Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pada Selasa, 3 November 2026, di level 4.904,3. Pada penutupan tersebut, indeks tercatat turun 192,54 poin atau setara dengan 3,78 persen. Pergerakan ini membawa IHSG kembali ke bawah ambang 5.000, sehingga level penutupan hari itu berada pada kisaran 4.900. Angka penurunan dan posisi akhir tersebut menjadi gambaran utama hasil perdagangan pada hari Selasa. Dengan demikian, perdagangan ditutup dengan indeks tidak lagi bertahan di atas level 5.000.
Selisih 192,54 poin menunjukkan penurunan yang dialami IHSG sepanjang perdagangan yang berakhir pada hari tersebut. Secara persentase, pelemahan sebesar 3,78 persen mencerminkan perubahan indeks dibandingkan posisi acuannya. Kedua ukuran itu memperlihatkan besaran penurunan dalam bentuk poin maupun persentase, sementara angka 4.904,3 menegaskan posisi indeks saat sesi berakhir. Ketiganya menjadi data utama untuk menggambarkan penutupan pasar saham Indonesia pada Selasa, 3 November 2026. Tidak ada alasan khusus atas penurunan yang dapat disimpulkan hanya dari angka penutupan tersebut.
Fakta bahwa IHSG ditutup di bawah 5.000 menjadi penanda penting dalam membaca hasil sesi ini. Batas tersebut tidak terlewati pada akhir perdagangan, karena indeks berhenti di level 4.904,3. Dengan penurunan 192,54 poin atau 3,78 persen, posisi akhir hari itu berbeda dari sesi yang berakhir di atas angka 5.000. Uraian ini terbatas pada catatan penutupan, besaran perubahan indeks, dan level yang dicapai. Data tersebut merangkum inti peristiwa perdagangan hari Selasa tanpa menambahkan penjelasan mengenai faktor pemicu atau perkembangan lain yang tidak tercantum dalam informasi ini.
Perdagangan saham dibuka dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada awal sesi, indeks naik 29,7 poin ke posisi 5.126,53. Pergerakan tersebut menempatkan IHSG di zona hijau saat pembukaan, sebelum arah perdagangan berbalik pada perkembangan sesi berikutnya. Data pembukaan ini menjadi titik awal kronologi perdagangan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan perubahan arah indeks.
Setelah sempat menguat, IHSG bergerak melemah dan memasuki zona merah. Tekanan terhadap indeks kemudian bertambah seiring berlangsungnya perdagangan, sehingga koreksi yang semula terjadi setelah pembukaan semakin dalam. Meski indeks masih sempat mencatat level tertinggi 5.143,58, pergerakan selanjutnya membawa IHSG menjauh dari posisi tersebut. Rentang level tertinggi dan terendah memperlihatkan perubahan indeks yang cukup lebar selama sesi.
Dalam perdagangan yang sama, IHSG sempat turun hingga menyentuh level terendah 4.895,6. Posisi ini berada jauh di bawah level pembukaan dan menunjukkan bahwa pelemahan berlangsung lebih dalam menjelang akhir sesi. Indeks kemudian ditutup di sekitar 4.904, sehingga berakhir dekat dengan titik terendah hari itu. Dengan demikian, penguatan pada pembukaan tidak bertahan hingga penutupan.
Secara kronologis, pergerakan indeks berlangsung dalam tiga tahap: dibuka menguat, berbalik melemah, lalu mengalami koreksi yang semakin tajam sampai menjelang penutupan. Selisih pembukaan di 5.126,53 dan penutupan di sekitar 4.904 menegaskan besarnya penurunan selama sesi. Sementara itu, pencatatan level tertinggi di 5.143,58 dan terendah di 4.895,6 menggambarkan batas pergerakan IHSG sepanjang hari perdagangan.
Angka-angka tersebut merangkum arah dan rentang pergerakan indeks tanpa menyimpulkan faktor penyebabnya. Dari data sesi yang tersedia, hal yang dapat dipastikan adalah bahwa IHSG memulai perdagangan dengan kenaikan, tetapi kemudian lebih banyak bergerak di zona merah dan menutup hari jauh di bawah level pembukaan. Perjalanan dari penguatan awal menuju koreksi dalam menjadi gambaran utama perdagangan pada hari tersebut.
Aktivitas perdagangan saham berlangsung dengan nilai transaksi mencapai Rp11,28 triliun. Sepanjang sesi, investor memperdagangkan 24,01 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 1,38 juta kali. Angka tersebut menggambarkan besarnya aktivitas jual beli di pasar pada saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok ke level 4.904. Nilai transaksi, volume, dan frekuensi mencatat sisi aktivitas pasar, sementara pergerakan mayoritas saham menunjukkan tekanan yang dominan pada perdagangan hari itu.
Tekanan terlihat dari jumlah saham yang berakhir melemah, yaitu 717 saham. Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan saham yang menguat sebanyak 69 saham, sedangkan 177 saham lainnya stagnan. Perbandingan tersebut memperlihatkan bahwa pelemahan tidak hanya tercermin pada IHSG, tetapi juga tersebar luas di saham-saham yang diperdagangkan. Dengan saham melemah jauh melampaui saham yang naik, sentimen negatif menjadi gambaran utama pergerakan pasar selama sesi tersebut.
Sejalan dengan kondisi tersebut, indeks-indeks unggulan juga mencatat penurunan. Besaran koreksinya berada dalam kisaran sekitar 3,57 hingga 4,14 persen. Rentang penurunan ini menegaskan bahwa tekanan perdagangan menjangkau lebih dari satu kelompok saham unggulan, meski angka yang tersedia tidak merinci pergerakan tiap indeks secara terpisah. Kombinasi pelemahan IHSG, dominasi saham turun, dan koreksi indeks unggulan membentuk gambaran pasar yang melemah secara luas. Di tengah nilai transaksi Rp11,28 triliun dan volume perdagangan 24,01 miliar saham, tingginya aktivitas tidak beriringan dengan penguatan mayoritas harga. Data tersebut menjadi konteks penting untuk membaca sesi perdagangan: pasar tetap aktif, tetapi arah pergerakannya didominasi penurunan. Frekuensi transaksi 1,38 juta kali turut menunjukkan bahwa pertukaran saham berlangsung intensif, sementara distribusi saham berdasarkan perubahan harga memperlihatkan tekanan jual yang lebih luas daripada penguatan. Dengan demikian, angka transaksi dan jumlah saham yang melemah sama-sama memberikan gambaran mengenai dinamika perdagangan pada hari tersebut.
Di tengah pelemahan mayoritas saham, sejumlah saham tetap mencatat kenaikan. Data yang tersedia menunjukkan empat kode saham dengan persentase penguatan terbesar dalam daftar ini, yaitu TMP0, MKNT, AIMS, dan BSWD. Masing-masing mencatat kenaikan dengan besaran berbeda, mulai dari 19,81 persen hingga 34,48 persen.
TMP0 berada di posisi teratas dengan kenaikan 34,48 persen. Setelah itu, MKNT menguat 28,57 persen. AIMS mencatat kenaikan 24,49 persen, sedangkan BSWD naik 19,81 persen. Angka-angka tersebut menggambarkan perubahan masing-masing saham sebagaimana tercantum dalam bahan sumber.
Urutan berdasarkan persentase menempatkan TMP0 sebagai saham dengan kenaikan terbesar di keempat kode tersebut. MKNT berada pada urutan berikutnya, diikuti AIMS dan BSWD. Perbedaan persentase penguatan antarsaham tercermin dalam angka yang dilaporkan: TMP0 naik 34,48 persen, MKNT 28,57 persen, AIMS 24,49 persen, dan BSWD 19,81 persen.
Keempat saham ini menjadi bagian dari catatan pasar ketika mayoritas saham melemah. Meski kondisi pasar secara umum bergerak turun, TMP0, MKNT, AIMS, dan BSWD tercatat menguat. Rincian tersebut menyajikan kontras pelemahan mayoritas saham dan kenaikan pada empat kode yang disebutkan, tanpa mengubah gambaran persentase masing-masing.
Dengan demikian, daftar saham yang tetap menguat mencakup TMP0 dengan kenaikan 34,48 persen, MKNT sebesar 28,57 persen, AIMS sebesar 24,49 persen, serta BSWD sebesar 19,81 persen. Penyebutan kode dan persentase ini merangkum penguatan yang tercatat, sekaligus melengkapi gambaran pergerakan saham pada sesi tersebut. Tidak ada nama perusahaan maupun keterangan tambahan yang disertakan dalam rincian ini; fokusnya hanya pada kode saham dan persentase kenaikan yang tersedia.
41 kunjungan