Jakarta | Pemerintah Jerman mendorong mahasiswa dan peneliti Indonesia maupun Jerman agar lebih aktif memanfaatkan kesempatan akademik di kedua negara. Upaya ini mencakup akses terhadap studi, pertukaran, serta kegiatan riset lintas batas, sehingga hubungan pendidikan tinggi dapat berkembang melalui pengalaman langsung. Mobilitas akademik juga membuka ruang bagi peserta untuk mengenal lingkungan belajar dan budaya penelitian yang berbeda, membangun jejaring profesional, serta membawa pengetahuan baru ke institusi asal mereka.
Wakil Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Oliver Sperling, menyebut dua sasaran utama kerja sama tersebut, yaitu memperkuat kemitraan antaruniversitas dan mengembangkan penelitian bersama. Kemitraan yang lebih erat dapat membantu perguruan tinggi merancang kegiatan akademik secara berkelanjutan, termasuk pertukaran mahasiswa dan dosen, pengembangan kapasitas, serta penyusunan agenda riset yang melibatkan tim dari kedua negara. Kolaborasi semacam ini diharapkan memberi manfaat bagi institusi, peneliti, dan masyarakat luas.
Sejumlah bidang menjadi perhatian dalam kerja sama riset, lain energi terbarukan, perubahan iklim, keanekaragaman hayati, digitalisasi, dan kecerdasan buatan. Isu-isu tersebut memerlukan kontribusi keilmuan dan pendekatan dari beragam disiplin, sekaligus relevan bagi tantangan yang dihadapi Indonesia dan Jerman. Penelitian bersama memungkinkan para akademisi menggabungkan keahlian, data, dan perspektif untuk menghasilkan pemahaman yang lebih kuat. Hasilnya dapat mendukung pertukaran pengetahuan serta pengembangan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara.
Sperling menyampaikan hal itu dalam konferensi pers bersama Presiden Layanan Pertukaran Akademik Jerman (DAAD), Joybrato Mukherjee, di Jakarta pada Jumat. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kerja sama akademik tidak hanya berfokus pada mobilitas individu, tetapi juga pada hubungan kelembagaan dan tujuan riset yang dibangun bersama. Dengan memperluas akses bagi mahasiswa dan peneliti, kedua negara berupaya memperkuat hubungan pendidikan tinggi dan menciptakan lebih banyak jalur kolaborasi. Pelaksanaan kemitraan dan riset lintas negara akan menjadi bagian penting dalam mengembangkan peluang akademik Indonesia–Jerman ke depan.
Sperling menjelaskan bahwa pendidikan tinggi di Jerman relatif terjangkau bagi mahasiswa internasional. Salah satu alasannya, sebagian besar program gelar yang ditawarkan universitas negeri tidak mengenakan biaya kuliah umum. Gambaran ini dapat membantu mahasiswa Indonesia mempertimbangkan Jerman sebagai tujuan studi, terutama ketika mereka menilai berbagai pilihan pendidikan tinggi di luar negeri. Namun, keterangan tersebut perlu dipahami secara tepat: yang dimaksud adalah sebagian besar program di universitas negeri, bukan seluruh program atau setiap lembaga pendidikan. Karena itu, calon mahasiswa dapat menjadikan informasi ini sebagai titik awal untuk mengenali peluang akademik, tanpa menganggap bahwa semua bentuk studi di Jerman memiliki pengaturan biaya yang sama.
Selain menjelaskan kondisi biaya kuliah, Sperling menyoroti dukungan pembiayaan yang disediakan DAAD. Lembaga tersebut menawarkan beasiswa dan dukungan finansial yang dapat membantu mahasiswa memenuhi biaya hidup selama menempuh pendidikan. Dukungan ini menjadi bagian penting dari gambaran akses studi, karena pertimbangan mahasiswa tidak hanya mencakup biaya kuliah, tetapi juga kebutuhan untuk menjalani kehidupan sehari-hari selama berada di Jerman. Informasi mengenai beasiswa dan bantuan finansial tersebut memberikan pilihan tambahan bagi mahasiswa Indonesia yang ingin mengeksplorasi kesempatan belajar di negara itu, sesuai dengan peluang yang tersedia.
Kombinasi biaya kuliah umum yang tidak dikenakan pada sebagian besar program gelar di universitas negeri dan adanya dukungan DAAD membuat studi di Jerman layak dipertimbangkan. Bagi mahasiswa Indonesia, informasi dari Sperling dapat menjadi dasar untuk menelusuri lebih lanjut program pendidikan dan bentuk pembiayaan yang relevan dengan rencana akademik masing-masing. Beasiswa maupun dukungan finansial dapat membantu mengurangi beban biaya hidup, sementara kondisi biaya kuliah memberikan konteks lain dalam menilai keterjangkauan studi. Dengan demikian, peluang akademik di Jerman tidak hanya berkaitan dengan kegiatan belajar dan riset, tetapi juga dengan akses terhadap bantuan pembiayaan. Penjelasan tersebut menawarkan gambaran umum yang berguna bagi calon mahasiswa, tanpa menetapkan rincian biaya atau persyaratan tertentu yang belum disampaikan.
