Rekonstruksi Pembunuhan Mozza Axillia Memanas, Ayah Korban Pukul Tersangka

Rekonstruksi Pembunuhan Mozza Axillia Memanas, Ayah Korban Pukul Tersangka

Kabupaten Semarang | Rekonstruksi kasus pembunuhan Mozza Axillia Gunarsa (18) di sebuah indekos kawasan Tegalsari, Candisari, Semarang, berlangsung dalam suasana tegang. Proses tersebut mempertemukan tersangka, Mahendra Very Dwi Anggara (22), dengan pihak keluarga korban di lokasi yang menjadi bagian dari rangkaian perkara. Ketegangan terlihat ketika tersangka tiba untuk mengikuti rekonstruksi.

Sesaat setelah turun dari mobil tahanan, Mahendra Very Dwi Anggara menjadi sasaran amarah ayah korban, Singgih Gunarsa. Singgih yang berada di sekitar lokasi tidak mampu menahan emosi. Ia kemudian melayangkan beberapa pukulan kepada tersangka. Peristiwa itu terlihat secara langsung ketika tersangka baru saja turun dari kendaraan yang membawanya.

Aksi tersebut membuat suasana di sekitar lokasi rekonstruksi semakin memanas. Kedatangan tersangka yang semestinya menjadi bagian dari pelaksanaan rekonstruksi justru diwarnai luapan emosi dari ayah korban. Singgih tampak menghadapi tersangka dan melakukan pemukulan sebelum proses di lokasi berlanjut. Peristiwa itu menjadi momen yang paling mencolok dalam pelaksanaan rekonstruksi kasus pembunuhan tersebut.

Rekonstruksi ini digelar di indekos kawasan Tegalsari, Candisari, Semarang, tempat perkara tersebut direkonstruksi. Kehadiran tersangka dan keluarga korban dalam satu lokasi memperlihatkan situasi lapangan yang penuh ketegangan. Pemukulan yang dilakukan Singgih terjadi tidak lama setelah Mahendra turun dari mobil tahanan, sehingga perhatian di lokasi tertuju pada tindakan ayah korban terhadap tersangka.

Setelah keributan terjadi dalam rangkaian rekonstruksi kasus pembunuhan Mozza Axillia, petugas Polrestabes Semarang yang berjaga di lokasi segera mengambil langkah pengamanan. Aparat berupaya mengendalikan keadaan agar kegiatan rekonstruksi tetap berada dalam pengawasan. Kehadiran petugas menjadi bagian penting dalam menjaga ketertiban, terutama ketika suasana di sekitar lokasi sempat memanas setelah ayah korban memukul tersangka. Pengamanan dilakukan secara langsung di area kegiatan, dengan perhatian terhadap situasi dan pergerakan orang-orang yang berada di sekitar tempat rekonstruksi.

Petugas kemudian memperketat penjagaan di sekitar lokasi rekonstruksi. Penambahan perhatian tersebut dilakukan untuk memastikan area tetap terkendali selama proses berlangsung. Aparat berjaga di lingkungan lokasi dan memantau keadaan secara berkelanjutan, sehingga setiap perubahan situasi dapat segera direspons sesuai kebutuhan pengamanan. Langkah ini menunjukkan bahwa kepolisian menempatkan aspek keamanan sebagai bagian penting selama rekonstruksi, tanpa mengabaikan jalannya kegiatan yang berkaitan dengan penyidikan perkara.

Pengamanan juga diarahkan untuk menjaga batas-batas area rekonstruksi dan mengatur situasi di sekitarnya. Petugas memastikan kondisi lokasi berada dalam pantauan aparat setelah kejadian tersebut. Dengan penjagaan yang lebih ketat, proses rekonstruksi dapat dilaksanakan dalam suasana yang terkontrol dan setiap pihak yang hadir tetap berada dalam perhatian petugas. Respons Polrestabes Semarang berfokus pada pemulihan kendali di lokasi serta pencegahan agar keributan tidak mengganggu tahapan rekonstruksi yang sedang dilakukan. Aparat tetap berjaga selama kegiatan berlangsung untuk mempertahankan ketertiban di sekitar lokasi.

