ITB dan Danantara Satukan Riset, Investasi, dan Pendidikan untuk Industri Strategis

ITB dan Danantara Satukan Riset, Investasi, dan Pendidikan untuk Industri Strategis

Bandung | Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menjalin kerja sama strategis untuk menghubungkan riset perguruan tinggi, investasi industri, dan pendidikan dengan agenda pembangunan nasional. Kesepakatan ini menempatkan kepakaran akademik dan fasilitas penelitian sebagai bagian dari upaya menjawab kebutuhan pengembangan industri strategis. Melalui hubungan tersebut, kegiatan riset diharapkan dapat terhubung lebih erat dengan ekosistem pembiayaan dan kebutuhan penerapan teknologi di industri.

Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menyampaikan bahwa kerja sama ini bertujuan menjembatani kepakaran akademik serta fasilitas laboratorium perguruan tinggi dengan ekosistem pembiayaan Danantara. Jembatan tersebut penting agar hasil penelitian tidak berhenti pada tahap kajian atau pengembangan di lingkungan kampus. Dengan adanya keterhubungan kemampuan riset dan dukungan investasi, penelitian berpeluang dikembangkan lebih lanjut menjadi teknologi terapan yang dapat digunakan dalam skala industri.

Hubungan riset, pembiayaan, dan penerapan industri menjadi inti dari kolaborasi ini. Laboratorium dan keahlian akademik menyediakan landasan untuk menghasilkan pengetahuan serta teknologi, sementara keterkaitan dengan ekosistem investasi dapat mendukung proses pengembangan menuju pemanfaatan yang lebih luas. Sasaran yang disampaikan adalah mendorong hasil penelitian menjadi teknologi terapan berskala industri dan bernilai tambah tinggi. Dengan demikian, kerja sama ITB dan Danantara diarahkan untuk mempertemukan kapasitas pendidikan dan penelitian dengan kebutuhan pengembangan industri strategis, sekaligus mengaitkannya dengan pembangunan nasional. Kerangka ini juga menegaskan peran pendidikan tinggi dalam menyediakan kepakaran dan fasilitas riset yang dapat dihubungkan dengan pembiayaan, sehingga hasil penelitian memiliki jalur pengembangan menuju penerapan industri.

Kerja sama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Danantara ditandai dengan penandatanganan dua nota kesepahaman dalam agenda Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026. Penandatanganan berlangsung di sebuah hotel di Jakarta pada Selasa, 27 Oktober. Kedua dokumen tersebut menjadi landasan bagi kolaborasi yang mencakup pengembangan teknologi, hilirisasi, pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Ruang lingkup yang saling melengkapi itu menunjukkan bahwa kemitraan diarahkan untuk menghubungkan kapasitas riset perguruan tinggi dengan kebutuhan pengembangan industri strategis.

Nota kesepahaman pertama berfokus pada pengembangan teknologi dan hilirisasi. Dokumen ini ditandatangani oleh Tatacipta Dirgantara bersama Chief Technology Officer (CTO) Danantara Indonesia, Sigit Puji Santosa. Fokus tersebut mencerminkan pentingnya membawa hasil pengembangan teknologi lebih dekat kepada penerapan dan pemanfaatan di sektor industri. Dengan kerangka kerja sama yang disepakati, kedua pihak memiliki dasar untuk menjajaki kegiatan yang mendukung proses tersebut, sekaligus memperkuat hubungan kemampuan akademik dan agenda investasi teknologi.

Nota kesepahaman lainnya mencakup bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dokumen ini ditandatangani oleh Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB, Lavi Rizki Zuhal, bersama Managing Director Strategic Technology Initiatives BPI Danantara, Ricardo Irwan Rei. Cakupan yang lebih luas ini membuka ruang kolaborasi tidak hanya dalam kegiatan riset, tetapi juga dalam pengembangan pendidikan dan kontribusi kepada masyarakat. Keterlibatan para perwakilan dari kedua institusi pada masing-masing dokumen menegaskan bahwa kerja sama disusun melalui jalur yang sesuai dengan bidang tanggung jawabnya.

Penandatanganan dua nota kesepahaman dalam satu forum memperlihatkan adanya upaya untuk membangun kemitraan dengan beberapa dimensi sekaligus. Pengembangan teknologi dan hilirisasi ditempatkan berdampingan dengan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Melalui kesepakatan ini, ITB dan Danantara menetapkan kerangka awal bagi koordinasi yang dapat menghubungkan riset, inisiatif teknologi, dan kebutuhan industri strategis. DTIIF 2026 menjadi kesempatan bagi kedua pihak untuk meresmikan landasan kolaborasi tersebut, dengan rincian penandatangan yang mewakili masing-masing fokus kerja sama.

Agenda teknis kolaborasi ITB dan Danantara mencakup sejumlah bidang yang dapat mendukung pengembangan industri strategis. Ruang lingkupnya meliputi riset dan pengembangan teknologi secara terintegrasi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta penyusunan kajian strategis sebagai bahan pertimbangan. Kerja sama juga diarahkan pada pemanfaatan fasilitas laboratorium dan pusat penelitian secara efisien, disertai pertukaran pengetahuan melalui forum ilmiah, lokakarya, dan seminar. Rincian tersebut menggambarkan cakupan kolaborasi yang dibahas, bukan penetapan bahwa setiap bidang telah memiliki proyek khusus.