Data yang disampaikan Mukherjee menunjukkan skala pertukaran akademik Indonesia–Jerman pada 2025. Pada tahun tersebut, DAAD mendukung lebih dari 600 warga Indonesia yang menjalani studi, penelitian, maupun kegiatan akademik lain di Jerman. Angka ini menggambarkan beragam bentuk keterlibatan, bukan hanya mahasiswa yang mengikuti program gelar. Dukungan tersebut turut menjangkau kegiatan akademik lain dan peneliti, sesuai cakupan yang disebutkan. Pada periode yang sama, hampir 250 mahasiswa dan peneliti dari Jerman berada di Indonesia. Kedua angka itu merujuk pada aktivitas sepanjang 2025 dan kelompok yang telah dijelaskan; angka tersebut tidak perlu ditafsirkan sebagai total untuk periode lain atau kategori tambahan.
Bagi Mukherjee, perbandingan itu menegaskan bahwa pertukaran akademik bukan jalan satu arah. Mobilitas berlangsung dalam dua arah: warga Indonesia memperoleh kesempatan belajar dan melakukan riset di Jerman, sementara mahasiswa dan peneliti Jerman juga datang ke Indonesia. Kehadiran masing-masing kelompok membuka ruang untuk berinteraksi dengan lingkungan akademik, pengalaman, dan perspektif yang berbeda. Dengan demikian, hubungan pendidikan tinggi kedua negara tidak semata-mata ditentukan oleh tujuan keberangkatan, tetapi juga oleh arus kedatangan dan kerja sama yang terbentuk di kedua tempat. Angka yang disampaikan memberikan gambaran konkret mengenai mobilitas tersebut pada tahun yang sama.
Mukherjee berharap lebih banyak mahasiswa dan peneliti Indonesia datang ke Jerman untuk menempuh studi, melakukan penelitian, atau mengikuti kegiatan akademik lainnya. Pada saat bersamaan, ia ingin lebih banyak warga Jerman memilih Indonesia sebagai tempat untuk meniti karier akademik. Harapan ini menempatkan kedua negara sebagai tujuan dan mitra, bukan sekadar sebagai pengirim atau penerima peserta. Bertambahnya mobilitas dapat memperluas kesempatan untuk membangun jejaring, berbagi pengetahuan, dan mengembangkan kolaborasi lintas negara. Namun, penekanan utamanya tetap pada keseimbangan: pertukaran perlu memberi ruang bagi warga kedua negara untuk belajar, meneliti, dan berkarya di lingkungan akademik satu sama lain. Dengan arah tersebut, kemitraan Indonesia–Jerman dapat terus berkembang melalui partisipasi yang saling melengkapi.
Menurut Sperling, potensi kerja sama akademik Indonesia–Jerman masih sangat besar dan belum sepenuhnya digali. Hubungan yang telah terjalin dapat dikembangkan lebih jauh agar menghasilkan lebih banyak peluang bagi mahasiswa, peneliti, dan institusi pendidikan tinggi. Tujuannya bukan sekadar memperluas jumlah pertukaran, melainkan membangun kemitraan yang lebih kuat dan berkelanjutan, dengan hasil nyata yang bermanfaat bagi kedua negara. Dalam pandangannya, mobilitas akademik dan kolaborasi riset dapat mempertemukan keahlian, pengalaman, serta perspektif yang berbeda. Pertemuan tersebut berpotensi mendukung pencarian solusi atas tantangan bersama, sekaligus mendorong pengetahuan dan inovasi yang relevan bagi kebutuhan masyarakat.
Jejak kontribusi pendidikan di Jerman terhadap pembangunan Indonesia terlihat melalui sejumlah tokoh yang menempuh pendidikan atau mengembangkan kompetensinya di sana. B.J. Habibie menjadi contoh penting dalam bidang kedirgantaraan dan teknologi. Pengalaman serta pengetahuannya turut berperan dalam mendorong kapasitas teknologi Indonesia. Contoh lain adalah Toto Sugiri, yang dikaitkan dengan perkembangan industri pusat data. Ragam bidang tersebut memperlihatkan bahwa manfaat pendidikan lintas negara tidak terbatas pada satu sektor. Bekal akademik dan jaringan profesional dapat digunakan untuk membangun industri, memperkuat keahlian nasional, serta membuka ruang bagi inovasi. Kisah para alumni juga menunjukkan bagaimana hubungan pendidikan dapat menghasilkan dampak yang melampaui masa studi seseorang.
DAAD mendukung pengembangan kolaborasi jangka panjang melalui berbagai bentuk kerja sama, termasuk penelitian bersama, penguatan manajemen universitas, dan proyek yang berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Baca juga: Wisuda Ke-42 PNJ: Keberhasilan Besar dan Peluang Kerja bagi Lulusan





