Sultan HB X Ajak Warga Yogyakarta Terapkan Nilai Jawa dalam Mengelola Keuangan

Sultan HB X Ajak Warga Yogyakarta Terapkan Nilai Jawa dalam Mengelola Keuangan

Yogyakarta | Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak masyarakat dan keluarga di Yogyakarta untuk mengelola keuangan secara bijak, cermat, dan berhati-hati. Pesan tersebut disampaikan dalam sambutan pada Financial Expo dan puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 di Yogyakarta, Minggu (18/10). Arahan ini menempatkan pengelolaan keuangan sehari-hari sebagai hal yang perlu mendapat perhatian bersama, baik pada tingkat individu maupun dalam kehidupan keluarga. Dengan sikap yang terukur, masyarakat diharapkan dapat mempertimbangkan keputusan keuangan secara lebih matang, bukan sekadar mengikuti dorongan sesaat atau mengambil langkah tanpa memperhitungkan kemampuan yang dimiliki.

Ajakan Sultan menekankan pentingnya kehati-hatian ketika mengatur pemasukan dan pengeluaran. Keputusan finansial, termasuk yang tampak sederhana, sebaiknya dipikirkan dengan saksama agar sesuai dengan kebutuhan dan keadaan masing-masing. Kecermatan membantu keluarga melihat prioritas, sementara kebijaksanaan mendorong penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab. Sikap berhati-hati juga berarti tidak terburu-buru dalam menentukan pilihan serta mempertimbangkan dampaknya bagi kondisi keuangan. Pesan tersebut relevan dalam kehidupan sehari-hari karena pengelolaan yang baik bertumpu pada kebiasaan mengambil keputusan secara sadar dan terencana.

Dalam konteks keluarga, arahan itu dapat menjadi pengingat untuk membicarakan kebutuhan dan pilihan keuangan secara terbuka. Perencanaan yang cermat memungkinkan anggota keluarga memahami prioritas bersama dan menyesuaikan keputusan dengan kemampuan yang tersedia. Masyarakat pun dapat menerapkan prinsip serupa saat mengatur keuangan pribadi, dengan menimbang kebutuhan sebelum menetapkan pengeluaran. Melalui pendekatan bijak, cermat, dan berhati-hati, pengelolaan keuangan diharapkan tidak dilakukan secara serampangan. Sultan menyampaikan ajakan tersebut sebagai pesan bagi warga Yogyakarta agar perhatian terhadap keputusan keuangan menjadi bagian dari keseharian.

Nilai budaya Jawa dapat menjadi pegangan praktis ketika warga mengatur penghasilan, memenuhi kebutuhan, dan merencanakan masa depan. Sultan Hamengku Buwono X mengangkat tiga prinsip, yaitu gemi, nastiti, dan ngati-ati, sebagai sikap yang relevan dalam pengambilan keputusan keuangan sehari-hari. Ketiganya bukan sekadar ungkapan tradisional, melainkan pedoman untuk menggunakan sumber daya secara bijaksana dan bertanggung jawab.

Gemi merujuk pada kebiasaan hemat dan cermat dalam membelanjakan uang. Prinsip ini mendorong seseorang membedakan kebutuhan dan keinginan, menghindari pengeluaran yang tidak perlu, serta menyisihkan sebagian pendapatan untuk keperluan mendatang. Sikap hemat tidak berarti menolak semua bentuk belanja, tetapi memastikan setiap pengeluaran sesuai kemampuan dan memiliki tujuan yang jelas.

Nastiti berarti teliti dan penuh pertimbangan. Dalam mengelola keuangan, nilai ini dapat diterapkan dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran, memeriksa syarat sebelum mengambil pinjaman, serta membandingkan pilihan produk keuangan. Ketelitian membantu masyarakat memahami risiko dan biaya, sehingga keputusan tidak dibuat hanya karena tergesa-gesa atau terpengaruh tawaran yang belum dipahami sepenuhnya.

Sementara itu, ngati-ati mengajarkan kehati-hatian. Warga dapat menerapkannya dengan menjaga data pribadi, terhadap penipuan, dan menilai kemampuan membayar sebelum berutang. Sikap ini juga mencakup kesiapan menghadapi keadaan tak terduga, misalnya melalui dana darurat dan perencanaan yang sesuai dengan kondisi keluarga.

