Jakarta | Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menilai Indonesia perlu kembali memperkuat industrialisasi sekaligus memperdalam hilirisasi agar kekayaan sumber daya alam dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian. Pandangan tersebut disampaikan dalam paparan bertajuk “The Emerging Giant: Indonesia’s Next Decade in Asia’s Growth Story” pada Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026. Pesan utamanya menempatkan pengolahan sumber daya sebagai bagian dari agenda pembangunan jangka panjang, bukan sekadar kegiatan untuk memenuhi kebutuhan ekspor.
Selama ini, kebijakan hilirisasi mendorong pengolahan bahan mentah di dalam negeri sebelum komoditas dikirim ke pasar internasional. Langkah tersebut penting karena membuka kegiatan industri dan meningkatkan nilai produk dibandingkan ekspor bahan mentah. Namun, menurut perspektif yang disampaikan Destry, pengolahan hingga tahap awal atau tertentu belum cukup untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam. Jika rantai pengolahan berhenti terlalu cepat, sebagian besar peluang untuk menciptakan nilai ekonomi lanjutan masih berada di luar negeri.
Karena itu, rantai nilai perlu diperpanjang melalui pengolahan lanjutan, penguasaan teknologi, serta pengembangan produk turunan yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Pendekatan ini dapat menghubungkan ketersediaan bahan baku dengan kapasitas manufaktur, inovasi, dan akses pasar. Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya dipahami sebagai pembangunan fasilitas pemrosesan, melainkan sebagai upaya membentuk rangkaian produksi yang lebih lengkap dan kompetitif di dalam negeri. Perluasan rantai pasok juga menuntut koordinasi pelaku usaha, pemerintah, lembaga riset, dan penyedia pembiayaan.
Penguatan industrialisasi menjadi penting agar manfaat sumber daya tidak terbatas pada pendapatan dari komoditas. Kegiatan pengolahan yang semakin mendalam berpotensi memperbesar kontribusi sektor produktif, mendorong kebutuhan tenaga kerja terampil, dan membuka ruang bagi perusahaan lokal untuk masuk ke tahap produksi yang lebih kompleks. Hasil akhirnya bergantung pada investasi, kemampuan teknologi, infrastruktur, dan kepastian kebijakan yang mendukung pengembangan industri. Dengan memperpanjang rantai nilai secara bertahap, Indonesia dapat mengubah keunggulan sumber daya alam menjadi basis produksi bernilai tambah dan memperkuat posisi ekonominya dalam pertumbuhan kawasan Asia.
Destry menilai Indonesia memiliki modal besar untuk tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Asia. Jumlah penduduk yang besar menyediakan pasar domestik sekaligus tenaga kerja, sementara kekayaan sumber daya alam menawarkan bahan baku dan peluang untuk membangun kegiatan ekonomi bernilai tambah. Namun, besarnya potensi tersebut tidak otomatis menghasilkan kemakmuran yang berkelanjutan. Indonesia perlu mengelola sumber daya secara produktif, memperkuat kapasitas industri, dan memastikan manfaat pertumbuhan tersebar luas. Dengan langkah yang tepat, keunggulan demografi dan kekayaan alam dapat menjadi dasar bagi daya saing yang lebih kuat, bukan sekadar sumber pemasukan dari penjualan bahan mentah.
Peluang itu muncul bersamaan dengan perubahan besar dalam lanskap global. Pergeseran geopolitik memengaruhi arah perdagangan, lokasi investasi, dan hubungan ekonomi antarnegara. Pada saat yang sama, perkembangan kecerdasan buatan mengubah cara perusahaan memproduksi barang, mengelola rantai pasok, dan bersaing di pasar. Perubahan tersebut dapat membuka kesempatan bagi negara yang mampu menawarkan sumber daya, tenaga kerja, infrastruktur, serta kepastian berusaha. Sebaliknya, negara yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal dalam menarik investasi dan menguasai tahapan produksi bernilai tinggi. Karena itu, Indonesia perlu membaca perubahan global sebagai dorongan untuk memperkuat kemampuan domestik dan menempatkan diri secara strategis dalam rantai nilai internasional.
Destry mengingatkan bahwa Indonesia pernah membangun sektor industri sejak akhir 1980-an hingga awal 1990-an. Setelah itu, arah perekonomian kembali semakin bergantung pada ekspor komoditas, sehingga upaya memperluas basis manufaktur dan menciptakan nilai tambah perlu diperkuat lagi. Seruannya untuk “back to basic” menekankan pentingnya kembali membangun sektor industri, bukan meninggalkan kemajuan yang telah dicapai. Hilirisasi menjadi bagian dari agenda tersebut: sumber daya alam diolah lebih lanjut di dalam negeri agar menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi, mendorong kegiatan usaha terkait, serta memperluas kesempatan kerja. Dengan memperkuat fondasi industri dan menghubungkannya dengan perkembangan teknologi, Indonesia dapat memanfaatkan perubahan global secara lebih baik. Agenda ini juga menuntut konsistensi kebijakan, investasi pada keterampilan, dan dukungan bagi ekosistem produksi agar potensi nasional benar-benar diterjemahkan menjadi daya saing jangka panjang.
