Dampak Karhutla Meluas: Kualitas Udara Berbahaya dan Ratusan Ribu Kasus ISPA

Dampak Karhutla Meluas: Kualitas Udara Berbahaya dan Ratusan Ribu Kasus ISPA

Kota Palangka Raya | Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa kualitas udara di sejumlah daerah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengkhawatirkan. Asap kebakaran yang menyelimuti kawasan tersebut berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama ketika kadar pencemaran mencapai tingkat yang dinilai berbahaya. Situasi ini menjadi perhatian karena paparan udara tercemar dapat dirasakan oleh warga dalam aktivitas sehari-hari, termasuk saat berada di luar rumah.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti, menyampaikan perkembangan tersebut dalam konferensi pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis, 22 Oktober 2026. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang dipaparkan, tujuh kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah tercatat berada dalam kategori berbahaya. Angka itu menunjukkan bahwa kondisi buruk tidak terbatas pada satu lokasi, melainkan meluas di sejumlah wilayah yang mengalami dampak karhutla.

Palangka Raya menjadi wilayah dengan indeks tertinggi, yakni 1.297. Setelah itu, Kabupaten Murung Raya mencatat nilai 722, sementara Kabupaten Barito Selatan berada pada angka 555. Ketiga angka tersebut menggambarkan tingkat pencemaran yang sangat serius menurut data yang disampaikan Kemenkes. Perbedaan nilai antardaerah juga menunjukkan bahwa paparan asap tidak seragam; warga di beberapa lokasi menghadapi kondisi udara yang lebih buruk dibandingkan wilayah lainnya.

ISPU digunakan untuk menyampaikan tingkat pencemaran udara kepada masyarakat dan membantu menggambarkan risiko kualitas udara pada waktu pengukuran. Ketika suatu daerah masuk kategori berbahaya, informasi tersebut menjadi dasar penting bagi warga dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun, angka yang disampaikan dalam konferensi pers merupakan gambaran kondisi pada saat pelaporan, sehingga pemantauan berkala tetap diperlukan untuk mengetahui perubahan kualitas udara seiring perkembangan kebakaran dan upaya penanganannya.

Paparan Kemenkes menegaskan bahwa dampak karhutla perlu ditangani bukan hanya sebagai persoalan kebakaran, tetapi juga sebagai ancaman terhadap lingkungan dan kesehatan publik. Data ISPU dari Kalimantan Tengah memberi gambaran konkret tentang beratnya pencemaran di sejumlah daerah. Masyarakat perlu mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan arahan dari otoritas kesehatan setempat, sementara kondisi di lapangan terus dipantau oleh instansi terkait.

Data yang disampaikan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kondisi kualitas udara berbahaya tidak hanya ditemukan di wilayah yang telah disebut sebelumnya. Sebaran tersebut juga mencakup sejumlah daerah di Sumatra Selatan dan Jambi. Informasi ini menggambarkan bahwa dampak karhutla dapat meluas melampaui satu kota atau kabupaten, sehingga pemantauan perlu memperhatikan kondisi di berbagai wilayah secara bersamaan. Meski demikian, angka indeks yang tersedia dalam laporan tidak boleh dianggap mewakili seluruh daerah di kedua provinsi. Setiap nilai merujuk pada informasi yang dicantumkan untuk lokasi tertentu, sementara kondisi udara dapat berbeda menurut tempat dan waktu pengukuran.

Di Sumatra Selatan, tiga kabupaten/kota tercatat masuk kategori berbahaya, yakni Kota Palembang, Kota Prabumulih, dan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Palembang menjadi daerah dengan indeks tertinggi di wilayah Sumatra Selatan yang disebutkan, yaitu 552. Angka tersebut menunjukkan tingkat kualitas udara yang sangat buruk menurut kategori dalam data yang dirujuk. Untuk Prabumulih dan PALI, informasi menyebut keduanya berada dalam kategori berbahaya, tetapi tidak mencantumkan nilai indeks masing-masing. Karena itu, tidak tepat untuk menyimpulkan urutan atau selisih tingkat pencemaran di ketiga daerah tanpa angka pendukung.

Di Provinsi Jambi, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tebo juga masuk dalam daftar wilayah dengan kualitas udara kategori berbahaya. Sumber yang dirujuk menyebut nilai 341 untuk wilayah tersebut, tetapi tidak memberikan rincian yang memastikan nilai itu secara terpisah untuk masing-masing kabupaten. Pembacaan informasi sebaiknya tetap mengikuti batas data yang tersedia dan tidak mengaitkan angka itu dengan kabupaten tertentu tanpa keterangan jelas. Sebaran temuan di Sumatra Selatan dan Jambi memperlihatkan pentingnya penyampaian informasi kualitas udara yang spesifik berdasarkan lokasi. Masyarakat dapat memantau pembaruan resmi untuk mengetahui kondisi terkini, sementara keterangan wilayah dan angka indeks perlu disampaikan secara cermat agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru mengenai luas maupun tingkat paparan asap.

