KABUPATEN TANGERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Musim kemarau panjang berdampak langsung pada kehidupan warga Desa Cukanggalih, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Banten. Persediaan air yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari semakin sulit diperoleh. Bagi masyarakat, air bukan hanya diperlukan untuk minum, tetapi juga untuk memasak, membersihkan diri, mencuci, serta menjalankan berbagai kegiatan rumah tangga. Ketika akses terhadap air bersih terbatas, aktivitas harian warga ikut terganggu.
Kesulitan tersebut membuat warga harus berupaya lebih keras untuk mendapatkan air. Mereka tidak dapat mengandalkan sumber air yang biasa digunakan sehingga perlu mencari akses lain yang masih tersedia. Dalam kondisi ini, jarak menjadi bagian penting dari persoalan yang dihadapi. Warga Cukanggalih harus menempuh perjalanan hingga 2 kilometer untuk memperoleh air yang dibutuhkan. Perjalanan itu dilakukan demi memenuhi kebutuhan dasar keluarga di tengah keterbatasan air bersih.
Situasi di Cukanggalih menunjukkan bahwa persoalan utama yang dirasakan masyarakat adalah semakin sulitnya akses terhadap air bersih. Kebutuhan tersebut bersifat mendesak karena berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari setiap rumah tangga. Warga tidak sekadar membutuhkan air dalam jumlah tertentu, tetapi juga memerlukan akses yang mudah dan dekat agar kebutuhan harian dapat dipenuhi secara layak. Jarak tempuh yang harus dilalui memperlihatkan besarnya beban yang ditanggung masyarakat untuk mendapatkan air. Kekeringan pun tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, melainkan turut memengaruhi rutinitas warga dan pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Keadaan ini menempatkan warga Desa Cukanggalih dalam kondisi yang membutuhkan perhatian, terutama terkait ketersediaan dan kemudahan memperoleh air bersih.
Sebagian warga Cukanggalih, Tangerang, harus menempuh jarak hingga sekitar dua kilometer untuk mendapatkan air bersih. Mereka mendatangi stadion mini milik kecamatan yang digunakan sebagai salah satu lokasi pengambilan air bagi masyarakat terdampak. Jarak tersebut menjadi bagian dari keseharian warga ketika persediaan air di lingkungan tempat tinggal tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga. Dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan yang tersedia, warga membawa wadah kosong menuju lokasi tersebut agar dapat memperoleh pasokan air untuk keperluan dasar.
Perjalanan menuju stadion mini bukan sekadar persoalan jarak, melainkan konsekuensi langsung dari terbatasnya ketersediaan air di sekitar permukiman. Warga yang biasanya dapat mengambil air dari sumber yang lebih dekat harus mengalokasikan waktu dan tenaga lebih banyak. Mereka perlu menyesuaikan aktivitas harian dengan jadwal pengambilan air, termasuk menyiapkan wadah yang mampu menampung cukup banyak air untuk dibawa pulang. Bagi sebagian keluarga, perjalanan ini harus dilakukan berulang kali agar kebutuhan air di rumah tetap terpenuhi.
Setibanya di stadion mini kecamatan, warga juga tidak selalu dapat langsung menerima air. Mereka harus menghadapi antrean bersama warga lain yang mengalami kondisi serupa. Antrean tersebut menambah waktu yang diperlukan, terutama ketika jumlah warga yang datang cukup banyak sementara proses pengisian berlangsung secara bertahap. Setelah menunggu giliran, warga membawa air kembali ke rumah dengan jarak yang sama, sering kali menggunakan ember, jeriken, atau wadah lain. Situasi ini menunjukkan bahwa keterbatasan air berdampak langsung pada mobilitas, waktu, dan tenaga warga Cukanggalih.
Air bersih merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan sehari-hari warga Cukanggalih. Yuda menjelaskan bahwa keberadaan air tidak hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minum, tetapi juga mendukung berbagai aktivitas rumah tangga. Setiap keluarga membutuhkan air untuk memasak, mencuci peralatan dan pakaian, membersihkan rumah, serta mandi. Karena itu, keterbatasan pasokan air bersih segera memengaruhi rutinitas warga dan membuat pekerjaan rumah tangga menjadi lebih sulit dilakukan.
Dalam kondisi saat ini, banyak warga bergantung pada pengambilan air dari stadion mini kecamatan. Menurut Yuda, lokasi tersebut menjadi salah satu tempat yang diandalkan warga untuk memperoleh air bagi keperluan sehari-hari. Warga harus mendatangi stadion mini ketika persediaan air di rumah tidak mencukupi. Ketergantungan tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap air bersih masih menjadi persoalan penting yang perlu mendapat perhatian, terutama karena air digunakan berulang kali dalam berbagai kebutuhan keluarga.
Jarak menuju sumber air itu kurang lebih mencapai 2 kilometer dari permukiman warga. Perjalanan tersebut harus ditempuh untuk mengambil air, kemudian membawanya kembali ke rumah dengan jumlah yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing keluarga. Selain jarak yang cukup jauh, warga juga harus mengantre sebelum memperoleh air. Yuda menyampaikan bahwa keadaan ini menambah beban warga, sebab waktu dan tenaga harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan yang semestinya dapat diakses secara lebih dekat dan mudah. Antrean juga membuat proses pengambilan air tidak selalu berlangsung cepat, khususnya ketika jumlah warga yang membutuhkan meningkat.
Selama musim kemarau, warga Cukanggalih masih bergantung pada bantuan distribusi air bersih dari pemerintah. Keterbatasan air membuat bantuan tersebut menjadi sumber penting bagi masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi warga, kedatangan air bersih tidak sekadar meringankan beban, tetapi juga membantu memastikan kebutuhan dasar tetap dapat dipenuhi ketika sumber air di sekitar mereka tidak mencukupi.
Yuda berharap bantuan distribusi air bersih dapat diberikan secara rutin kepada masyarakat. Menurutnya, bantuan itu sangat membantu warga yang membutuhkan air, terutama ketika kemarau berlangsung dan akses terhadap air bersih semakin sulit. Harapan tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat akan dukungan yang berkelanjutan, sehingga mereka tidak sepenuhnya menghadapi persoalan air secara mandiri dalam kondisi yang serba terbatas.
Meski demikian, penerimaan bantuan dilakukan secara bergantian. Warga perlu menunggu giliran karena jumlah masyarakat yang memerlukan air bersih cukup banyak. Mekanisme tersebut menjadi cara untuk memberikan kesempatan kepada lebih banyak warga agar dapat menerima bantuan yang tersedia. Bagi masyarakat, pembagian secara bergantian tetap berarti, meskipun kebutuhan air bersih dirasakan oleh banyak keluarga secara bersamaan.
Ketergantungan terhadap distribusi air menunjukkan bahwa persoalan air di Cukanggalih masih menjadi beban bagi warga selama musim kemarau. Karena itu, harapan agar bantuan diberikan secara rutin terus disampaikan sebagai bentuk kebutuhan nyata masyarakat. Yuda menilai keberlanjutan distribusi akan sangat membantu warga yang membutuhkan, sementara penerimaan secara bergantian dapat tetap dilakukan agar bantuan menjangkau masyarakat yang jumlahnya cukup banyak. Dengan dukungan tersebut, warga memiliki bantuan untuk menghadapi kesulitan air bersih yang mereka alami.