Kelompok pertama berhubungan dengan energi, mineral, dan logam strategis. Riset pada ranah ini dapat mendukung upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan hasil tambang, lain melalui pengembangan teknologi, analisis rantai proses, serta kajian yang relevan bagi kebutuhan industri. Keterlibatan keahlian akademik dan pemangku kepentingan dapat membantu mengidentifikasi peluang sekaligus tantangan teknis, ekonomi, dan keberlanjutan. Arah kegiatan konkretnya tetap bergantung pada kebutuhan dan kesepakatan bersama.

Kelompok berikutnya mencakup kecerdasan buatan dan infrastruktur digital, serta semikonduktor, material maju, rantai pasok komponen elektronik, dan manufaktur berbasis teknologi. Bidang-bidang ini menuntut dukungan riset lintas disiplin, ketersediaan talenta terampil, dan pemahaman terhadap kebutuhan industri. Pertukaran pengetahuan dapat membuka ruang untuk membahas perkembangan teknologi, kebutuhan kompetensi, maupun kemungkinan pemanfaatan fasilitas penelitian yang tersedia, tanpa mengandaikan adanya program tertentu yang telah berjalan.

Cakupan lainnya meliputi modernisasi produksi, bioindustri, transportasi, dan kesehatan. Penguatan kapasitas talenta berdaya saing global menjadi unsur penting agar pengetahuan dan kemampuan teknis dapat mengikuti perubahan pada sektor-sektor tersebut. Forum ilmiah, lokakarya, dan seminar dapat menjadi sarana untuk mempertemukan peneliti, praktisi, serta pemangku kepentingan dalam membahas isu dan peluang. Dengan demikian, agenda kolaborasi menghubungkan riset, pendidikan, fasilitas, dan kajian strategis pada empat kelompok sektor prioritas, sementara bentuk kegiatan spesifik dapat dirumuskan sesuai kebutuhan bersama.

Hasil penelitian dan kajian akademis Institut Teknologi Bandung (ITB) direncanakan menjadi salah satu landasan bagi Danantara dalam menilai peluang investasi dan merancang pengembangan teknologi untuk industri strategis nasional. Pemanfaatan pengetahuan dari kampus diharapkan membantu memperkuat kualitas analisis, sehingga keputusan investasi tidak hanya mempertimbangkan aspek finansial, tetapi juga ditopang pemahaman ilmiah mengenai kebutuhan, kapasitas, dan prospek teknologi di dalam negeri. Dengan demikian, riset dapat berperan sejak tahap perencanaan, bukan hanya setelah suatu proyek atau teknologi dikembangkan.

Kolaborasi tersebut membuka ruang agar temuan ilmiah, data, serta keahlian para peneliti dapat diterjemahkan menjadi masukan yang relevan bagi pengambilan keputusan. Kajian akademis dapat membantu mengidentifikasi tantangan teknis, peluang pengembangan, dan kebutuhan industri, sekaligus menyediakan dasar untuk mempertimbangkan dampak investasi dalam jangka panjang. Bagi pengembangan sektor strategis, pendekatan berbasis bukti juga berpotensi mendorong keterhubungan yang lebih erat penelitian, kebutuhan industri, dan arah pembangunan nasional. Tatacipta menyatakan bahwa langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dan perguruan tinggi untuk memperkuat kedaulatan teknologi Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan riset agar dapat mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus membangun kemandirian bangsa.

Kerja sama itu berlangsung dalam konteks forum DTIIF 2026, yang mempertemukan unsur pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), investor global, pelaku industri, perguruan tinggi, serta lembaga riset. Pertemuan lintas sektor tersebut menyediakan ruang dialog mengenai peluang dan tantangan investasi, termasuk bagaimana pengetahuan akademis dapat berkontribusi terhadap pengembangan teknologi industri strategis. Keterlibatan berbagai pihak memungkinkan kebutuhan industri dan pertimbangan investasi dibahas bersama dengan kapasitas penelitian nasional. Penandatanganan kerja sama disaksikan sejumlah peneliti ITB, yaitu Husna Nugrahapraja, Rindia Maharani Putri, Fenny Martha Dwivany, Gabriella Alodia, Yazdi Ibrahim Jenie, dan Intan Taufik. Kehadiran para peneliti itu menegaskan peran komunitas akademis dalam mendukung pemanfaatan riset untuk kebijakan dan investasi, serta memperkuat jembatan pengetahuan ilmiah dan agenda pembangunan industri Indonesia.

Baca juga: Investasi Strategis untuk Meningkatkan Ketahanan Siber di Indonesia | Infrastruktur Kecerdasan Buatan: Langkah Strategis Telkom dan Neutradc | Kolaborasi Strategis Bank BJB dan MNC Finance dalam Pembiayaan Kendaraan