Gempa M 4,9 di Nagekeo Terasa hingga Maumere, BMKG Sampaikan Data Awal

Gempa Magnitudo 3,1 Tercatat di Mamuju Tengah, Berpusat di Darat

Kabupaten Nagekeo | Gempa bumi bermagnitudo 4,9 tercatat mengguncang wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Senin, 26 Oktober 2026. Berdasarkan informasi awal yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kejadian tersebut berlangsung pada pukul 11.53 WIB. Data itu menjadi keterangan utama mengenai waktu dan wilayah yang terkait dengan peristiwa gempa tersebut.

Mbay merupakan wilayah yang disebut dalam informasi BMKG sebagai lokasi kejadian di Kabupaten Nagekeo. Kabupaten ini berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam laporan awalnya, BMKG mencatat kekuatan gempa sebesar magnitudo 4,9. Penyebutan magnitudo tersebut merujuk pada ukuran kekuatan gempa sebagaimana tercantum dalam data lembaga tersebut, bukan keterangan mengenai keadaan yang dirasakan setiap orang di lokasi berbeda.

Informasi yang tersedia juga menyebutkan guncangan terasa hingga Maumere. Keterangan ini menempatkan Maumere sebagai wilayah lain yang dilaporkan merasakan getaran, selain Mbay sebagai wilayah kejadian yang dicantumkan. Waktu kejadian dalam data BMKG menggunakan WIB, sehingga pencatatan pukul 11.53 WIB menjadi penanda waktu yang disampaikan dalam laporan awal tersebut.

Dengan demikian, pokok informasi BMKG mengenai peristiwa ini mencakup magnitudo 4,9, wilayah Mbay di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta waktu kejadian pada Senin, 26 Oktober 2026, pukul 11.53 WIB. Laporan awal turut menyebut guncangan terasa hingga Maumere. Rincian tersebut disampaikan sebagai fakta dasar mengenai gempa dan tidak dengan sendirinya menjelaskan hal lain di luar data yang tersedia. Tidak ada dugaan mengenai penyebab gempa yang perlu ditambahkan pada uraian ini. Keterangan mengenai lokasi, besaran magnitudo, tanggal, dan waktu merujuk pada informasi BMKG sebagaimana tercatat dalam data awal. Pembaca dapat memahami peristiwa ini melalui unsur-unsur tersebut tanpa mencampurkannya dengan perkiraan mengenai kondisi di wilayah terkait. Penyebutan Mbay dan Maumere juga membedakan wilayah kejadian dari wilayah yang dilaporkan merasakan guncangan.

Berdasarkan data awal yang disampaikan BMKG, pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer di timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. BMKG mencatat gempa tersebut memiliki kedalaman 13 kilometer. Keterangan ini menjelaskan posisi sumber gempa menurut pengukuran, bukan lokasi permukiman atau kota tempat getarannya kemudian dirasakan. Mbay digunakan sebagai titik acuan untuk menerangkan arah dan jarak pusat gempa. Karena itu, penyebutan Mbay dalam informasi lokasi tidak berarti pusat gempa berada di dalam kota tersebut. Data mengenai jarak, arah, dan kedalaman merupakan informasi awal yang membantu menggambarkan letak sumber gempa secara geografis kepada masyarakat.

Lokasi pusat gempa dan wilayah yang melaporkan getaran terasa merupakan dua hal berbeda. Pusat gempa menunjukkan lokasi sumber gempa yang dihitung, sedangkan laporan rasa getaran berasal dari orang-orang di berbagai tempat. Dalam peristiwa ini, getaran dilaporkan terasa hingga Maumere, sebagaimana disebutkan dalam informasi mengenai gempa. Maumere bukan lokasi pusat gempa yang dicantumkan BMKG; letaknya menjadi salah satu wilayah yang menerima getaran dan melaporkannya. Perbedaan tersebut penting agar keterangan “terasa hingga Maumere” tidak disalahartikan sebagai perpindahan atau perubahan lokasi sumber gempa. Jarak dari pusat gempa ke wilayah yang merasakan getaran juga tidak mengubah keterangan posisi pusatnya.

Kedalaman 13 kilometer merujuk pada jarak sumber gempa dari permukaan bumi menurut data awal, sementara keterangan 30 kilometer timur laut Mbay menunjukkan jarak mendatar dan arah lokasi pusatnya terhadap kota tersebut. Kedua angka itu menerangkan aspek yang berbeda dan sebaiknya dibaca bersama tanpa mencampuradukkan satu sama lain. Data awal BMKG dapat digunakan untuk memahami di mana gempa berpusat dan seberapa dalam sumbernya tercatat. Namun, informasi posisi dan kedalaman saja tidak cukup untuk menyimpulkan tingkat risiko, dampak, ataupun kondisi di setiap wilayah. Untuk perkembangan informasi, masyarakat dapat merujuk pada pembaruan resmi BMKG, termasuk apabila ada penyesuaian terhadap parameter gempa yang dicatat pada laporan awal tersebut.