Perkara pembunuhan Mozza Axillia baru terungkap pada September 2026, setelah kerangka korban ditemukan di kawasan perbukitan Jangli, Tembalang. Lokasi tersebut berada di sekitar Jalan Tol Semarang-Ungaran, sehingga penemuan itu menjadi titik penting dalam pengungkapan perkara yang sebelumnya belum diketahui secara jelas. Informasi mengenai kasus ini kemudian berkembang melalui proses penyelidikan dan penanganan hukum terhadap dugaan pembunuhan tersebut.

Mozza diketahui merupakan warga Bergas, Kabupaten Semarang. Sebelum perkara ini terungkap, ia telah dilaporkan hilang sejak pertengahan 2025. Rentang waktu laporan kehilangan dan terungkapnya perkara pada September 2026 menunjukkan bahwa kasus tersebut berlangsung dalam periode yang cukup panjang sebelum keberadaan korban diketahui melalui penemuan kerangka di kawasan Jangli.

Dengan demikian, rangkaian peristiwa dalam perkara ini bermula dari laporan hilangnya Mozza pada pertengahan 2025. Lebih dari satu tahun kemudian, kerangka yang berkaitan dengan korban ditemukan di perbukitan Jangli, Tembalang, dekat Jalan Tol Semarang-Ungaran. Penemuan itu menjadi dasar terbukanya kembali perkara dan mengarahkan perhatian pada dugaan pembunuhan yang kini ditangani melalui proses penyelidikan serta rekonstruksi. Latar belakang tersebut menjadi konteks sebelum berlangsungnya rekonstruksi dan munculnya peristiwa ketika ayah korban memukul tersangka.

Fakta-fakta itu menempatkan kasus Mozza Axillia sebagai perkara yang baru memperoleh titik terang setelah lama dikaitkan dengan laporan orang hilang. Penyebutan lokasi penemuan dan identitas korban menjadi bagian penting untuk memahami hubungan laporan kehilangan pada 2025 dan pengungkapan kasus pada September 2026, tanpa menyimpulkan hal-hal lain di luar keterangan yang tersedia.

Proses hukum dalam perkara pembunuhan Mozza Axillia masih berlangsung setelah polisi melakukan rekonstruksi untuk memperjelas rangkaian peristiwa yang diduga berkaitan dengan kematian korban. Reka ulang tersebut menjadi bagian dari penyidikan, sekaligus membantu penyidik mencocokkan keterangan tersangka, saksi, serta barang bukti yang telah dikumpulkan. Setiap tahapan tetap dilakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku dan menjadi bahan bagi penyidik dalam menyusun berkas perkara.

Dalam penanganan kasus ini, polisi menangkap Mahendra ketika ia sedang menyaksikan pertandingan bola voli di Kabupaten Blora. Penangkapan itu kemudian menjadi salah satu tahapan penting sebelum penyidik melanjutkan pemeriksaan dan proses hukum terhadapnya. Status serta pertanggungjawaban pidana Mahendra akan ditentukan melalui proses penyidikan dan tahapan peradilan berdasarkan alat bukti yang tersedia.

Rekonstruksi perkara tersebut memperagakan 55 adegan yang berlangsung di dua lokasi utama. Jumlah adegan dan lokasi itu dicatat dalam jalannya reka ulang untuk memberikan gambaran mengenai rangkaian kejadian yang sedang diselidiki. Namun, rincian mengenai isi setiap adegan tidak disampaikan dalam informasi yang tersedia, sehingga belum dapat diuraikan secara lebih terperinci.

Pelaksanaan rekonstruksi diharapkan dapat membantu kepolisian memastikan kesesuaian keterangan Mahendra dan fakta-fakta yang ditemukan selama penyidikan. Setelah seluruh tahapan pemeriksaan dinilai cukup, penyidik akan melanjutkan pemberkasan perkara sebelum dilimpahkan kepada jaksa penuntut umum sesuai ketentuan. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada hasil penyidikan, penelitian berkas, serta keputusan aparat penegak hukum dalam tahapan selanjutnya.

Baca juga: Kedalaman Kasus Pembunuhan di Bandung: Hubungan Tersangka dan Korban | Eskalasi Konfrontasi: Perang Yaman Kembali Memanas