Suyanti mengingatkan bahwa risiko kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan perlu diantisipasi secara serius, terutama ketika kualitas udara terus memburuk di wilayah yang mengalami karhutla paling parah. Pada kondisi tersebut, masyarakat dapat terpapar asap dalam kegiatan sehari-hari, baik saat berada di dalam maupun di luar rumah. Karena itu, perkembangan kualitas udara perlu diperhatikan dan langkah perlindungan perlu disesuaikan dengan kondisi setempat. Peringatan ini menekankan bahwa dampak tidak hanya berkaitan dengan rasa tidak nyaman sementara, tetapi juga menyangkut kesehatan warga yang berada di sekitar area terdampak, termasuk ketika asap masih menyelimuti permukiman dan aktivitas masyarakat berlangsung di berbagai titik kawasan tersebut.

Asap karhutla bukan sekadar kabut yang mengurangi jarak pandang. Kandungannya mencakup partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik lain. Campuran pencemar ini menjadi perhatian ketika konsentrasinya meningkat bersamaan dengan memburuknya mutu udara. Paparan asap dapat menimbulkan gangguan pada mata dan kulit, serta dampak sistemik pada tubuh. Oleh sebab itu, warga di wilayah terdampak perlu memahami bahwa kualitas udara yang berbahaya dapat membawa risiko kesehatan meskipun gejalanya tidak selalu terlihat dari kondisi langit atau bau asap saja. Peringatan Suyanti mendorong kewaspadaan terhadap paparan, terutama selama kebakaran berlangsung dan asap masih menyebar di lingkungan sekitar.

Perhatian khusus diperlukan bagi kelompok yang lebih rentan terhadap paparan asap, yaitu anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) juga termasuk kelompok yang perlu lebih . Selain itu, pekerja luar ruangan berpotensi menghadapi paparan saat menjalankan kegiatan kerja di tengah kualitas udara yang memburuk. Kondisi tersebut membuat pemantauan situasi dan perhatian terhadap risiko menjadi penting bagi individu maupun lingkungan kerja. Informasi mengenai mutu udara di wilayah terdampak dapat menjadi pertimbangan dalam mengantisipasi paparan, terutama bagi kelompok-kelompok tersebut. Peringatan ini menegaskan perlunya kewaspadaan kesehatan seiring meluasnya karhutla dan memburuknya kualitas udara di daerah yang paling terdampak.

Data Kementerian Kesehatan mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di tujuh wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama periode 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026. Angka kumulatif tersebut disampaikan Suyanti, yang juga melaporkan 4.522 kasus harian. Dengan demikian, jumlah yang tercatat mencakup akumulasi kasus sepanjang periode pemantauan, sedangkan angka harian menggambarkan kasus yang dilaporkan pada satu hari. Keduanya menunjukkan skala gangguan kesehatan yang perlu mendapat perhatian di tengah meluasnya karhutla dan penurunan kualitas udara.

Berdasarkan kelompok umur, terdapat 75.172 kasus pada anak berusia di bawah lima tahun atau balita. Sementara itu, sebanyak 258.298 kasus tercatat pada kelompok berusia di atas lima tahun. Rincian tersebut berjumlah 333.470 kasus, sesuai dengan total kumulatif yang disampaikan. Data ini memperlihatkan bahwa kasus tidak terbatas pada balita, meskipun kelompok usia dini kerap menjadi perhatian karena kerentanan mereka terhadap paparan asap dan gangguan pernapasan. Namun, angka yang tersedia tidak merinci tingkat keparahan, kebutuhan perawatan, ataupun kondisi kesehatan masing-masing pasien.

Jumlah tersebut merujuk pada tujuh wilayah karhutla menurut keterangan sumber. Nama wilayah tidak dirinci dalam bagian data kasus ini, sehingga tidak dapat dipastikan dari informasi tersebut daerah mana saja yang masuk dalam penghitungan.

Baca juga: Kondisi Kualitas Udara Jambi: Kabar Teranyar Tanggal 16 September 2026 | Peningkatan Kasus ISPA di Jakarta: Penjelasan dan Tindakan | Operasi Tangkap Tangan KPK di Bogor: 17 Tersangka dan Uang Ratusan Miliar