BMKG mencantumkan laporan intensitas gempa yang dirasakan di tiga wilayah, yaitu Bajawa, Maumere, dan Ruteng. Berdasarkan data tersebut, getaran tercatat pada tingkat III MMI di Bajawa dan Maumere, sedangkan di Ruteng berada pada rentang II–III MMI. Angka-angka ini menunjukkan tingkat intensitas yang dilaporkan untuk masing-masing wilayah, bukan ukuran magnitudo gempa.

MMI merupakan singkatan dari Modified Mercalli Intensity, skala yang digunakan untuk menggambarkan intensitas guncangan berdasarkan dampak yang dirasakan atau diamati di suatu lokasi. Karena itu, nilai intensitas dapat berbeda satu wilayah dan wilayah lainnya. Dalam laporan ini, BMKG menyampaikan angka khusus untuk Bajawa dan Maumere, serta rentang tingkat intensitas untuk Ruteng.

Keterangan tersebut perlu dipahami sebagai informasi mengenai gempa yang dirasakan di lokasi-lokasi tersebut. Data yang tersedia menyebutkan tingkat III MMI di Bajawa, III MMI di Maumere, dan II–III MMI di Ruteng. Tidak ada rincian tambahan dalam informasi ini mengenai pengalaman warga, kondisi bangunan, ataupun kerusakan. Oleh sebab itu, angka intensitas tidak seharusnya ditafsirkan sebagai bukti bahwa dampak tertentu terjadi di wilayah-wilayah tersebut.

Perbedaan magnitudo dan intensitas juga penting saat membaca laporan gempa. Magnitudo merujuk pada ukuran energi gempa, sementara intensitas menjelaskan tingkat guncangan yang dirasakan di tempat tertentu. Dengan demikian, informasi intensitas dari BMKG memberikan konteks mengenai lokasi yang melaporkan getaran, tetapi tidak menggantikan data magnitudo maupun keterangan lain tentang kondisi setelah gempa.

Pembaca dapat menggunakan laporan ini untuk mengetahui wilayah yang disebut merasakan guncangan berdasarkan keterangan BMKG. Untuk memperoleh pembaruan, termasuk perubahan atau tambahan informasi resmi, masyarakat sebaiknya merujuk pada kanal dan rilis BMKG. Data yang dicantumkan di sini terbatas pada tiga laporan intensitas tersebut, sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan tingkat dampak di luar informasi yang telah disampaikan.

BMKG menjelaskan bahwa informasi awal mengenai gempa disampaikan dengan mengutamakan kecepatan agar masyarakat dan pihak terkait dapat segera mengetahui kejadian tersebut. Karena itu, data yang muncul pada tahap pertama perlu dipahami sebagai hasil pengolahan sementara, bukan sebagai gambaran akhir yang sepenuhnya pasti. Penyampaian cepat menjadi bagian penting dalam komunikasi kebencanaan, tetapi informasi awal tetap dapat diperbarui setelah pemeriksaan lebih lanjut dilakukan.

Menurut keterangan BMKG, hasil pengolahan data pada awal penyampaian belum stabil. Nilai dan rincian teknis gempa dapat mengalami perubahan seiring masuknya data tambahan serta semakin lengkapnya informasi yang dianalisis. Perubahan tersebut dapat terjadi ketika proses verifikasi dan pengolahan masih berlangsung, sehingga pembaruan berikutnya mungkin memuat rincian yang berbeda dari keterangan pertama. Masyarakat disarankan merujuk pada informasi resmi terbaru dari BMKG untuk mengikuti perkembangan data, dan tidak menjadikan angka awal sebagai informasi final sebelum ada pembaruan.

Dalam situasi seperti ini, perbedaan keterangan awal dan pembaruan bukan dengan sendirinya berarti telah terjadi kekeliruan. Data seismik perlu dihimpun dan ditelaah berdasarkan informasi yang tersedia, sementara kelengkapan data dapat berkembang setelah gempa terjadi. Oleh sebab itu, publik sebaiknya mencermati waktu penerbitan setiap informasi serta memperhatikan apakah BMKG telah menyampaikan pembaruan resmi. Keterangan awal juga perlu dibedakan dari laporan mengenai dampak di lapangan, karena keduanya merupakan informasi yang dapat diperoleh melalui proses dan sumber berbeda. Pada saat informasi awal tersebut disampaikan, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai dampak gempa.