Sultan mengajak warga membawa falsafah gemi, nastiti, dan ngati-ati ke dalam keputusan keuangan. Ajakan tersebut menghubungkan kearifan lokal dengan literasi dan inklusi keuangan masa kini: masyarakat perlu memahami layanan yang tersedia sekaligus menggunakannya secara cermat, aman, dan sesuai kebutuhan. Dengan demikian, akses ke layanan keuangan dapat disertai pengetahuan yang memadai, bukan hanya kemudahan bertransaksi. Penerapan ketiga nilai ini dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah, seperti menyusun anggaran bersama, menetapkan prioritas, dan meninjau pengeluaran secara berkala. Langkah kecil tersebut membantu membangun ketahanan keuangan keluarga sekaligus menjaga agar keputusan harian tetap selaras dengan kemampuan dan tujuan jangka panjang.Dalam pandangan nilai Jawa, gemi bukan sekadar sikap menahan diri atau mengurangi penggunaan uang secara sembarangan. Gemi mengandung kebijaksanaan untuk memahami pendapatan yang dimiliki dan menggunakannya secara cermat, dengan mempertimbangkan kepentingan serta tujuan keluarga. Nilai ini mengajak setiap orang bersikap sadar terhadap keputusan keuangan, sehingga penghasilan tidak habis tanpa arah yang jelas. Dalam ajakan Sultan Hamengku Buwono X, gemi menjadi landasan bagi keluarga untuk mengelola keuangan secara bijaksana, bukan semata-mata soal besar atau kecilnya pendapatan. Yang ditekankan ialah cara seseorang menimbang penggunaan penghasilan dan memahami mana yang perlu didahulukan. Dengan demikian, mengelola uang berhubungan pula dengan kemampuan menentukan prioritas hidup.

Dalam kehidupan keluarga, penerapan gemi dimulai dengan membedakan kebutuhan utama dari keinginan. Pembedaan ini membantu anggota keluarga melihat secara lebih jernih hal yang memang perlu dipenuhi dan hal yang tidak harus menjadi prioritas. Ajakan tersebut bukan berarti mengabaikan keinginan, melainkan menempatkannya secara proporsional setelah kebutuhan utama diperhatikan. Ketika keluarga memahami perbedaan itu, keputusan mengenai penggunaan pendapatan dapat dibuat dengan pertimbangan yang lebih matang. Setiap penghasilan memiliki batas, sehingga penentuan prioritas menjadi bagian penting dari kebijaksanaan mengelola keuangan. Sikap ini juga menumbuhkan kesadaran bersama bahwa pilihan hari ini dapat memengaruhi kesiapan keluarga menghadapi masa depan.

Bagian lain dari sikap gemi adalah disiplin menyisihkan sebagian penghasilan untuk masa depan. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa pendapatan tidak hanya dipandang untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga sebagai bekal bagi kehidupan yang akan datang. Menyisihkan sebagian penghasilan memerlukan keteguhan dan pengendalian diri agar tujuan jangka panjang tetap diperhatikan. Sultan menekankan bahwa kemampuan mengendalikan pengeluaran merupakan bekal penting untuk menentukan arah kehidupan sendiri. Dengan mengatur penghasilan secara cermat, keluarga dapat mengambil keputusan dengan lebih sadar dan tidak semata-mata mengikuti keinginan sesaat. Pesan tersebut menempatkan pengelolaan keuangan sebagai bagian dari kemandirian: mengenali prioritas, menjaga disiplin, serta bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat. Gemi, karena itu, menghubungkan kebijaksanaan menggunakan pendapatan dengan kesiapan membentuk masa depan.

Nilai nastiti mengajarkan kecermatan sebelum seseorang mengambil keputusan keuangan. Dalam kehidupan sehari-hari, kecermatan ini berarti tidak terburu-buru memilih layanan atau produk hanya karena prosesnya mudah dan cepat. Masyarakat perlu menyediakan waktu untuk memahami pilihan yang tersedia, menimbang kesesuaiannya dengan kebutuhan, serta memastikan bahwa keputusan diambil dengan pertimbangan yang jelas. Sikap teliti membantu seseorang melihat layanan keuangan secara utuh, bukan hanya dari satu sisi yang tampak menarik.

Prinsip tersebut dapat diterapkan ketika mempertimbangkan berbagai produk, seperti tabungan, pembiayaan, asuransi, dan investasi. Setiap produk memiliki tujuan dan ketentuan yang berbeda. Karena itu, pemahaman terhadap karakter masing-masing layanan menjadi bagian penting dari proses memilih. Masyarakat perlu mengetahui manfaat yang ditawarkan, kewajiban yang harus dipenuhi, biaya yang mungkin dikenakan, serta risiko yang menyertainya. Keempat unsur itu perlu diperhatikan secara seimbang agar keputusan tidak hanya bertumpu pada manfaat yang dijanjikan.

Memahami manfaat membantu masyarakat menilai kegunaan suatu produk bagi kebutuhan mereka. Di sisi lain, mengetahui kewajiban membuat pengguna memahami hal-hal yang harus dijalankan selama menggunakan layanan. Informasi mengenai biaya juga perlu dicermati, termasuk ketentuan yang berkaitan dengan penggunaan produk. Sementara itu, pemahaman terhadap risiko memberi gambaran lebih menyeluruh tentang konsekuensi yang mungkin melekat pada pilihan tersebut. Dengan menelaah seluruh unsur itu, masyarakat dapat membuat keputusan secara lebih sadar dan bertanggung jawab.

Nastiti juga berkaitan dengan kebiasaan membaca dan memahami informasi sebelum menyetujui suatu layanan. Kejelasan atas ketentuan produk menjadi bekal bagi masyarakat untuk membandingkan pilihan dan menentukan layanan yang sesuai.

Baca juga: Pengembangan CNG untuk Pelanggan Komersial di Yogyakarta | Strategi PSIM Yogyakarta Menjelang Pertandingan Melawan Madura United | Pergerakan IHSG Pasca Pelantikan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan