Jakarta | Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan mengadakan pendidikan politik bagi sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada Rabu (21/10). Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk mengenal pembahasan politik secara langsung dalam lingkungan partai. Melalui forum ini, mahasiswa dapat mengikuti pemaparan mengenai salah satu tahapan penting dalam kehidupan politik di Indonesia, yakni proses pencalonan dalam politik elektoral. Informasi mengenai kegiatan ini menempatkan pendidikan politik sebagai pokok acara, tanpa merinci jumlah peserta ataupun nama perguruan tinggi yang hadir.
Bertajuk “Muda Mudi Sekolah Partai PDI Perjuangan”, kegiatan tersebut membahas bagaimana proses pencalonan berlangsung dalam politik elektoral Indonesia. Topik ini berkaitan dengan tahapan ketika seseorang dipersiapkan atau diajukan sebagai calon dalam kontestasi politik. Bagi mahasiswa, pemahaman mengenai pencalonan dapat membantu menjelaskan hubungan partai politik, kandidat, dan pemilihan umum. Pembahasan itu juga memberi konteks tentang bagaimana proses politik elektoral berjalan, melampaui kegiatan pemungutan suara yang biasanya menjadi bagian paling dikenal oleh masyarakat. Dengan demikian, pendidikan politik tersebut mengangkat proses yang mendahului keikutsertaan calon dalam pemilihan.
Pelaksanaan kegiatan di Sekolah Partai memberi kesempatan bagi mahasiswa dari beragam perguruan tinggi untuk mengikuti pembahasan dalam satu forum. Penyelenggaraan oleh DPP PDI Perjuangan menunjukkan bahwa partai menjadi pihak yang menyampaikan materi mengenai proses pencalonan dalam sistem elektoral. Namun, keterangan yang tersedia tidak menyebutkan rincian kampus, jumlah peserta, narasumber, ataupun tahapan teknis yang dibahas. Karena itu, gambaran kegiatan dapat dipahami secara terbatas pada tujuan dan topik yang diumumkan: pendidikan politik bagi mahasiswa dengan fokus pada proses pencalonan. Forum bertajuk “Muda Mudi Sekolah Partai PDI Perjuangan” ini menjadi bagian dari pengenalan mahasiswa terhadap pembahasan politik kepartaian dan mekanisme kontestasi elektoral di Indonesia.
Ketua DPP PDI Perjuangan Komarudin Watubun menyoroti sikap tidak peduli terhadap politik di kalangan generasi muda. Menurutnya, kegiatan pendidikan politik bagi mahasiswa menjadi salah satu cara partai mengingatkan anak muda agar tidak apatis. Pesan tersebut menempatkan keterlibatan generasi muda sebagai perhatian penting, sekaligus menegaskan bahwa politik tidak seharusnya sepenuhnya dijauhkan dari kehidupan mereka.
Komarudin memandang ketidaktertarikan anak muda pada politik sebagai masalah yang serius. Sikap tidak berminat itu, dalam pandangannya, bukan hal yang dapat dianggap sepele atau dibiarkan begitu saja. Karena itu, pengingat agar generasi muda tidak bersikap apatis menjadi alasan yang disampaikan partai melalui kegiatan pendidikan politik. Pernyataan ini menekankan perhatian terhadap sikap generasi muda, tanpa mengubahnya menjadi penilaian bahwa semua anak muda memiliki pandangan yang sama.
Dalam konteks tersebut, pendidikan politik dipandang sebagai ruang untuk menyampaikan pentingnya perhatian terhadap urusan politik kepada mahasiswa. Tujuannya, sebagaimana dijelaskan Komarudin, adalah mengingatkan generasi muda agar tidak apatis, bukan menyimpulkan bahwa mereka seluruhnya telah menjauh dari politik. Penekanannya terletak pada kekhawatiran bahwa ketidaktertarikan terhadap politik merupakan persoalan serius. Dengan demikian, kegiatan ini membawa pesan agar anak muda tidak mengabaikan politik, sekaligus mencerminkan pandangan Komarudin mengenai pentingnya membangun kepedulian generasi muda. Uraian tersebut tetap berpegang pada alasan yang ia sampaikan, tanpa menambahkan klaim mengenai tanggapan peserta, bentuk kegiatan, ataupun dampak yang belum dijelaskan. Sorotan terhadap sikap apatis menjadi inti pesan yang disampaikan kepada mahasiswa dan generasi muda secara lebih luas.
Materi pendidikan politik yang disampaikan kepada mahasiswa mencakup ajaran Bung Karno, yang menjadi salah satu pijakan PDI Perjuangan. Pembahasan ini menempatkan pemikiran dan ajaran tersebut sebagai bahan untuk memahami dasar serta arah perjuangan partai. Mahasiswa diajak mengenali bahwa pendidikan politik tidak hanya berisi pengetahuan mengenai organisasi, tetapi juga pemahaman tentang nilai dan gagasan yang melandasi perjalanan politik. Dalam konteks itu, ajaran Bung Karno diperkenalkan sebagai bagian penting dari materi yang diberikan kepada peserta.
Bung Karno disebut sebagai pahlawan proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia. Penyebutan tersebut memberi konteks mengenai sosok yang ajarannya menjadi pijakan PDI Perjuangan, tanpa mengubah fokus materi menjadi uraian biografi yang lebih luas. Bagi mahasiswa, mengenali kaitan ajaran Bung Karno dan landasan partai dapat membantu mereka memahami mengapa gagasan tersebut dibahas dalam pendidikan politik. Materi itu menjadi pengantar untuk melihat bahwa proses politik memiliki dasar pemikiran dan tidak semata-mata berkaitan dengan perebutan jabatan atau pencalonan.
Pesan Komarudin menghubungkan pemahaman tersebut dengan proses politik elektoral. Pencalonan, termasuk untuk menjadi pejabat, presiden, maupun wakil presiden, memerlukan proses dan tidak dapat berlangsung secara instan atau dipaksakan. Karena itu, aspirasi untuk terlibat dalam kontestasi politik perlu ditempatkan dalam tahapan yang semestinya. Pesan ini menekankan pentingnya menghormati proses, bukan mencari jalan pintas agar seseorang segera memperoleh posisi tertentu. Komarudin juga mengingatkan bahwa pemaksaan dapat merusak negara. Peringatan tersebut disampaikan secara terbatas sebagai penegasan atas risiko ketika proses pencalonan diabaikan atau dipaksakan. Dengan demikian, materi tentang ajaran Bung Karno dan pesan mengenai pencalonan sama-sama mengarahkan mahasiswa untuk memahami bahwa kehidupan politik berlangsung melalui proses. Pemahaman ini menjadi bekal untuk melihat pencalonan secara lebih bertanggung jawab, sekaligus mengenali pentingnya dasar pemikiran dalam pendidikan politik yang mereka ikuti.
Komarudin tidak membantah bahwa pendidikan politik yang melibatkan mahasiswa juga dapat menjadi upaya partai untuk menggaet pemilih muda. Namun, ia menjelaskan bahwa tujuan yang hendak didahulukan ialah menyosialisasikan ajaran Bung Karno. Dengan demikian, kegiatan tersebut dipandang sebagai ruang untuk memperkenalkan pemikiran dan nilai-nilai yang menjadi bagian dari identitas PDI Perjuangan, sekaligus memberi peserta kesempatan untuk mengenalnya secara langsung. Penjelasan itu menempatkan sosialisasi sebagai titik tekan utama, tanpa menutup kemungkinan bahwa generasi muda merupakan kelompok yang penting bagi partai. Bagi mahasiswa, pembahasan ini berkaitan dengan pemahaman politik dan gagasan kebangsaan, bukan semata-mata persoalan memilih atau bergabung dengan organisasi tertentu.
Dalam pandangan Komarudin, keputusan peserta untuk bergabung dengan PDI Perjuangan berada pada pilihan masing-masing. Ketertarikan yang muncul setelah mengikuti kegiatan tidak digambarkan sebagai sesuatu yang harus diarahkan atau dipaksakan oleh partai. Sikap tersebut membedakan proses pengenalan ajaran Bung Karno dari keputusan pribadi seseorang mengenai afiliasi politiknya. Peserta dapat menyimak materi, mempertimbangkan pemikiran yang disampaikan, lalu menentukan sendiri sikap mereka. Penekanan pada kebebasan memilih ini juga membuat pembicaraan mengenai pemilih muda dan keanggotaan partai perlu dipahami secara proporsional. Sosialisasi membuka ruang perkenalan, sedangkan keputusan untuk terlibat lebih jauh tetap menjadi hak setiap individu.
Komarudin juga menekankan pentingnya memahami Pancasila dan dasar negara. Bagi mahasiswa, pemahaman tersebut merupakan bekal untuk mengenali landasan kehidupan berbangsa dan bernegara, serta menempatkan gagasan politik dalam kerangka kebangsaan. Pesan ini mengarahkan perhatian pada substansi yang disampaikan dalam pendidikan politik: bukan hanya mengenal sebuah partai, melainkan juga memahami nilai dan dasar yang menjadi pijakan bersama. Pancasila perlu dipahami sebagai dasar negara, sementara ajaran Bung Karno dapat diperkenalkan sebagai bagian dari pembahasan pemikiran kebangsaan. Karena itu, mahasiswa diajak memberi perhatian pada materi tersebut dan memahami maknanya secara sungguh-sungguh. Komarudin menegaskan bahwa pengertian terhadap Pancasila dan dasar negara penting bagi generasi muda.
Baca juga: Inisiatif Pendidikan untuk Anak-Anak dari Keluarga Miskin di Indonesia | Mendorong Akses Pendidikan yang Adil dan Berkualitas di Indonesia | Viralnya Percandaan di Grup Chat Mahasiswa Universitas Brawijaya





