Jakarta | Suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tropis bagian tengah dan timur diproyeksikan meningkat tajam pada periode Oktober hingga Desember 2026. Kenaikan tersebut diperkirakan membawa temperatur laut ke tingkat tertinggi yang pernah tercatat, dengan penguatan El Nino menjadi inti perkembangan kondisi iklim tersebut. Berdasarkan proyeksi, fenomena ini akan terus menguat sepanjang akhir tahun dan mencapai puncaknya pada Desember 2026.
El Nino yang semakin kuat dapat mengubah pola cuaca dalam skala luas. Perubahan suhu laut di Pasifik tropis berpotensi memengaruhi sirkulasi atmosfer, sehingga pola angin, pembentukan awan, dan distribusi hujan dapat bergeser dari kondisi yang biasanya berlangsung. Dampaknya, sebagian besar belahan bumi diperkirakan mengalami suhu di atas rata-rata, meskipun intensitas dan bentuk pengaruhnya dapat berbeda antarwilayah.
Pergeseran curah hujan juga menjadi salah satu konsekuensi utama yang perlu diperhatikan. Perubahan tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan di kawasan tertentu, sementara wilayah lain berpotensi menghadapi hujan berlebihan dan banjir parah. Ketidakstabilan pola cuaca semacam ini membuat perencanaan dan pengelolaan sumber daya menjadi lebih menantang, terutama ketika kondisi berlangsung selama beberapa bulan.
Penguatan El Nino tidak hanya berkaitan dengan perubahan atmosfer dan laut, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lintas sektor. Perekonomian dapat menghadapi tekanan akibat gangguan terhadap aktivitas dan sumber daya, sedangkan ekosistem harus beradaptasi terhadap perubahan suhu serta ketersediaan air. Masyarakat di berbagai wilayah dunia pun dapat terdampak melalui perubahan kondisi lingkungan dan meningkatnya risiko bencana terkait cuaca. Karena itu, proyeksi suhu Pasifik pada akhir 2026 menjadi indikator penting untuk memantau perkembangan iklim global dan menyiapkan langkah antisipasi yang sesuai.
Pembaruan iklim musiman global bulanan dari World Meteorological Organization (WMO) menunjukkan bahwa El Nino diperkirakan terus menguat sebelum mencapai puncak proyeksi pada Desember 2026. Informasi tersebut menempatkan perkembangan suhu permukaan laut dan dampaknya terhadap pola cuaca global dalam pemantauan yang lebih ketat, terutama karena penguatan fenomena ini berlangsung relatif cepat.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo menyatakan bahwa El Nino telah terbentuk dengan sangat kuat dan masih menguat secara cepat. Berdasarkan proyeksi terbaru, terdapat kemungkinan mendekati 100 persen bahwa kondisi ini akan bertahan hingga Februari 2027. WMO juga memperkirakan fenomena tersebut berpeluang menjadi salah satu peristiwa El Nino terkuat setidaknya sejak pencatatan modern dimulai pada 1950.
Tingkat keyakinan yang tinggi itu tidak bersumber dari satu model prakiraan. Proyeksi disusun melalui konsensus 13 pusat pemantauan nasional dan internasional yang menganalisis berbagai indikator laut dan atmosfer. Setiap lembaga menggunakan sistem pemodelan serta metode pengamatan yang dapat berbeda, sehingga penyelarasan hasilnya membantu menghasilkan gambaran yang lebih kuat mengenai arah perkembangan fenomena iklim tersebut.
Dasar analisisnya berasal dari pertukaran informasi secara real-time yang dikoordinasikan WMO. Data dikumpulkan dari pelampung laut, satelit, dan radiosonde, kemudian dipadukan dengan pengamatan permukaan serta hasil pemodelan atmosfer dan samudra. Rangkaian informasi ini memungkinkan para ahli mendeteksi perubahan suhu, tekanan, angin, dan kelembapan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pembaruan bulanan tersebut dapat memberikan sinyal lebih cepat mengenai potensi dampak regional, termasuk perubahan pola hujan dan peningkatan risiko cuaca ekstrem.
Pembaruan iklim musiman global ini melengkapi laporan El Nino/La Nina WMO yang diterbitkan setiap kuartal. Frekuensi pembaruan yang lebih sering membantu pemerintah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, dan berbagai bidang lainnya menyesuaikan langkah antisipasi berdasarkan perkembangan terbaru.
Dalam Global Heat Forum di Bangkok, Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Celeste Saulo menjelaskan bahwa penguatan El Nino tidak berarti planet menciptakan sumber panas baru. Fenomena ini terutama berkaitan dengan perpindahan energi yang telah tersimpan di laut. Ketika pola atmosfer dan samudra berubah, panas dari lapisan bawah permukaan laut dapat bergerak ke permukaan, kemudian dilepaskan ke atmosfer. Proses tersebut meningkatkan suhu udara global dan mengubah pola cuaca di berbagai wilayah.
