Upaya Modifikasi Cuaca untuk Karhutla: Pemakaian Bahan Semai dan Kondisi di Wilayah Prioritas

Upaya Modifikasi Cuaca untuk Karhutla: Pemakaian Bahan Semai dan Kondisi di Wilayah Prioritas

Kabupaten Kotabaru | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggunakan total 14.300 kilogram bahan semai dalam operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di sejumlah wilayah prioritas yang menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jumlah tersebut mencakup bahan yang ditebar melalui 15 sortie atau penerbangan operasi, berdasarkan pemantauan pelaksanaan hingga 23 Oktober 2026. Informasi ini disampaikan Berton Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Modifikasi cuaca dilakukan sebagai salah satu upaya pendukung penanganan karhutla. Bahan semai disebarkan dari pesawat ke awan yang dinilai memiliki potensi untuk menghasilkan hujan. Dengan mendorong terbentuknya presipitasi, operasi ini diharapkan dapat membantu membasahi area terdampak maupun kawasan yang berisiko mengalami kebakaran. Hujan juga dapat mendukung upaya di lapangan, termasuk mengurangi kondisi kering yang membuat api mudah menyebar. Namun, hasil penyemaian bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang sesuai, sehingga tidak dapat dipastikan bahwa setiap penerbangan akan langsung menghasilkan hujan di lokasi sasaran.

Catatan 14,3 ton bahan semai dan 15 sortie menunjukkan skala pelaksanaan operasi yang dipantau BNPB sampai tanggal tersebut. Angka itu menggambarkan akumulasi penggunaan bahan dalam rangkaian penerbangan, bukan keterangan mengenai hasil hujan atau luasan lahan yang berhasil dibasahi. Karena itu, efektivitas operasi perlu dibaca bersama informasi cuaca, wilayah sasaran, serta perkembangan penanganan kebakaran di darat. Keterangan Berton memberikan gambaran mengenai kegiatan yang telah berlangsung, sementara pemantauan berkala diperlukan untuk melihat kebutuhan dukungan berikutnya. Modifikasi cuaca ditempatkan sebagai bagian dari respons yang lebih luas, bukan pengganti pemadaman dan tindakan penanganan lain oleh petugas. Penyampaian data secara terukur membantu publik memahami pelaksanaan operasi, termasuk jumlah bahan yang telah digunakan dan intensitas penerbangannya, tanpa menyamakan pengerahan sumber daya dengan jaminan keberhasilan hujan.

Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan menggunakan bahan semai dengan tujuan yang disesuaikan terhadap kebutuhan masing-masing wilayah. Di Kalimantan Tengah, delapan sortie telah dilaksanakan dengan total penggunaan 7.200 kilogram bahan semai. Jumlah tersebut terdiri atas 5.200 kilogram es kering atau dry ice yang ditujukan untuk membantu mengurai kabut asap, serta 2.000 kilogram natrium klorida (NaCl) untuk mendukung pembentukan hujan buatan. Pembagian bahan ini mencerminkan dua sasaran penanganan sekaligus: memperbaiki kondisi atmosfer yang berkaitan dengan asap dan mendorong terjadinya hujan.

Meski upaya penyemaian telah dilakukan, laporan hingga 23 Oktober belum mencatat hujan di wilayah sasaran Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hasil operasi tidak dapat dinilai hanya dari jumlah bahan yang digunakan, karena pembentukan hujan juga bergantung pada ketersediaan awan dan dinamika atmosfer. Sementara itu, di Sumatera Selatan, tujuh sortie menghabiskan 7.100 kilogram bahan semai. Pemantauan lapangan di provinsi ini menunjukkan jarak pandang membaik menjelang siang. Perubahan tersebut menjadi indikasi positif bagi kondisi setempat, meskipun pemantauan lanjutan tetap diperlukan untuk melihat perkembangan cuaca dan dampaknya terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Di wilayah lain, hujan berintensitas ringan hingga sedang dilaporkan turun di tujuh kabupaten di Kalimantan Barat. Sejumlah wilayah sasaran, yakni Sekadau, Ketapang, dan Sintang, termasuk dalam laporan tersebut. Hujan dengan intensitas serupa juga dilaporkan di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mengaitkan hasil positif di wilayah-wilayah itu dengan pelaksanaan OMC yang disesuaikan dengan dinamika atmosfer. Penyesuaian waktu dan lokasi penyemaian terhadap kondisi awan menjadi bagian penting dari operasi, sebab peluang menghasilkan hujan dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer. Karena itu, catatan hasil di Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan menggambarkan kondisi yang beragam, bukan hasil seragam di seluruh daerah. Evaluasi berkala atas pemantauan cuaca membantu menentukan langkah operasi berikutnya dan mengarahkan sumber daya ke wilayah yang paling membutuhkan dukungan.