Destry menilai rantai pengolahan sumber daya alam Indonesia masih terlalu pendek. Sejumlah komoditas memang telah melalui tahap pemrosesan di dalam negeri, tetapi proses tersebut kerap baru mencakup sebagian tahapan sebelum produknya diekspor. Akibatnya, nilai tambah yang lebih besar belum tercipta di Indonesia melalui pengembangan barang maupun produk turunan yang lebih kompleks. Tantangan ini menunjukkan bahwa keberadaan kegiatan pengolahan saja belum cukup untuk memperkuat manfaat ekonomi dari kekayaan alam.
Penilaian tersebut sejalan dengan economic complexity index Indonesia yang masih relatif rendah. Indeks ini menggambarkan keterbatasan keragaman dan kecanggihan produk yang dihasilkan suatu perekonomian. Jika bahan baku atau produk yang hanya diproses pada tahap awal mendominasi ekspor, peluang untuk membangun kemampuan produksi yang lebih luas dan bernilai tinggi menjadi terbatas. Karena itu, memperpanjang rantai nilai berarti mendorong lebih banyak tahapan produksi, keahlian, dan teknologi tumbuh di dalam negeri.
Arah yang didorong Destry mencakup pengembangan industri turunan, peningkatan daya saing manufaktur, serta penciptaan peluang kerja. Industri turunan dapat memanfaatkan hasil pengolahan sebelumnya sebagai masukan bagi produk berikutnya, sehingga hubungan antarsektor menjadi lebih kuat. Rantai produksi yang lebih panjang juga berpotensi membuka kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan beragam keterampilan, sekaligus memperluas kesempatan kerja di wilayah tempat industri berkembang. Namun, peluang tersebut bergantung pada kemampuan industri menghasilkan produk yang efisien dan mampu bersaing di pasar.
Dengan demikian, hilirisasi tidak semata-mata berarti membangun fasilitas pengolahan. Kebijakan ini perlu membentuk ekosistem industri yang lengkap dan kompetitif, mulai dari pasokan bahan baku dan infrastruktur hingga keterhubungan antarpelaku usaha serta akses pasar. Destry menekankan pentingnya produktivitas, skala ekonomi, ketersediaan tenaga kerja, dan pemanfaatan teknologi sebagai faktor pendukung. Produktivitas membantu menekan biaya dan meningkatkan mutu, sedangkan skala ekonomi memungkinkan produksi berlangsung lebih efisien. Tenaga kerja yang memadai dan terampil, bersama penerapan teknologi yang sesuai, dapat memperkuat kapasitas produksi. Tanpa dukungan faktor-faktor tersebut, fasilitas baru berisiko beroperasi tanpa keterkaitan industri yang kuat. Karena itu, agenda hilirisasi perlu diarahkan pada pembentukan kemampuan produksi menyeluruh, bukan hanya peningkatan jumlah produk yang diproses sebelum diekspor.
Destry berharap Danantara dapat berperan sebagai lokomotif pertumbuhan yang membantu membuka jalan bagi pelaksanaan proyek-proyek strategis. Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyediaan pembiayaan, tetapi juga kemampuan menghubungkan potensi investasi dengan kebutuhan pembangunan industri nasional. Dengan dukungan tata kelola yang kuat dan arah investasi yang jelas, Danantara dapat mendorong proyek bernilai tambah yang memperluas kapasitas produksi, memperkuat rantai pasok, serta menciptakan peluang kerja. Namun, upaya ini akan lebih efektif apabila sektor swasta turut memperoleh ruang, kesempatan, dan kepercayaan untuk berinvestasi bersama. Kemitraan pemerintah, Danantara, dan pelaku usaha dapat menghimpun modal serta keahlian yang dibutuhkan untuk merealisasikan proyek berskala besar.
Investasi produktif menjadi unsur penting dalam memperkuat kapasitas ekonomi, terutama ketika diarahkan pada kegiatan yang meningkatkan produktivitas dan kemampuan industri. Penanaman modal perlu didukung perencanaan matang, mulai dari penentuan prioritas hingga kesiapan infrastruktur, tenaga kerja, teknologi, dan kepastian regulasi. Proyek yang dirancang tanpa mempertimbangkan kelayakan dan kesinambungan berisiko tidak menghasilkan manfaat optimal.