Mekanisme pelepasan panas itu membantu menjelaskan mengapa peristiwa El Nino yang kuat kerap bertepatan dengan tahun-tahun terpanas yang pernah diukur. Tahun 2024 menjadi salah satu contoh penting. Pengaruh El Nino mendorong pelepasan panas laut, sementara pemanasan jangka panjang akibat konsentrasi gas rumah kaca membuat latar belakang suhu global sudah berada pada tingkat yang sangat tinggi. Kedua faktor tersebut dapat bekerja bersamaan sehingga catatan suhu terdorong lebih jauh dibandingkan kondisi normal.
Saulo menekankan bahwa lautan tempat panas itu tersimpan kini berada dalam kondisi paling hangat yang pernah diukur. Dengan kandungan panas yang lebih besar, jumlah energi yang berpotensi dilepaskan ke permukaan dan atmosfer juga meningkat. Situasi ini tidak menjadikan setiap dampak El Nino identik, tetapi memperbesar kemungkinan terjadinya anomali suhu yang signifikan ketika sirkulasi laut dan atmosfer mendukung pelepasan energi tersebut.
Untuk menilai perkembangan kondisi itu, WMO memantau sejumlah pendorong iklim berskala besar. Selain El Nino-Southern Oscillation (ENSO), perhatian diarahkan pada Indian Ocean Dipole (IOD) dan suhu permukaan laut di Atlantik tropis. Ketiganya dapat memengaruhi distribusi suhu serta curah hujan musiman di berbagai kawasan. Pemantauan bersama terhadap indikator-indikator tersebut membantu ilmuwan memperkirakan bagaimana panas laut, perubahan atmosfer, dan pola hujan dapat berkembang dalam beberapa bulan berikutnya.
Perkembangan El Nino terlihat semakin kuat melalui indeks Nino 3.4, yang mengukur anomali suhu permukaan laut di kawasan ekuator Pasifik tengah hingga timur. Indikator ini menjadi salah satu acuan utama untuk menilai intensitas fenomena tersebut karena perubahan suhu di wilayah itu berkaitan erat dengan dinamika atmosfer global. Sepanjang pertengahan 2026, pemanasan laut menunjukkan peningkatan yang konsisten.
Rata-rata anomali suhu permukaan laut pada indeks Nino 3.4 tercatat sekitar 1,6 derajat Celsius di atas kondisi normal pada Juni 2026. Angka itu kemudian meningkat menjadi 2,5 derajat Celsius pada Agustus. Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa El Nino tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menuju fase yang lebih intens ketika memasuki paruh kedua tahun.
Untuk periode Oktober hingga Desember 2026, proyeksi menunjukkan rata-rata anomali musiman sekitar 3,7 derajat Celsius di atas normal. Puncak pemanasan diperkirakan berlangsung sekitar Desember. Jika proyeksi ini terealisasi, nilainya akan melampaui rekor sebelumnya, yaitu 2,6 derajat Celsius yang tercatat pada periode November 2015 hingga Januari 2016. Dengan demikian, kondisi tersebut berpotensi menjadi anomali suhu laut tertinggi sejak pengamatan indeks dimulai.
Penguatan El Nino juga berlangsung bersamaan dengan perubahan di cekungan samudra lain. Indian Ocean Dipole atau IOD positif di Samudra Hindia diperkirakan mencapai puncak pada Oktober 2026, kemudian melemah secara perlahan. Untuk periode Oktober-Desember, anomali musiman IOD diproyeksikan berada di sekitar 0,5 derajat Celsius. Meskipun lebih moderat dibandingkan pemanasan di Pasifik, pola ini tetap dapat memengaruhi distribusi hujan dan sirkulasi atmosfer di kawasan sekitarnya.
Di Samudra Atlantik, suhu permukaan laut di cekungan khatulistiwa diproyeksikan tetap berada di atas batas normal. Keberadaan anomali hangat di tiga cekungan samudra tersebut dapat memperkuat kompleksitas respons iklim global, sebab masing-masing kawasan berinteraksi dengan atmosfer dan memengaruhi pola cuaca lintas wilayah.
Baca juga: Sports and Cultural Day Jadi Puncak Kebersamaan Prajurit Multinasional SGS 2026 | Sambut HUT Ke-81 TNI Tahun 2026, Kodim 1714/Puncak Jaya Bersama Rakyat Menanam Pohon Demi Masa Depan Baik | Rupiah Menguat ke Level Rp17.562 per Dolar AS