Pemutakhiran data BNPB per 25 Oktober menunjukkan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Angka yang dilaporkan menggambarkan luas area yang masih dalam penanganan pada saat pemutakhiran tersebut, bukan akumulasi seluruh lahan yang terbakar sejak awal kejadian atau sepanjang musim karhutla. Karena itu, data ini perlu dibaca sebagai gambaran situasi operasional pada tanggal tersebut, yang dapat berubah seiring perkembangan penanganan dan pembaruan laporan dari daerah.

Di Pulau Kalimantan, luas area yang masih ditangani mencapai 3.392 hektare. Kalimantan Tengah mencatat bagian terbesar, yakni 2.458 hektare. Berikutnya, Kalimantan Barat melaporkan 884 hektare, sedangkan Kalimantan Selatan mencatat 52 hektare. Rincian tersebut menunjukkan bahwa beban penanganan di Kalimantan tidak tersebar merata antardaerah, dengan luasan terbesar berada di Kalimantan Tengah. Namun, perbedaan angka antarprovinsi tidak dengan sendirinya menjelaskan tingkat dampak, intensitas kebakaran, atau kebutuhan sumber daya di setiap lokasi. Penilaian tersebut memerlukan informasi tambahan, termasuk kondisi lapangan, akses menuju titik api, serta kapasitas personel dan peralatan yang dikerahkan.

Di Pulau Sumatera, luas area yang masih dalam penanganan sekitar 990 hektare. Sumatera Selatan menyumbang 889 hektare, sementara Jambi mencatat 89 hektare. Selain itu, terdapat 12 hektare di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Penempatan angka secara terpisah membantu memperlihatkan sebaran laporan antardaerah dan kawasan konservasi. Total tersebut merujuk pada area yang masih ditangani menurut pemutakhiran BNPB per 25 Oktober, bukan total luas kebakaran di Sumatera selama keseluruhan periode. Dengan membedakan luas penanganan saat ini dari akumulasi kebakaran, pembaca dapat memahami konteks data tanpa menafsirkan angka provinsi sebagai catatan menyeluruh kejadian karhutla. Pemantauan dan pembaruan berkala tetap diperlukan untuk mengetahui perubahan luas area yang ditangani, termasuk setelah upaya pemadaman dan modifikasi cuaca dilaksanakan.Berdasarkan pemutakhiran data per 26 Oktober 2026, dukungan penanganan darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencakup pengerahan personel serta armada untuk memperkuat upaya pemadaman di wilayah prioritas. Pemerintah menyiagakan 57.050 personel satuan tugas penyiraman darat yang tersebar di enam provinsi. Kesiapan personel dalam jumlah besar ini diperlukan untuk mendukung respons di lapangan, terutama ketika titik api sulit dijangkau atau membutuhkan penanganan berkelanjutan.

Selain dukungan darat, sebanyak 61 unit armada udara dikerahkan untuk membantu operasi. Jumlah tersebut terdiri atas 24 unit pesawat dan 37 helikopter water bombing. Kelompok pesawat mencakup pesawat patroli, pesawat CASA, serta pesawat yang digunakan untuk operasi modifikasi cuaca (OMC). Pesawat patroli membantu pemantauan kondisi wilayah, sedangkan pesawat CASA dan pesawat OMC mendukung kebutuhan operasi sesuai peran dan kondisi di lapangan. Helikopter water bombing melengkapi upaya pemadaman melalui penjatuhan air pada area yang memerlukan penanganan dari udara.

Operasi pemadaman juga ditopang oleh peralatan yang digunakan personel di darat. Perlengkapan yang disiapkan meliputi selang pemadam dan selang hisap, nozel, sepatu bot, pompa portabel, pompa punggung, pemukul api, serta radio komunikasi. Selang, pompa, dan nozel membantu mengalirkan serta mengarahkan air ke titik sasaran. Pompa punggung dapat digunakan untuk membawa air saat petugas bergerak di area yang aksesnya terbatas, sementara pemukul api menyediakan pilihan penanganan langsung pada vegetasi terbakar. Sepatu bot mendukung keselamatan saat bekerja di medan berlumpur atau panas, dan radio komunikasi membantu koordinasi antarpersonel.

Perpaduan personel, armada udara, dan perlengkapan tersebut membentuk dukungan terpadu untuk mempercepat respons terhadap karhutla.

Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Kondisi Palangka Raya dan Harapan Isenmulang dalam Pertandingan Melawan Persebaya | Komandan Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Kalsel dalam Rapat Evaluasi