terverifikasi penting diperhatikan agar laporan mengenai dugaan serangan siber tidak dianggap sebagai pengumuman resmi tentang peretasan.

Changpeng Zhao, salah satu pendiri Binance sekaligus mantan CEO, turut menanggapi kabar tersebut secara pribadi di X. Ia menulis bahwa tampaknya memang terjadi peretasan di Binance. Pernyataan Zhao itu merupakan komentarnya sendiri, bukan konfirmasi resmi dari perusahaan, dan perlu dibedakan dari keterangan akun Binance mengenai pemeriksaan keamanan serta perlindungan dana pengguna. Sampai perusahaan menyampaikan hasil penyelidikan, belum tersedia dasar untuk memastikan bentuk insiden, pihak yang bertanggung jawab, atau dampaknya terhadap aset maupun sistem bursa. Informasi yang dapat dipastikan sejauh ini terbatas pada berlangsungnya pemeriksaan dan rencana membuka kembali penarikan setelah isu keamanan diselesaikan sepenuhnya. Dengan demikian, pemantauan terhadap kanal resmi tetap menjadi sumber utama untuk mengetahui perkembangan terverifikasi, termasuk bila nantinya Binance mengungkap temuan teknis atau dampak finansial. Sikap berhati-hati diperlukan ketika membagikan klaim yang belum dikonfirmasi, terutama karena kabar mengenai keamanan bursa dapat memengaruhi keputusan pengguna dan pergerakan pasar aset kripto.Penerbit stablecoin Tether, Circle, dan Ripple dilaporkan telah mengambil langkah untuk membekukan aset digital yang dikaitkan dengan dugaan serangan siber tersebut. Tindakan ini merupakan bagian dari upaya membatasi pergerakan dana yang diduga berasal dari insiden, sekaligus mengurangi peluang aset dipindahkan atau dicairkan sebelum penyelidikan selesai. Pembekuan aset kripto umumnya bergantung pada kemampuan penerbit untuk membatasi token tertentu di jaringan yang mereka dukung, sehingga koordinasi lintas perusahaan dan aparat menjadi penting dalam menangani kasus berskala besar.

Binance mengonfirmasi bahwa aset senilai US$2,54 miliar telah dibekukan sehubungan dengan penelusuran tersebut. Angka ini lebih tinggi daripada laporan sebelumnya yang menyebut sekitar US$1,8 miliar. Perbedaan nilai tersebut dapat mencerminkan perkembangan pelacakan transaksi, identifikasi dompet tambahan, serta tindakan pembatasan yang dilakukan setelah informasi baru tersedia. Nilai yang diumumkan menggambarkan aset yang telah teridentifikasi dan dibekukan hingga saat ini, bukan berarti seluruh dana yang diduga terkait serangan telah ditemukan atau berhasil diamankan.

Perusahaan juga menyatakan jumlah aset yang dibekukan masih berpotensi bertambah. Binance terus menelusuri aliran dana dan berupaya mengamankan aset tambahan bersama aparat penegak hukum, penerbit stablecoin, serta perusahaan intelijen blockchain. Kerja sama tersebut dapat membantu menghubungkan transaksi lintas jaringan, mengenali alamat yang dicurigai, dan menyampaikan informasi kepada pihak yang memiliki kewenangan untuk mengambil tindakan. Namun, proses pelacakan aset digital dapat berlangsung bertahap karena dana mungkin berpindah melalui sejumlah dompet, layanan, atau jaringan blockchain.

Besarnya nilai yang telah dibekukan menunjukkan skala koordinasi yang diperlukan dalam penyelidikan ini, tetapi belum dengan sendirinya memastikan pemulihan dana atau menetapkan pihak yang bertanggung jawab. Pembekuan membatasi penggunaan aset tertentu selama proses pemeriksaan, sementara langkah berikutnya bergantung pada hasil investigasi dan prosedur hukum yang berlaku. Binance menyebut keterlibatan berbagai pihak sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengidentifikasi serta membatasi dana terkait dugaan serangan. Pembaruan mengenai jumlah akhir maupun status aset dapat berubah seiring bukti baru ditemukan dan tindakan tambahan diterapkan.

Dugaan serangan siber yang tengah ditelusuri Binance muncul di tengah sejumlah laporan pencurian aset kripto bernilai besar. Dalam kasus yang menjadi perhatian kali ini, aset senilai sekitar Rp50,3 triliun dilaporkan terpantau bergerak. Informasi tersebut menjadi konteks bagi penelusuran Binance, tetapi belum dengan sendirinya menetapkan siapa yang mengendalikan perpindahan aset, bagaimana aset itu diperoleh, atau apakah peristiwa tersebut berkaitan dengan pencurian. Karena itu, dugaan yang sedang diperiksa perlu dibedakan dari kasus lain yang telah dilaporkan di industri.

Pada September 2026, peretas dilaporkan mencuri sekitar US$388 juta dari bursa kripto Bitget. Laporan tersebut menggambarkan satu insiden yang melibatkan platform dan nilai kerugian tertentu. Sementara itu, pada April, serangan terhadap Drift Protocol dan Kelp DAO masing-masing menimbulkan kerugian sekitar US$285 juta dan US$292 juta. Kedua angka itu merujuk pada dua protokol berbeda, sehingga tidak tepat menggabungkannya seolah-olah berasal dari satu peristiwa. Rincian yang tersedia juga tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa metode atau pelaku dalam kasus-kasus tersebut sama dengan dugaan yang sedang diselidiki Binance.

Insiden besar lainnya terjadi pada Februari 2025, ketika peretas yang diduga berasal dari Korea Utara mencuri sekitar US$1,5 miliar dari Bybit. Nilai yang dilaporkan untuk kasus Bybit jauh berbeda dari angka yang disebut dalam laporan-laporan lain, tetapi besarnya kerugian saja tidak membuktikan adanya hubungan di kejadian tersebut. Setiap insiden memiliki platform, waktu, dan dugaan pelaku yang berbeda dalam informasi yang tersedia.

Baca juga: Dugaan Kekerasan di SMPN 18 Kota Malang: Polisi Telusuri Korban Lain | Penyelidikan KPK Terkait Dugaan Penyamanan Aset Bupati Bekasi